A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Tulisan ini oleh Bapak Hudoyo Hupodio
===========================

Duduk bersila di bawah sebatang pohon, yang kelak dikenal sebagai Pohon Bodhi, “Pohon Pencerahan” atau “Pohon Kearifan”, di tepi sungai Neranjara, di Gaya (sekarang dikenal sebagai Buddhagaya), mengerahkan usaha terakhir dengan tekad tak tergoyahkan: “Sekalipun tinggal kulit, urat dan tulang, dan darah dan dagingku kering dan lapuk, aku tak akan bergerak dari tempat duduk ini sampai aku mencapai pencerahan sempurna (samma-sambodhi) .” Tanpa menyerah, tanpa kenal lelah dalam upayanya, begitu kuat tekadnya untuk mencapai kebenaran dan meraih pencerahan sempurna.
Menerapkan “perhatian penuh pada napas masuk dan napas keluar” (anapanasati) , sang Bodhisatta masuk dan berdiam dalam tingkat keterpusatan pertama (jhana). Secara bertahap dan berangsur-angsur, ia masuk dan berdiam di jhana kedua, ketiga dan keempat. Dengan membersihkan batinnya dari kotoran secara itu, dengan batin tenang & terkendali, ia mengarahkannya pada pengetahuan akan kehidupan-kehidupan nya yang lampau (pubbenivasanussati -nyana). Inilah pengetahuan pertama yang dicapainya pada sepertiga pertama malam itu. Lalu sang Bodhisatta mengarahkan batinnya pada pengetahuan akan timbul & lenyapnya makhluk-makhluk berbagai wujud, yang berada dalam kebahagiaan, yang berada dalam kesengsaraan, masing-masing mengembara sesuai perbuatannya (cutuupapaata- nyana). Inilah pengetahuan kedua yang dicapainya dalam sepertiga menengah malam. Setelah itu ia mengarahkan batinnya pada pengetahuan akan tercabutnya arus kehidupan (aasavakkhaya- nyana).

Ia memahami apa adanya: “Inilah dukkha, inilah sebabnya dukkha, inilah berakhirnya dukkha, inilah jalan menuju berakhirnya dukkha.” Ia memahami apa adanya: “Inilah kotoran batin (asava), inilah munculnya kotoran batin, inilah berakhirnya kotoran batin, inilah jalan menuju berakhirnya kotoran batin.”

Dengan mengetahui seperti itu, dengan melihat seperti itu, batinnya terbebas dari kotoran kenikmatan indra (kama-sava), kotoran proses menjadi (bhava-sava) , dan kotoran kegelapan batin (avijja-sava) . Ketika batinnya terbebas, muncullah pengetahuan, “pembebasan” , dan ia memahami: “Berakhirlah kelahiran, kehidupan suci ini telah dijalani, selesai sudah apa yang perlu dikerjakan, tidak ada lagi apa-apa sesudah ini” (berarti, tidak ada lagi kelanjutan dari badan & batin ini, tidak ada lagi proses menjadi, tidak ada lagi kelahiran kembali). Inilah pengetahuan ketiga yang dicapainya pada sepertiga terakhir malam. Semua ini dikenal sebagai ‘tevijja’ (trividya), pengetahuan tiga rangkap.

Setelah itu ia mengucapkan syair kemenangan ini:

“Mencari dan sia-sia menemukan si pembuat rumah,
Aku tunggang langgang melalui rangkaian banyak kelahiran,
Sungguh memedihkan kelahiran yang berulang-ulang ini.

O, pembuat rumah, engkau kini telah terlihat,
Engkau tak akan membuat rumah lagi.
Tiang rusukmu telah patah,
Tiang utamamu telah runtuh.
Batinku telah mencapai Nibbana tanpa bentuk,
Dan sampai pada akhir kehausan.”

Demikianlah Bodhisatta Gotama pada usia tiga puluh lima tahun, pada bulan purnama di bulan Mei (vesaakha, Wesak), mencapai Pencerahan Sempurna dengan memahami sepenuhnya, Empat Kebenaran Suci, Kebenaran Abadi, dan ia menjadi Buddha, Penyembuh Agung yang mampu menyembuhkan penyakit kehidupan. Inilah kemenangan terbesar dan tak tergoyahkan.

Empat Kebenaran Suci adalah pesan tak ternilai yang diberikan oleh Sang Buddha kepada umat manusia yang menderita, untuk menuntun mereka, menolong mereka mematahkan belenggu dukkha, dan mencapai kebahagiaan mutlak, realitas mutlak–Nibbana.

Dari: Piyadassi Thera’s ‘The Buddha: his life and teaching”, Copyright BPS, Kandy

Dari Mahaparinibbana Sutta:

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada YM Ananda: “Ananda, mungkin sebagian dari kalian berpikir: ‘Berakhirlah sudah kata-kata Sang Guru, kita tidak punya Guru lagi.’ Tetapi, Ananda, janganlah berpikir seperti itu. Oleh karena apa yang telah kunyatakan dan kubabarkan sebagai Dhamma & Vinaya, itulah yang akan menjadi Gurumu bila aku telah tiada. … Dan Sang Bhagava bersabda kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, aku mendorong kalian: Segala sesuatu yang terbentuk akan musnah. Berjuanglah dengan penuh kesungguhan. ” Inilah kata-kata terakhir sang Tathagata.

SELAMAT WESAK

====================================

Diambil dari http://gantharwa.wordpress.com

Artikel Baru Terbit

  • Cyclospora: Parasit Mikroskopis yang Mengintai di Balik Sayuran dan Buah Segar
    Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
  • Ngopi Pagi di Sragen, Otot Lebih Padat: Apa Kata Riset Terbaru soal Kopi dan Komposisi Tubuh?
    Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
  • Faktor Kesuburan Pria: Sisi yang Sering Terlewat dalam Pencarian Momongan
    Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.
  • Ketika Muntah Datang Seperti Badai yang Terjadwal: Mengenal Cyclic Vomiting Syndrome
    Muntah hebat yang datang berulang lalu hilang seolah tak pernah terjadi—inilah wajah cyclic vomiting syndrome, gangguan interaksi otak-usus yang sering disalahpahami sebagai gastroenteritis biasa. Artikel ini mengulas patofisiologi, kriteria diagnosis Rome IV, pembaruan pedoman NASPGHAN 2025, serta tata laksana berbasis bukti terkini bagi klinisi di layanan primer maupun rujukan.
  • Demo Besar 27 Agustus 2026: Apa yang Perlu Dicermati Pelaku Bursa Saham dalam Jangka Pendek
    Besok, 27 Agustus 2026, Jakarta akan menggadakan unjuk rasa besar oleh berbagai aliansi. Tuntutan termasuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Polda Metro Jaya telah menyiapkan pengamanan. Aksi ini dapat mempengaruhi IHSG dan rupiah, dengan proyeksi pergerakan cenderung sideways dalam beberapa hari ke depan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca