Diperbarui berdasarkan laporan yang tersedia hingga 9 Oktober 2026. Peristiwa ini masih berkembang.
Bayangkan seorang petani berusia 35 tahun datang ke puskesmas di lereng Merbabu, Selo, Boyolali. Ia demam tinggi dan menggigil, dan di lipat pahanya ada benjolan yang nyeri sekali ditekan. Kasus ini fiktif, tetapi di daerah yang pernah menjadi fokus alami penyakit, dokter yang jeli akan langsung berpikir: pes.

Pekan ini, kata yang sama kembali menghiasi berita dunia dari tempat yang jauh, yaitu Siberia. Kabarnya ramai dan simpang siur, jadi mari kita pisahkan fakta dari dugaan.
Apa yang Sudah dan Belum Diketahui
Seorang pekerja laboratorium di institut penelitian pes di Siberia jatuh sakit dan meninggal dalam keadaan yang tidak dijelaskan, sehingga puluhan orang dikarantina. Ia adalah perempuan berusia 28 tahun yang bekerja di Irkutsk Anti-Plague Research Institute dan dirawat karena pneumonia berat sebelum meninggal pada 2 Oktober 2026 (Reuters, 2026; Euronews, 2026b). Pihak berwenang Rusia menyebut penyebabnya pneumonia of unknown aetiology (pneumonia dengan penyebab tak diketahui).
| Aspek | Yang dilaporkan | Status |
|---|---|---|
| Diagnosis resmi | Pneumonia penyebab tak diketahui | Resmi |
| Pes | Rusia menyampaikan kepada WHO bahwa tidak ada kasus pes tercatat di Irkutsk; penyakit awalnya tampak seperti infeksi virus saluran napas akut. | Resmi, patogen belum diumumkan |
| Kecelakaan lab | Rospotrebnadzor menyatakan tidak ada kecelakaan dengan mikroorganisme patogen di institut tersebut. | Dibantah resmi |
| Tabung pecah | Beberapa media melaporkan ia sempat menyebut memecahkan tabung berisi bakteri hidup. | Belum terkonfirmasi |
| Karantina | Lebih dari 60 staf institut dilarang meninggalkan gedung. Jumlah kontak yang diamati bervariasi (sekitar 90 hingga hampir 200). | Bervariasi antarlaporan |
| Kasus sekunder | Kontak yang dipantau belum menunjukkan gejala dan hasil laboratorium negatif. | Belum ada hingga laporan terakhir |
Hingga 9 Oktober 2026, penyebab kematian belum diumumkan. Ini peristiwa yang belum terjelaskan, bukan wabah pes yang terkonfirmasi.
Mengapa Kata "Pes" Membuat Dunia Menahan Napas
Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang biasanya hidup pada mamalia kecil dan pinjalnya. Gejalanya muncul setelah masa inkubasi satu hingga tujuh hari. Penyakit ini punya tiga bentuk klinis (WHO, 2026).
| Bentuk | Ciri khas | Penularan antarmanusia | Catatan |
|---|---|---|---|
| Bubonik | Demam, nyeri kelenjar getah bening membengkak (bubo) | Jarang | Paling sering; gigitan pinjal |
| Pneumonik | Sesak, batuk, sering berdahak berdarah | Mudah, lewat partikel napas | Paling virulen; inkubasi bisa kurang dari 24 jam |
| Septikemik | Perdarahan bawah kulit, kegagalan organ | Bergantung bentuk asal | Berkembang dari bentuk lain |
Menurut WHO, pes pneumonik dan septikemik hampir selalu fatal bila tidak diobati, tetapi dapat disembuhkan dengan antibiotik bila terdeteksi dini, idealnya dalam 24 jam sejak gejala. Kombinasi penularan lewat udara dan perjalanan penyakit yang cepat inilah yang membuat otoritas kesehatan di mana pun bereaksi keras pada kecurigaan pes pneumonik.
"Penyebab Tak Diketahui" Bukan Berarti Pes
Istilah pneumonia of unknown aetiology sangat luas. Seorang pakar penyakit menular yang dikutip media menegaskan bahwa banyak hal bisa menyebabkan pneumonia (Newsweek, 2026). Pada pneumonia berat, penyebabnya bisa virus, bakteri, atau jamur, dan banyak kasus memang tidak teridentifikasi pada fase awal. Tertundanya hasil pemeriksaan adalah hal yang wajar, tetapi minimnya transparansi tentang patogennya memicu spekulasi.
Dari sisi tata kelola, Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulations/IHR 2005) menempatkan pes pneumonik di antara penyakit yang selalu perlu dinilai sebagai potensi kejadian luar biasa internasional (WHO, 2016).
Laboratorium sebagai Titik Rawan
Laboratorium yang menangani agen berbahaya bekerja dengan prinsip biosafety dan biosekuriti yang ketat. Pedoman WHO (2020) dan CDC (2020) menekankan penilaian risiko, kabinet keselamatan hayati, alat pelindung diri, dan pelaporan setiap insiden, bahkan yang tampak sepele. Risiko terbesar sering bukan dari kegagalan alat, melainkan dari insiden kecil yang tidak dilaporkan. Karena itu, dugaan "tabung pecah yang tidak dilaporkan" menjadi isu yang sangat serius bila terbukti.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia pernah memiliki fokus alami pes. Penelitian Kementerian Kesehatan mencatat daerah enzootik di Boyolali (Jawa Tengah) dan Pasuruan (Jawa Timur) (Ristiyanto et al., 1999). Evaluasi surveilans di Pasuruan menunjukkan tidak ada kasus pada periode 2007–2014, tetapi kualitas sistem surveilansnya dinilai belum baik (Jurnal Berkala Epidemiologi, Universitas Airlangga, n.d.). Artinya, absennya kasus tidak sama dengan absennya risiko. Pes tercantum dalam daftar penyakit menular tertentu yang berpotensi wabah (Kementerian Kesehatan RI, 2010).
Pelajaran Praktis bagi Fasilitas Kesehatan
- Riwayat pajanan adalah kunci. Tanyakan pekerjaan, kontak dengan hewan pengerat atau bangkai hewan, perjalanan ke daerah enzootik, dan kerja di laboratorium.
- Terapkan kewaspadaan sesuai gejala. Pasien pneumonia berat dengan riwayat pajanan mencurigakan perlu isolasi sambil menunggu hasil, sesuai prinsip PPI (pencegahan dan pengendalian infeksi).
- Lindungi tenaga kesehatan. WHO merekomendasikan APD standar dan kemoprofilaksis antibiotik tujuh hari bagi petugas dan kontak dekat pes pneumonik.
- Laporkan cepat. Kasus pneumonia berat tak lazim atau berkelompok perlu dilaporkan ke dinas kesehatan tanpa menunggu konfirmasi.
- Budayakan pelaporan insiden laboratorium. Ini bagian dari program keselamatan pasien dan K3 di setiap rumah sakit.
- Komunikasikan risiko dengan jujur. Informasi yang terlambat atau berubah-ubah adalah bahan bakar hoaks.
Penutup
Kasus di Irkutsk mengingatkan bahwa penyakit lama bisa kembali menjadi berita, dan bahwa transparansi sama pentingnya dengan antibiotik. Bagi kita di Indonesia, kewaspadaan tidak perlu berubah menjadi kepanikan. Cukup pastikan surveilans, kesiapan laboratorium, dan komunikasi risiko berjalan baik.
Ringkasan: Seorang teknisi laboratorium pes di Siberia meninggal karena pneumonia berat. Puluhan orang dikarantina, sementara penyebabnya belum diumumkan dan dugaan pes belum terbukti. Artikel ini merangkum fakta, bentuk klinis pes, risiko laboratorium, serta pelajaran surveilans dan PPI bagi fasilitas kesehatan di Indonesia.
Catatan Transparansi
- Peristiwa ini masih berkembang. Data bersumber dari laporan media internasional hingga 9 Oktober 2026, dan angka kontak yang dikarantina berbeda antarlaporan. Nama korban sengaja tidak dicantumkan.
- Klaim tabung pecah bersumber dari laporan media independen dan kanal Telegram, belum diverifikasi, dan dibantah otoritas Rusia.
- Rujukan IHR 2005, Laboratory Biosafety Manual WHO edisi 4, Biosafety in Microbiological and Biomedical Laboratories CDC edisi 6, dan Permenkes 1501/2010 belum diverifikasi ulang terhadap dokumen aslinya; kekinian Permenkes 1501/2010 perlu dicek.
- Sitasi artikel Universitas Airlangga belum memuat nama penulis karena metadata tidak tersedia.
- Ilustrasi di awal tulisan dibuat dengan AI dan bukan foto peristiwa. Pembuka kasus di puskesmas Selo, Boyolali, adalah ilustrasi fiktif.
- Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan.
Daftar Pustaka
Centers for Disease Control and Prevention & National Institutes of Health. (2020). Biosafety in microbiological and biomedical laboratories (6th ed.). U.S. Department of Health and Human Services.
Euronews. (2026a, 4 Oktober). Has plague returned to Siberia? Panic in Russia after death of lab worker. https://www.euronews.com/2026/10/04/has-plague-returned-to-siberia-panic-in-russia-after-death-of-lab-worker
Euronews. (2026b, 6 Oktober). Russia denies plague death but quarantines hundreds without explanation. https://www.euronews.com/2026/10/06/russia-denies-plague-death-but-quarantines-hundreds-without-explanation
Georgia Today. (2026, Oktober). 28-year-old lab technician dies: Plague fears and isolation measures raise questions in Irkutsk. https://georgiatoday.ge/?p=113537
IBTimes UK. (2026, Oktober). Test tube accident or Buryatia trip? Conflicting reports emerge over how Russian lab worker fell ill. https://www.ibtimes.co.uk/russian-lab-workers-death-siberia-health-scare-1823886
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/MENKES/PER/X/2010 tentang jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulangan.
Newsweek. (2026, Oktober). Russian plague update: Experts warn of possible biological agent. https://www.newsweek.com/russian-plague-update-experts-warn-of-possible-biological-agent-12531438
Reuters. (2026, 5 Oktober). Dozens quarantined in Siberia after plague institute lab worker dies. https://www.thestar.com.my/news/world/2026/10/05/dozens-quarantined-in-siberia-after-plague-institute-lab-worker-dies
Ristiyanto, Duskamdani, Subronto, J. A., Suryajaya, F., Nalim, S., Wiyono, Yazid, M., Yuliadi, B., & Suharti. (1999). Penelitian evaluasi dan pembinaan masyarakat dalam pengendalian pinjal secara mandiri di daerah enzootik pes Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur [Laporan penelitian]. Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan.
World Health Organization. (2016). International Health Regulations (2005) (3rd ed.). WHO.
World Health Organization. (2020). Laboratory biosafety manual (4th ed.). WHO.
World Health Organization. (2026, 29 September). Plague [Fact sheet]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/plague





Tinggalkan Balasan