Raka, delapan tahun, dibawa ibunya ke puskesmas di Makassar untuk pemeriksaan sebelum pindah sekolah. Hasil penimbangan membuat sang ibu menunduk: berat badan Raka jauh di atas kurva pertumbuhan seusianya. Di sekolah lama, ia sering diejek “gendut”, mulai menolak pelajaran olahraga, dan lebih suka menghabiskan sore dengan gawai sambil minum teh manis kemasan. Sang ibu bertanya lirih, “Dok, apakah Raka harus diet ketat? Atau perlu obat?”
(Ilustrasi fiktif untuk memudahkan pembaca; bukan kasus nyata.)
Pertanyaan itu kini punya rujukan global yang lebih jelas. Pada 7 Oktober 2026, WHO menerbitkan pedoman pertamanya tentang penatalaksanaan obesitas pada anak dan remaja (WHO, 2026c). Artikel ini membaca pedoman untuk anak usia 29 hari hingga kurang dari 10 tahun secara rinci (WHO, 2026b), memakai siaran pers WHO untuk gambaran tentang remaja, lalu menautkannya dengan kondisi di Indonesia.
Mengapa Pedoman Ini Penting
Pada 2024, sekitar 170 juta anak dan remaja usia 5–19 tahun di dunia hidup dengan obesitas: 70 juta berusia 5–9 tahun dan 100 juta berusia 10–19 tahun. Prevalensinya naik empat kali lipat sejak 1990, dari 2% menjadi 8% (WHO, 2026c). WHO menegaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang cenderung kambuh, tetapi dapat dikelola dengan perawatan yang efektif. Penyakit ini bisa dimulai sejak dini, meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular, serta sering disertai stigma, diskriminasi, dan perundungan (WHO, 2026c).
Selama ini panduan WHO lebih banyak menekankan pencegahan. Pedoman baru ini mengisi celah lain: apa yang sebaiknya dilakukan sistem kesehatan dan tenaga kesehatan ketika seorang anak sudah hidup dengan obesitas. Pedoman anak dan pedoman remaja disusun melalui dua proses terpisah dengan kelompok pakar masing-masing, dan keduanya melengkapi rekomendasi WHO untuk orang dewasa sehingga membentuk pendekatan sepanjang hayat (WHO, 2026b; WHO, 2026c).
Bagaimana WHO Mendefinisikan Obesitas pada Anak
Klasifikasi ICD-11 menggambarkan obesitas sebagai penyakit kompleks kronis yang ditandai kelebihan jaringan lemak yang dapat mengganggu kesehatan, umumnya multifaktorial akibat lingkungan yang mendorong obesitas (obesogenic environment), faktor psikososial, dan varian genetik. Body mass index (BMI) hanyalah penanda pengganti untuk kelebihan lemak tubuh, bukan pengukur langsung (WHO, 2026b).
- Anak di bawah 5 tahun: kelebihan berat badan bila berat badan menurut tinggi badan (weight-for-height) lebih dari 2 simpangan baku (SD) di atas median, obesitas bila lebih dari 3 SD.
- Anak dan remaja 5–19 tahun: kelebihan berat badan bila BMI menurut umur lebih dari 1 SD di atas median Standar Pertumbuhan Anak WHO, obesitas bila lebih dari 2 SD (WHO, 2026b).
Di Indonesia, penilaian status gizi anak dilakukan dengan standar antropometri nasional yang diatur dalam Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 (Kementerian Kesehatan RI, 2020); kami pernah mengulasnya dalam artikel tentang standar antropometri anak. Gunakan tabel resmi dalam peraturan tersebut untuk menentukan kategori pada pasien.
Rekomendasi Inti untuk Anak Usia 0–9 Tahun
Pedoman anak mencakup anak usia 29 hari sampai kurang dari 10 tahun dengan obesitas dan memakai pendekatan layanan kesehatan primer. Tujuannya meningkatkan kesehatan dan fungsi tubuh serta mengurangi disabilitas terkait obesitas, bukan semata menurunkan angka timbangan (WHO, 2026b). Berikut ringkasan rekomendasinya.
| Intervensi | Rekomendasi WHO | Kekuatan | Kualitas bukti |
|---|---|---|---|
| Pola makan terstruktur | Dianjurkan sebagai salah satu komponen penatalaksanaan terpadu pada anak di atas 2 tahun; disesuaikan usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, preferensi makan, dan budaya; dipandu tenaga kesehatan yang paham gizi dan melibatkan orang tua/pengasuh | Kuat | Sangat rendah |
| Aktivitas fisik terstruktur, perilaku sedentari, dan tidur | Dianjurkan rencana aktivitas fisik terstruktur yang mempertimbangkan usia, kondisi kesehatan, budaya, dan minat anak, serta melibatkan orang tua/pengasuh | Kuat | Sangat rendah |
| Perubahan perilaku | Dianjurkan sebagai salah satu komponen; jenis dan durasi disesuaikan dengan usia, perilaku makan, aktivitas, budaya, serta dukungan keluarga | Kuat | Sangat rendah |
| Intervensi kesehatan digital | Disarankan pada anak di atas 2 tahun, di bawah pengawasan orang tua/pengasuh | Bersyarat | Sangat rendah |
| Intervensi multimodal | Dianjurkan kombinasi terstruktur diet, aktivitas fisik, dan komponen perilaku, dipandu tenaga kesehatan dan melibatkan orang tua/pengasuh | Kuat | Sangat rendah |
| Obat-obatan | Tidak dianjurkan pada usia 0–9 tahun | Kuat | Rendah |
| Bedah bariatrik, alat penurun berat badan | Tidak dianjurkan pada usia 0–9 tahun | Kuat | Tidak ada bukti |
Rekomendasi Kuat, Bukti Sangat Rendah: Bukankah Itu Janggal?
Hampir semua rekomendasi tadi berstatus kuat padahal kualitas buktinya sangat rendah. Kelompok penyusun pedoman (Guideline Development Group) mengakui ketidakselarasan ini secara terbuka. Mereka tetap memilih rekomendasi kuat karena obesitas adalah penyakit multifaktor yang menuntut pendekatan multimodal, manfaat intervensi kecil tetapi risiko efek sampingnya juga kecil, dan anak serta orang tua menghargai manfaat makan sehat serta tetap aktif, misalnya rasa percaya diri dan penerimaan sosial (WHO, 2026b). Pada bedah bariatrik dan alat penurun berat badan, rekomendasi kuat untuk tidak memakainya diambil tanpa bukti langsung karena risiko bahaya bermakna pada anak di bawah 10 tahun dinilai terlalu besar.
Seberapa besar manfaatnya? Ulasan sistematik yang dipesan WHO menemukan bahwa intervensi multimodal berbasis layanan kesehatan menurunkan skor-z BMI sekitar 0,15 pada tindak lanjut 12 bulan (selisih rerata −0,15; interval kepercayaan 95% −0,23 hingga −0,06; 16 studi, 2.397 peserta; kepastian bukti sangat rendah). Intervensi multimodal berbasis komunitas, seperti di sekolah atau tempat ibadah, nyaris tidak berbeda dari perawatan biasa (selisih rerata 0,02; interval kepercayaan 95% −0,08 hingga 0,12; 5 studi, 420 peserta; kepastian sedang). Penyakit ini memang tidak bisa dijanjikan akan “hilang” dengan satu program, dan data jangka panjang masih langka (WHO, 2026b). Karena itu tolok ukur keberhasilan yang lebih jujur adalah kesehatan, fungsi tubuh, dan kesejahteraan anak.
Yang Belum Terbukti: Probiotik, Diet Personal, dan Diet Ekstrem
Tidak ada satu komposisi diet yang terbukti jelas paling unggul. Pedoman merangkum bahwa pengurangan kalori dapat sedikit menurunkan skor-z BMI dan lingkar pinggang (bukti kualitas rendah), sedangkan diet tinggi protein justru dapat sedikit menaikkan berat badan dan BMI (bukti sangat rendah, dua uji acak, 145 peserta). Ulasan lain menyimpulkan perbaikan status berat badan bisa dicapai dengan diet rendah energi apa pun komposisi makronutriennya. Untuk pendekatan yang sedang tren, intervensi mikrobioma usus (prebiotik, probiotik, sinbiotik, hingga transplantasi tinja) pada ulasan Cochrane 2025 dari 17 uji acak dengan 838 peserta hanya memberi pengaruh kecil atau tidak berpengaruh, sedangkan efek gizi personal masih tidak pasti (tiga studi, 105 peserta) (WHO, 2026b).
Pesan praktisnya: diet harus dipandu tenaga kesehatan yang paham gizi, mencakup penilaian kesehatan fisik dan mental, riwayat keluarga, serta faktor risiko gangguan makan, dan dijalankan dengan komunikasi yang empatik serta tidak menstigma (WHO, 2026b). Untuk gambaran pola makan harian yang realistis bagi keluarga, lihat artikel kami tentang menata pola makan sehat yang berkelanjutan.
Bergerak, Layar, dan Tidur
Untuk aktivitas fisik, pedoman merujuk panduan WHO yang sudah ada (WHO, 2019; WHO, 2020):
- Bayi (di bawah 1 tahun): aktif beberapa kali sehari lewat permainan di lantai; bagi yang belum bisa bergerak sendiri, setidaknya 30 menit posisi tengkurap (tummy time) selama terjaga yang disebar sepanjang hari.
- Anak 1–2 tahun: minimal 180 menit aktivitas beragam pada intensitas apa pun.
- Anak 3–4 tahun: minimal 180 menit, dengan paling sedikit 60 menit berintensitas sedang hingga berat.
- Anak 5 tahun ke atas: rata-rata minimal 60 menit per hari aktivitas aerobik berintensitas sedang hingga berat; aktivitas berat dan penguat otot-tulang sedikitnya tiga hari per minggu.
Rencana aktivitas sebaiknya disepakati bersama anak dan orang tua, menyatu dengan rutinitas harian seperti berangkat sekolah dan bermain bersama teman, dan boleh non-kompetitif bagi anak yang tidak nyaman dengan olahraga berkompetisi. Aktivitas yang menyenangkan lebih mungkin bertahan (WHO, 2026b).
Intervensi digital hanya disarankan bersyarat. Permainan aktif yang diawasi, aplikasi olahraga, serta pedometer atau akselerometer berpotensi meningkatkan aktivitas, tetapi waktu layar rekreasi lebih dari dua jam per hari berkaitan dengan hasil buruk seperti depresi dan kualitas hidup yang lebih rendah; sejumlah panduan menjadikan dua jam sebagai batas maksimal harian. Tenaga kesehatan juga diminta waspada terhadap kecemasan atau gangguan regulasi emosi yang dapat mengganggu tidur dan memicu penarikan diri dari pergaulan (WHO, 2026b).
Obat dan Operasi: Mengapa Tidak pada Usia 0–9 Tahun
Ulasan Cochrane yang dipesan WHO tidak menemukan satu pun uji acak obat obesitas pada anak di bawah 6 tahun. Delapan studi yang ada melibatkan anak 6 tahun ke atas: tujuh menilai metformin dan satu menilai liraglutid. Dengan bukti manfaat yang minim dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan, perkembangan, parameter fisiologis, serta kesehatan mental, WHO merekomendasikan dengan kuat agar obat tidak digunakan pada anak 0–9 tahun (WHO, 2026b). Untuk bedah bariatrik dan alat penurun berat badan, tidak ditemukan bukti sama sekali pada kelompok usia ini, dan rekomendasinya sama.
Untuk remaja 10–19 tahun, siaran pers WHO menyebut bahwa obat yang telah disetujui hanya dapat dipertimbangkan jika program gaya hidup multimodal yang diawasi belum memberi hasil yang diharapkan, dan bedah bariatrik dapat dipertimbangkan dalam syarat ketat untuk remaja dengan obesitas berat (WHO, 2026c). Rinciannya ada di pedoman remaja yang terpisah (WHO, 2026a), yang belum saya telaah langsung. Sebagai konteks tentang obat generasi baru pada orang dewasa, silakan baca ulasan kami tentang retatrutide; bukti pada dewasa tidak otomatis berlaku untuk anak.
Obesitas Anak dan Kesehatan Mental Berjalan Bersama
Kecemasan, depresi, harga diri rendah, dan kesulitan mengatur emosi dapat mendorong pola makan tidak sehat, kurang gerak, dan menarik diri dari pergaulan. Sebaliknya, stigma karena berat badan memperburuk kondisi tersebut. Pedoman meminta tenaga kesehatan menangani obesitas dan masalah kesehatan mental sejak dini dan bersamaan, dengan strategi yang inklusif, sesuai tahap perkembangan, dan melibatkan keluarga (WHO, 2026b; WHO, 2026c). Rujukan ke layanan khusus perlu dipertimbangkan bila ada masalah mental yang menyertai atau bila intervensi tidak membuahkan kemajuan, disertai komunikasi yang penuh empati kepada keluarga.
Bagaimana dengan Indonesia?
Analisis lanskap UNICEF Indonesia yang memakai data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 melaporkan bahwa kelebihan berat badan dan obesitas (digabung) terdapat pada 4,2% balita (sekitar satu juta anak), 19,7% anak usia sekolah dasar 5–12 tahun atau sekitar satu dari lima anak, 16,2% remaja 13–15 tahun, dan 12,1% remaja 16–18 tahun. Lingkungannya pun tidak mendukung: 54,6% anak dan remaja 5–19 tahun minum minuman manis minimal sekali sehari, 87,9% anak dan remaja 11–19 tahun beraktivitas fisik kurang dari 60 menit per hari, dan 81,1% iklan makanan dan minuman yang dilihat anak di tempat yang sering mereka kunjungi adalah makanan tidak sehat (UNICEF Indonesia, t.t.).
Pemerintah sudah memiliki sejumlah inisiatif, seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 dan kampanye gizi seimbang “Isi Piringku” (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, t.t.). UNICEF mengusulkan langkah yang lebih struktural: cukai minuman berpemanis, pelabelan gizi di bagian depan kemasan yang wajib, pedoman kantin sekolah nasional, pembatasan pemasaran pangan ultraproses terutama di sekitar sekolah, serta pemasukan pencegahan obesitas layanan primer ke dalam paket manfaat JKN (UNICEF Indonesia, t.t.). Sejalan dengan itu, WHO menegaskan bahwa perawatan saja tidak akan membalikkan tren; diperlukan kebijakan yang membuat pola makan sehat dan aktivitas fisik lebih mudah dijangkau dan terjangkau secara harga, lintas sektor pendidikan, tata kota, transportasi, dan perlindungan sosial (WHO, 2026c). Pedoman WHO ini baru terbit, sehingga belum ada telaah atau adopsi resmi dari Kementerian Kesehatan maupun organisasi profesi yang dapat saya rujuk.
Apa yang Dapat Dilakukan di Rumah dan di Puskesmas
Bagian ini adalah penerjemahan praktis oleh penulis berdasarkan prinsip pedoman, bukan kutipan langsung rekomendasi WHO.
Untuk orang tua dan pengasuh
- Jadikan perubahan sebagai urusan seluruh keluarga: menu, waktu makan, dan jadwal bergerak berlaku untuk semua, bukan hanya untuk anak yang berat badannya berlebih.
- Pilih kegiatan yang disukai anak, misalnya bersepeda, bermain di lapangan, atau menari, dan sisipkan dalam rutinitas harian.
- Awasi penggunaan gawai dan perhatikan juga suasana hati, kualitas tidur, serta pergaulan anak.
- Hindari menyebut berat badan sebagai kesalahan anak. Hindari diet ketat atau obat tanpa arahan tenaga kesehatan.
Untuk tenaga kesehatan di FKTP
- Lakukan penilaian awal menyeluruh: antropometri, riwayat keluarga dan medis, faktor psikososial dan perilaku (kebiasaan makan, aktivitas, tidur), serta pemeriksaan laboratorium bila diperlukan (WHO, 2026b).
- Tawarkan program multimodal terstruktur yang melibatkan orang tua, bukan nasihat tunggal “kurangi makan”. Tidak ada interval kontrol yang ideal; sesuaikan frekuensi kunjungan dengan kondisi klinis, penyakit penyerta, obat yang dipakai, dan kerentanan sosial.
- Skrining tanda gangguan makan, kecemasan, dan depresi; rujuk ke dokter spesialis anak atau layanan kesehatan jiwa bila perlu, dengan surat rujukan tertulis dan komunikasi yang penuh empati.
- Jangan memulai obat pada anak di bawah 10 tahun; untuk remaja, ikuti rincian pedoman remaja dan tata laksana oleh dokter yang berpengalaman.
Untuk memahami peran layanan kesehatan primer dalam pendekatan ini, silakan baca juga ulasan kami tentang pelayanan kesehatan primer menurut kursus WHO.
Kembali ke Raka. Jawaban bagi ibunya: tidak perlu obat dan tidak perlu diet ketat. Yang dianjurkan adalah program terstruktur bersama keluarga yang mencakup pola makan seimbang, aktivitas fisik yang menyenangkan, pengaturan waktu layar dan tidur, dukungan emosional yang menghentikan ejekan, serta tindak lanjut berkala di puskesmas.
Pesan Kunci
- WHO menerbitkan pedoman global pertama untuk obesitas anak dan remaja pada 7 Oktober 2026; obesitas dipandang sebagai penyakit kronis yang dapat dikelola.
- Fondasi perawatan anak adalah program terstruktur dan multimodal yang melibatkan keluarga: pola makan, aktivitas fisik, dan perubahan perilaku.
- Obat, operasi bariatrik, dan alat penurun berat badan tidak dianjurkan pada anak usia 0–9 tahun.
- Rekomendasi kuat bertumpu pada bukti yang sangat rendah dan efeknya kecil; tujuan keberhasilan adalah kesehatan dan kesejahteraan, bukan hanya angka timbangan.
- Tangani kesehatan mental bersamaan, hindari stigma, dan dorong kebijakan lintas sektor agar pilihan sehat menjadi pilihan mudah.
Tanya Jawab Singkat
Apakah anak gemuk pasti akan menjadi dewasa dengan obesitas?
Tidak pasti, tetapi pedoman WHO mencatat bahwa anak dengan obesitas cenderung terus menghadapinya hingga remaja dan dewasa, sehingga penanganan sejak dini penting (WHO, 2026b).
Apakah anak di bawah 2 tahun juga perlu diet?
Rekomendasi diet terstruktur WHO berlaku untuk anak di atas 2 tahun. Pada anak yang lebih kecil, konsultasikan pola makan dan pertumbuhan dengan dokter; pedoman WHO tetap menekankan ASI eksklusif enam bulan pertama dan menyusui hingga dua tahun sebagai bagian pola makan sehat (WHO, 2026b).
Apakah suplemen atau probiotik membantu menurunkan berat badan anak?
Belum terbukti. Ulasan Cochrane 2025 yang dirangkum WHO menunjukkan intervensi mikrobioma memberi pengaruh kecil atau tidak berpengaruh pada hasil terkait obesitas (WHO, 2026b).
Catatan Transparansi
- Pedoman anak (WHO, 2026b) dibaca dari berkas lampiran, terutama ringkasan eksekutif, latar belakang, bukti diet, dan bukti multimodal. Tabel ringkasan temuan GRADE di lampiran tidak saya telaah satu per satu.
- Informasi tentang remaja hanya berasal dari siaran pers WHO (2026c); pedoman remaja (2026a) belum saya baca langsung, sehingga rincian rekomendasi untuk usia 10–19 tahun perlu dicek pada dokumen aslinya.
- Angka hasil ulasan sistematik (termasuk ulasan Cochrane) dikutip dari pedoman WHO sebagai sumber sekunder, bukan dari artikel aslinya.
- Data Indonesia berasal dari analisis UNICEF yang memakai SKI 2023 (sumber sekunder, angka gabungan kelebihan berat badan dan obesitas); tahun terbit dokumen UNICEF tidak tercantum pada berkas yang saya baca. Angka tersebut belum saya cocokkan dengan laporan SKI asli.
- Seluruh rekomendasi WHO yang dibahas berstatus bukti rendah atau sangat rendah; kekuatan rekomendasi mencerminkan pertimbangan nilai, kelayakan, dan keseimbangan manfaat-risiko, bukan keyakinan terhadap efek besar.
- Tidak ada telaah atau adopsi resmi pedoman ini oleh Kemenkes atau organisasi profesi Indonesia yang saya temukan saat penulisan. Bagian saran praktis adalah interpretasi penulis. Kasus Raka fiktif.
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 7). https://www.peraturan.go.id/files/bn7-2020.pdf
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. (t.t.). Pemerintah terus berupaya menurunkan angka obesitas pada anak. https://www.kemenkopmk.go.id/pemerintah-terus-berupaya-menurunkan-angka-obesitas-pada-anak
UNICEF Indonesia. (t.t.). Analisis lanskap kelebihan berat badan dan obesitas di Indonesia: Ringkasan temuan kunci. https://www.unicef.org/indonesia/media/22496/file/Analisis Lanskap Kelebihan Berat Badan dan Obesitas di Indonesia: Ringkasan Temuan Kunci.pdf
World Health Organization. (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age. https://iris.who.int/handle/10665/311664
World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. https://iris.who.int/handle/10665/336656
World Health Organization. (2026a). WHO guideline on the integrated management of obesity in adolescents. https://www.who.int/publications/i/item/9789240123878
World Health Organization. (2026b). WHO guideline on the integrated management of obesity in children (ISBN 978-92-4-012339-7). https://www.who.int/publications/i/item/9789240123397
World Health Organization. (2026c, 7 Oktober). WHO issues first global guidelines on child and adolescent obesity [Siaran pers]. https://www.who.int/news/item/07-10-2026-who-issues-first-global-guidelines-on-child-and-adolescent-obesity
Disclaimer medis: artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi, pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh dokter. Jangan memulai, mengubah, atau menghentikan diet maupun obat pada anak tanpa arahan tenaga kesehatan.





Tinggalkan Balasan