Seorang mahasiswa berusia 20 tahun di Makassar sedang pulih dari demam dan pilek ketika dadanya mulai terasa nyeri menekan dan jantungnya berdebar tidak wajar. Ia mengira itu sisa kelelahan karena begadang mengerjakan tugas. Pemeriksaan di IGD menunjukkan kadar troponin yang meningkat dan perubahan pada rekam jantung, padahal arteri koronernya normal. Cerita ini hanya ilustrasi, tetapi pola seperti itu khas untuk miokarditis, yaitu peradangan pada otot jantung. Sebagian besar kasus ringan dan pulih sempurna, namun sebagian kecil dapat berkembang cepat menjadi gagal jantung atau gangguan irama yang mengancam nyawa.

Apa itu miokarditis?

Miokarditis adalah peradangan pada miokardium, lapisan otot tebal yang memompa darah ke seluruh tubuh. Peradangan membuat sel otot jantung rusak sehingga denyut dan kekuatan pompa terganggu. Bila selaput pembungkus jantung (perikardium) ikut meradang, kondisinya disebut mioperikarditis. Pedoman Perhimpunan Kardiologi Eropa (ESC) tahun 2025 untuk pertama kalinya menyusun satu pedoman khusus bagi miokarditis dan perikarditis (Schulz-Menger et al., 2025).

Apa penyebabnya?

Penyebab terbanyak adalah infeksi virus, tetapi peradangan juga dapat dipicu oleh bakteri, parasit, obat, dan penyakit autoimun. Pada anak, Pernyataan Ilmiah American Heart Association juga menempatkan infeksi virus sebagai penyebab utama (Law et al., 2021).

Kelompok penyebabContoh
VirusCoxsackievirus dan enterovirus lain, parvovirus B19, human herpesvirus 6, virus influenza, SARS-CoV-2, dengue
BakteriDifteri (toksin kuman menyerang otot jantung), tifoid, Streptococcus, Mycoplasma
ParasitPenyakit Chagas, toksoplasmosis
Reaksi imun dan obatInhibitor immune checkpoint pada terapi kanker, reaksi hipersensitivitas obat, jarang pascavaksinasi mRNA
Penyakit sistemikLupus, sarkoidosis, miokarditis sel raksasa

Di Indonesia, infeksi tropis seperti dengue dan difteri patut diingat sebagai pemicu. Pasien dengue atau difteri yang mengeluh nyeri dada, sesak, atau jantung berdebar perlu dipantau lebih cermat, misalnya di Kupang, Makassar, atau Pontianak, tempat kasus infeksi tropis masih sering ditemukan.

Bagaimana gejalanya?

Gejala sangat bervariasi, dari nyaris tanpa keluhan hingga syok. Keluhan sering muncul beberapa hari sampai beberapa minggu setelah infeksi pernapasan atau pencernaan. Yang perlu dikenali adalah:

  • nyeri atau rasa tertekan di dada, kadang mirip serangan jantung;
  • sesak napas, cepat lelah, bengkak pada tungkai;
  • jantung berdebar, denyut tidak teratur, atau hampir pingsan;
  • demam, nyeri otot, atau riwayat infeksi virus dalam beberapa minggu terakhir.

Pada bentuk berat yang disebut miokarditis fulminan, kondisi memburuk dalam hitungan jam sampai hari, dengan tekanan darah turun dan organ lain ikut terganggu. Bentuk ini memerlukan perawatan intensif segera (Schulz-Menger et al., 2025).

Bagaimana dokter menegakkan diagnosis?

Dokter mulai dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, rekam jantung (EKG), pemeriksaan troponin, dan ekokardiografi. Langkah penting berikutnya adalah menyingkirkan sindrom koroner akut, sebab gambaran keduanya dapat mirip. Pada pasien yang stabil, hal ini biasanya dilakukan dengan pencitraan arteri koroner atau angiografi.

Pedoman ESC 2025 memberi peran utama pada MRI jantung (cardiac magnetic resonance, CMR), yang direkomendasikan pada kecurigaan miokarditis (Kelas I, Tingkat B) dan paling akurat bila dilakukan dalam sekitar dua minggu sejak gejala. Diagnosis dengan CMR memakai kriteria Lake Louise yang diperbarui: minimal satu kriteria berbasis T2 (tanda edema) dan satu kriteria berbasis T1 (tanda cedera atau jaringan parut, termasuk late gadolinium enhancement yang khas berada di tengah dinding atau di lapisan luar otot). Hasilnya digolongkan sebagai CMR-terbukti, CMR-meragukan, atau CMR-tersingkir (Schulz-Menger et al., 2025).

PemeriksaanKegunaan
EKG dan troponinMenunjukkan kelainan irama atau cedera sel otot; tidak spesifik
EkokardiografiPemeriksaan lini pertama untuk menilai fungsi pompa dan cairan perikardium
MRI jantung (CMR)Menunjukkan edema dan jaringan parut; menegakkan diagnosis tanpa tindakan invasif
Biopsi otot jantungUntuk kasus tertentu bila hasilnya mengubah terapi
FDG-PET/CTDipertimbangkan bila ekokardiografi dan CMR belum meyakinkan, misalnya pada dugaan sarkoidosis jantung

Biopsi otot jantung (biopsi endomiokard) dicadangkan untuk situasi ketika hasilnya akan mengubah tata laksana, seperti dugaan miokarditis sel raksasa, sarkoidosis jantung, miokarditis akibat inhibitor immune checkpoint, atau perburukan cepat pada miokarditis fulminan (Schulz-Menger et al., 2025; ringkasan pedoman pada Esanum, 2025). Perlu dicatat, CMR tidak dapat menentukan penyebab (virus, autoimun, atau lainnya), sehingga biopsi tetap memiliki tempat pada kasus terpilih.

Bagaimana pengobatannya?

Tidak ada satu obat yang menyembuhkan semua jenis miokarditis. Pengobatan menyesuaikan beratnya penyakit dan penyebabnya.

  • Perawatan suportif dan terapi gagal jantung. Bila fungsi pompa menurun, pasien mendapat terapi gagal jantung sesuai pedoman. Pasien berisiko perlu dipantau di rumah sakit dengan monitor irama.
  • Kasus fulminan. Perawatan di ICU dan, bila perlu, alat penunjang sirkulasi mekanik seperti VA-ECMO atau Impella (Esanum, 2025).
  • Gangguan irama. Pada aritmia ventrikel, pelindung sementara berupa defibrilator yang dikenakan dapat dipakai. Pemasangan ICD permanen ditunda dan dinilai ulang bila fungsi pompa tetap rendah di luar fase akut.
  • Imunosupresi. Kortikosteroid dan obat penekan imun dicadangkan untuk penyebab imunologis yang terbukti atau sangat dicurigai (misalnya miokarditis sel raksasa atau akibat inhibitor immune checkpoint). Pemberian steroid tanpa dasar yang jelas tidak dianjurkan karena dapat merugikan pada miokarditis akibat virus (Esanum, 2025).

Penting: jangan minum obat antinyeri atau antiradang sembarangan, dan jangan memaksakan aktivitas berat, bila ada nyeri dada setelah infeksi virus. Pemeriksaan dokter diperlukan terlebih dahulu.

Kapan boleh berolahraga lagi?

Larangan olahraga setelah miokarditis dahulu dipukul rata, lazimnya 3 sampai 6 bulan. Menurut ringkasan pedoman ESC 2025, keputusan kini bersifat individual, berdasarkan kestabilan klinis, fungsi bilik jantung, normalnya penanda cedera jantung, dan pemulihan pada CMR bila tersedia. Atlet dengan jaringan parut yang luas atau fraksi ejeksi yang menurun memerlukan pembatasan lebih lama dan uji bertahap (Esanum, 2025). Kontrol klinis dianjurkan pada 1 sampai 3 bulan, dengan pencitraan ulang untuk memastikan pemulihan. Pedoman ESC juga menempatkan CMR ulang dalam 6 bulan sebagai rekomendasi Kelas I untuk membedakan penyakit yang sudah sembuh dari yang masih aktif (Schulz-Menger et al., 2025).

Bagaimana prognosisnya?

Sebagian besar pasien dengan fungsi jantung yang terjaga pulih baik. Faktor yang menandakan risiko lebih tinggi meliputi penurunan fraksi ejeksi, jaringan parut luas (dua segmen atau lebih), cairan perikardium dengan tanda tamponade, dan edema yang menetap pada pemeriksaan ulang. Sebaliknya, jaringan parut minimal dan edema yang mereda berkaitan dengan risiko lebih rendah (Schulz-Menger et al., 2025). Penyintas dengan jaringan parut yang menetap tetap memerlukan pengawasan jangka panjang terhadap risiko gangguan irama, meskipun fraksi ejeksinya sudah normal (Esanum, 2025).

Pencegahan

Tidak ada cara tunggal untuk mencegah miokarditis, tetapi beberapa langkah masuk akal: imunisasi lengkap (difteri, campak, influenza, dan lainnya) mencegah penyakit infeksi yang dapat menyerang jantung; istirahat cukup saat sakit demam dan tidak memaksakan olahraga berat ketika masih dalam masa pemulihan infeksi; serta segera memeriksakan diri bila muncul nyeri dada, sesak, atau jantung berdebar pascainfeksi.

Kapan harus segera ke IGD?

  • nyeri dada menekan yang tidak mereda, terutama setelah demam atau infeksi;
  • sesak napas berat atau tidak bisa berbaring datar;
  • jantung berdebar sangat cepat, pingsan, atau hampir pingsan;
  • wajah pucat, keringat dingin, tangan dan kaki dingin, atau kebingungan.

Pesan penutup

Miokarditis mengingatkan kita bahwa infeksi yang tampak sepele dapat sesekali menjangkau jantung. Dengan MRI jantung, diagnosis kini lebih sering dapat ditegakkan tanpa tindakan invasif, dan keputusan pengobatan serta olahraga makin diindividualisasi. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan serta pengobatan oleh dokter. Untuk topik terkait, baca juga artikel kami tentang kardiomiopati.

Daftar pustaka

Esanum. (2025). ESC 2025 guidelines on myocarditis and pericarditis. https://www.esanum.com/feeds/journal-club/posts/esc-2025-guidelines-on-myocarditis-and-pericarditis

Law, Y. M., Lal, A. K., Chen, S., et al. (2021). Diagnosis and management of myocarditis in children: A scientific statement from the American Heart Association. Circulation, 144(6), e123–e135. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34229446/

Schulz-Menger, J., Imazio, M., et al. (2025). 2025 ESC guidelines for the management of myocarditis and pericarditis. European Heart Journal, 46, 3952–4041. https://www.cardiac-imaging.org/2025_ESC_myocarditis

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca