Gagal jantung pada anak adalah suatu sindrom klinis yang ditandai oleh ketidakmampuan jantung untuk memompa darah secara adekuat, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan, intoleransi aktivitas, dan gejala-gejala respiratori dan gastrointestinal. Gagal jantung pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyakit jantung bawaan, kardiomiopati, penyakit katup jantung, dan miokarditis.
Untuk menegakkan diagnosis gagal jantung pada anak, dokter perlu melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, seperti elektrokardiografi, ekokardiografi, dan tes laboratorium. Dokter juga perlu menentukan tingkat keparahan gagal jantung dengan menggunakan klasifikasi New York Heart Association (NYHA) atau klasifikasi Ross.
Sumber: Pediatric Experts
Pengobatan gagal jantung pada anak bertujuan untuk mengatasi penyebab, mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan mencegah komplikasi. Pengobatan dapat meliputi terapi farmakologis, terapi non-farmakologis, dan terapi invasif. Terapi farmakologis meliputi penggunaan diuretik, penghambat enzim konversi angiotensin, beta-bloker, dan digoksin. Terapi non-farmakologis meliputi modifikasi gaya hidup, seperti mengatur asupan cairan dan garam, menghindari infeksi, dan melakukan aktivitas fisik yang sesuai. Terapi invasif meliputi tindakan operasi, seperti koreksi penyakit jantung bawaan, penggantian katup jantung, atau transplantasi jantung.
Gagal jantung pada anak adalah suatu kondisi yang memerlukan perhatian dan penanganan yang tepat. Dengan mengikuti pedoman nasional dan sumber-sumber yang kredibel, dokter dapat memberikan pelayanan yang optimal bagi pasien gagal jantung pada anak.
Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan