A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Salah satu serial anime yang selesai saya tonton minggu lalu adalah Mahouka Koukou no Rettousei, yang merupakan adaptasi dari novel pendek karya Satou Tsutomu. Berkisah tentang kakak beradik yang memiliki latar cukup pelik memasuki sekolah sihir, dan hingga sejumlah 26 episode musim pertama belum terungkapkan semua.

Tentu saja sekolah sihir di sini tidak seperti Hogwarts yang lekat dengan karakter populer Harry Potter, melainkan sekolah sihir yang memang tampak seperti sekolah (atau kampus) biasanya dengan banyak teknologi modern di dalamnya. Sehingga kita sedang diajak untuk melihat kemungkinan sihir modern ke dalam daya khayal kita.

Mahouka Koukou no Rettousei

Saya menyukai serial ini karena selain memang spesial efek dan imajinasi yang nikmat dipandang, intrik di dalam ceritanya juga menarik. Perubahan arah kekuasaan, pemberontakan, human experimental, militer dan agen-agen rahasia, yang semua masuk ke dalam sebuah lingkungan sekolah nan hangat, jangan lupa juga tentang rasisme yang menjadi latar kuat di serial ini, bagaimana orang masih senang merasa lebih baik guna menutupi kekurangannya sendiri.

Cerita tidak seperti generasi serial anime pada masa-masa sebelumnya, di mana membunuh karakter adalah sesuatu yang haram terkecuali terpaksa. Namun karena latar cerita ini adalah masa-masa perang, walau kebanyakan waktunya tampak damai, maka adegan pembunuhan cukup banyak muncul walau dengan sejumlah sensor tentunya. Ini mungkin membuat serial ini malah justru tidak cocok ditonton oleh anak-anak, atau remaja yang masih labil emosinya.

Karena tidak terlalu berat, jalan ceritanya sendiri enak dilahap dan tidak perlu berpikir keras untuk mencernanya. Saya rasa secara keseluruhan, serial ini sangat menarik disimak.

Berbeda memang dengan novel pendeknya yang lebih rinci dalam menjelaskan detil peristiwa dan latar, hanya saja untuk mencerna novel pendeknya – saya memerlukan lebih banyak upaya; mungkin karena banyak istilah yang kurang tepat saat dialihbahasakan.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar gadgetboi

    saya sedang mengeksplore berbagai sub-genre di anime pasca nonton Gundam 😀 … namun tetap saja Mecha, shounen dan slice of life yg menjadi genre favorit 😀 …

    1. Avatar Cahya

      Wah, itu terakhir berakhir di Gundam Wings Mas ????.

      Yang ini lumayan bagus, tapi penuangan ke anime sepertinya masih setengah hati. Atau saya mungkin yang keliru.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca