Sekitar seminggu yang lalu saya berjalan-jalan ke Plaza Ambarukmo, kebetulan karena diminta mencari sejenis sayuran impor yang jika tidak salah bernama Gobo – katanya sih diimpor dari Jepang. Saya berjalan ke tempat di mana berbagai sayuran bisa ditemukan, nah ternyata setelah dicari ke mana-mana ternyata tidak ada. Rupanya di sini sayuran ini tidak dikenal sama sekali, apa hanya di Bali saja kebetulan terkenal ya? Jadi aku mengurungkan niatku membeli sayuran yang konon katanya punya sifat anti kanker ini.
Saya berjalan-jalan di sekitar tempat sayur dan buah, masa bayar parkir mahal-mahal pulang dengan tangan kosong? Ini sih sebenarnya pemikiran orang pelit yang tidak bagus dicontoh.
Tertarik melihat sesuatu yang beruap di kejauhan, saya mendekat. Saya melihat ubi-ubi yang bertumpuk dengan dengan diberi keterangan “Ubi Bakar Cilembu”. Karena tertarik, diputuskan untuk membeli beberapa batang.
Sampai di rumah, aku mencoba satu. Hmm…, rasanya gurih dan manis sangat alami. Seperti berisi madu (atau apa memang ditambahkan madu?) di dalamnya pun empuk dan nikmat sekali saat masih hangat.
Beberapa saat kemudian, yang tersisa mulai dingin. Aku pun tak tahan mencicipinya lagi, wah…, bahkan ketika sudah dingin pun masih enak. Dan akhirnya ubi-ubi itu habis, padahal belum sempat kuambil gambarnya untuk diabadikan di blog, malah sudah masuk perut semua.
Makanan lokal memang masih menang bersaing dengan makanan impor kalau di lidahku, he he
Panduan tata laksana terbaru WHO 2026 untuk leishmaniasis viseral (kala-azar) dan PKDL di Afrika Timur dan Asia Tenggara memperkenalkan regimen pengobatan baru dan manajemen relapse, serta memperingatkan tentang efek samping mata dari miltefosin. Kewaspadaan klinis di Indonesia tetap penting karena mobilitas pekerja migran.
Artikel ini membahas pentingnya pengelolaan hak akses sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) dan rekam medis elektronik (RME) bagi staf PPA. Mengingat kasus akses yang terabaikan setelah pengunduran diri, dibutuhkan prinsip least privilege dan model joiner-mover-leaver untuk mencegah celah keamanan data pasien. Peninjauan berkala dan mekanisme akses darurat juga diperlukan untuk memastikan keamanan.
Downtime pada SIMRS/RME adalah risiko yang tidak terhindarkan bagi fasilitas kesehatan. Regulasi Permenkes 24/2022 dan STARKES mewajibkan rumah sakit memiliki prosedur serta pelatihan untuk mengatasi kondisi ini. Praktik terbaik internasional menekankan pentingnya sistem cadangan, dokumen manual, dan simulasi berkala untuk memastikan keselamatan pasien dan kelangsungan layanan.
Sosialisasi Prognas Juli 2026 menegaskan bahwa Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) adalah syarat kelulusan akreditasi rumah sakit, dengan kewajiban nilai 100%. Fokus utamanya adalah kesalahan administratif seperti tautan tidak valid dan dokumen tidak sesuai, yang dapat membuat laporan dianggap tidak sah, meminta perhatian khusus Tim PRA dan KPRS.
Kegagalan akreditasi rumah sakit sering disebabkan oleh nilai Bab Program Nasional yang harus mencapai 100%. Artikel ini menjelaskan sepuluh langkah praktis untuk memperbaiki pelaporan, termasuk pemantauan lintas unit, kalender tenggat, dan simulasi self-assessment, agar rumah sakit siap menghadapi survei akreditasi.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
42 tanggapan
Khatulistiwa
wah…berarti saya termasuk orang yang merugi ya. soalnya belum pernah nyobain ubi ini..hmm..boleh dicoba neh
Yuhuu…emang nikmat disantap hangat-hangat, pake teh hangat juga pas ujan lg, kl dimadiun ada byk di karfur tp mahal, yg murah staynya dpn pasar sepoor…mantab..
Iya Bu, benar juga sih, untuk ukuran ubi lumayan mahal, saya tidak tahu kalau di pasar bisa dapat murah – maklum jarang beli ubi 😀 (jarang ke pasar pula)
Emang gak bagi2 ma tetangga kok… Kan makannya di kontrakkan. Gak cukup atuh buat dibagi2 ke tetangga. Temen2 di kontrakkan aja banyak. Hahay :D. Ade Link blogx ya??? boleh?
Kayanya walau ada tiga keranjang akan tetap bilang tidak cukup deh 😆
Boleh saja, tapi di sini saya tidak ada fitur blogroll lho, jadi tidak bisa menambah fitur taut keluar.
badah bli…
kuda a kilo ne ditu? dini ada ne ngadep, di gatsu timur. amun sing pelih ajinne 8 atau 16 ribu a kilo. doeng…… rasa lokal harga impor untuk sebuah “sela”
Tinggalkan Balasan