Epidemi obesitas: Obesitas merupakan faktor risiko utama bagi banyak penyakit kronis, dan penting untuk berbicara tentang penyebab obesitas dan cara mencegahnya.
Obesitas adalah kondisi ketika lemak yang menumpuk di dalam tubuh sangat banyak akibat kalori masuk lebih banyak dibandingkan yang dibakar. Obesitas dapat menyebabkan komplikasi kesehatan seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, kanker, dan gangguan tidur. Menurut data WHO tahun 2016, ada sekitar 650 juta orang dewasa di dunia yang mengalami obesitas. Di Indonesia sendiri, data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa 22 persen atau sekitar 625.000 orang dewasa menderita obesitas.
Penyebab utama obesitas adalah pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik. Makanan cepat saji, minuman manis, dan makanan olahan mengandung banyak kalori, gula, lemak, dan garam yang dapat meningkatkan berat badan jika dikonsumsi secara berlebihan. Sedangkan aktivitas fisik yang rendah dapat mengurangi pembakaran kalori dan menyebabkan penumpukan lemak di tubuh.
Untuk mencegah obesitas, kita perlu mengatur pola makan sehat dan sesuai dengan kebutuhan kalori harian kita. Beberapa tips yang dapat dilakukan adalah:
Mengetahui berat badan dan lingkar pinggang ideal, serta menimbang berat badan secara rutin. Anda bisa menggunakan aplikasi kalkulator BMI (body mass index) atau IMT (indeks massa tubuh) di telepon pintar untuk mengetahui dengan cepat apakah Anda termasuk obesitas atau tidak.
Mengurangi asupan makanan cepat saji dan minuman manis
Memperbanyak asupan sayur, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, ikan, dan unggas
Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan indeks glikemik rendah
Minum air putih dalam jumlah yang cukup
Berolahraga dengan intensitas sedang setidaknya selama 30 menit sehari atau 150 menit per minggu
Mencukupi waktu tidur dan istirahat
Mengelola stres dengan baik
Obesitas adalah masalah kesehatan yang serius dan membutuhkan perhatian dari kita semua. Dengan menerapkan pola hidup sehat, kita dapat mencegah obesitas dan menjaga kesehatan tubuh kita.
Kepmenkes HK.01.07/MENKES/875/2026 menetapkan PNPK Demam Tifoid pada Dewasa. Pedoman ini menegaskan kultur sebelum antibiotik, membatasi tes Widal tunggal, menata layanan berjenjang, dan memuat kriteria rujuk. Ulasan ini membahas isi pokok, kekuatan, catatan kritis, serta implikasinya bagi indikator mutu dan praktik di puskesmas maupun rumah sakit.
Surat Edaran Bersama 30 Juli 2026 mengatur pengajuan klaim JKN dari rekam medis elektronik yang terintegrasi SATUSEHAT, dengan tahap penuh mulai Juni 2027. Materi BPJS Kesehatan 6 Oktober 2026 menunjukkan bahwa kesiapan itu juga menentukan nilai kredensialing dan rekredensialing FKRTL.
Di era rekam medis elektronik, mengetik bukan lagi urusan staf administrasi. Sebuah pengakuan jujur seorang dokter tentang 43 kata per menit, akurasi 88%, dan mengapa yang perlu dibenahi bukan hanya jari kita.
Endometritis adalah infeksi pada lapisan dalam rahim yang paling sering muncul setelah melahirkan, terutama operasi sesar. Kenali gejala, pengobatan antibiotik, pencegahan yang terbukti, serta perdebatan endometritis kronis pada kesuburan.
Sindrom Down (trisomi 21) adalah kelainan kromosom paling umum yang menyebabkan kecacatan bawaan di Indonesia, dengan prevalensi meningkat. Kondisi ini seringkali disertai kelainan jantung, tiroid, penglihatan, dan pendengaran, sehingga memerlukan deteksi dini dan perawatan multidisiplin. Pedoman AAP 2022 menjadi acuan, namun tantangan keterlambatan diagnosis masih ada.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan