A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ketika itu pada sebuah negara seorang perdana menteri baru melantik anggota kerjanya yang berjumlah 20 orang, dalam upacara pelantikan yang seharusnya meriah malah ada banyak peti mati yang terjejer rapi di tengah aula.

Peti-peti itu sederhana, hampir tak ada yang istimewa. Namun tentu keberadaannya yang nyleneh itu bikin orang bertanya-tanya. Walau demikian tak seorang pun tahu apa maksudnya, dan tak seorang pun berani bertanya pada Perdana Menteri yang terkenal tegas dan lugas itu sementara ia masih dengan khidmat memimpin upacara pelantikan menteri-menterinya yang dua puluh orang itu. Tak ada yang berani mengusik acara itu, karena di negeri itu pimpinan begitu dicintai dan dihormati.

Setelah acara selesai seorang wartawan memberani kan diri mendekati perdana menteri yang tampaknya sudah agak luang dan hendak menuju mobilnya. Dengan sopan ia mempersiapkan dirinya untuk bertanya – mungkin amat berbeda dengan negeri kita yang para wartawannya selalu tampak berebutan di tayangan berita (ups.. no offense).

Pak, maaf, apakah kami dapat meminjam waktu luang Anda sesaat? Kami dari stasiun berita PQR.” Kata wartawan dengan santun.

Perdana menteri dengan ramah menyambutnya, sementara ia meminta ajudannya untuk menunda sesaat acara selanjutnya yang harus dihadirinya. Ia mempersilakan wartawan muda itu bertanya apa saja, namun hanya lima menit, karena ia harus segera berada di tempat lainnya.

Lalu wartawan pun bertanya tentang peti-peti mati yang berjejer di ruang itu, mungkin juga pertanyaannya adalah hal yang sama yang diajukan setiap mata yang memandang ke upacara pelantikan itu.

Nak, itu hanya peti mati biasa, diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah mati, sehingga mereka mereka dapat dikuburkan secara layak sesuai tradisi kita.” Kata perdana menteri dengan halus.

Wartawan berkata, bahwa ia mengerti tentang hal itu. Namun mengapa benda-benda itu justru ada di ruangan saat acara yang secara logika tidak sesuai dengan yang sedang berlangsung.

Ah…, itu begini. Salah satu dari dua puluh peti mati akan saya hadiahkan bagi menteri yang terbukti bersalah melakukan korupsi berat, merugikan rakyat dan negara. Satu yang di depan adalah untuk saya sendiri jika saya bersalah melakukan kejahatan yang sama terhadap rakyat dan negara.” Jawabnya sambil tersenyum ramah.

Tentu si wartawan menjadi kaget mendengar hal itu, ia melihat peti-peti itu kembali, dan sepertinya memang sesuai dengan yang dikatakan perdana menteri itu. Namun masih ada satu peti lagi yang tersisa, lalu itu untuk siapa? Peti itu tampak lebih bagus dari yang lain.

Oh…, itu sama saja, hanya saja saya sempat menyisihkan uang tabungan saya untuk memberi polesan yang lebih bagus. Bagaimana pun itu setidaknya harus lebih bagus, karena diperuntukkan bagi sahabat baik saya sejak kecil yang baru pergi dalam mobil kuno itu” Perdana menteri menunjuk pada sebuah mobil hitam yang mengangkut wakil perdana menteri.

Ups…, kini si wartawan kehabisan kata-kata dan perdana menteri pun bisa pamit dengan tenang tanpa diganggu pertanyaan lebih jauh lagi.

Tulisan ini adalah respon bagi “Belajar Dari Lula”, sebuah tulisan yang menarik oleh Dian Purnomo.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

6 tanggapan

  1. Avatar pushandaka
    pushandaka

    Artinya, ndak ada hukuman yang pantas untuk para koruptor selain hukuman mati ya? Hmmm…, ngeri juga. Memang berat jadi pejabat. Hehe!
    .-= pushandaka´s last blog ..Menghargai Tulisan Dengan Komentar =-.

    1. Avatar Cahya

      Karena saya tidak bisa memikirkan hal lain lagi, mungkin kebanyakan rakyat juga seperti itu.

  2. Avatar imadewira

    menarik sekali, walaupun saya belum mnegerti 100% maksudnya, kayaknya harus dibaca sekali lagi nih..
    .-= imadewira´s last blog ..Plugin Top Commentators Untuk WordPress =-.

    1. Avatar Cahya

      Tenang Bli,

      Bisa dibaca berulang-ulang koq, dijamin tidak menyebabkan ketagihan 🙂

  3. Avatar dinda
    dinda

    bagus,, penuh makna cuma yang terakhir itu yang di maksud “orang yang pergi menggunakan mobil kuno” itu siapa??

    1. Avatar Cahya

      Biasanya penulis naskah akan membiarkan beberapa hal tetap menjadi misteri, siapa tahu suatu saat nanti bisa dilanjutkan 🙂

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca