Luka kecil pada kaki pasien diabetes di wilayah terpencil dapat berkembang menjadi komplikasi serius akibat keterbatasan akses ke tenaga spesialis. Di Kepulauan Solomon dan Indonesia, perawat di fasilitas kesehatan primer dilatih untuk menangani penilaian luka, debridement, dan perawatan dini, mengurangi risiko amputasi melalui pendekatan task-shifting.
Indonesia menghadapi tantangan serupa dengan inisiatif pelatihan lokal yang belum terstandardisasi secara nasional. Upaya ini menunjukkan perlunya kurikulum terpadu, integrasi skrining rutin, dan dukungan pembiayaan agar pelatihan menjadi bagian berkelanjutan dari layanan kesehatan primer, terutama di daerah kepulauan dan terpencil.
Seorang perawat di Puskesmas kepulauan terpencil menatap luka kecil di telapak kaki seorang pasien diabetes yang datang berobat. Bukan luka yang tampak mengerikan—hanya lecet dangkal akibat sandal yang terlalu sempit. Namun ia tahu, di wilayah tanpa dokter spesialis bedah vaskular, tanpa podiatrist (spesialis perawatan kaki), dan dengan rujukan ke rumah sakit rujukan yang memerlukan perjalanan laut berjam-jam, luka sekecil itu bisa menjadi awal dari kehilangan kaki. Skenario ini bukan fiksi. Ia adalah kenyataan sehari-hari di banyak fasilitas kesehatan primer, baik di Kepulauan Solomon di Pasifik maupun di ratusan Puskesmas terpencil di Indonesia.
Ancaman yang Dimulai dari Hal Sepele
Diabetic foot disease atau penyakit kaki diabetes sering kali bermula dari sesuatu yang tampak remeh: kulit menebal (callus), lepuh kecil, retakan kulit, atau luka gores tipis. Tanpa penanganan cepat, kombinasi tekanan berulang, gangguan sirkulasi darah perifer, dan kerusakan saraf akibat diabetes membuat luka semacam ini memburuk dengan cepat (World Health Organization, 2026). Fenomena ini bukan hal baru bagi pembaca setia rubrik kesehatan di sini—kita sudah membahas patofisiologi ulkus kaki diabetes dan prinsip perawatan lukanya secara mendalam. Namun ada satu pertanyaan yang jarang disentuh: siapa yang sebenarnya berada di garis depan untuk mencegah luka kecil ini berubah menjadi bencana, terutama di wilayah yang jauh dari kota besar?
Di Kepulauan Solomon, Kementerian Kesehatan dan Layanan Medis setempat mendapati bahwa komplikasi kaki diabetes menjadi salah satu penyebab utama rawat inap dan amputasi tungkai bawah pada penyandang diabetes. Persoalannya sederhana namun mendasar: negara ini tidak memiliki podiatrist sama sekali (World Health Organization, 2026). Solusinya bukan menunggu tersedianya tenaga spesialis—melainkan melatih perawat yang sudah ada di lapangan.
Melatih, Bukan Menunggu Spesialis
Mevilyn Catherine Manetei, seorang perawat di Kepulauan Solomon, menjadi salah satu tenaga kesehatan yang mengikuti coaching (pendampingan terstruktur) dalam penilaian luka, debridement (pengangkatan jaringan mati), dan perawatan luka kaki diabetes. Sebelumnya, hampir semua pasien harus dirujuk ke pusat diabetes karena tidak ada tenaga terlatih di klinik. Setelah pendampingan tersebut, kliniknya kini punya kapasitas untuk melakukan penilaian luka, debridement, dan perawatan secara mandiri (World Health Organization, 2026).
Model ini dikenal dalam kepustakaan kesehatan global sebagai task-shifting atau task-sharing—pendelegasian tugas klinis tertentu dari tenaga spesialis ke tenaga kesehatan non-spesialis yang telah dilatih secara terstruktur, sebuah strategi yang lazim diterapkan di negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan keterbatasan SDM spesialis. Pedoman praktis IWGDF 2023 turut menegaskan bahwa edukasi yang terstruktur, terorganisasi, dan diulang secara berkala—baik untuk pasien maupun tenaga kesehatan yang menanganinya—memainkan peran penting dalam pencegahan ulkus kaki diabetes, dan penanganan idealnya melibatkan tim multidisiplin yang terlatih memadai (Schaper et al., 2023).
Hasilnya bukan sekadar administratif. Pendampingan tersebut menguatkan kemampuan tenaga kesehatan melakukan penilaian luka yang aman, menerapkan teknik steril, dan memilih jenis balutan yang tepat sesuai tingkat keparahan luka (World Health Organization, 2026). Mevilyn menekankan pentingnya intervensi dini: pasien dididik untuk tidak menunggu luka memburuk, sehingga penilaian dan penanganan bisa dilakukan lebih cepat—dan amputasi kaki bisa dihindari (World Health Organization, 2026).
Gaung yang Sama di Puskesmas-Puskesmas Indonesia
Cerita dari Kepulauan Solomon ini terasa akrab bagi siapa pun yang bekerja di fasilitas kesehatan primer Indonesia, terutama di wilayah kepulauan dan terpencil. Prevalensi ulkus kaki diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai 15% dari penyandang diabetes, dan kondisi ini tetap menjadi penyebab rawat inap terbesar akibat komplikasi kaki diabetik. Sementara itu, akses ke tenaga spesialis perawatan luka atau podiatrist jauh dari merata—sebagian besar terkonsentrasi di kota-kota besar di Jawa.
Kabar baiknya, upaya semacam yang terjadi di Kepulauan Solomon sesungguhnya sudah mulai tumbuh secara tersebar di berbagai daerah Indonesia, meski belum terstandardisasi secara nasional. Di Puskesmas Sekban dan Puskesmas Fakfak Tengah, Papua Barat, misalnya, dilakukan pelatihan skrining kaki pasien diabetes bagi 62 tenaga kesehatan—mencakup perawat, bidan, dokter, dan tenaga kesehatan masyarakat—sesuai prosedur operasional standar. Di wilayah kepulauan terpencil Kubu Raya, Kalimantan Barat, program pemberdayaan komunitas turut membekali perawatan mandiri luka kaki diabetik yang adaptif terhadap keterbatasan bahan di pulau-pulau kecil. Di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, program DIGI-FOOT Care bahkan menggabungkan pelatihan deteksi dini berbasis kecerdasan buatan dengan penyerahan alat skrining—doppler vaskular, tensimeter, dan monofilament—kepada Puskesmas setempat. Sementara itu, Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Batam telah lama menyelenggarakan pelatihan perawatan luka tingkat dasar bagi tenaga keperawatan di Provinsi Kepulauan Riau.
Pola yang berulang di berbagai laporan tersebut juga mengungkap tantangan yang sama: keterbatasan akses informasi terkini berbasis bukti, ketergantungan pada seminar atau pelatihan singkat yang jarang diadakan, dan minimnya standardisasi kurikulum pelatihan antarwilayah. Inilah celah yang membuat kisah Kepulauan Solomon relevan sebagai pembelajaran—bukan karena teknologinya canggih, melainkan karena pendekatannya sederhana dan dapat direplikasi: melatih tenaga yang sudah ada, alih-alih menunggu kehadiran spesialis yang mungkin tidak akan pernah datang ke wilayah terpencil.
Pesan yang Bisa Menyelamatkan Kaki
Pesan inti dari pengalaman Kepulauan Solomon sesungguhnya sangat sederhana: segera periksakan diri begitu ada perubahan pada kaki, sekecil apa pun. Mevilyn menekankan bahwa banyak pasien menganggap luka kecil bukan masalah serius dan memilih menunggu di rumah, padahal penyakit kaki diabetes dapat memburuk dengan sangat cepat—penilaian dan penanganan dini justru dapat mencegah komplikasi berat dan menyelamatkan kaki pasien (World Health Organization, 2026).
Bagi sistem kesehatan Indonesia, pembelajaran ini menuntun pada beberapa arah kebijakan yang lebih terstruktur: penyusunan kurikulum pelatihan perawatan luka kaki diabetes yang terstandardisasi secara nasional untuk tenaga kesehatan Puskesmas, integrasi skrining kaki diabetik ke dalam program Penyakit Tidak Menular (PTM) secara rutin, serta dukungan pembiayaan—baik dari JKN/BPJS Kesehatan maupun kemitraan lembaga internasional—agar pelatihan semacam ini tidak berhenti sebagai proyek pengabdian masyarakat yang sporadis, melainkan menjadi bagian permanen dari penguatan kapasitas layanan primer, terutama di wilayah kepulauan dan terpencil yang paling membutuhkannya.
Catatan transparansi: Artikel ini mengadaptasi feature story WHO Western Pacific berjudul “Saving Limbs, Changing Lives: Scaling up Health Worker Skills to Fight Diabetic Foot Disease in Solomon Islands” (10 Agustus 2026), termasuk kutipan dan narasi klinis dari perawat Mevilyn Catherine Manetei yang bersumber langsung dari artikel tersebut. Data prevalensi ulkus kaki diabetes Indonesia (15%) dan contoh-contoh program pelatihan tenaga kesehatan daerah (Fakfak, Kubu Raya, Donggala, Kepulauan Riau) dikutip dari publikasi ilmiah/pengabdian masyarakat sekunder yang teridentifikasi melalui pencarian daring, bukan dari basis data resmi Kemenkes RI terpusat—sehingga angka dan cakupan program tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai gambaran ilustratif tren, bukan data epidemiologi nasional yang komprehensif. Analisis kebijakan pada bagian penutup (standardisasi kurikulum, integrasi ke program PTM, skema pembiayaan) merupakan interpretasi penulis berdasarkan pola kesenjangan yang teramati dari berbagai laporan program, bukan rekomendasi resmi dari Kementerian Kesehatan RI atau WHO.
Ringkasan: Kisah dari Kepulauan Solomon menunjukkan bagaimana pelatihan perawat garis depan dalam penilaian dan perawatan luka kaki diabetes dapat mencegah amputasi tanpa kehadiran spesialis. Indonesia menghadapi tantangan serupa di Puskesmas terpencil dan kepulauan, dengan sejumlah inisiatif pelatihan lokal yang masih tersebar dan belum terstandardisasi secara nasional.
Daftar Pustaka
International Working Group on the Diabetic Foot. (2023). IWGDF guidelines on the prevention and management of diabetes-related foot disease. https://iwgdfguidelines.org
Schaper, N. C., van Netten, J. J., Apelqvist, J., Bus, S. A., Fitridge, R., Game, F., Monteiro-Soares, M., & Senneville, E. (2023). Practical guidelines on the prevention and management of diabetes-related foot disease (IWGDF 2023 update). Diabetes/Metabolism Research and Reviews. https://doi.org/10.1002/dmrr.3657
World Health Organization, Western Pacific Region. (2026, 10 Agustus). Saving limbs, changing lives: Scaling up health worker skills to fight diabetic foot disease in Solomon Islands. https://www.who.int/westernpacific/newsroom/feature-stories/item/saving-limbs–changing-lives–scaling-up-health-worker-skills-to-fight-diabetic-foot-disease-in-solomon-islands





Tinggalkan Balasan