A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Back then since I was still a crying baby who can do nothing but cries – though no much different today – I grew up in a small village, my granny house on a developing traditional village which now has turned into modern life.

We lived as much as traditional people in Bali. If you are visiting Bali, going to Kuta or Ubud, finding resorts and seeing many crafting, architectures including the mystical asta kosala kosali concepts, well…, its just not like that. Many traditional villages back then were not so different with others village in Indonesia or Shout East Asia. Some still lived inside woody wall, or wall of “gedeg” of bamboo. People still took a bath in the river or some springs that easily found back then, and drinking water from traditional wells, obviously nobody gets stomach-ache with uncooked water that days.  Only our tradition gave another colour then any other village.

I was grow up in that village, in my granny’s house. She used to reading book while wacthing me play with toys or cats.

Back to that past, I used to cry much, used to offense her words many times, used to ran away from home in order to play somewhere, used to careless her wise words. There is so much memories from that time.

Today a year ago, granny passed away. I couldn’t be there to attend the cremation, and today I can’t be home to have any memoir of it. Somehow I felt very useless. But then come into my memories – something warm and tender.

So many of her wish yet I need to accomplish, I just can’t be there yet. Maybe someday, this voice will take me home.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Seksual: Antara Pil KB, Metode Tarik, dan Kloset Umum
    Mitos seputar kesehatan seksual — dari pil KB yang dianggap mencegah IMS hingga anggapan dudukan kloset bisa menularkan penyakit — masih beredar luas. Artikel ini meluruskan sembilan mitos utama dengan data terkini kasus IMS dan HIV di Indonesia, serta menjelaskan akses layanan skrining dan pengobatan gratis melalui JKN.
  • Indah di Mata, Perlu Ditimbang di Ruang Rawat: Bunga, Tanaman, dan Hiasan Dinding dalam Kacamata Pencegahan Infeksi
    Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
  • Virus untuk Melawan Kanker: Menimbang Kisah Virolog yang Menjadi Pasien Sekaligus Peneliti
    Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
  • Ketika Kelamin Bayi Tak Sesuai “Buku Panduan”: Mengenal Differences in Sex Development
    DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. Avatar etuctida
    etuctida

    if u still remember her, it means she’s alive and keep watching u..

    keep smile.

    1. Avatar Cahya

      Thanks Etuctida, while there are some memories to keep, everything from our past would be there to exist.

  2. Avatar suzan
    suzan

    come on… cheer up … get spirit and keep smile I now you can do it 😀 say cheeese… 😀

    1. Avatar Cahya

      Thanks Suzan,

      Sure I will, just forget – where did I put my “smile”? 😆

      I have a lot of nice friends as you, it should be no hard to find a smile and another smiles…, it would abundant of smiles for us 😉
      .-= Cahya´s last blog ..Pertolongan Pertama Pada Stroke =-.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca