A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Demikianlah ilmu pengetahuan itu mengalir, sepanjang sungai sang waktu, arusnya tiadalah berbeda kehidupan itu sendiri. Seperti bunga yang kuntumnya meletup ketika musim menyapa, ia akan terlelap dan sirna ketika makna keindahan itu telah menyeruak memenuhi semesta.

Sebagaimana kisah yang lalu, hari ini akan diingat kembali sebagai saat dimana salah satu hal yang menjadi harta manusia dihargai. Ya, mengingat, setidaknya itulah yang dapat dilakukan manusia ini. Pengetahuan untuk mengenal berbagai hal, sebuah kemampuan untuk ‘membedakan’, hitam di antara putih, atau pun putih di antara hitam. Kita telah menapak begitu jauh dalam dunia ini dengan pengetahuan yang didapatkan dari generasi ke generasi. Membangun banyak hal, namun juga telah menghancurkan begitu banyak hal pula.

Orang-orang telah menyampaikan, seorang buta yang berjalan dengan mengayunkan pedang tajam akan merusak hal-hal di sekitarnya juga dirinya sendiri, namun jika orang yang dapat melihat  dan berjalan dengan baik tidak membawa perlindungan diri saat berkelana keluar masuk hutan yang liar, ia akan menemukan dirinya menjadi begitu kesulitan. Itulah sebuah paradigma lama yang dibebankan pada dunia ini, jika seseorang memiliki pengetahuan maka selayaknya ia menggenggam tuntunan. Ketika seseorang memiliki tuntutan, maka agar ia tetap dapat melangkah maju ia harus memiliki pengetahuan. Manusia merajut tuntutan dalam sebentuk kekuatan hati, keyakinan, norma, etika dan lain sebagainya, dan membangun ilmu dan teknologi sebagai perwujudan pengetahuan. Umat manusia telah berharap banyak dari apa yang mereka tata selama ini. Hal itu berkebalikan dengan fakta yang tampak saat ini, justru dengan semua modernisasi yang di alami manusia dan peradabannya, kehancurnya melanda bumi di mana-mana, rumah hidup yang tidak hanya milik manusia.

Hal ini sederhana, itulah sifat dasar pengetahuan, ‘membedakan’, saat pengetahuan itu mewujud sebagai Sarasvati ~ sang pengetahuan yang mengalir terus menerus dalam segenap kecemerlangannya, saat itulah ia digunakan sebagai bagian dari usaha manusia untuk bertahan hidup. Untuk mencari perlindungan, makan, dan sebagainya. Ketika manusia berusaha bertahan hidup dengan mekanisme ‘membedakan’ ini, ia akan melahirkan prioritas, dan ia akan memilih. Dan tak akan ada yang meyangkal bahwa pilihan ini perlu untuk bertahan hidup. Namun manusia suka mengejar segala hal di luar keperluan dasarnya, mencari kenyamanan dan menghindari rasa sakit. Seperti sekeping logam, suka dan duka selalu saling berkeseimbangan, namun terkadang manusia tak hendak melihat kenyataan ini, ia telah memilih dengan kemampuan membedakannya, ia memilih suka dibandingkan duka. Manusia mengetahui segala sesuatu yang berlebihan akan merusak keseimbangan, demikian juga saat pengetahuan digunakan secara berlebihan, bahkan ketika ia digunakan untuk menciptakan tuntunan bagi pemanfaat dirinya.

Seek the form and find the formless…, learn all and then forget all…” Ini adalah kata kebijaksanaan yang teramat tua dari sebuah daratan di bumi tengah. Mereka berkata ini mewakili Zen sejati, namun bukan itu yang kita permasalahankan saat ini, itu pun sebentuk pengetahuan, kata-kata akan menjadi hambar jika ia hanya sekadar pengetahuan. Meniti jalan-jalan kehidupan kembali, bersenandung bersama alam raya, melihat apa yang ada di balik segalanya. Tariklah sebuah napas dengan segenap perasaan, dan hembuskan … atau lebih tepatnya, lepaskan… lepaskan dari tahanan, biarkan mengalir…, lihatlah dengan segenap rasa dan jiwa, lihatlah kehidupan yang mengalir dalam rangkaian napas ini. Napas pun yang menjadi salah satu dasar kehidupan memiliki gerak alaminya, mengambil jika diperlukan dan melepas ketika sudah berkecukupan, namun keselurahan itu pun napas, pun kehidupan jua.

Demikian halnya pengetahuan, apa yang hendak kita genggam sesungguhnya? Pengetahuan telah menjalankan fungsinya dengan baik, memberikan manusia kesempatan bertahan hidup dan belajar secara berkesinambungan. namun rangkaian kehidupan sebuah keutuhan yang luar biasa, membedakan bukanlah cara yang tepat untuk menyelaminya. Ketika ada si baik dan si buruk, kita telah terpisah; ketika ada aku dan dirimu, atau ikatan dan ada penolakan; dengan membedakan kita hidup namun dalam kotak-kotak kecil yang tak mengenal apapun kecuali yang berbeda itu sendiri. Ketika pengetahuan itu telah berfungsi, lepaskanlah…, lepaskan…, hal ini kan menantang kita semua untuk melihat tanpa mengetahui, the formless form of all.

Namun tentunya batin kecil kita akan berbisik, ya…, akankah kita begitu bodoh melepaskan sesuatu yang  menyokong kehidupan kita selama ini? Tidak salah juga, itulah gerak batin yang dikenal sebagai pikiran, fungsinya memang untuk mempertahankan kelangsungan hidup kita, jika ada yang cukup gila untuk mati, tentu orang-orang akan berkata pastilah pikirannya sudah tak berfungsi dengan baik. Anda akan ragu, karena dihadapan Anda penuh akan ketidakpastian, dan kembimbangan gerak dari yang pasti menuju tak pasti inilah yang dikenal sebagai ketakutan. Inilah bentuk-bentuk yang ada dalam diri setiap orang. Ketika kita mencari yang berbentuk, inilah yang dapat kita temukan, karena kita masih menggunakan jangkauan sang pengetahuan, yang selalu membedakan, sehingga menghasilkan bentuk.

Ketika kita mencari makna kehidupan, dan menemukan segala bentuk ini, berarti kita belum melepaskan keterikatan pada pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah ‘aku’. “Mereka yang memandang dirinya dan menemukan sebentuk kecemerlangan vidya, mereka sedang berada dalam gelapnya kabut avidya, inilah jeratan sang waktu dan sang aku”. Kata itu benar-benar sederhana, selusuri semua pengetahuan, dan lepaskanlah, biarkan ia berakhir. Mengapa engkau menahannya? Ini hanya bisa, ketika manusia telah melihat betapa semua yang ia tahan itu sia-sia, atau ketika manusia menemukan, bahwa dengan ketika pengetahuan itu sirna di sana ia bisa melihat sesuatu yang sesungguhnya, the formless, the unknown, the life. Tidak ada yang bisa dipaksakan di dunia ini, tidak pada yang tak berwujud, akan ada waktunya buah yang ranum terlepas dari tangkai yang menahanya, bahkan ketika tak ada usaha untuk melepasnya dari tangkai, dan buah itulah yang membawa biji akan siap untuk kehidupan yang sesungguhnya setelah kematiannya.

Sarasvati memberikan pengetahuan kepada umat manusia, mereka yang mengingatnya mengenal dalam kata kuno pengetahuan itu sebagai “Veda”, dan inti yang terucap dari begitu banyak bait syair yang indah adalah “Vedanta”, yang bermakna berakhirnya Veda…, akhir sang pengetahuan…, atau ketika pengetahuan mati, seindah kata ketika sang ‘aku’ mati, yang beberapa ribu tahun kemudian dalam bahasa Pali dikenal sebagai Nibbana.

 

Selamat Hari Raya Sarasvati.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] dulu pernah menulis tentang Sarasvati Puja – walau tidak secara literatur bermakna hal yang sama dengan yang dikenal […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca