Seorang ibu membawa anaknya yang berusia tiga tahun ke Puskesmas dengan keluhan buang air besar cair lebih dari lima kali sehari selama dua hari terakhir. Awalnya tinja hanya encer, namun sejak semalam mulai bercampur lendir dan sedikit darah. Anak tampak rewel, mengeluh nyeri perut setiap hendak buang air besar, dan sesekali demam. Skenario semacam ini bukan sekadar diare biasa—inilah gambaran klasik disentri, salah satu penyakit saluran cerna tertua yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia hingga saat ini.
Apa Itu Disentri?
Disentri adalah sindrom klinis yang ditandai oleh diare disertai darah dan lendir dalam tinja, disertai nyeri perut serta tenesmus—rasa ingin buang air besar terus-menerus meski usus sudah kosong. Secara praktis, diare berdarah dapat dijadikan penanda kecurigaan awal terhadap disentri (Ikatan Dokter Anak Indonesia [IDAI], n.d.). Berbeda dengan diare cair akut biasa yang umumnya disebabkan oleh virus atau mekanisme sekretorik, disentri terjadi akibat kerusakan langsung pada dinding usus besar oleh mikroorganisme yang bersifat invasif.
Dua Wajah Penyebab: Basiler dan Amuba
Secara garis besar, disentri dibagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan penyebabnya.
Disentri Basiler
Disentri basiler disebabkan oleh bakteri, dengan genus Shigella sebagai penyebab tersering dan terpenting—bahkan hampir seluruh kasus disentri berat yang mengancam jiwa berasal dari infeksi Shigella (IDAI, n.d.). Terdapat empat spesies Shigella: S. dysenteriae, S. flexneri, S. sonnei, dan S. boydii. Di antara keempatnya, Shigella dysenteriae tipe 1 (Sd1) patut diwaspadai karena menghasilkan racun Shiga yang dapat memicu wabah berskala besar dengan angka kematian mencapai 10% pada kasus yang tidak tertangani (Médecins Sans Frontières [MSF], n.d.). Selain Shigella, patogen bakteri lain seperti Escherichia coli enteroinvasif, Salmonella, dan Campylobacter juga dapat menimbulkan gambaran klinis serupa.
Disentri Amuba
Disentri amuba disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica, yang menginfeksi usus besar dalam bentuk trofozoit setelah tertelan dalam bentuk kista. Di Indonesia, prevalensi infeksi Entamoeba histolytica dilaporkan berkisar antara 10–18% pada populasi tertentu, meski angka ini bervariasi tergantung wilayah dan metode deteksi yang digunakan (Alomedika, 2024).
Cara Penularan
Baik disentri basiler maupun amuba menular melalui jalur fecal-oral—seseorang tertular ketika secara tidak sengaja menelan partikel tinja yang mengandung bakteri atau kista amuba. Penularan ini biasanya terjadi lewat tangan yang tidak dicuci bersih, air minum yang tidak dimasak, makanan yang terkontaminasi, atau kontak langsung antarindividu di lingkungan dengan sanitasi buruk.
Gejala dan Tanda Bahaya
Selain diare berdarah, anak dengan disentri sering mengalami demam dan nyeri perut, terutama menjelang buang air besar. Pada pemeriksaan tinja rutin, biasanya ditemukan peningkatan jumlah leukosit dan eritrosit. Tenesmus kadang tidak terlihat jelas pada anak yang lebih muda karena mereka belum mampu menggambarkan keluhannya secara verbal (IDAI, n.d.). Perlu diwaspadai tanda dehidrasi—mata cekung, mulut kering, anak lemas atau rewel berlebihan—karena kehilangan cairan yang terus-menerus dapat memperberat kondisi klinis dengan cepat.
Diagnosis: Kapan Perlu Pemeriksaan Lanjutan?
Diagnosis disentri pada dasarnya bersifat klinis, ditegakkan dari riwayat diare berdarah disertai gejala penyerta. Namun, membedakan disentri basiler dan amuba secara pasti memerlukan pemeriksaan mikroskopis tinja untuk mendeteksi trofozoit Entamoeba histolytica, atau biakan tinja untuk mengidentifikasi Shigella. Pemeriksaan ini penting karena kedua kondisi memerlukan strategi pengobatan yang sama sekali berbeda—satu memerlukan antibiotik, satu lagi memerlukan obat antiamebik (Halodoc, 2026). Pada layanan primer dengan keterbatasan fasilitas laboratorium, pendekatan sindromik tetap menjadi acuan utama dalam tata laksana awal.

Tata Laksana: Rehidrasi Dulu, Baru Obat Spesifik
Prinsip Umum
Tanpa memandang penyebabnya, penanganan awal disentri selalu berpusat pada pencegahan dan koreksi dehidrasi. Anak dengan disentri sebaiknya tetap diberi minum dalam jumlah cukup, terutama saat demam. Cairan infus hanya diberikan bila terjadi dehidrasi berat atau anak sulit mendapat asupan oral karena kehilangan nafsu makan—selama anak masih mau minum dan makan, terapi cairan intravena tidak diperlukan (IDAI, n.d.).
Disentri Basiler
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) merekomendasikan agar seluruh kasus disentri basiler yang dicurigai secara klinis segera diberikan antimikroba efektif, tanpa perlu menunggu hasil biakan (World Health Organization [WHO], 2005). Terapi lini pertama yang direkomendasikan adalah ciprofloxacin, dengan alternatif lini kedua berupa pivmecillinam, ceftriaxone, atau azithromycin. Pemberian antibiotik yang tepat sejak dini dapat mempercepat perbaikan klinis dalam 24–48 jam, menurunkan risiko komplikasi berat, memperpendek durasi pengeluaran bakteri melalui tinja, sekaligus menekan risiko penularan lebih lanjut (MSF, n.d.). Namun, resistensi antimikroba pada Shigella terus meningkat di berbagai belahan dunia, sehingga pemilihan antibiotik idealnya tetap mempertimbangkan pola resistensi lokal dan pedoman terkini (WHO, 2005).
Disentri Amuba
Bila diare berdarah menetap setelah dua siklus antibiotik yang lazimnya efektif untuk disentri basiler, atau bila trofozoit Entamoeba histolytica ditemukan pada pemeriksaan tinja, terapi diarahkan pada pengobatan amebiasis intestinal menggunakan metronidazole. Bila penyebabnya memang amuba, perbaikan klinis umumnya tampak dalam dua hingga tiga hari setelah terapi dimulai.
Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Meski sebagian besar kasus disentri—khususnya yang disebabkan oleh Shigella sonnei—bersifat swasirna dalam 48–72 jam, disentri akibat Shigella dysenteriae tipe 1 berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Di antaranya kejang demam (pada 5–30% anak), prolaps rektum, sepsis, obstruksi atau perforasi usus, hingga sindrom uremik hemolitik (hemolytic uraemic syndrome) akibat efek toksin Shiga pada pembuluh darah kecil dan ginjal (MSF, n.d.). Kelompok berisiko tinggi mengalami perjalanan penyakit berat meliputi balita, anak dengan gizi kurang, anak pascacampak, serta dewasa berusia di atas 50 tahun.
Beban Penyakit: Global dan Indonesia
Secara global, shigellosis diperkirakan menyebabkan sekitar 165 juta kasus disentri per tahun, dengan estimasi hingga 40.000 kematian setiap tahunnya pada populasi anak (Alomedika, 2024). Di Indonesia, data yang tersedia secara nasional umumnya mencakup kategori diare secara umum, bukan disentri sebagai entitas tersendiri. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diare pada balita sebesar 7,4%, menurun dibandingkan hasil Riskesdas 2018 yang sebesar 12,3% (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI [BKPK Kemenkes RI], 2023). Meski tren nasional menunjukkan perbaikan, disparitas antarprovinsi masih cukup lebar, dengan beberapa wilayah mencatat prevalensi diare balita di atas 10%—jauh melampaui target program pengendalian penyakit berbasis lingkungan.
Pencegahan: Investasi pada Sanitasi dan Air Bersih
Karena jalur penularannya bersifat fecal-oral, pencegahan disentri sangat bergantung pada perbaikan sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih. Langkah pencegahan yang terbukti efektif meliputi:
- Mencuci tangan dengan sabun, terutama setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan
- Memastikan sumber air minum layak dan diolah dengan benar (dimasak atau melalui pengolahan yang memadai)
- Menggunakan jamban sehat dan mengelola limbah tinja secara aman
- Mengedukasi keluarga untuk mencuci tangan bersih setelah membersihkan tinja anak, guna mencegah penularan pada pengasuh
- Mendorong pemberian ASI eksklusif pada bayi sebagai faktor protektif terhadap infeksi saluran cerna
Di tingkat layanan primer, edukasi keluarga dan penguatan akses sanitasi tetap menjadi strategi paling berkelanjutan dibandingkan pendekatan kuratif semata—mengingat pola resistensi antimikroba pada Shigella yang terus berkembang di berbagai wilayah dunia.
Catatan transparansi: Data epidemiologi Shigella dan angka kematian global disentri sebagian berasal dari kajian yang telah berusia lebih dari satu dekade, sehingga angka pastinya kemungkinan telah bergeser seiring perubahan pola resistensi antimikroba dan cakupan intervensi kesehatan masyarakat. Data nasional Indonesia (SKI 2023) mencatat prevalensi diare secara umum pada balita, bukan disentri secara spesifik, karena belum tersedia sistem surveilans nasional yang memisahkan kasus diare berdarah dari diare cair akut secara rutin. Rekomendasi antibiotik lini pertama dan kedua dalam artikel ini merujuk pada pedoman WHO yang bersifat umum; pemilihan antibiotik pada praktik klinis riil idealnya tetap disesuaikan dengan pola sensitivitas kuman lokal serta kebijakan pengendalian resistensi antimikroba (PPRA) di masing-masing fasilitas kesehatan.
Ringkasan: Disentri—diare disertai darah dan lendir—disebabkan oleh bakteri Shigella (basiler) atau parasit Entamoeba histolytica (amuba), menular lewat jalur fecal-oral. Rehidrasi adalah prioritas utama, diikuti antibiotik untuk kasus basiler atau metronidazole untuk amebiasis. Sanitasi dan cuci tangan tetap kunci pencegahan, terutama bagi balita dan kelompok rentan di Indonesia.
Daftar Pustaka
Alomedika. (2024). Epidemiologi disentri. https://general.alomedika.com/penyakit/penyakit-infeksi/disentri/epidemiologi
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. (2023). Hasil utama SKI 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/daftar-frequently-asked-question-seputar-hasil-utama-ski-2023/hasil-utama-ski-2023/
Halodoc. (2026). Mengenal kode disentri ICD-10 dan gejala klinisnya. https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-kode-disentri-icd-10-dan-gejala-klinisnya
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (n.d.). Disentri. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/disentri
Médecins Sans Frontières. (n.d.). Shigellosis. MSF Medical Guidelines. https://medicalguidelines.msf.org/en/viewport/CG/english/shigellosis-16689596.html
World Health Organization. (2005). Guidelines for the control of shigellosis, including epidemics due to Shigella dysenteriae type 1. WHO. https://wkc.who.int/resources/publications/i/item/guidelines-for-the-control-of-shigellosis-including-epidemics-due-to-shigella-dysenteriae-type-1





Tinggalkan Balasan