Disleksia adalah gangguan belajar neurobiologis yang memengaruhi kemampuan membaca, mengeja, dan menulis, meski tidak terkait dengan tingkat kecerdasan. Banyak orang dewasa hidup dengan kondisi ini tanpa diagnosis, menggunakan strategi kompensasi untuk menyamarkan kesulitan mereka, seperti membaca ulang teks berulang kali atau menghindari tugas tertulis.
Diagnosis pada orang dewasa lebih sulit karena keterbatasan metode skrining dan kemampuan individu dalam mengatasi hambatan. Dampaknya meluas ke kesehatan mental dan karier, dengan risiko stres, kecemasan, dan keterbatasan peluang kerja. Dukungan seperti evaluasi profesional, akomodasi di tempat kerja, dan terapi dapat membantu mengelola tantangan ini.
Seorang manajer keuangan berusia 38 tahun selalu membaca ulang setiap surel penting tiga sampai empat kali sebelum mengirimnya. Ia terbiasa meminta rekan kerja “mengecek sekali lagi” laporan yang sudah ia susun sendiri, bukan karena ia malas, melainkan karena huruf-huruf pada layar sering terasa bertukar tempat dan susunan kalimat panjang mudah membuatnya kehilangan alur. Bertahun-tahun ia menganggap dirinya “memang lambat” dan “kurang teliti”. Baru setelah menjalani evaluasi psikologis atas saran seorang psikolog klinis, ia mengetahui bahwa yang dialaminya adalah disleksia — kondisi yang sebetulnya sudah menyertainya sejak kecil, namun baru terdeteksi di usia dewasa.
Kisah semacam ini jauh lebih umum daripada yang dibayangkan banyak orang. Disleksia sering dipahami sebagai “masalah anak sekolah”, padahal kondisi ini bersifat seumur hidup dan pada sebagian besar orang dewasa justru belum pernah terdiagnosis secara resmi.
Apa Itu Disleksia, Sebenarnya?
Menurut definisi yang digunakan International Dyslexia Association dan yang juga dirujuk oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang bersifat neurobiologis, ditandai dengan kesulitan mengenali kata secara akurat dan lancar, serta kelemahan dalam mengeja dan decoding atau menguraikan simbol tertulis menjadi bunyi bahasa disleksia adalah gangguan belajar berbasis neurologis yang secara spesifik memengaruhi kemampuan membaca, mengeja, dan menulis, ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata secara akurat dan lancar, serta kemampuan mengeja dan decoding yang lemah. Kesulitan ini umumnya tidak sebanding dengan kemampuan kognitif seseorang di area lain — banyak individu dengan disleksia justru memiliki kecerdasan rata-rata hingga di atas rata-rata meskipun disleksia adalah gangguan belajar spesifik, ini tidak berarti anak disleksia kurang cerdas — justru banyak yang kuat di penalaran visual, kreativitas, dan pemecahan masalah.
Poin penting yang perlu dipahami: disleksia bukan penyakit yang bisa “sembuh”. IDAI menegaskan bahwa hendaya (gangguan fungsi) akibat disleksia yang tampak berkurang saat memasuki usia dewasa bukan karena kondisinya menghilang, melainkan karena individu tersebut berhasil mengembangkan strategi kompensasi untuk mengatasi masalah yang timbul akibat disleksianya hendaya akibat disleksia pada masa anak-anak yang seakan-akan berkurang atau sembuh ketika memasuki masa dewasa terjadi bukan karena disleksianya menurun atau hilang, tetapi karena individu tersebut berhasil menemukan cara untuk mengatasi masalah yang muncul akibat disleksianya. Inilah sebabnya banyak orang dewasa dengan disleksia tampak “baik-baik saja” di permukaan, padahal di baliknya ada usaha ekstra yang terus-menerus dikeluarkan.

Mengapa Baru Terdeteksi di Usia Dewasa?
Skrining dan diagnosis disleksia pada anak sudah relatif mapan di banyak negara, tetapi metode diagnosis yang andal untuk orang dewasa jauh lebih terbatas dan mahal. Tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di Personality and Individual Differences menyebutkan bahwa meskipun banyak anak muda dengan disleksia sudah pernah dites semasa sekolah, sebagian besar populasi dewasa yang mengalami kondisi ini tidak pernah dites sama sekali reliable methods for diagnosing dyslexia in adults are however sparse and expensive; although many young adults with dyslexia have been tested during their school days, an unknown but probably substantial portion of them was never tested at all.
Kesulitan diagnosis pada orang dewasa juga diperparah oleh fenomena kompensasi tadi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Dyslexia menjelaskan bahwa mengidentifikasi disleksia pada usia dewasa menghadapi tantangan khusus, salah satunya karena perolehan strategi kompensasi membuat pengukuran literasi konvensional saja tidak cukup — sebagian orang dewasa dengan disleksia justru memiliki kemampuan literasi di atas rata-rata, sementara sebagian orang tanpa disleksia justru memiliki literasi yang sangat rendah karena sebab lain identifying dyslexia in adulthood presents particular challenges because of complicating factors such as acquisition of compensatory strategies; conventional literacy measures do not provide a satisfactory basis for screening for dyslexia in adulthood as some dyslexic adults have above-average literacy skills and some non-dyslexic adults have very poor literacy skills. Karena itu, penilaian yang lebih akurat mengandalkan uji terhadap domain kognitif yang mendasari kesulitan membaca — bukan sekadar seberapa lancar seseorang membaca — yaitu pemrosesan fonologis, akses leksikal, dan memori kerja phonological processing, lexical access, and working memory are key cognitive domains for effective screening.
Bagaimana Wujudnya pada Orang Dewasa?
Pada masa kanak-kanak, tanda disleksia biasanya cukup khas: keterlambatan bicara, kesulitan mempelajari lagu berima, dan kemampuan membaca jauh di bawah tingkat kelas gejala pada anak prasekolah meliputi keterlambatan berbicara, kesulitan mempelajari lagu berima, serta sering salah mengucapkan kata-kata sederhana. Pada orang dewasa, gambarannya lebih halus dan sering disalahartikan sebagai sifat pribadi. Beberapa pola yang umum dilaporkan meliputi kesulitan mengidentifikasi huruf dengan cepat, ketidaksesuaian antara apa yang tertulis dan apa yang diucapkan saat membaca nyaring, kesulitan menghafal rangkaian kalimat, serta kesulitan mengerjakan soal hitungan sederhana salah satu tanda orang dewasa mengalami disleksia adalah kesulitan untuk mengidentifikasi huruf dan membaca sebuah kalimat; pengidap gangguan ini mungkin bisa membaca, namun apa yang ia ucapkan mungkin akan berbeda dengan apa yang tertulis; selain itu, sulit menghafal rangkaian kalimat, dan mengerjakan soal hitungan sederhana pun bisa terasa sulit.
Banyak orang dewasa dengan disleksia juga mengembangkan kebiasaan “menyamarkan” kesulitannya — sebuah fenomena yang dalam literatur populer disebut masking, misalnya membaca ulang surel berkali-kali sebelum dikirim, menghindari promosi jabatan yang menuntut banyak dokumentasi tertulis, atau mengandalkan rekan kerja untuk memeriksa kesalahan banyak orang dewasa dengan disleksia mengembangkan strategi tersembunyi untuk menutupi kesulitan mereka, sebuah fenomena yang dikenal sebagai masking — mereka mungkin bekerja hingga larut malam untuk memeriksa ulang surel puluhan kali, menghindari promosi yang menuntut banyak dokumentasi, atau bergantung pada rekan kerja untuk menangkap kesalahan. Penting dicatat, pada sebagian kecil kasus, kesulitan membaca yang baru muncul di usia dewasa juga bisa disebabkan oleh cedera otak atau stroke — kondisi yang berbeda mekanismenya dari disleksia perkembangan sejak lahir, sehingga tetap memerlukan evaluasi medis untuk membedakannya it’s possible to develop dyslexia later in life, after a brain injury or stroke, and there’s some evidence that some people could become mildly “dyslexic” with age, but more research is needed to understand this better.
Dampak yang Sering Luput Diperhatikan: Kesehatan Mental dan Karier
Disleksia bukan gangguan emosional, tetapi konsekuensi hidup dengan disleksia yang tidak terdiagnosis atau tidak terdukung dapat berdampak nyata pada kesejahteraan psikologis. Sebuah studi berbasis survei terhadap orang dewasa dengan disleksia yang dipublikasikan di jurnal Dyslexia mencatat bahwa mereka berisiko mengalami diskriminasi, rasa rendah diri, efikasi diri yang rendah, depresi, dan kecemasan karena merasa tidak memenuhi ekspektasi pendidikan dan pekerjaan yang berlaku umum adults with dyslexia are at risk for discrimination, humiliation, low self-esteem, low self-efficacy, depression, and anxiety. Studi yang sama menekankan bahwa tantangan neurokognitif seperti kesulitan membaca, menulis, dan fungsi eksekutif kemungkinan besar tidak sepenuhnya menjelaskan pengalaman emosional yang menyakitkan ini — dengan kata lain, faktor lingkungan sosial turut memperberat dampaknya, bukan semata-mata kondisi neurologisnya sendiri tampaknya tidak mungkin tantangan neurokognitif seperti membaca, menulis, dan perbedaan fungsi eksekutif sepenuhnya menjelaskan pengalaman emosional yang menyakitkan; disability studies menegaskan bahwa lingkungan sosial turut menciptakan dan memperparah disabilitas tersebut.
Di lingkungan kerja, disleksia dapat memengaruhi hampir setiap aspek keseharian meski pekerjaan itu sendiri tidak didominasi kegiatan membaca — mulai dari surel tim, pengumuman tertulis, hingga instruksi kerja, sehingga tugas sederhana pun bisa menuntut usaha dan waktu ekstra yang berujung stres dan kecemasan dyslexia can affect just about every aspect of your workday, even if your job itself isn’t reading-heavy; tasks can take extra effort and more time, causing stress and anxiety, and these added stressors can lead to job burnout. Penelitian juga menunjukkan bahwa secara keseluruhan orang dewasa dengan disleksia cenderung memiliki tingkat pekerjaan yang lebih rendah, penghasilan lebih kecil, dan kepuasan kerja yang lebih rendah dibandingkan populasi umum research shows that people with dyslexia tend to have lower rates of employment than people without it, they also earn less and have lower rates of job satisfaction.
Diagnosis dan Dukungan yang Tersedia
Meski disleksia bersifat seumur hidup, evaluasi dan dukungan yang tepat tetap sangat bermakna pada usia berapa pun. Beberapa hal yang dapat menjadi langkah awal:
- Skrining mandiri sebagai titik awal, bukan diagnosis final. Alat skrining daring seperti Dyslexia Adult Checklist dapat membantu individu mengevaluasi faktor risiko sebelum menjalani asesmen psikoedukasi yang lebih formal dan memakan biaya screening tools such as the Dyslexia Adult Checklist allow individuals to self-evaluate common risk factors of dyslexia prior to or in lieu of obtaining costly and timely psychoeducational assessments, namun skrining tetap bukan pengganti diagnosis formal oleh tenaga profesional terlatih.
- Evaluasi formal oleh psikolog atau tenaga profesional terlatih yang dapat menilai domain kognitif seperti pemrosesan fonologis, memori kerja, dan kecepatan pemrosesan, bukan sekadar tes membaca biasa.
- Keterbukaan (disclosure) di tempat kerja dapat membuka akses ke akomodasi kerja yang membantu performa, seperti perangkat lunak text-to-speech, tenggat waktu yang fleksibel, atau format instruksi tertulis yang lebih sederhana adults should consider disclosing their reading disability at work; by sharing this information with your employer, you may be able to get workplace accommodations so your dyslexia doesn’t keep you from doing your best on the job.
- Dukungan psikologis, termasuk terapi perilaku kognitif dan kelompok dukungan sesama penyintas, dapat membantu mengelola dampak emosional yang menyertai disleksia yang tidak terdukung for some people, the challenges of dyslexia and its co-occurring conditions can lead to self-esteem issues, anxiety, and depression; cognitive behavioral therapy can be helpful for both kids and adults.
Konteks Indonesia
Di Indonesia, kesadaran mengenai disleksia pada orang dewasa masih tertinggal dibanding perhatian terhadap disleksia anak. Liputan media kesehatan nasional pun mencatat bahwa sebagian besar sorotan publik masih berfokus pada deteksi dini di lingkungan sekolah gejala disleksia sangat bervariasi dan seringkali baru terdeteksi saat anak mulai memasuki lingkungan sekolah, sementara jalur rujukan dan fasilitas asesmen khusus untuk orang dewasa masih sangat terbatas di layanan kesehatan primer maupun rujukan. Akibatnya, banyak orang dewasa Indonesia yang menjalani hidup dengan pola kesulitan membaca dan menulis yang khas disleksia tanpa pernah mendapat penjelasan yang tepat — mereka kadung menganggap dirinya “kurang cerdas” atau “kurang rajin”, padahal akar masalahnya bersifat neurobiologis dan dapat dikelola dengan strategi yang sesuai.
Bagi tenaga kesehatan primer, termasuk dokter umum di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), kecurigaan terhadap disleksia dewasa layak dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat kesulitan akademik sejak kecil yang disertai keluhan kecemasan, rendah diri, atau kelelahan kronis terkait pekerjaan yang menuntut banyak tulisan — dengan rujukan lanjut ke psikolog klinis atau layanan neuropsikologi bila tersedia.
Catatan transparansi: Sebagian besar data prevalensi disleksia global (kisaran 5–20% populasi) berasal dari sumber sekunder dan situs edukasi kesehatan yang mengutip International Dyslexia Association, sehingga angka pastinya bervariasi tergantung kriteria diagnostik yang digunakan dan belum ada data prevalensi disleksia dewasa yang representatif secara nasional untuk Indonesia. Artikel ini juga mengandalkan sejumlah sumber populer berbahasa Inggris (Understood.org, GoodRx) untuk menggambarkan pengalaman hidup sehari-hari, di samping rujukan pada jurnal ilmiah (Dyslexia, Personality and Individual Differences) dan definisi resmi dari IDAI. Pembaca yang mencurigai dirinya atau orang terdekatnya mengalami disleksia dianjurkan berkonsultasi dengan psikolog klinis atau dokter spesialis terkait untuk evaluasi formal, bukan mengandalkan skrining daring semata.
Ringkasan: Disleksia bukan hanya persoalan anak sekolah. Banyak orang dewasa hidup bertahun-tahun dengan disleksia yang tak terdiagnosis, menutupinya lewat strategi kompensasi yang melelahkan, hingga berdampak pada kesehatan mental dan karier. Diagnosis dan dukungan yang tepat, pada usia berapa pun, tetap bermakna.
Daftar Pustaka
Ciputra Hospital. (2025, Desember). Tanda disleksia pada orang dewasa dan cara mengatasinya. https://ciputrahospital.com/disleksia-pada-orang-dewasa/
Gelbar, N. W., Bray, M., Kehle, T. J., Madaus, J. W., & Makel, C. (2018). Exploring the nature of compensation strategies in individuals with dyslexia. Journal of Learning Disabilities.
GoodRx. (2025, November 10). Dyslexia in adults: Signs, symptoms, and testing. https://www.goodrx.com/health-topic/neurological/dyslexia-in-adults
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (t.t.). Apa itu disleksia? https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/mengenal-disleksia
Kramer, J., & Snel, J. (2017). Six factors of adult dyslexia assessed by cognitive tests and self-report questions: Very high predictive validity. Personality and Individual Differences. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0891422217302330
Liputan6.com. (2026, Januari 11). Mengenal disleksia, gangguan belajar yang sering disalahpahami sebagai kurang cerdas. https://www.liputan6.com/disabilitas/read/6254971/
Nalavany, B. A., et al. (2023). Insights from a web-based survey into the psychosocial experiences of adults with dyslexia: Findings from a final comment question. Dyslexia. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/dys.1756
Stark, K., et al. (2025). Validation and reliability of the Dyslexia Adult Checklist in screening for dyslexia. Dyslexia. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/dys.1797
Understood.org. (2026, April 15). What is dyslexia? https://www.understood.org/en/articles/what-is-dyslexia
Understood.org. (2026, April 28). Dyslexia in adults. https://www.understood.org/en/articles/dyslexia-in-adults
Warmington, M., & Hitch, G. J. (2009). Computerised screening for dyslexia in adults. https://www.academia.edu/15135607/
Yuka Indonesia. (2026, Maret 18). Disleksia adalah: Pengertian, ciri-ciri, penyebab, dan cara membantu anak disleksia. https://www.yukaindonesia.com/artikel/disleksia-adalah
4Dyslexics. (2026, Maret 19). Dyslexia and mental health: Signs, impact & support. https://www.4dyslexics.com/dyslexia-and-mental-health-signs-impact-support/




Tinggalkan Balasan