Ringkasan: Video ikan asin yang disemprot insektisida memicu kecemasan. Artikel ini menjelaskan mengapa insektisida rumah tangga tidak dirancang untuk pangan, seberapa kuat bukti bahayanya, mengapa praktik ini muncul di penjemuran, serta langkah praktis bagi pengolah, pedagang, dan konsumen agar ikan asin tetap aman.
Bayangkan seorang ibu di sebuah pasar tradisional di Cirebon. Pagi itu ia menggoreng ikan asin untuk sarapan keluarga. Siangnya, ponselnya menampilkan video penjemur ikan yang menyemprotkan cairan ke hamparan ikan. Ia bertanya kepada petugas Puskesmas, “Dok, anak saya sudah makan tadi pagi. Bagaimana?” (Ilustrasi, bukan kasus nyata.)
Pertanyaan itu wajar, dan jawabannya tidak sesederhana “aman” atau “beracun”. Mari kita pilah apa yang sudah diketahui, apa yang belum, dan apa yang bisa dilakukan semua pihak.
Apa yang beredar, dan apa yang belum terverifikasi
Unggahan di media sosial menyebut penjual ikan asin tertangkap kamera menyemprot ikan jemuran dengan obat nyamuk merek Baygon agar lalat hijau tidak bertelur dan belatung tidak muncul. Unggahan itu juga menyebut konsumsinya dapat merusak saraf, hati, dan ginjal. Lokasi, waktu, produk yang dipakai, dan jumlah ikan yang terdampak belum dapat kami verifikasi, sehingga artikel ini tidak menilai kasus tertentu atau pelaku tertentu. Yang bisa kita bahas dengan landasan ilmiah adalah praktiknya: menyemprotkan insektisida rumah tangga ke pangan.
Mengapa lalat menjadi musuh para penjemur
Penjemuran terbuka memang murah dan mampu menampung banyak ikan, tetapi rentan terhadap debu, lalat, dan belatung. Lalat yang hinggap lalu bertelur akan menurunkan mutu ikan asin, sebagaimana diuraikan dalam studi pengolahan ikan asin sepat rawa. Lalat juga dapat membawa kuman dari tempat lain ke permukaan ikan, dan lalat hijau (Chrysomya megacephala) cenderung memilih ikan dengan kadar garam paling rendah untuk bertelur, menurut penelitian doktoral di Durham.
Bagi pengolah skala kecil, satu hari hujan atau satu serbuan lalat bisa berarti kerugian besar. Penelitian di sentra pengolah ikan asin di Cilacap mencatat bahwa insektisida sintetis sering dipakai untuk menekan lalat dan disemprotkan langsung ke produk. Artinya, praktik ini sudah lama dikenal di lapangan. Menyalahkan satu orang tidak menyelesaikan akar persoalannya: kebutuhan melindungi dagangan tanpa alternatif yang mudah, murah, dan diketahui luas.
Mengapa insektisida rumah tangga tidak untuk pangan
Ada tiga alasan utama.
- Dirancang untuk permukaan, bukan untuk dimakan. Produk rumah tangga diuji efektivitasnya terhadap serangga, misalnya nyamuk Aedes aegypti, dan bahan aktifnya berbeda-beda: propoksur dan transflutrin pada satu formulasi cair, d-aletrin dan transflutrin pada obat nyamuk elektrik. Belum ada batas residu yang ditetapkan untuk makanan.
- Residunya sulit dikendalikan. Piretroid bersifat larut lemak sehingga sulit dihilangkan setelah masuk ke jaringan ikan. Bahkan dalam studi terkendali di Danau Turkana, Kenya, ikan kering yang dicelup piretrum dan piperonyl butoxide dengan dosis terukur tetap melampaui batas residu FAO/WHO pada semua perlakuan (piretrum 1,6 sampai 7,6 kali batas). Jika yang diukur saja sulit, penyemprotan tanpa takaran tentu lebih sulit dikendalikan.
- Hukum pangan menganggapnya cemaran kimia. PP 86/2019 tentang Keamanan Pangan memasukkan residu pestisida ke dalam cemaran yang harus dicegah. Secara internasional, penggunaan insektisida pada ikan kering hanya pernah dibahas lewat evaluasi khusus, seperti penilaian FAO/WHO tahun 1969 untuk ikan kod asin yang dicelup beberapa detik lalu direndam atau direbus sebelum dimakan.
Seberapa berbahaya? Bedakan bahaya dan risiko
Bahaya (hazard) adalah sifat zat yang dapat merugikan. Risiko adalah kemungkinan kerugian itu terjadi pada dosis dan lama paparan tertentu. Zat yang sama bisa berbahaya pada dosis besar namun bermakna kecil pada dosis sangat rendah. Tabel berikut merangkum seberapa kuat bukti untuk klaim yang beredar.
| Klaim | Yang ditunjukkan bukti | Keyakinan |
|---|---|---|
| Insektisida rumah tangga tidak untuk pangan | Residu pestisida adalah cemaran kimia menurut PP 86/2019; tidak ada batas residu khusus untuk produk rumah tangga | Kuat |
| Residu piretroid sulit hilang dari ikan | Sifat larut lemak; ikan kering yang dicelup terkendali pun melampaui batas | Cukup kuat (data dari kondisi studi, bukan penyemprotan rumah tangga) |
| Dosis tinggi memengaruhi saraf | Efek utama piretroid pada manusia bersifat neurologis, lewat gangguan kanal natrium; toksisitas akut pada mamalia lebih rendah dibanding organofosfat dan karbamat | Kuat (paparan akut/tinggi) |
| Paparan rendah dari makanan merusak saraf, hati, dan ginjal | Data efek kronis dosis rendah masih terbatas; kajian sistematik menilai piretroid kemungkinan neurotoksikan perkembangan pada janin dan anak. Studi dengan dosis setara paparan manusia masih kurang. Saya belum menemukan studi yang secara khusus mendukung klaim kerusakan hati dan ginjal pada konsumen ikan asin | Belum pasti; bergantung dosis dan produk |
| Sekali makan ikan yang pernah disemprot pasti menimbulkan sakit | Tidak ada data jumlah residu pada kasus yang beredar | Tidak dapat disimpulkan |
Kesimpulan praktisnya: tidak perlu panik berlebihan atas satu kali makan, tetapi tidak boleh pula menormalkan praktiknya. Kelompok yang paling layak dilindungi adalah ibu hamil dan anak-anak, karena kajian di atas menyoroti perkembangan saraf.
Insektisida bukan satu-satunya persoalan ikan asin
Supaya proporsional, perhatikan bahwa ikan asin menghadapi beberapa jenis masalah keamanan pangan. Pemantauan rutin di Indonesia selama ini lebih banyak mencari formalin, boraks, dan mikroba, sedangkan data residu insektisida pada ikan asin yang saya temukan sangat sedikit. Ini celah pengetahuan yang layak diisi oleh pengawasan.
| Bahaya | Contoh temuan di Indonesia |
|---|---|
| Formalin (pengawet terlarang) | BPOM menemukan formalin pada ikan asin di pasar dalam pengawasan 2026; studi di Gianyar dan Bandar Lampung juga melaporkan temuan, sementara sampel di Blitar negatif |
| Boraks | Teri asin di pasar Kota Makassar masih ditemukan mengandung boraks dan formalin |
| Mikroba berlebih | Ikan asin bilis di pasar tradisional Cirebon banyak yang melampaui batas SNI; dua dari enam sampel terasak asin di Pasuruan juga melampaui batas |
| Kadar air terlalu tinggi | SNI 8273:2016 membatasi kadar air maksimal 40 persen; teri hitam di Sumba Timur tidak memenuhi syarat |
| Residu insektisida | Data pemantauan terbatas; perlu penelitian dan pengawasan |
Satu catatan penting bagi konsumen: beberapa studi memakai ikan asin yang tidak dihinggapi lalat sebagai salah satu ciri curiga formalin. Jadi, ikan yang dikerubungi lalat bukan tanda aman, dan ikan yang bersih dari lalat pun bukan tanda aman. Tampilan saja tidak cukup menjadi patokan.
Titik kendali dari penjemuran sampai piring
Gambar: titik kendali keamanan ikan asin dari penjemuran sampai dapur (ilustrasi penulis).
Alternatif bagi pengolah dan pedagang
Pengendalian lalat paling aman adalah yang tidak meninggalkan residu. Beberapa pilihan, dengan catatan kekuatan buktinya:
| Pendekatan | Dasar dan catatan |
|---|---|
| Rak jemur tinggi dan penutup jaring | FAO menyebut rak jemur tinggi membuat pengeringan lebih cepat dan bersih. Di Burundi, pengeringan turun dari tiga hari menjadi delapan jam dan produk lebih higienis dibanding yang dijemur di tanah. Tanpa residu |
| Garam cukup dan ikan tipis | Lalat cenderung memilih ikan beraroma garam rendah; pengeringan yang cepat mempersempit waktu bertelur |
| Kebersihan lokasi | Singkirkan jeroan, sampah, dan genangan di sekitar penjemuran agar lalat tidak betah |
| Repelen nabati (kemangi, serai, cengkeh) | Uji skala kecil menunjukkan lalat yang hinggap berkurang; pada ikan sepat rawa, ekstrak kemangi yang disemprot menurunkan lalat hinggap dari 105 menjadi 33 ekor. Ada pula uji ekstrak serai pada ikan gabus asin dan larutan daun cengkeh. Hasilnya menjanjikan tetapi belum menjadi standar, dan efek penolakan bisa tidak bertahan lama seperti pada uji repelen di Cilacap |
| Insektisida terkendali | Hanya dalam program yang diatur dan diawasi, dengan produk, dosis, dan batas residu khusus pangan, bukan insektisida rumah tangga |
Hambatannya nyata. Perspektif dalam jurnal Frontiers in Nutrition 2025 mengingatkan bahwa panduan keamanan pangan global sering sulit diterapkan di komunitas dengan sumber daya terbatas. Karena itu pembinaan perlu disertai bantuan nyata: contoh rak, bahan jaring murah, dan pendampingan dari dinas kelautan dan perikanan, dinas kesehatan, Puskesmas, serta BPOM setempat. Pelaku usaha yang mendapat pembinaan dan fasilitas lebih mungkin berubah dibanding yang hanya dihukum.
Panduan untuk konsumen
- Pilih ikan asin yang kering, tidak lembap, dan tidak berbau menyengat seperti obat atau bahan kimia. Bau menyengat adalah alasan untuk tidak membeli.
- Beli dari penjual yang bersedia menjelaskan asal dan cara pengolahannya.
- Cuci dengan air mengalir, rendam sebentar, buang air rendamannya, lalu masak sampai matang. Belum ada data khusus seberapa besar langkah ini mengurangi residu insektisida pada ikan asin, tetapi tetap bermanfaat untuk mengurangi garam dan kotoran, sejalan dengan prinsip Lima Kunci Keamanan Pangan WHO.
- Untuk ibu hamil dan anak kecil, utamakan ikan asin dari sumber yang dapat dipercaya, dan jangan menjadikannya lauk harian dalam jumlah besar karena kadar garamnya tinggi.
- Jangan menyemprot insektisida ke makanan di rumah sendiri, termasuk saat menjemur ikan atau makanan lain.
Bila ada gejala atau dugaan keracunan
Mual, muntah, pusing, kesemutan, atau gangguan napas setelah makan produk yang dicurigai perlu diperiksa di Puskesmas atau IGD terdekat; bawa sisa makanan atau kemasannya. Menurut Pasal 72 PP 86/2019, dugaan keracunan pangan yang dialami lebih dari satu orang wajib dilaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Keluhan atau temuan produk dapat disampaikan juga lewat Halo BPOM 1500533.
Penutup
Ikan asin adalah sumber protein terjangkau dan bagian dari ekonomi pesisir kita. Melindunginya dari lalat dan melindungi konsumen dari residu bahan kimia bukanlah dua tujuan yang bertentangan. Keduanya dapat dicapai lewat rak yang tepat, kebersihan penjemuran, pembinaan, dan pengawasan yang konsisten. Pertanyaan yang lebih berguna daripada “siapa yang salah” adalah “apa yang perlu kita sediakan agar cara yang aman menjadi cara yang paling mudah”.
Catatan Transparansi
Artikel ini berangkat dari unggahan media sosial yang kebenaran detailnya belum terverifikasi. Beberapa rujukan merupakan studi lama atau berskala kecil (uji repelen nabati, studi residu di Kenya) dan hasilnya tidak dapat langsung diterapkan pada penyemprotan insektisida rumah tangga. Rujukan tentang praktik penyemprotan di Cilacap dan hubungan lalat dengan formalin adalah temuan penelitian yang dikutip dari makalah tersebut. Saya tidak menemukan data residu insektisida pada ikan asin Indonesia. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Rujukan utama
- Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan
- WHO. Five keys to safer food manual
- Andersen HR dkk. Pyrethroids and developmental neurotoxicity. Environ Res. 2022
- Gjerstad D. Prevention of infestation by Dermestes maculatus in East African dried fish using pyrethrum and piperonyl butoxide. Fishery Technology
- ATSDR. Interaction profile for pyrethroids (neurological effects)
- Rinto dkk. Efektivitas daun kemangi sebagai anti lalat pada ikan asin sepat rawa. JPHPI 2024
- FAO. Simple fish-drying racks improve livelihoods and nutrition in Burundi





Tinggalkan Balasan