Bu Wayan, 38 tahun, guru SD di Singaraja, mengeluh sudah berbulan-bulan merasa gampang lelah, kedinginan padahal ruangan tidak dingin, dan berat badannya naik tanpa perubahan pola makan. Rambutnya rontok lebih banyak, haidnya mulai tidak teratur, dan lehernya terasa agak penuh. Hasil laboratorium menunjukkan TSH tinggi dan antibodi anti-TPO positif. Diagnosisnya: tiroiditis Hashimoto, kondisi yang sangat umum, terutama pada perempuan usia produktif.
Tiroiditis Hashimoto adalah penyakit autoimun: sistem imun keliru mengenali jaringan kelenjar tiroid sebagai musuh, lalu menyerangnya perlahan. Kelenjar tiroid yang berbentuk kupu-kupu di depan leher itu mengatur laju metabolisme seluruh tubuh. Bila selnya terus rusak, produksi hormon tiroid (tiroksin atau T4 dan triiodotironin atau T3) menurun, dan terjadilah hipotiroidisme. Di daerah dengan asupan yodium cukup, Hashimoto adalah penyebab hipotiroidisme yang paling sering (Caturegli dkk., 2014).

Siapa yang berisiko?
Hashimoto jauh lebih sering menyerang perempuan dibanding laki-laki, dan puncaknya pada usia 30 hingga 50 tahun, meski bisa muncul di usia berapa pun, termasuk anak dan remaja. Penyebabnya tidak tunggal. Faktor genetik berperan (riwayat penyakit tiroid atau autoimun lain dalam keluarga), ditambah pengaruh hormon, serta pemicu lingkungan seperti asupan yodium yang berlebihan, infeksi, dan stres. Orang dengan penyakit autoimun lain, misalnya diabetes melitus tipe 1, celiac, vitiligo, atau hepatitis autoimun, lebih mudah mengalaminya (Ragusa dkk., 2019).
Gejala yang sering disalahartikan
Perjalanan penyakitnya lambat, sehingga banyak orang mengira gejalanya hanya “faktor usia” atau “kurang istirahat”. Sebagian orang bahkan tidak bergejala selama bertahun-tahun, dan Hashimoto baru terungkap saat pemeriksaan rutin. Gejala yang perlu diwaspadai dirangkum pada tabel berikut.
| Sistem tubuh | Keluhan yang mungkin muncul |
|---|---|
| Umum | Mudah lelah, lamban, peka terhadap dingin, berat badan naik |
| Kulit dan rambut | Kulit kering, rambut rontok, kuku rapuh, wajah tampak sembap |
| Pencernaan | Sembelit |
| Reproduksi | Haid tidak teratur atau banyak, sulit hamil |
| Saraf dan mental | Sulit konsentrasi, mudah lupa, suasana hati murung |
| Leher | Pembesaran tiroid (gondok) yang tidak nyeri, rasa penuh atau mengganjal |
Pada fase awal, kerusakan sel tiroid kadang melepaskan hormon yang tersimpan sehingga sempat muncul gejala hipertiroid sesaat (berdebar, gemetar, mudah berkeringat), yang dikenal sebagai hashitoxicosis. Fase ini biasanya singkat dan berlanjut ke hipotiroid.
Bagaimana diagnosisnya ditegakkan?
Diagnosis bertumpu pada gejala, pemeriksaan leher, dan tes darah. Penjelasan lebih rinci tentang interpretasi hasil laboratorium dapat dibaca di artikel Pemeriksaan Fungsi Tiroid: TSH, FT4, FT3, dan Antibodi Tiroid.
| Pemeriksaan | Temuan pada Hashimoto |
|---|---|
| TSH | Meningkat pada hipotiroid; normal bila tiroid masih mampu mengompensasi |
| FT4 | Normal (hipotiroid subklinis) atau rendah (hipotiroid nyata) |
| Antibodi anti-TPO | Positif pada sebagian besar penderita; penanda utama proses autoimun |
| Anti-tiroglobulin | Dapat positif; berguna bila anti-TPO negatif |
| USG tiroid | Tekstur heterogen, hipoekoik; membantu bila antibodi negatif atau ada nodul |
Pengobatan: levotiroksin, bukan “obat seumur hidup yang menakutkan”
Belum ada obat yang menghentikan serangan autoimun itu sendiri. Yang diobati adalah kekurangan hormonnya. Terapi standar adalah levotiroksin (T4 sintetis) dosis tunggal harian, diminum saat perut kosong, idealnya 30 hingga 60 menit sebelum sarapan, dan dipisahkan sekitar empat jam dari kalsium, zat besi, atau antasida karena obat-obat ini mengganggu penyerapannya. Dosis disesuaikan dengan berat badan, usia, dan penyakit penyerta, lalu TSH diperiksa ulang sekitar enam hingga delapan minggu setelah perubahan dosis, dan setelah stabil cukup satu kali setahun (Jonklaas dkk., ATA 2014).
Pada hipotiroid subklinis (TSH sedikit naik dengan FT4 normal), keputusan memulai obat bersifat individual. Pedoman umumnya mempertimbangkan kadar TSH, gejala, antibodi anti-TPO positif, rencana kehamilan, dan penyakit jantung. Kadar TSH di bawah sekitar 10 mIU/L pada orang tanpa gejala sering cukup dipantau dahulu (Garber dkk., AACE/ATA 2012).
Hashimoto dan kehamilan
Hipotiroid yang tidak terkontrol meningkatkan risiko keguguran, persalinan prematur, dan gangguan perkembangan saraf janin. Perempuan dengan Hashimoto yang merencanakan kehamilan sebaiknya memeriksakan TSH lebih dulu. Kebutuhan levotiroksin biasanya naik 25 hingga 30 persen sejak awal kehamilan, sehingga dosis perlu disesuaikan dan TSH dipantau lebih sering (Alexander dkk., ATA 2017).
Soal makanan dan suplemen
Tidak ada diet khusus yang terbukti menyembuhkan Hashimoto. Yang masuk akal adalah asupan yodium cukup namun tidak berlebihan (hindari suplemen yodium atau rumput laut dosis tinggi tanpa anjuran dokter), pola makan seimbang, dan tidak memakai suplemen “pendukung tiroid” yang tidak jelas kandungannya karena ada yang mengandung hormon tiroid atau yodium tinggi. Selenium kadang disebut dapat menurunkan kadar antibodi, tetapi manfaat klinisnya belum meyakinkan sehingga belum menjadi rekomendasi rutin. Diet bebas gluten hanya bermanfaat bila ada penyakit celiac.
Kapan harus ke dokter?
Periksakan diri bila lelah berkepanjangan, berat badan naik tanpa sebab jelas, sembelit, kulit dan rambut berubah, haid tidak teratur, atau muncul benjolan di leher, apalagi bila ada keluarga dengan penyakit tiroid. Segera cari pertolongan bila benjolan leher membesar cepat, suara menjadi serak, sulit menelan atau bernapas, atau ada kantuk berat, napas melambat, dan suhu tubuh sangat rendah yang menandakan krisis hipotiroid (miksedema), meski jarang. Tiroid dan kesehatan rutin lainnya dapat diperiksa di fasilitas pelayanan primer seperti puskesmas atau klinik di kota Anda, mulai dari Denpasar hingga Makassar.
Pesan utama
Tiroiditis Hashimoto adalah kondisi yang sangat umum, mudah dideteksi dengan TSH dan antibodi anti-TPO, dan dapat dikendalikan dengan baik lewat levotiroksin yang dipantau teratur. Dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar penderita dapat menjalani hidup, pekerjaan, bahkan kehamilan secara normal.
Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis. Rujukan di atas dikutip dari pedoman dan ulasan yang dikenal; teks lengkapnya tidak dibaca ulang saat penulisan.





Tinggalkan Balasan