Bu Rini, 34 tahun, pedagang pasar di Sragen, mengira perih saat buang air kecil yang ia alami sejak Senin hanyalah “anyang-anyangan” biasa. Ia minum banyak air putih dan menunggu sembuh. Kamis malam, ia demam tinggi, menggigil, pinggang kanannya nyeri tumpul, dan ia muntah. Di IGD, dokter menyebutnya pielonefritis akut: infeksi bakteri yang sudah naik dari kandung kemih ke ginjal.
Kisah seperti ini sangat umum, di Sragen, Denpasar, Makassar, maupun Medan. Pielonefritis adalah bentuk infeksi saluran kemih (ISK) bagian atas. Berbeda dengan sistitis yang umumnya ringan, pielonefritis dapat memicu sepsis bila terlambat ditangani. Kabar baiknya, sebagian besar kasus sembuh tuntas dengan antibiotik yang tepat.
Apa yang Terjadi di Dalam Tubuh?
Sekitar 75–90% kasus disebabkan oleh Escherichia coli, bakteri usus yang hidup di sekitar anus dan mudah berpindah ke muara uretra. Bakteri naik melalui uretra ke kandung kemih, lalu bila tidak dihentikan, menyusuri ureter hingga ke ginjal. Penyebab lain meliputi Klebsiella, Proteus, Enterococcus, dan Pseudomonas, terutama pada pasien yang sudah pernah dirawat atau memakai kateter.
Perempuan lebih sering terkena karena uretranya pendek. Faktor risiko lain adalah kehamilan, diabetes melitus, batu saluran kemih, pembesaran prostat, kateter urin, serta gangguan kekebalan tubuh. Pada laki-laki, pielonefritis selalu menjadi sinyal untuk mencari kelainan penyerta seperti sumbatan atau prostatitis.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
- Demam (sering di atas 38 °C) dengan menggigil;
- Nyeri pinggang atau nyeri ketok sudut costovertebra, biasanya satu sisi;
- Mual dan muntah;
- Keluhan sistitis sebelumnya: anyang-anyangan, nyeri saat berkemih, sering berkemih, urin keruh atau berbau;
- Pada lansia: bisa hanya berupa bingung, lemas, atau jatuh, tanpa demam yang jelas.
Segera ke IGD bila disertai tekanan darah turun, denyut jantung cepat, napas cepat, kesadaran menurun, tidak dapat minum karena muntah, sedang hamil, atau memiliki diabetes dan penyakit ginjal. Tanda-tanda ini dapat berarti infeksi sudah menyebar ke aliran darah (urosepsis).
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?
Diagnosis ditegakkan dari gabungan gejala, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang:
| Pemeriksaan | Tujuan dan temuan khas |
|---|---|
| Urinalisis | Leukosit (piuria), nitrit, bakteri; silinder leukosit mengarah ke ginjal |
| Kultur urin dan uji kepekaan | Wajib diambil sebelum antibiotik; menentukan terapi definitif |
| Darah lengkap, CRP, kreatinin | Menilai beratnya infeksi dan fungsi ginjal |
| Kultur darah | Pada pasien rawat inap atau dicurigai sepsis |
| USG ginjal | Mencari sumbatan atau batu, terutama bila ada riwayat batu, gangguan fungsi ginjal, atau gejala berat |
| CT scan dengan kontras | Bila demam menetap lebih dari 72 jam setelah terapi atau kondisi memburuk (curiga abses atau komplikasi) |
Pedoman European Association of Urology (EAU) tentang infeksi urologi edisi 2026 menegaskan USG dilakukan untuk menyingkirkan sumbatan atau batu, dan CT dipertimbangkan bila demam menetap setelah 72 jam pengobatan atau kondisi klinis memburuk.
Pengobatan: Rawat Jalan atau Rawat Inap?
Pasien yang stabil, tidak hamil, tidak muntah terus-menerus, dan dapat minum obat oral bisa diobati sebagai pasien rawat jalan. Pasien dengan tanda sepsis, muntah, kehamilan, sumbatan saluran kemih, atau kondisi penyerta berat sebaiknya dirawat dan mendapat antibiotik intravena.
Menurut EAU, untuk terapi oral empiris hanya fluorokuinolon dan sefalosporin oral yang direkomendasikan. Nitrofurantoin, fosfomisin oral, dan pivmesilinam tidak dianjurkan karena data kemanjurannya kurang untuk infeksi ginjal. Bila memakai kotrimoksazol atau beta-laktam oral tanpa hasil kepekaan, pedoman menyarankan dosis awal antibiotik parenteral kerja panjang seperti seftriakson. Untuk pasien rawat inap, pilihan awal meliputi fluorokuinolon, aminoglikosida, sefalosporin spektrum luas, atau piperasilin/tazobaktam; karbapenem disimpan untuk kecurigaan bakteri multiresisten atau penghasil ESBL, misalnya pada urosepsis.
Durasi lebih singkat, hasil sama baik
Pedoman IDSA 2025 tentang ISK komplikata (termasuk pielonefritis) menganjurkan durasi pendek bagi pasien yang membaik: 5–7 hari bila memakai fluorokuinolon, dan 7 hari bila memakai antibiotik nonfluorokuinolon, dihitung sejak hari pertama antibiotik yang benar-benar efektif. Pada bakteremia gram-negatif yang membaik, 7 hari total pun disarankan, bukan 14 hari. Perpanjangan durasi dipertimbangkan secara individual pada kateter menetap, abses, sumbatan total, imunokompromais, atau dugaan prostatitis akut pada laki-laki (bisa 10–14 hari). Pasien yang tidak membaik cepat perlu dievaluasi: apakah antibiotiknya tidak mencakup kuman, ada sumber infeksi yang belum teratasi, atau diagnosisnya keliru.
Di Indonesia, panduan nasional diagnosis dan tata laksana ISK dari Kementerian Kesehatan juga menekankan urinalisis, klasifikasi pasien, dan pemakaian antibiotik yang bijak; ulasannya dapat dibaca di artikel PNPK ISK di blog ini. Karena pola resistensi berbeda antardaerah dan antarrumah sakit, pilihan empiris sebaiknya mengacu pada antibiogram setempat.
Komplikasi yang Perlu Dicegah
Bila terlambat atau tidak adekuat, pielonefritis dapat menyebabkan abses ginjal atau perirenal, pielonefritis emfisematosa (khususnya pada penderita diabetes), pionefrosis akibat sumbatan, sepsis, cedera ginjal akut, dan pada kehamilan risiko persalinan prematur. Sumbatan oleh batu yang disertai infeksi adalah kegawatan urologi yang memerlukan drainase segera, misalnya pemasangan double-J stent atau nefrostomi perkutan, selain antibiotik.
Pencegahan Sehari-hari
- Obati sistitis sejak dini dan tuntaskan antibiotik sesuai anjuran dokter; jangan membeli antibiotik sendiri.
- Cukup minum air putih dan jangan menahan buang air kecil.
- Berkemih setelah berhubungan seksual dan membersihkan area genital dari depan ke belakang.
- Kendalikan gula darah pada penderita diabetes.
- Periksakan keluhan batu ginjal atau gangguan prostat.
- Bila sering kambuh (lebih dari dua kali dalam enam bulan), konsultasikan pemeriksaan penyebab dasarnya.
Pesan Penting
Demam disertai nyeri pinggang setelah keluhan berkemih bukan sesuatu yang bisa ditunggu sembuh sendiri. Pemeriksaan urin dan kultur sebelum antibiotik, pemilihan obat yang sesuai pola kuman setempat, dan durasi terapi yang tepat menjaga ginjal tetap sehat sekaligus membantu menekan resistensi antibiotik. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan serta nasihat dokter yang menangani Anda.
Rujukan
- Trautner BW, et al. IDSA 2025 guideline on complicated urinary tract infections. Clin Infect Dis. 2025. doi:10.1093/cid/ciaf462; ringkasan: EMJ Reviews
- European Association of Urology. Guidelines on Urological Infections, edisi 2026.
- Burchette JE, et al. Pivmecillinam for uncomplicated acute cystitis: a contemporary review. Ann Pharmacother. 2024. doi:10.1177/10600280241288554 (data pivmesilinam untuk pielonefritis masih terbatas)




Tinggalkan Balasan