Les pèlerins au-dessus des nuages

Sandi Vitruvian · Bab 11

Keping itu mulai berdengung sebelum fajar.

Awalnya Kaelen mengira itu denyut yang makin rapat, seperti yang ia hitung dengan arloji selama dua malam. Tetapi tutup kotak timah mulai bergetar di bibirnya, tik, tik, tik, seperti lalat terkurung dalam stoples, dan denyut-denyut itu menyatu menjadi satu nada yang merambat dari kotak ke meja. Debu kapur dari sabak, yang belum sempat ia sapu, bergeser sendiri. Garis-garis halus muncul di permukaan kayu, melengkung, bersilang, runtuh ketika ia menahan napas, lalu tersusun lagi menjadi bentuk lain.

Ia mengenali gejalanya. Setiap murid Akademi pernah menaburkan pasir di atas lempeng kuningan dan menggesek tepinya dengan busur biola untuk melihat sebuah nada menggambar dirinya sendiri. Di sini tak ada busur. Yang ada hanya serpihan violet sebesar kuku ibu jari, dan seseorang di ujung lain denyut itu yang sedang mencoba bicara.

Di balik papan ventilasi, burung menyanyikan sebelas nadanya. Kaelen tidak menoleh. Ia menghapus sabak dengan lengan baju, lalu menulis dengan kapur yang tersisa: Wren. Bangun. Pakai sepatu. Bawa pasir silika halus dari rak tiga. Di bawahnya, lebih keras: Jangan bicara.

Wren sudah duduk sebelum kapur itu selesai bergerak. Ia tidur seperti pencuri, dengan mata separuh terbuka, dan ia membaca sabak itu, lalu kotak timah yang bergetar, lalu berdiri tanpa suara. Dari balik papan, burung mengulang nadanya dari awal.


Seprai di lorong sabun pagi itu kaku oleh embun dan berderak ketika mereka lewat. Atelier masih menyimpan dingin semalam. Kaelen meletakkan kotak timah di meja berkain putih milik ibunya, membersihkan piringan perunggu dari timbangan ayahnya dengan ujung saputangan, dan memasangnya rata di atas lipatan kain. Butir hitam yang selama tujuh belas tahun menunggu di piringan itu ia pindahkan ke telapak tangan, lalu ke saku. Wren menaburkan pasir silika dengan jari yang hati-hati. Lapisannya tipis, rata, seputih gula halus.

“Sekarang,” bisik Wren, karena di sini mereka boleh berbisik.

Kaelen menaruh keping G-84 di tengah piringan.

Pasir itu tidak melompat. Ia mengalir. Dari tengah, garis-garis menjalar keluar seperti retakan es di permukaan kolam, kemudian berhenti, kemudian bergeser, dan dalam sekitar satu menit kekacauan itu mengendap menjadi sesuatu yang bisa dibaca. Dua goresan sejajar yang bersilang. Sebuah lengkung dengan titik di atasnya. Kaelen merasakan rambut di tengkuknya berdiri.

Hg-prime. Tanda belati ganda.

Ia menjepit pensil di sela jari dan mulai menyalin. Setiap kali pola runtuh dan terbentuk kembali, simbol berikutnya muncul di atas bekas yang lama, dan Wren, yang tak bisa membaca satu pun dari notasi itu, mengerti tugasnya tanpa disuruh. Ia memegang lampu, mengikuti garis dengan matanya, dan menghitung dengan bibir: satu, dua, tiga, ganti. Dua puluh menit sesudahnya pola itu mulai mengulang dari awal, dan Kaelen berhenti menyalin.

Ia punya kunci dari film kaca di tumit Rourke. Ia membaca berkas simbol itu dengan kunci tersebut, dari kiri, sekali, lalu sekali lagi dengan pensil di atas tiap kelompok, dan hasilnya tetap sama.

Naiklah, Kael. Atau turunlah.

Di bawahnya hanya dua angka, dituliskan dengan cara Zemfira menuliskan angka di pinggir kertas ujian: enam, lalu dua puluh tiga.

Wren membaca wajahnya, bukan kertasnya. “Apa isinya?”

Kaelen menyodorkan salinan itu. Ia melihat Wren menggerakkan bibir pada kata terakhir, lalu mendongak dengan wajah yang mendadak lebih tua.

“Dia memanggilmu Kael.”

“Hanya satu orang yang boleh memanggil saya begitu,” kata Kaelen pelan, “dan dia sudah dikubur di nisan yang saya bangun sendiri.”

Ia memeriksa tulisan itu sekali lagi. Pada tanda belati ganda, di ujung kiri, ada ekor kecil, kebiasaan tangan yang terlalu teliti. Orang itu bahkan tidak berusaha menyembunyikan tangannya.


Valerius datang dengan ketukan tiga, jeda, dua, tepat ketika Kaelen sedang menghapus pola terakhir dari piringan dengan telapak tangannya. Ia membaca salinan itu berdiri, mantel masih basah oleh kabut, dan sesudah itu tidak berkata apa-apa lama sekali.

“Enam dan dua puluh tiga,” ucapnya akhirnya. “Persimpangan Enam. Pukul sebelas malam.”

“Anda tahu tempatnya?”

“Aku berpatroli di saluran lama waktu masih sersan. Itu bekas stasiun pompa, enam terowongan bertemu di sebuah ruang bundar. Ada tangga batu yang naik ke sisterna Mid-Tiers, dan tangga besi melingkar yang turun ke saluran Sump.” Ia mengetuk kertas dengan buku jarinya. “Naik atau turun. Dia tidak peduli lewat mana kau datang.”

“Atau dia ingin saya memilih.”

Valerius menatapnya. “Kau akan pergi.”

“Ya.”

“Sendirian.”

“Dia menulis nama saya, Inspektur. Dia menaruh film kaca dalam notasi yang hanya dua orang bisa baca, dan sekarang dia menulis dengan pasir supaya tidak ada kurir yang bisa disadap.” Kaelen menggulung kertas itu dan memasukkannya ke tungku kecil di sudut. “Orang tidak membunuh satu-satunya pembaca tulisannya. Itu hipotesis saya.”

“Itu harapan, Vance. Hanya saja berseragam hipotesis.”

“Mungkin.” Ia tidak membantah. “Tetapi dia menyuruh saya turun, bukan menyeret saya. Kalau Anda ikut sampai tikungan, di luar pandangannya, saya tidak berkeberatan.”

Valerius mendengus, dan itu adalah persetujuannya. Dari balik mantel ia mengeluarkan bungkusan kain minyak sebesar bantal kecil dan meletakkannya di meja, di tempat piringan tadi berdiri.

“Semalam aku ke gudang arsip Watch,” katanya. “Mencari Edrin Holt. Tidak ada, tentu saja, tidak satu baris pun. Tetapi di rak yang sama ada jilid-jilid lama pembukuan Rourke, disita waktu perkara riba sembilan puluh enam dan tak pernah dikembalikan. Aku mengambil satu. Tahun delapan puluh tiga.” Ia mengangkat bahu. “Rourke sudah mati. Tidak akan ada yang menanyakannya.”

Kaelen menyentuh bungkusan itu, tidak membukanya. Ia memikirkan satu tahun tertentu, satu botol biru yang dibuang dengan tangan gemetar dari tangga rumah ini. “Mengapa tahun itu?”

“Itu tahun adikmu,” kata Valerius. “Dan setahun sebelum Gamma. Dua hal yang tak pernah kau bicarakan, dan aku curiga keduanya bersentuhan.”

Sore harinya Kaelen berkata dengan suara lantang di laboratorium bahwa ia akan menagih utang pada penyuling di Sump dan pulang larut. Burung di balik papan mendengar semuanya. Wren ia titipkan di gudang Brenn, bersama Borin dan segelas teh jahe, dan anak itu menerimanya dengan wajah orang yang sedang mencatat setiap hal yang tidak dikatakan kepadanya.


Tutup lubang got di belakang rumah celup nila terbuka dengan satu dorongan bahu Valerius. Di bawahnya tangga besi yang berkerak, lalu terowongan batu yang rendah, dan sesudah tiga ratus langkah lengkungnya naik, dan udara berubah.

Bau batu basah. Bau lumut yang tua. Dan di bawah keduanya, sangat tipis, sesuatu yang manis.

Valerius berhenti di tengah langkah. Kaelen mendengar napasnya berubah, bukan menjadi cepat, tetapi menjadi sangat teratur, seperti napas orang yang sedang menghitung.

“Dua puluh tahun,” katanya, hampir tanpa suara.

“Tikungan di depan,” kata Kaelen. “Seperti yang kita sepakati.”

“Aku ingat.” Valerius menurunkan tudung lampunya sampai tinggal garis kuning di lantai. “Satu kata dari kau, dan aku ada di sampingmu dalam lima hitungan.”

Kaelen mengangguk dan berjalan terus sendirian. Bungkusan kain minyak itu di dalam tas kulit, menekan rusuknya.

Terowongan di luar tikungan lebih sempit daripada yang ia bayangkan, dan lebih rapi. Seseorang pernah menyapu lantainya. Di dinding, pada ketinggian pinggang, ada jejak telapak tangan yang bersih dari lumut, seakan orang yang sama bertahun-tahun menyentuh tempat yang sama setiap kali lewat. Kaelen mengukur jarak antarjejak dengan ujung matanya, dan mendapati langkah itu pincang di sebelah kiri.

Persimpangan Enam adalah ruang bundar dengan enam mulut terowongan yang membuka seperti jari-jari roda. Di tengahnya berdiri panggung pompa yang sudah berkarat, dan dari sana tangga batu menanjak ke kiri, lenyap dalam gelap, sementara tangga besi melingkar menurun ke kanan seperti ulir sekrup raksasa. Cahayanya datang dari satu sumber saja. Amber, hangat, bergoyang pelan, dan Kaelen belum melihat apa yang memancarkannya ketika suara itu terdengar.

“Kau datang, Kael.”

Suaranya tenang. Lebih lembut daripada yang ia siapkan. Seperti suara pustakawan yang membetulkan salah kutip.

Silas Orrin duduk di tepi panggung pompa dengan lutut menekuk, seperti orang yang sudah lama menunggu dan tidak keberatan. Tubuhnya tinggi dan membungkuk ke satu sisi, seakan salah satu bahunya menahan beban yang tak kelihatan. Jubah kelabunya penuh tambalan rapi. Tangan kirinya terletak di lutut, kaca amber dari ujung jari sampai lengan baju, sendi-sendinya berpendar pelan seperti arang yang masih ingat api. Setengah wajahnya porselen, halus dan pucat dan tanpa pori. Mata kanannya mata manusia, cokelat dan sangat lelah. Mata kirinya amber, dan ia menyala.

Madu-kapri. Logam yang dipanaskan. Kaelen menarik napas lewat mulut dan menghitung empat.

“Hanya satu orang yang boleh memanggil saya begitu,” katanya.

“Aku tahu.” Silas tersenyum, dengan sisi wajah yang masih bisa tersenyum. “Aku minta maaf. Kebiasaan lama. Dalam kepalaku kau selalu Kael, anak yang duduk di antara dua meja dan tidak pernah disuruh diam. Guru bercerita tentangmu lebih sering daripada tentang formula.”

Kaelen tidak menjawab. Rahangnya mengencang, hanya sedikit.

“Kau membaca tumit Rourke dalam empat hari,” lanjut Silas. “Aku butuh seminggu hanya untuk dua lapis pertama waktu belajar dulu. Dan kau melihat ekor kecil di tanda belatiku. Aku tidak berusaha menyembunyikannya.”

“Anda ingin saya melihatnya.”

“Aku ingin kau tahu siapa yang menulis. Itu tidak sama.” Cahaya di pipi kirinya bergeser. “Duduklah, kalau kau mau. Aku tidak akan menyentuhmu.”

“Saya berdiri.”

“Tentu.” Matanya yang manusia berkedip. “Inspektur di tikungan itu juga berdiri, aku bisa mencium minyak lampunya. Sampaikan padanya aku tidak pernah menyalahkannya. Ia menjawab dengan benar malam itu. ‘Tidak ada siapa-siapa, Master.’ Aku mendengarnya, dari bahu Guru. Dua puluh tahun, dan itu satu-satunya kalimat yang kupegang erat.”

Di dalam gelap, jauh di belakang Kaelen, terdengar sesuatu yang hampir seperti napas tertahan. Kaelen tidak menoleh.

“Anda memanggil saya,” katanya. “Katakan alasannya.”

“Karena aku ingin kau mendengar ini dari aku, bukan dari berkas.” Silas menegakkan punggungnya sedikit, dan pada gerakan itu terdengar bunyi kecil, seperti kaca berdenting pada kaca. “Rourke bukan pembunuh siapa pun. Itu yang kau pikirkan tentang dia: rentenir, penghisap, tapi bukan pembunuh. Kau salah. Rourke menjual air tambang gelap kepada apotek Aurelian, tahun delapan puluh tiga. Air Lode mentah, tak disaring, enam drum, ditandai ‘bukan untuk diminum’. Apoteker itu mencampurnya dengan pewarna biru dan menjualnya sebagai obat batuk anak-anak.”

Kaelen tidak bergerak. Satu detik, dua. Ia merasa dingin di punggungnya, bukan dari terowongan.

“Obat biru,” kata Silas, lebih lembut lagi. “Adikmu minum satu sendok setiap pagi selama enam minggu.”

“Saya tidak menerima kata Anda.” Suaranya datar dan sangat jelas, seperti membacakan hasil uji. “Saya terbiasa memeriksa.”

“Aku tahu. Karena itu aku senang kau membawa jilidnya.”

Ia tidak sempat bertanya bagaimana lelaki itu tahu. Ia mengeluarkan bungkusan itu dari tas, membuka kain minyaknya, dan membalik halaman dalam cahaya yang datang dari tangan Silas, yang tahu cukup baik untuk memiringkan lengannya sedikit supaya cahaya jatuh ke kertas, bukan ke mata Kaelen.

Tulisan Rourke kecil dan serakah, bertumpuk di kolom. Musim gugur 83 P.S. Ia menelusuri dengan jari hingga baris yang tidak ia cari tetapi sudah ia tahu akan ada: Apotek Aurelian. 6 drum air dalam, tak disaring. Dibayar kontan. Catatan: jangan tanya kegunaan. Di tepi kanan, dengan tinta yang lebih baru, goresan lain: Aurelian minta lagi. Tolak. Terlalu banyak anak sakit. Lalu, dua halaman sesudahnya, tinta yang sama: Terima. Harga naik.

Ia teringat botol biru di tangan ayahnya, di tangga rumah ini, pada pagi yang sama ia berhenti menangis sebelum sempat mulai. Label tempel di botol itu bergambar seorang anak tersenyum. Ia pernah mengira kebohongan paling kejam adalah gambar itu.

Selama dua puluh satu tahun ia mencari sumbernya. Ia menulis kesaksian tentang kontaminan Lode yang tak tersaring di depan majelis Guild, usia sembilan belas, dan majelis itu menolaknya karena ia tak bisa menyebut dari mana air itu datang. Jawabannya selama ini ada di rak arsip Watch, di balik debu, ditulis oleh seorang pria yang kini kaca di Gaffer’s Lane.

Tangannya mantap. Ia menutup jilid itu dengan hati-hati, seakan buku itu dapat terluka.

“Benar,” katanya.

“Aku tidak berbohong padamu, Kael. Tidak pernah. Itu aturan pertama Guru.”

“Anda tidak perlu berbohong. Anda memilih apa yang dibawakan.” Ia mengangkat mata. “Anda menyimpan nama ini untuk hari saya memegang buku itu.”

Silas tidak menyangkal. Ia hanya memiringkan kepala, sedikit, penuh perhatian. “Dan sekarang kau tahu. Rourke membunuh adikmu. Seraphina menerbitkan sertifikat yang mengirim sesuatu yang tak stabil ke dunia. Verrin menyegel kebenarannya dengan stempel. Mereka tidak pernah diadili, Kael. Mereka naik pangkat. Aku hanya memberi mereka pengadilan yang mau mendengar.”

“Mereka pantas diadili.”

“Ya.”

“Mereka tidak pantas menjadi kaca hidup di gang tempat orang mencari tempat tidur.” Kaelen menjaga nadanya serendah mungkin. “Saya mengerti, Tuan Orrin. Saya memahami lebih baik daripada yang Anda duga, karena saya baru saja membaca tulisan tangan Rourke dan merasakan sesuatu yang tidak akan saya tulis dalam laporan mana pun. Tetapi memahami bukan menyetujui. Saya tidak membela Rourke. Saya menolak bahwa yang dilakukan terhadapnya adalah hukuman.”

“Lalu apa namanya?”

“Anda tidak bertanya padanya.”

Cahaya amber di mata kiri Silas bergetar. Sangat sedikit.

“Anda tidak bertanya pada Rourke,” lanjut Kaelen. “Tidak pada Seraphina Kalidus, yang mati di studinya sendiri. Tidak pada Verrin, di tengah sidang terbuka. Dan Anda menyebut Lyra.” Suaranya hampir tidak berubah. Hampir. “Lyra juga tidak Anda tanya. Tidak ada yang bertanya apakah ia ingin dibalaskan. Anda bertanya pada saya hanya setelah semuanya selesai.”

Hening. Dari salah satu terowongan, jauh, air menetes tiga kali ke genangan.

Silas tertawa. Pendek, tanpa nada. Tawa orang yang menemukan kesalahan di rumus yang ia percaya benar. “Guru bilang kau akan tumbuh keras kepala,” katanya. “Ia selalu bilang itu seakan pujian.”

“Ibu saya bilang banyak hal tentang Anda juga.”

“Benarkah?” Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang bergerak di sisi wajah porselen itu, di bawah kulit yang tidak bisa bergerak. “Apa saja?”

Kaelen mendapati dirinya sudah membuka mulut. Ia menutupnya lagi. Kalimat tentang S. mengangguk, tetapi belum mendengar hampir meloncat keluar, dan ia tidak tahu apakah itu belas kasihan atau senjata, dan ia tidak akan menawarkan keduanya kepada lelaki ini sebelum ia tahu.

“Tidak malam ini,” katanya.

Silas memandangnya cukup lama. Lalu ia mengangguk sekali, seperti orang yang menerima syarat. “Kalau begitu, dengarkan tawaranku, dan jawablah dengan cara yang kau suka.” Ia berdiri, pelan-pelan, dan kaca di bahunya berdenting. “Datanglah. Bukan sebagai umpan, bukan sebagai tahanan. Sebagai kolega. Karya Guru belum selesai, dan hanya dua orang di dunia yang bisa menyelesaikannya. Dunia tanpa nekrosis, Kael. Tanpa paru yang menjadi batu. Tanpa anak yang mati karena obat palsu. Aku bisa melakukannya sendiri, tetapi aku lebih suka tidak sendiri.”

“Tidak.”

Itu keluar tanpa jeda. Ia tidak menghitung.

“Belum,” kata Silas, sama lembutnya.

“Tidak,” ulang Kaelen. “Dan bukan karena saya takut pada Anda.”

“Aku tahu.” Ia sudah mulai berbalik, menuju tangga batu yang naik. Tangan kacanya menyentuh dinding dan meninggalkan jejak hangat di lumut, yang menguap dalam satu napas. “Kau menjawab seperti dia.”

“Saya menjawab seperti saya.”

Langkahnya berhenti di anak tangga ketiga. Ia tidak menoleh. Di punggungnya yang bungkuk, kain jubah bergeser dan memperlihatkan sebentar garis kaca yang merayap dari tulang belikat ke tengkuk, jauh lebih jauh daripada yang tampak dari depan.

“Aku tidak membutuhkan daftar yang panjang lagi,” katanya pada gelap di depannya. “Aku menemukan cara yang lebih adil, yang tidak memilih siapa pun. Tanyakan pada anak Sump-mu dari mana kota ini minum.”

Lalu ia naik. Cahaya amber mengecil di lengkung tangga, jadi sebutir, jadi tidak ada, dan bau madu-kapri tinggal sebentar di udara, kemudian ikut pergi.


Valerius sudah di sampingnya sebelum hitungan kelima, dan tangannya terlepas dari gagang pistol sepuluh senti dari tubuh Kaelen. Wajah kayu jatinya pucat di bawah lampu. Ia tidak mengejar. Kaelen tahu ia ingin mengejar, dan tahu ia memilih tidak melakukannya.

“Aku bisa menembak dari tikungan,” kata Valerius, parau. “Tiga kali.”

“Dan ia hancur jadi serpihan, atau tidak sama sekali, dan kita tak tahu siapa lagi yang menunggu di atas tangga itu.” Kaelen mengembalikan jilid ke dalam tas dan menutup kancingnya. Tangannya mantap, dan ia tidak merasa lebih baik karenanya. “Dia tidak membunuh saya. Itu data.”

“Dia mengakui semuanya.”

“Dia mengakui hal-hal yang bisa saya periksa. Dan semuanya benar.” Kaelen menatap tempat terakhir cahaya itu terlihat. “Itu yang mengkhawatirkan, Inspektur. Orang yang berbohong bisa dibantah. Orang yang selalu benar tentang masa lalu memberi kita alasan untuk percaya pada ramalannya tentang masa depan.”

Valerius diam. Kemudian: “Ramalan apa?”

“Dari mana kota ini minum.”

Mereka berdiri di tengah Persimpangan Enam, dengan enam mulut gelap di sekeliling, dan Kaelen baru menyadari ada yang hilang. Di dalam tasnya, di kotak timah yang ia bawa untuk berjaga-jaga, keping G-84 telah berhenti berdenyut.

Tidak melambat. Berhenti. Seolah seseorang di ujung lain telah melepaskan genggamannya.

Ia membuka kotak itu, dan keping violet itu terbaring diam di atas beludru, dingin seperti batu yang sedang beristirahat. Ia mengangkat wajah kepada Valerius, dan Valerius hanya mengangkat lampunya dan berkata:

“Bangunkan anak Sump-mu.”


Kalau kisah Kaelen dan sandi para alkemis ini menemani malammu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] ← Bab 11: KontakDaftar Bab […]

Tinggalkan Balasan