Les pèlerins au-dessus des nuages

Bapak Wayan, 62 tahun, penderita diabetes selama lebih dari lima belas tahun di Denpasar, mulai sering nyaris jatuh setiap bangun dari tempat tidur. Pandangannya menggelap beberapa detik, lututnya terasa lemas. Belakangan ia juga cepat kenyang setelah makan beberapa suapan, dan sering merasa mual. Gula darahnya “lumayan terkendali”, katanya. Namun keluhan itu tidak berhenti. Yang ia alami bukan sekadar tekanan darah rendah atau maag biasa, melainkan kemungkinan neuropati otonom.

Neuropati otonom adalah kerusakan pada saraf otonom, yaitu saraf yang mengatur fungsi tubuh yang berjalan di luar kendali kita: denyut jantung, tekanan darah, pencernaan, buang air kecil, berkeringat, hingga fungsi seksual. Saat saraf ini terganggu, “pengatur otomatis” tubuh tidak lagi bekerja selaras, dan keluhannya bisa muncul di banyak organ sekaligus.

Ilustrasi sistem saraf otonom yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang ke jantung, lambung, kandung kemih, dan pembuluh darah pada neuropati otonom
Saraf otonom mengatur denyut jantung, tekanan darah, pencernaan, dan kandung kemih tanpa kita sadari.

Mengenal saraf otonom

Sistem saraf otonom terdiri atas dua cabang utama yang bekerja seperti pedal gas dan rem. Cabang simpatis mempersiapkan tubuh untuk bereaksi: jantung berdetak lebih cepat, tekanan darah naik, pupil melebar. Cabang parasimpatis menenangkan tubuh: denyut melambat, pencernaan aktif, kandung kemih berkontraksi. Pada neuropati otonom, keseimbangan keduanya terganggu karena serabut sarafnya rusak.

Penyebab yang paling sering

Penyebab terbanyak di seluruh dunia adalah diabetes melitus. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama merusak serabut saraf kecil dan pembuluh darah yang memberinya makan. Neuropati otonom diabetik dapat mengenai jantung dan pembuluh darah, saluran cerna, saluran kemih, serta kelenjar keringat1,2. Penyebab lain meliputi:

  • penyakit autoimun, termasuk sindrom Guillain-Barré dan neuropati otonom autoimun;
  • amiloidosis, infeksi tertentu (misalnya HIV dan penyakit Chagas), serta penyakit Parkinson dan atrofi multisistem;
  • konsumsi alkohol berlebihan dan kekurangan vitamin B12;
  • obat kemoterapi tertentu (seperti vinkristin dan sisplatin) serta paparan toksin3.

Gejala menurut organ yang terkena

Gejala neuropati otonom sering samar dan baru dikaitkan setelah beberapa lama. Ringkasannya dapat dilihat pada tabel berikut.

SistemKeluhan yang khasIstilah medis
Jantung dan pembuluh darahPusing atau hampir pingsan saat berdiri, denyut jantung cepat saat istirahat, nyeri dada yang tidak dirasakanHipotensi ortostatik, takikardia istirahat, iskemia tanpa gejala
PencernaanCepat kenyang, mual, kembung, muntah makanan lama, diare malam hari, atau sembelitGastroparesis, gangguan motilitas usus
Kandung kemihSulit mulai berkemih, pancaran lemah, merasa tidak tuntas, sering bocorKandung kemih neurogenik
Kelenjar keringatKeringat berlebihan di wajah saat makan, atau kulit kaki sangat kering dan tidak berkeringatHiperhidrosis gustatori, anhidrosis
SeksualDisfungsi ereksi pada laki-laki, kekeringan vagina pada perempuanDisfungsi seksual otonom
MataSulit beradaptasi saat berpindah dari terang ke gelapGangguan refleks pupil

Satu hal yang perlu diwaspadai: pada penderita diabetes, neuropati otonom jantung bisa membuat serangan jantung terjadi tanpa nyeri dada yang khas, sehingga pasien terlambat mencari pertolongan2. Neuropati ini juga dapat membuat penderita diabetes tidak merasakan tanda-tanda gula darah rendah (hipoglikemia).

Bagaimana dokter menegakkan diagnosis?

Diagnosis dimulai dari cerita keluhan dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan kapan pusing muncul, pola buang air besar dan kecil, serta riwayat diabetes, alkohol, dan obat yang dikonsumsi. Pemeriksaan sederhana yang bisa dilakukan di klinik adalah mengukur tekanan darah dan denyut nadi saat berbaring, lalu setelah berdiri tiga menit. Penurunan tekanan darah sistolik minimal 20 mmHg atau diastolik minimal 10 mmHg dalam tiga menit pertama berdiri menandakan hipotensi ortostatik3.

Pada kasus yang lebih rumit, pemeriksaan lanjutan dapat berupa uji variabilitas denyut jantung terhadap napas dalam, manuver Valsalva, tilt-table test, uji pengosongan lambung, serta ultrasonografi sisa urine setelah berkemih. Pemeriksaan darah mencari penyebab yang bisa diobati, misalnya kadar gula, vitamin B12, fungsi tiroid, dan penanda autoimun.

Penanganan: mengobati penyebab dan meredakan gejala

Tidak ada obat yang benar-benar memulihkan saraf yang sudah rusak, sehingga langkah pertama adalah mencegah kerusakan bertambah. Pada diabetes, artinya mengendalikan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, berhenti merokok, serta menjaga berat badan. Kekurangan vitamin B12 dikoreksi, dan penyebab autoimun dapat memerlukan terapi imunologis oleh dokter spesialis saraf.

Gejalanya ditangani sesuai organ:

  • Hipotensi ortostatik: bangun perlahan dalam beberapa tahap, minum cukup air, tambah asupan garam bila tidak ada larangan (misalnya gagal jantung atau hipertensi), pakai stoking kompresi atau korset perut, dan tinggikan kepala tempat tidur. Bila belum cukup, dokter dapat memberi obat seperti fludrokortison atau midodrin3.
  • Gastroparesis: makan porsi kecil tetapi sering, kurangi makanan tinggi lemak dan serat kasar, serta obat prokinetik bila diperlukan.
  • Gangguan kandung kemih: berkemih terjadwal, teknik berkemih ganda, dan kateterisasi bila sisa urine banyak.
  • Disfungsi seksual: dapat dibantu dengan obat golongan penghambat PDE-5 bila tidak ada kontraindikasi, atau pelumas untuk kekeringan vagina.

Kapan harus segera ke dokter?

Periksakan diri bila Anda mengalami pusing atau pingsan berulang saat berdiri, muntah berulang dengan sensasi perut penuh yang tak kunjung hilang, tidak bisa berkemih, atau denyut jantung yang terasa tidak wajar, terutama bila Anda memiliki diabetes. Penderita diabetes sebaiknya menjalani pemeriksaan saraf secara berkala; pedoman internasional menganjurkan penapisan neuropati sejak diagnosis diabetes tipe 2 dan setahun kemudian untuk diabetes tipe 1, lalu diulang setiap tahun2,4.

Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter.

Rujukan

  1. Vinik AI, Maser RE, Mitchell BD, Freeman R. Diabetic autonomic neuropathy. Diabetes Care. 2003;26(5):1553-79. Telaah terkait: Autonomic Neuropathy in Diabetes Mellitus (PMC).
  2. Cardiac Autonomic Neuropathy in Diabetes Mellitus: Pathogenesis, Epidemiology, Diagnosis and Clinical Implications: A Narrative Review (PMC, 2025).
  3. Autonomic Neuropathies. MSD Manual Professional Version.
  4. American Diabetes Association Professional Practice Committee. Standards of Care in Diabetes (bab Retinopati, Neuropati, dan Perawatan Kaki), Diabetes Care, edisi terbaru.

Catatan: kasus pembuka bersifat fiktif sebagai ilustrasi. Rincian tata laksana dan penapisan ditulis berdasarkan pengetahuan klinis umum dan pedoman yang disebutkan; konsultasikan dengan dokter untuk keputusan terapi individual.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan