Les pèlerins au-dessus des nuages

Gema Keterputusan · Bab 10

Gudang Dockworkers’ Guild tidak pernah sesepi ini pada pukul sepuluh pagi. Kait-kait besi bergantungan tanpa beban dari langit-langit, timbangan besar berdiri diam di sudutnya, dan dari balik palang pintu terdengar pelabuhan yang dipaksa mengecil: derit tali, teriakan mandor yang jauh, air menampar tiang. Brenn menyuruh seluruh pekerjanya pulang sebelum fajar. Ia tidak memberi alasan dan tidak ada yang menanyakannya.

Kaelen datang lewat jalan yang berbeda dari biasanya: lorong sabun, rumah celup yang lain, lalu seorang pedagang ikan yang meminjamkan keranjang dan tidak meminta dikembalikan. Ia menoleh ke belakang di setiap tikungan. Tidak ada mantel hijau lumut. Tidak ada jas abu-abu. Hanya Wren, dua langkah di belakangnya dengan keranjang di lengan dan wajah orang yang sedang berusaha keras tidak bertanya.

Di dekat pintu Wren berhenti tanpa disuruh, duduk di gulungan tambang di samping Borin, dan mulai meruncingkan sebatang kapur yang tidak perlu diruncingkan. Kaelen berjalan terus ke bagian belakang.

Valerius sudah di sana. Ia duduk di peti paling ujung tanpa mantel, hanya berkemeja dan berompi, dan dalam cahaya yang menembus celah papan ia tampak lebih kurus daripada yang Kaelen ingat. Topinya ada di lutut. Di peti sebelahnya, secangkir teh tuangan Brenn sudah berhenti mengepul tanpa pernah disentuh.

“Kau datang,” kata Valerius.

“Anda yang meminta.”

“Aku sering memintamu melakukan sesuatu. Biasanya kau datang lebih lambat.” Sudut mulutnya bergerak, tetapi tidak jadi menjadi senyum. “Duduklah.”

“Saya berdiri.”

Valerius mengangguk, seakan itu jawaban yang sudah ia perkirakan. Ia memutar topinya setengah putaran. “Beri aku waktu menyelesaikannya, Vance. Jangan menyela sampai aku selesai. Sesudah itu kau boleh melakukan apa saja, dan aku tidak akan membela diri.”

“Saya mendengarkan.”


Kesaksian Cassian Valerius · 10 Emberfall, 84 P.S. (20 tahun lalu)

“Aku dua puluh lima tahun, sersan paling baru di Watch, dan mereka menaruhku di gerbang timur perimeter Lab Gamma karena gerbang itu yang paling jarang dilewati orang. Perintahnya sederhana. Setelah terompet ketiga, tidak ada yang keluar dan tidak ada yang masuk. Siapa pun.

“Terompet ketiga berbunyi menjelang tengah malam. Sesudahnya tanah mulai berdengung. Bukan bunyi yang kau dengar, tetapi sesuatu yang naik lewat sol sepatu. Kaca pos jaga bernyanyi sampai retak, dan lampu-lampu alkimia di sepanjang pagar berubah ungu satu per satu. Anak buahku muntah. Aku menyuruhnya diam, padahal aku sendiri tidak yakin kakiku masih mau menopangku.

“Lalu terang. Dari ventilasi lab, putih, seperti ada yang menuangkan siang ke dalam lubang. Aku tidak mendengar teriakan. Kuharap memang tidak ada. Setelah itu sunyi yang panjang, dan bau hangus yang menempel di lidah sampai berhari-hari.

“Menjelang subuh, dari asap di jalan servis, seorang perempuan berjalan ke gerbangku. Mantel labnya hangus di ujung, rambutnya lepas dari ikatan, dan di bahunya ia memikul seorang lelaki muda. Aku mengenali perempuan itu dari lukisan di aula Akademi. Master Zemfira Vance.” Valerius berhenti sebentar. “Di bawah bau hangus itu ada wangi bunga. Melati.”

Kaelen tidak menggerakkan apa pun. Hanya rahangnya yang mengeras, sedikit, dan Valerius melihatnya dan meneruskan.

“Lelaki itu masih hidup. Itu yang paling jelas dalam ingatanku. Separuh tubuhnya sudah menjadi kaca, lengan kiri sampai bahu, dan sebagian rahang. Kaca amber, hangat. Aku tahu hangat karena ia lewat sejengkal dariku dan udara di sekitarnya seperti udara di dekat oven roti. Dan ada bau yang mengikutinya, manis, hampir menusuk. Madu-kapri. Mataku berair. Aku belum pernah mencium bau itu sebelumnya, dan tidak pernah melupakannya sesudahnya.

“Ia menggumamkan sesuatu. Zemfira menunduk dan menjawab dengan suara yang tenang sekali, seperti bicara pada anak yang demam. Silas, bernapaslah. Hitung bersamaku. Dan lelaki itu menjawab, hampir tak terdengar: Guru. Maaf.

“Aku mengangkat lampu. Setiap sersan tahu apa yang harus dilakukan pada saat seperti itu. Menahan, memanggil kapten, menulis nama. Tetapi ia berhenti tepat di bawah lampuku dan menatapku. Kau tahu cara ibumu menatap, Vance.”

“Saya tahu,” kata Kaelen. Suaranya datar. Ia tidak menyadari sudah menyela.

“Dia tidak memerintah. Dia tidak memohon. Dia bertanya, ‘Sersan, apa yang kau lihat?’ Seperti guru bertanya pada murid yang belum yakin dengan jawabannya sendiri. Aku bisa mengatakan yang sebenarnya. Aku bisa mengatakan apa yang kukira ingin ia dengar. Aku bilang, ‘Tidak ada siapa-siapa, Master.’ Dia mengangguk sekali. Lalu dia berjalan lewat gerbang, ke jalan tua yang menurun ke saluran, dan gelap menelan mereka berdua.

“Tidak ada yang memaksaku. Itu yang tidak bisa kulupakan. Kalau ada yang memaksa, aku punya sesuatu untuk disalahkan.

“Paginya Kapten jaga datang membawa surat bersegel komite dan selembar laporan yang sudah ditulis orang lain. Aku hanya diminta menandatangani kolom perimeter. Tidak ada penyintas. Dua kata itu sudah di sana. Aku membacanya, dan aku teringat kaca hangat yang lewat sejengkal dari wajahku, dan aku menekan pena sampai ujungnya hampir menembus kertas. Kau pasti melihat tanda tanganku di arsip itu. Huruf pertamanya.”

“Saya melihatnya,” kata Kaelen.

“Sepuluh hari sesudahnya aku melihat ibumu sekali lagi, di tangga Watch-house, diapit dua penjaga. Dia tidak menoleh. Tetapi aku tahu pertanyaannya masih sama, dan aku tahu aku sudah menjawabnya. Itu sebabnya kemarin aku membeku, waktu kau menyebut tanggal surat itu. Sepuluh hari. Aku hafal angka itu seperti hafal nomor kamar tempat seseorang meninggal.

“Dua puluh tahun aku percaya lelaki itu mati di saluran. Ada hari-hari aku berharap memang begitu, karena kalau dia hidup, berarti aku menandatangani kebohongan tentang seseorang yang masih bernapas.

“Hari pertama, di Gaffer’s Lane, aku mencium bau itu lagi. Dua kali sesudahnya di terowongan Sump. Aku menyuruh diriku berhenti memikirkannya. Aku pandai menyuruh diriku berhenti. Dua puluh tahun latihan.”


Tidak ada yang bicara. Dari pintu terdengar bunyi serutan kapur Wren, berhenti, lalu terdengar lagi.

Kaelen memandang cangkir teh yang dingin itu lama. Ia menghitung. Itu kebiasaannya bila perasaan datang terlalu cepat untuk dipilah: ia mencari angka. Dua puluh tahun. Tiga tahun mereka berbagi meja, kopi, tarif, dan bau kamar mayat. Delapan hari sejak Rourke. Sepuluh hari dalam sebuah surat. Dan satu huruf yang ditekan terlalu keras di atas kertas arsip, yang ia pandangi beberapa hari lalu dengan jengkel yang ia tujukan pada seorang penanda tangan tanpa wajah.

Tangannya mantap. Untuk pertama kali sejak kecil, ia ingin tangannya melakukan sesuatu yang tidak ia rencanakan.

Ia menghantamkan telapaknya ke tutup peti. Bunyinya memantul di antara kait besi, keras, dan di pintu Wren mengangkat kepala dan Borin mengangkat satu tangan tanpa menoleh: tidak apa-apa. Valerius tidak bergerak. Ia hanya menutup mata sebentar dan membukanya lagi.

“Anda duduk di seberang meja saya tiga tahun,” kata Kaelen. Nadanya rendah dan sangat jelas, seperti membacakan hasil uji. “Anda tahu siapa ibu saya sejak hari pertama kita bertemu. Dan Anda tidak sekali pun merasa saya berhak tahu.”

“Setiap hari,” kata Valerius. “Setiap hari aku merasa begitu. Aku tidak punya pembelaan, Vance. Aku hanya punya alasan, dan alasanku buruk.”

“Katakan.”

“Aku takut kau akan menatapku seperti sekarang.”

Kaelen tidak menjawab. Ia berjalan ke dinding gudang, bersandar pada tiang, dan memandang kait-kait besi yang tergantung di langit-langit. Hitungan napasnya kembali pelan-pelan: empat, tahan, enam.

“Beberapa hari lalu saya membaca laporan itu,” katanya, ke arah langit-langit, “dan saya menghina si penanda tangan. Dalam hati. Tanpa nama.”

“Pantas.”

“Dua puluh tahun saya menghina ibu saya karena laporan yang sama, tanpa membaca satu kata pun yang pernah ia tulis.” Ia menoleh. “Anda menandatangani tanpa melihat. Saya menghukum tanpa membaca. Hasilnya sama. Hanya kertasnya yang berbeda.”

Valerius tidak menjawab itu. Ia tidak tampak lega. Ia tampak seperti orang yang menunggu vonis dan baru mendengar bahwa hakimnya ikut duduk di bangku terdakwa.

“Saya tidak memaafkan Anda,” kata Kaelen, “karena saya tidak tahu apakah itu hak saya. Tetapi saya akan membutuhkan Anda, dan saya tidak bisa membutuhkan orang yang saya curigai sembunyi-sembunyi. Jadi saya katakan terus terang. Saya marah. Saya akan tetap marah beberapa waktu. Itu tidak mengubah apa yang perlu dikerjakan.”

“Itu lebih dari yang kuharapkan.”

“Itu bukan hadiah. Itu laporan.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, sesuatu di wajah kayu jati Valerius mengendur. “Itu yang kupikirkan juga.”

Kaelen kembali ke tengah ruang dan, setelah ragu sedetik, duduk di peti di seberangnya. Ia mengeluarkan buku catatan dan pensil. “Apakah ada yang melihat malam itu selain Anda?”

“Dua anak buahku di gerbang. Yang satu mati karena demam rawa bulan berikutnya. Yang satu dipindah ke garnisun utara dan aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi.”

“Apakah Anda masih menyimpan sesuatu dari malam itu? Buku jaga, catatan pribadi.”

“Buku jaga pos timur disita bersama laporan. Tetapi aku masih ingat bau, dan aku ingat apa yang ia katakan. Hanya itu yang kupunya.”

“Cukup.” Kaelen menulis. Pensilnya bergerak cepat. Gamma, 10 Emberfall. Gerbang timur. Perempuan membawa lelaki muda, separuh kaca, amber, hangat. Nama: Silas. Memanggil Zemfira: Guru. Madu-kapri. Ia berhenti, lalu menambahkan satu baris yang tidak diminta siapa pun: Siapa yang memicu pembersihan malam itu?

“Anda masih Inspektur?” tanyanya tanpa mengangkat mata.

“Selama tidak ada yang menarik pinku.”

“Itu kalimat paling optimis yang pernah Anda ucapkan.”

“Aku sedang berlatih.”

Dari pintu, Wren berdeham, sangat keras, dan Borin mendengus dengan cara yang mungkin tawa.

Brenn muncul dari balik tumpukan peti tepat ketika percakapan itu selesai, seolah ia sudah berdiri di sana sejak tadi dan hanya menunggu orang lain berhenti menahan napas. Ia tidak berkomentar. Ia mengambil cangkir teh yang dingin dari peti, menuangkan isinya ke celah lantai, dan menggantinya dengan yang baru, panas, berbau jahe. Kaelen menerimanya dengan dua tangan. Itu cara paling dekat dengan ucapan terima kasih yang ia punya hari itu.

Sebelum pergi, ia meminta Borin membuka lagi balok lantai di bawah timbangan. Ia tidak mengambil bungkusan itu. Ia hanya membuka kain minyaknya, memilih satu bingkai film kaca dari tumpukan dua puluh dua lapis, dan membungkusnya sendiri dengan saputangan. Sisanya dikembalikan, balok ditutup, tambang digulung. Brenn memperhatikan semua itu dengan lengan terlipat dan, sekali lagi, tidak bertanya.

Di jalan pulang Wren berjalan di sisinya, bukan di depan, dan lama tidak mengatakan apa-apa. Baru di tangga batu yang berlendir ia berkata pelan, “Inspektur itu menangis. Tadi, waktu kau menghantam peti. Dia tidak bersuara, tapi aku lihat.”

“Aku tidak melihatnya.”

“Kau memang tidak melihat orang,” kata Wren, tanpa kejam. “Kau melihat hasil uji mereka.”

Kaelen tidak membantah. Ia menaiki dua anak tangga lagi sebelum menyadari bahwa ia sedang memikirkannya.


Pagi kesepuluh, Kaelen dan Wren kembali ke atelier lewat lorong sabun. Dua pedagang kain masih di lapak depan. Seprai-seprai masih meneteskan air ke bahu keduanya, dan Kaelen mulai merasa tetes itu semacam penjaga yang tidak perlu dibayar.

Ia sengaja tidak banyak bicara di jalan. Di dalam, setelah memeriksa langit-langit dan memastikan sekali lagi tidak ada benang kristal, ia mengunci pintu dari dalam dan meletakkan buku catatan Zemfira di meja berkain putih. Wren membawa tehnya sendiri dan duduk bersila di lantai, di bawah bingkai pintu dengan garis-garis arang.

“Kau sudah membaca sampai habis?” tanya Kaelen.

“Sampai entri terakhir.” Wren menggigit bibir bawahnya. “Dan sampai sampul belakang.”

“Apa maksudmu?”

Wren berdiri, mengambil buku itu, dan membalik sampulnya. Di balik kain lapisan dalam, di tempat kain sudah mengendur dari karton, terselip selembar kertas yang dilipat empat. Wren menarik keluar dengan dua jari, hati-hati seperti mengambil serangga dari air.

“Tadi malam aku meraba-raba sampul itu karena sudutnya dijahit ulang,” katanya. “Siapa pun yang menjahit tidak mau ada yang membuka.”

Kaelen membentangkan kertas itu di atas kain putih. Ia mengenali jenisnya sebelum membaca isinya: lembar latihan Akademi, bergaris pucat, dengan kolom-kolom simbol yang disusun murid untuk dikoreksi guru. Hg-prime, berbaris dua belas kali. Tanda belati ganda, berbaris dua belas kali. Hurufnya kecil, rapi, sangat hati-hati, seperti tulisan anak yang takut salah dan sudah tahu bahwa ia takut. Di sudut kanan atas, dengan tinta yang sama: S. Orrin. Tahun kedua. 76 P.S.

Dan di margin, dengan tulisan lain yang Kaelen kenal sampai ke detak: tinta lebih hitam, huruf miring dan rapat.

Bagus. Tenang. Ulangi.

Ia menarik bangku ayahnya dan duduk.

Tiga kata itu pernah ditujukan padanya. Di meja ini, ketika ia sembilan tahun dan menumpahkan setabung cuka ke atas kain putih, ibunya mengambil tabung kedua, menaruhnya di depannya, dan berkata persis begitu. Bagus. Tenang. Ulangi. Ia selalu menganggap kalimat itu miliknya. Sekarang ia tahu ibunya mengucapkannya pula kepada seorang anak lain, di margin yang sama, dengan tinta yang sama, dan lembar anak lain itu tersimpan dua puluh delapan tahun di balik sampul buku ini.

Ia menunggu rasa cemburu. Rasa itu datang, sempit dan memalukan, dan ia membiarkannya lewat tanpa berkomentar.

“Silas Orrin,” ucapnya pelan, tanpa suara hampir, dan Wren mendekat untuk mendengar.

Ia menuliskannya di sabak, bukan mengucapkannya lagi. Hanya di tempat ini, dan hanya selama beberapa tarikan napas. Lalu di bawah nama itu ia menyusun apa yang ia miliki, satu baris untuk satu dokumen, dengan kapur yang tergores keras.

Murid Zemfira sejak 74 P.S., mungkin lebih awal. Asisten Utama, 82 P.S. Nama dihitamkan di arsip Gamma sampai kertasnya menggelembung. Disebut S. dalam jurnal: gemetar karena takut gagal, mengangguk tetapi belum mendengar. Terlihat di gerbang timur Gamma pada subuh 11 Emberfall: hidup, setengah kaca, usia dua puluh tiga atau dua puluh empat. Bila hidup hari ini, empat puluh tiga atau empat puluh empat. Pembeli Lot G-84, menurut buku Seraphina: Sang Murid. Dipanggil Murid oleh Rourke.

Ia berhenti pada baris terakhir. Rourke tidak memanggil seseorang yang asing. Rourke memanggil seseorang yang dulu pernah duduk di ruangan yang sama dengannya, dan yang tahu apa yang harus dibayarnya.

Wren membaca dari atas bahunya. “Dia yang membunuh mereka.”

“Dia salah satu dari dua orang yang diajari Hg-prime,” kata Kaelen. Ia menggeser lembar latihan itu hingga sejajar dengan bingkai film kaca dari tumit Rourke, yang ia keluarkan dari saputangan dan letakkan di sampingnya. Ia membandingkan satu simbol dengan simbol lain, satu goresan dengan goresan lain. Tanda belati ganda di lembar latihan punya ekor kecil di ujung kiri, kebiasaan tangan yang ragu dan terlalu teliti. Di film kaca, tanda yang sama, dua puluh dua kali, dengan ekor yang sama.

Bukan tulisan Zemfira. Selama ini ia membaca notasi ibunya, ditulis dengan tangan orang lain.

“Seseorang menulis dalam bahasa yang hanya dua orang di dunia bisa membacanya,” kata Kaelen perlahan, dan mendengar sendiri betapa kecil suaranya, “lalu menaruhnya di tumit seorang mayat. Pembaca pertama sudah ada di pihak si penulis. Pembaca kedua saya.”

Wren tidak menjawab. Matanya pindah dari sabak ke wajah Kaelen, lalu ke medali yang mengintip dari balik kerahnya.

“Kenapa menulis untuk seseorang yang tidak mau membacanya?” tanya Wren akhirnya.

Kaelen tidak punya jawaban. Ia menghapus sabak dengan lengan bajunya, satu sapuan panjang, sampai nama itu tinggal garis putih samar dan kemudian tidak ada sama sekali.

Ia mengambil kapur lagi dan menggambar lima bentuk di sudut sabak, kecil, berbaris: cincin bergerigi, belah ketupat, tiga garis bergelombang, segitiga terbalik, bintang bersudut tujuh. Tiga yang pertama ia coret satu per satu: Rourke, Seraphina, Verrin. Tiga orang yang kini kaca.

Dua bentuk masih utuh.

“Kalau dia punya daftar,” katanya, nyaris tanpa suara, “dia belum selesai.”

Wren memandang dua bentuk yang tersisa itu, lalu pintu dan jalan di luarnya dengan dua lelaki berjas abu-abu, lalu Kaelen. Ia tidak menanyakan nama pemilik segitiga dan bintang itu. Mereka berdua sudah tahu, atau hampir tahu, dan itu cukup untuk menjadi alasan tidak berkata apa-apa sampai kapur itu menghilang di lengan baju Kaelen yang kedua kalinya.

Tiga ketukan di pintu belakang, jeda, dua ketukan. Wren sudah berdiri sebelum Kaelen sempat menoleh. Valerius masuk dengan debu atap di bahunya, melepas topi, dan berhenti ketika Kaelen menyodorkan lembar latihan itu tanpa penjelasan.

Ia membacanya lama. Jarinya yang kasar tidak menyentuh kertas, hanya melayang beberapa senti di atas tinta, mengikuti garis demi garis.

“Tulisan orang yang membawa gelas penuh,” katanya akhirnya. “Berjalan hati-hati supaya tidak ada yang tumpah.” Ia mengangkat mata. “Ada satu hal yang tidak kuceritakan kemarin karena belum kuingat. Waktu dia bilang Guru, maaf, dia tidak menatap Zemfira. Kepalanya menoleh ke belakang, ke arah lab. Dia minta maaf pada sesuatu yang tertinggal di sana.”

“Atau pada seseorang,” kata Kaelen.

“Atau seseorang.” Valerius mengangguk perlahan. “Edrin Holt, kalau aku tebak. Nama itu ada di laporan yang kutandatangani. Satu-satunya yang disebut.”

Kaelen menulis nama itu di bukunya, dengan huruf kecil, di bawah Gamma, dan menggarisinya dua kali.


Malam itu, di laboratorium, burung di balik papan ventilasi menyanyikan sebelas nadanya seperti biasa. Wren tidur di balik rak dengan selimut sampai ke dagu. Kaelen duduk di meja kerja dengan lampu diturunkan dan memasang wajah orang yang sedang menyalin catatan lama. Sekali ia mendesah cukup keras untuk didengar telinga di dinding, dan mengeluh tentang harga garam.

Kotak timah ada di sampingnya. Ia membukanya pukul dua belas, seperti setiap malam, hanya untuk memastikan.

Keping G-84 berdenyut di atas kain beludru. Ungu, hangat, tidak ditanya. Kaelen mengambil arloji saku dan mulai menghitung jeda di antara denyutnya, yang dalam lima hari sudah memendek dari tiga setengah menit menjadi kurang dari tiga.

Satu denyut. Dua. Tiga.

Tidak ada jeda.

Ia menunggu tiga menit. Lima. Keping itu terus berdenyut, rapat dan teratur, seperti langkah seseorang yang sudah berhenti berjalan pelan-pelan. Kaelen tidak menutup kotak itu. Ia tidak tidur. Di balik papan ventilasi, burung menyanyikan sebelas nadanya sekali lagi, dan di bawah kota, di suatu tempat yang belum punya nama di sabaknya, sesuatu menjawab dengan denyut yang tidak mau berhenti.


Kalau kisah Kaelen dan sandi para alkemis ini menemani malammu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] ← Bab 10: Sang Murid Terlahir KembaliDaftar Bab […]

Tinggalkan Balasan