A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Belakangan ini saya menemukan banyak balita sakit setelah mengikuti PIN (pekan imunisasi nasional). Dan sakitnya sering tidak berhubungan dengan vaksin yang diberikan. Kebanyakan sakit ini seperti common cold atau rhinopharyngitis, atau diare serta mual muntah yang muncul dua hingga lima hari pasca PIN yang bisa disertai demam.

Penyakit seperti ini bisa didapatkan balita karena mereka tertular penyakit dari orang lain, baik itu balita lain, orang tua pengantar balita, atau tenaga kesehatan di sekitar area pelaksanaan PIN. Ini menjadi salah satu tantangan dalam program imunisasi adalah bagaimana menghindari risiko penularan penyakit infeksi saluran napas dan diare pada para balita yang berkumpul di satu tempat untuk menjalani vaksinasi. Penyakit-penyakit ini dapat menurunkan kekebalan tubuh dan mengganggu efektivitas vaksin. Oleh karena itu, perlu adanya strategi pencegahan dan pengendalian infeksi yang tepat dan terpadu.

Vaksinasi pada balita. Sumber: CDC.

Dalam artikel ini, saya akan membahas beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan, orang tua, dan masyarakat untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit infeksi saluran napas dan diare pada para balita yang akan divaksinasi. Langkah-langkah ini meliputi:

  • Melakukan skrining kesehatan sebelum vaksinasi. Petugas kesehatan harus memeriksa kondisi kesehatan balita sebelum memberikan vaksin. Jika balita menunjukkan gejala-gejala seperti batuk, pilek, demam, diare, atau muntah, maka sebaiknya ditunda dulu vaksinnya sampai sembuh. Hal ini untuk mencegah penularan kepada balita lain yang sehat dan untuk memastikan bahwa vaksin dapat bekerja dengan optimal.
  • Menjaga kebersihan tangan dan alat vaksinasi. Petugas kesehatan harus mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer sebelum dan sesudah memberikan vaksin. Selain itu, alat vaksinasi seperti jarum, spuit, dan botol vaksin harus steril dan tidak digunakan berulang-ulang. Hal ini untuk mencegah kontaminasi dan infeksi silang.
  • Menjaga jarak antara balita yang akan divaksinasi. Orang tua dan masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan saat membawa balita ke tempat vaksinasi. Jika memungkinkan, sebaiknya datang pada waktu yang tidak ramai atau membuat janji terlebih dahulu. Hal ini untuk mengurangi kontak fisik dan paparan udara yang dapat menularkan penyakit infeksi saluran napas. Mengenakan masker bedah selama proses PIN bagi semua orang adalah tindakan pencegahan yang murah meriah untuk pelbagai infeksi menular.
  • Memberikan ASI eksklusif dan makanan bergizi. Orang tua harus memberikan ASI eksklusif kepada balita sampai usia 6 bulan dan melanjutkannya sampai usia 2 tahun atau lebih. Selain itu, balita juga harus diberikan makanan bergizi yang sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka. Hal ini untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan daya tahan balita terhadap penyakit infeksi.
  • Memberikan cairan yang cukup dan obat sesuai anjuran dokter. Jika balita terkena penyakit infeksi saluran napas atau diare, orang tua harus memberikan cairan yang cukup seperti air putih, air kelapa, atau oralit untuk mencegah dehidrasi. Selain itu, orang tua juga harus memberikan obat sesuai anjuran dokter dan tidak sembarangan memberikan obat tanpa resep. Hal ini untuk mempercepat proses penyembuhan dan menghindari komplikasi.

Demikian beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari risiko penularan penyakit infeksi saluran napas dan diare pada para balita yang akan divaksinasi. Dengan menerapkan langkah-langkah ini, diharapkan program imunisasi dapat berjalan dengan lancar dan aman serta memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan balita.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Rumah Baru, Wajah Baru
    Legawa.com baru saja melakukan pembaruan identitas visual dengan logo baru yang sederhana, menggambarkan matahari di atas awan. Simbol ini merepresentasikan perjalanan penulis dan esai yang dihasilkan. Desain yang bersih dan konsisten diharapkan dapat menjadikan blog ini lebih tenang dan jujur, tanpa elemen yang bersaing.
  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca