A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Prompt tulisan harian
Sebutkan tiga buku yang memengaruhi Anda. Mengapa?

Jika saya harus memilih tiga buku, maka sebenarnya memang tidak banyak yang terpikirkan oleh saya. Saya bukan pembaca yang melekat, saya membaca ratusan karya sastra, tapi saya tidak ingat kebanyakannya. I just found joy in reading.

Photo by rikka ameboshi on Pexels.com

Buku pertama adalah “Anak Bajang Menggiring Angin.”

Buku Anak Bajang Menggiring Angin adalah sebuah karya sastra yang mengangkat kisah Ramayana dari sudut pandang Hanoman, sang anak bajang yang memiliki kekuatan luar biasa. Buku ini ditulis oleh Sindhunata, seorang biarawan Katolik yang juga seorang budayawan dan sastrawan. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1983 dan telah dicetak ulang beberapa kali .

Buku ini mengisahkan perjalanan Hanoman dari masa kecilnya hingga menjadi pengiring setia Rama dalam perang melawan Rahwana, raja Alengka yang menculik Sinta, istri Rama. Dalam buku ini, Hanoman digambarkan sebagai sosok yang berada di antara dunia manusia dan dewa, yang selalu mencari jati dirinya dan makna hidupnya. Hanoman juga mengalami berbagai konflik batin, seperti cinta terlarang, kesetiaan, pengorbanan, dan pilihan moral.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang indah dan puitis, dengan menggabungkan unsur-unsur mitologi, sejarah, filsafat, dan agama. Buku ini juga sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal dan universal, seperti toleransi, persaudaraan, kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan. Buku ini merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang layak dibaca dan diapresiasi.

Saya membaca buku ini ketika masih SD, sehingga saya tidak banyak ingat. Kecuali ini membuka saya terhadap dunia sastra, dan membuat saya menyukai sastra.

Buku kedua adalah sebuah komik, judulnya adalah Raksaksa (ya, bukan Raksasa, ejaannya memang demikian), karya MAN (Mansyur Daman). Komik aslinya mungkin saat ini sulit didapatkan lagi. Saya sempat membaca komik ini ketika SD, bersamaan dengan santapan seperti komik Donald Bebek dan Bobo.

Raksaksa bertema tentang jagat persilatan, di mana tokoh utamanya seorang murid perguruan yang kerdil dan berwajah seperti raksasa. Meski dia diremehkan, dia membuktikan bahwa dia mampu menjadi pendekar hebat. Tentu saja banyak drama dan tragedi muncul di sini.

Kadang menurut saya, cerita yang dihadirkan oleh penulis lokal di sini tidak kalah dengan cerita silat dari negeri Tiongkok. Bahkan saya menikmati Raksaksa seperti ketika membaca komik Pendekar Hina Kelana yang diangkat dari novel karya Jin Yong misalnya. Buku ini menjadi pembuka jendela kreativitas yang luar biasa di masa kecil saya.

Buku ketiga saya temukan bertahun-tahun kemudian, ketika sudah menyelesaikan pendidikan sekolah. Buku ini adalah Freedom from the Known. Buku Freedom from the Known oleh J. Krishnamurti adalah salah satu karya paling mudah dimengerti dari pemikir spiritual dan filsafat terkemuka India. Buku ini berisi kutipan dari ceramah Krishnamurti yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, yang dipilih dan diedit oleh Mary Lutyens, salah satu biografer dan sahabat seumur hidupnya. Dalam buku ini, Krishnamurti menunjukkan bagaimana kita dapat membebaskan diri secara radikal dan segera dari tirani harapan. Dengan mengubah diri kita, kita dapat mengubah struktur masyarakat dan hubungan kita.

Saya tidak merekomendasikan buku ini kepada pemeluk agama atau aliran kepercayaan yang taat, atau mereka yang nasional, ataupun yang punya pemikiran kiri ekstrem. Ini adalah buku spiritualitas, tidak semua orang bisa menerima isinya. Buku ini mungkin (mungkin, lho), bermanfaat bagi mereka yang bisa menerima konsep yang dalam kebudayaan Jawa dikenal sebagai Manunggaling Kawulo-Gusti.

Tentu saja ada sejumlah buku spiritualitas yang ditulis oleh para pundit Hindu, Biksu Buddha, Biawaran Katholik, hingga para Sufi Islam yang saya sukai. Tapi tidak ada yang menusuk lebih dalam karya filsuf yang satu ini.

Setidaknya tiga buku itu yang paling berkesan bagi saya. Tentu saja saya tidak membaca lagi, karena buku-buku itu bukan milik saya. Rak buku saya masih dipenuhi dengan buku-buku kedokteran dan manajemen kesehatan yang tumpah ruah.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar FELINDOTEKNUSANTARA
    FELINDOTEKNUSANTARA

    KEREN

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca