Pak Darmo, 62 tahun, pensiunan guru di Klaten, rutin berobat ke Puskesmas untuk hipertensi dan diabetes. Pada pemeriksaan terakhir, hasil laboratoriumnya menunjukkan estimated glomerular filtration rate (eGFR) 42 mL/menit/1,73 m². Artinya fungsi ginjalnya sudah turun ke stadium G3b. Tokoh ini fiktif, tetapi situasinya sangat nyata.
Istrinya bingung. Untuk gula darah, nasi harus dikurangi. Untuk tekanan darah, garam harus dikurangi. Untuk ginjal, katanya protein dan buah tertentu harus dibatasi. “Lalu Bapak makan apa?” tanyanya. Pertanyaan itu wajar, dan jawabannya tidak serumit yang dibayangkan. Ketiga penyakit ini punya “tuas diet” yang sebagian besar sama.
Tiga Penyakit yang Saling Menguatkan
Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan hipertensi pada 30,8% penduduk usia ≥18 tahun berdasarkan pengukuran tekanan darah, tetapi hanya 8,6% yang pernah didiagnosis sebelumnya. Prevalensi diabetes berdasarkan pengukuran kadar gula darah mencapai 11,7% (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan [BKPK], 2024). Banyak orang hidup dengan tekanan darah dan gula darah tinggi tanpa tahu, sementara ginjalnya diam-diam menanggung beban.
Gula darah tinggi dan tekanan darah tinggi sama-sama merusak pembuluh darah halus di ginjal. Ginjal yang melemah lalu sulit membuang garam dan air, sehingga tekanan darah naik lagi. Karena itu pedoman internasional memandang ketiganya sebagai satu kesatuan perawatan (KDIGO Diabetes Work Group, 2022; KDIGO CKD Work Group, 2024).
Tuas Diet yang Dipakai Bersama
Tabel 1. Ringkasan sasaran diet menurut pedoman utama (orang dewasa, tidak menjalani dialisis)
| Komponen | Rekomendasi | Catatan penting |
|---|---|---|
| Natrium (garam) | <2 g natrium/hari (setara <5 g garam atau ±1 sendok teh) menurut KDIGO 2024 dan WHO | PNPK Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa 2026 menyebut maksimal 1.500 mg/hari; bukti uji acak untuk rentang <2 g masih sedikit |
| Protein | ±0,8 g/kg berat badan/hari pada PGK G3–G5; hindari >1,3 g/kg/hari | Jangan membatasi protein pada orang yang kurang gizi |
| Karbohidrat | Pilih sumber berserat dan bernilai gizi; kurangi gula bebas | Pola Mediterania, DASH, atau nabati dianjurkan ADA untuk diabetes |
| Kalium dan fosfor | Disesuaikan individu berdasarkan hasil laboratorium | Tidak ada satu angka untuk semua orang |
| Pendampingan | Libatkan dietisien/ahli gizi | Dianjurkan KDIGO 2024 untuk individualisasi |
Sumber: KDIGO CKD Work Group (2024); KDIGO Diabetes Work Group (2022); World Health Organization [WHO] (2012); American Diabetes Association [ADA] Professional Practice Committee (2026); Kementerian Kesehatan RI (2026).
1. Garam: musuh yang menyamar sebagai bumbu
Pedoman KDIGO 2024 menyarankan natrium kurang dari 2 g per hari pada PGK. Angka ini sama dengan batas WHO untuk populasi umum (KDIGO CKD Work Group, 2024; WHO, 2012). Di Indonesia, Permenkes Nomor 30 Tahun 2013 merumuskannya dengan lebih mudah diingat: gula 4 sendok makan, garam 1 sendok teh (2.000 mg natrium), dan lemak 5 sendok makan per hari (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Catatan untuk penyandang diabetes. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tatalaksana Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa (KMK HK.01.07/MENKES/302/2026) menganjurkan natrium tidak lebih dari 1.500 mg per hari (Kementerian Kesehatan RI, 2026), lebih ketat daripada batas 2 g di atas. Bagi orang yang memiliki ketiga penyakit sekaligus, angka yang lebih ketat ini layak menjadi titik awal pembicaraan dengan dokter dan ahli gizi. Hasilnya lalu disesuaikan dengan tekanan darah, kondisi ginjal, dan obat yang dipakai.
Garam di dapur Nusantara jarang berasal dari garam meja saja. Sumber tersembunyinya antara lain:
- Penyedap dan kuah instan: mi instan, bumbu kaldu bubuk, saus sachet.
- Pengawet tradisional: ikan asin, terasi, telur asin, dendeng.
- Fermentasi dan bumbu cair: kecap, tauco, petis.
- Olahan jajanan: kerupuk, bakso dan sosis kemasan, serta kuah soto, coto, atau rawon yang kental dan asin.
Beberapa catatan agar saran ini tidak menyesatkan:
- Pada PGK dengan sodium-wasting nephropathy (ginjal yang justru boros membuang natrium), pembatasan garam tidak otomatis dianjurkan (KDIGO, sebagaimana diulas dalam Managing hypertension in chronic kidney disease, 2025).
- Komentar Canadian Society of Nephrology menilai batas 2 g terlalu ketat untuk semua orang. Mereka lebih menyarankan menurunkan asupan pada mereka yang konsumsinya memang tinggi, sekitar >3,3 g/hari (Canadian Society of Nephrology, n.d.).
Jadi tujuannya bukan makanan hambar. Tujuannya mengurangi garam tersembunyi, lalu memperkaya rasa dengan bawang, jahe, serai, daun salam, jeruk nipis, atau asam jawa.

Awas garam pengganti. WHO pada awal 2025 menyarankan lower-sodium salt substitutes (garam rendah natrium berisi kalium klorida) untuk populasi umum (WHO, 2025). Pada penderita PGK, terutama yang memakai obat penghambat sistem renin-angiotensin atau finerenone, kalium tambahan dari garam jenis ini bisa memicu hiperkalemia. Panduan WHO tersebut, sepengetahuan saya, mengecualikan orang dengan gangguan fungsi ginjal. Selalu tanyakan dokter sebelum memakainya.
2. Gula dan karbohidrat: kualitas lebih penting daripada sekadar mengurangi nasi
Standar ADA 2026 menganjurkan terapi gizi medis yang diindividualisasi. Pola makan yang didukung bukti adalah Mediterania, DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension), dan pola nabati, semuanya berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah (ADA Professional Practice Committee, 2026). PNPK diabetes nasional menyebut karbohidrat tidak kurang dari 130 gram per hari, dengan pilihan berindeks glikemik rendah dan berserat tinggi, serta menghindari minuman manis termasuk jus buah (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
- Ganti sebagian nasi putih dengan nasi merah, singkong rebus, atau ubi dalam porsi terukur.
- Hindari minuman manis dalam kemasan, es teh manis, dan sirup. Pada penyandang diabetes, gula bebas sebaiknya ditekan serendah mungkin. Angka 50 gram dalam Permenkes adalah batas atas untuk populasi umum, bukan target bagi penyandang diabetes.
- Perhatikan cara memasak. Ikan atau tempe lebih baik dikukus, dipepes, atau dipanggang daripada digoreng berulang dengan minyak.
3. Protein: secukupnya, bukan dihindari
KDIGO 2024 menyarankan protein sekitar 0,8 g/kg berat badan per hari pada orang dewasa dengan PGK G3–G5, dan menghindari asupan di atas 1,3 g/kg per hari. Untuk penyandang diabetes dengan PGK yang belum dialisis, KDIGO 2022 memberi angka serupa (KDIGO CKD Work Group, 2024; KDIGO Diabetes Work Group, 2022).
Contoh hitungan: orang dengan berat badan 60 kg memerlukan sekitar 48 gram protein per hari. Jumlah ini kira-kira terpenuhi dari satu butir telur, sepotong ikan atau tempe berukuran telapak tangan, dan sedikit protein dari nasi serta sayur. Ini hitungan kasar, dan ahli gizi dapat merinci sesuai bahan makanan yang tersedia di daerah masing-masing.
Dua peringatan:
- Jangan membatasi protein terlalu ketat pada orang yang kurang gizi atau berisiko malnutrisi.
- Pedoman belum seragam. KDOQI 2020 menyarankan 0,55–0,60 g/kg/hari pada PGK tanpa diabetes, lebih rendah daripada KDIGO (Ikizler et al., 2020). Panel pakar European Renal Nutrition Working Group mengakui perbedaan ini dan mendorong pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien, termasuk usia lanjut (Sabatino et al., 2025). Pada PGK yang menjalani dialisis, kebutuhan protein justru berbeda dan lebih tinggi.
4. Kalium dan fosfor: tergantung hasil laboratorium
Di sinilah dua nasihat bisa bertabrakan. Pola DASH dan nabati kaya buah, sayur, dan kacang, yang merupakan sumber kalium. Itu baik untuk tekanan darah dan jantung pada kebanyakan orang. Namun pada PGK lanjut atau pada pengguna obat tertentu, kalium darah bisa naik berbahaya.
KDIGO tidak memberi satu angka untuk semua. Kalium dan fosfor diatur menurut hasil laboratorium dan stadium, dengan pendampingan dietisien (KDIGO CKD Work Group, 2024). Pasien yang kalium darahnya normal umumnya tidak perlu menghindari sayur dan buah. Yang kalium darahnya tinggi perlu daftar pilihan makanan yang dipersonalisasi.
Contoh Penataan Satu Hari
Tabel 2. Ilustrasi menu sehari (dewasa, PGK G3, tanpa dialisis, kalium dan fosfor dalam batas normal)
| Waktu makan | Contoh | Kiat |
|---|---|---|
| Sarapan | Nasi merah atau ubi rebus, telur rebus, tumis labu siam | Hindari kerupuk dan sambal kemasan |
| Siang | Nasi (porsi terukur), pepes ikan, sayur bening, tempe kukus atau panggang | Bumbu dari rempah segar; kuah tidak dihabiskan |
| Selingan | Pepaya, apel, atau buah lain sesuai kalium darah | Buah utuh lebih baik daripada jus |
| Malam | Nasi (porsi lebih kecil), tahu atau ayam tanpa kulit, tumis kangkung atau buncis | Takar kecap dan garam dengan sendok, jangan dikira-kira |
Ini sekadar ilustrasi. Menu nyata bergantung pada berat badan, kebutuhan energi, obat, hasil laboratorium, dan selera lidah daerah. Di Makassar, Padang, Denpasar, atau Banjarmasin, bahan dan bumbunya berbeda, tetapi logikanya sama. Takar bumbu asin, pilih olahan segar, dan ukur porsi.
Gambaran Besar
Diagram berikut merangkum bagaimana tiga penyakit berbagi satu rangkaian tuas diet.
Kapan Perlu Menemui Tenaga Kesehatan
- Segera konsultasikan jika hasil laboratorium menunjukkan eGFR turun, albuminuria muncul, atau kalium darah tinggi.
- Mintalah rujukan ke dietisien atau ahli gizi. KDIGO menganjurkan keterlibatan mereka untuk mengatur natrium, kalium, fosfor, dan protein.
- Jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri, termasuk saat mengubah pola makan. Obat penghambat sistem renin-angiotensin dan penghambat SGLT2, yang kini menjadi pilar terapi diabetes dengan PGK, bekerja bersama diet (KDIGO Diabetes Work Group, 2022).
Pesan Kunci
- Diabetes, hipertensi, dan PGK saling memperburuk, jadi dietnya ditata sebagai satu rencana.
- Targetkan natrium di bawah 2 g/hari (±1 sendok teh garam), atau hingga 1.500 mg/hari bila mengikuti PNPK diabetes, dan waspadai garam tersembunyi dalam penyedap, kecap, ikan asin, dan olahan kemasan.
- Protein sekitar 0,8 g/kg/hari pada PGK G3–G5 yang belum dialisis: tidak berlebihan, tetapi tidak dihindari.
- Kalium dan fosfor diatur menurut hasil laboratorium, bukan menurut kabar dari mulut ke mulut.
- Garam pengganti berbahan kalium tidak boleh dipakai sembarangan pada PGK.
Untuk topik terkait, baca juga pedoman nasional terbaru diabetes tipe 2 dewasa, delapan mitos hipertensi, dan menata pola makan sehat yang realistis.
Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan.
Catatan Transparansi
- Sumber sekunder. Beberapa isi pedoman saya ambil dari ringkasan dan ulasan pihak ketiga, bukan dari naskah utamanya: KDIGO 2024 (NephJC dan ulasan MDPI), ADA 2026 (ringkasan para dietisien), KDOQI 2020 (tabel perbandingan), dan WHO 2025 (laporan media). Angka PNPK diabetes (natrium 1.500 mg/hari dan karbohidrat ≥130 g/hari) diambil dari ulasan di legawa.com tentang KMK 302/2026, bukan dari naskah resmi. Verifikasi angka ke dokumen aslinya sebelum dijadikan acuan klinis.
- Rujukan yang belum lengkap. Penulis dan tahun komentar Canadian Society of Nephrology tidak terbaca pada hasil pencarian. Judul penuh dan nomor terbitan Sabatino et al. (2025) serta judul resmi panduan WHO 2025 perlu dicek ulang. Penulis ulasan J Clin Med juga tidak terbaca, sehingga entrinya ditulis dengan judul sebagai penulis. DOI KDIGO 2024 dan rincian KDOQI 2020 saya tulis dari ingatan.
- Perbedaan angka natrium. KDIGO dan WHO menyebut <2 g/hari, PNPK diabetes menyebut maksimal 1.500 mg/hari, dan komentar Kanada menilai pembatasan rutin terlalu ketat. Perbedaan ini mencerminkan kurangnya uji acak, bukan kesalahan salah satu pihak. Saya belum menemukan dokumen nasional khusus PGK yang merinci natrium dan protein setingkat KDIGO.
- Kesenjangan penerapan. Menu dan kuliner daerah pada artikel ini bersifat ilustratif. Kandungan natrium dan kalium makanan Indonesia berbeda menurut cara olah dan tidak dicantumkan angkanya.
- Pengecualian. Pedoman di atas ditujukan bagi orang dewasa dengan PGK tanpa dialisis. Dialisis, transplantasi, kehamilan, anak, dan kondisi akut memerlukan penatalaksanaan terpisah.
- Tokoh dan gambar. Pak Darmo adalah tokoh fiktif. Gambar unggulan dan ilustrasi bumbu dapur dibuat dengan kecerdasan buatan.
Daftar Pustaka
American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). Standards of care in diabetes—2026. Diabetes Care, 49(Suppl. 1).
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2024). Prevalensi, dampak, serta upaya pengendalian hipertensi dan diabetes di Indonesia [Factsheet Survei Kesehatan Indonesia 2023]. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/5536/1/07%20factsheet%20PTM_bahasa.pdf
Canadian Society of Nephrology. (n.d.). Canadian Society of Nephrology commentary on the KDIGO clinical practice guideline for CKD evaluation and management. https://research.universityofgalway.ie/en/publications/canadian-society-of-nephrology-commentary-on-the-kdigo-clinical-p/
Ikizler, T. A., Burrowes, J. D., Byham-Gray, L. D., Campbell, K. L., Carrero, J.-J., Chan, W., Fouque, D., Friedman, A. N., Ghaddar, S., Goldstein-Fuchs, D. J., Kaysen, G. A., Kopple, J. D., Teta, D., Yee-Moon Wang, A., & Cuppari, L. (2020). KDOQI clinical practice guideline for nutrition in CKD: 2020 update. American Journal of Kidney Diseases, 76(3, Suppl. 1), S1–S107.
KDIGO CKD Work Group. (2024). KDIGO 2024 clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease. Kidney International, 105(4S), S117–S314. https://doi.org/10.1016/j.kint.2023.10.018
KDIGO Diabetes Work Group. (2022). KDIGO 2022 clinical practice guideline for diabetes management in chronic kidney disease. Kidney International, 102(5S), S1–S127. https://doi.org/10.1016/j.kint.2022.06.008
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang pencantuman informasi kandungan gula, garam, dan lemak serta pesan kesehatan untuk pangan olahan dan pangan siap saji. Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/302/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tatalaksana Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa. https://kemkes.go.id/id/pnpk-tatalaksana-diabetes-melitus-tipe-2-dewasa
Managing hypertension in chronic kidney disease: The role of diet and guideline recommendations. (2025). Journal of Clinical Medicine, 14(11), 3755. https://www.mdpi.com/2077-0383/14/11/3755
Sabatino, A., Piccoli, G. B., & European Renal Nutrition (ERN) Working Group. (2025). Dos and don’ts in kidney nutrition: Practical considerations of a panel of experts on protein restriction and plant-based diets. Nutrients, 17, 2002.
World Health Organization. (2012). Guideline: Sodium intake for adults and children. WHO.
World Health Organization. (2025). WHO guideline on use of lower-sodium salt substitutes. WHO.





Tinggalkan Balasan