Sekitar seminggu yang lalu saya berjalan-jalan ke Plaza Ambarukmo, kebetulan karena diminta mencari sejenis sayuran impor yang jika tidak salah bernama Gobo – katanya sih diimpor dari Jepang. Saya berjalan ke tempat di mana berbagai sayuran bisa ditemukan, nah ternyata setelah dicari ke mana-mana ternyata tidak ada. Rupanya di sini sayuran ini tidak dikenal sama sekali, apa hanya di Bali saja kebetulan terkenal ya? Jadi aku mengurungkan niatku membeli sayuran yang konon katanya punya sifat anti kanker ini.
Saya berjalan-jalan di sekitar tempat sayur dan buah, masa bayar parkir mahal-mahal pulang dengan tangan kosong? Ini sih sebenarnya pemikiran orang pelit yang tidak bagus dicontoh.
Tertarik melihat sesuatu yang beruap di kejauhan, saya mendekat. Saya melihat ubi-ubi yang bertumpuk dengan dengan diberi keterangan “Ubi Bakar Cilembu”. Karena tertarik, diputuskan untuk membeli beberapa batang.
Sampai di rumah, aku mencoba satu. Hmm…, rasanya gurih dan manis sangat alami. Seperti berisi madu (atau apa memang ditambahkan madu?) di dalamnya pun empuk dan nikmat sekali saat masih hangat.
Beberapa saat kemudian, yang tersisa mulai dingin. Aku pun tak tahan mencicipinya lagi, wah…, bahkan ketika sudah dingin pun masih enak. Dan akhirnya ubi-ubi itu habis, padahal belum sempat kuambil gambarnya untuk diabadikan di blog, malah sudah masuk perut semua.
Makanan lokal memang masih menang bersaing dengan makanan impor kalau di lidahku, he he
Pada 22 Oktober 2026, Direktur Jenderal WHO bertemu grup K-pop ENHYPEN di Seoul untuk merayakan kampanye donor darah bersama penggemar mereka. Artikel ini merangkum faktanya, membandingkannya dengan kondisi Indonesia, dan menimbang apa kata sains tentang cara mengubah ikrar menjadi donor rutin.
WHO, WMO, UNICEF, dan UNFPA merilis indikator prioritas pertama untuk memantau dampak panas pada ibu hamil, bayi baru lahir, dan anak. Artikel ini menguraikan empat ranah indikator, cara menganalisisnya bersama data suhu, dan penerapannya di fasilitas kesehatan Indonesia, lengkap dengan keterbatasan buktinya.
Ulasan pedoman kurikulum resistensi antimikroba WHO 2019: lima modul, enam kurikulum profesi, serta langkah menerapkannya di rumah sakit, puskesmas, dan institusi pendidikan di Indonesia.
Artikel ini membahas pentingnya integrasi Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) dengan Program Manajemen Kualitas Perawatan (PMKP) untuk mengurangi risiko jatuh dan kesalahan pemberian obat. Ditekankan bahwa SKP harus menjadi bagian dari siklus mutu rumah sakit melalui validasi dan analisis data yang ketat, bukan sekadar kepatuhan administratif.
Di Polindes yang kecil, Raka mendengar detak jantung yang belum lahir, dan batuk yang tak mau dijelaskan. Malamnya, Oma berbicara kepada seseorang di luar jendela.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
42 tanggapan
Khatulistiwa
wah…berarti saya termasuk orang yang merugi ya. soalnya belum pernah nyobain ubi ini..hmm..boleh dicoba neh
Yuhuu…emang nikmat disantap hangat-hangat, pake teh hangat juga pas ujan lg, kl dimadiun ada byk di karfur tp mahal, yg murah staynya dpn pasar sepoor…mantab..
Iya Bu, benar juga sih, untuk ukuran ubi lumayan mahal, saya tidak tahu kalau di pasar bisa dapat murah – maklum jarang beli ubi 😀 (jarang ke pasar pula)
Emang gak bagi2 ma tetangga kok… Kan makannya di kontrakkan. Gak cukup atuh buat dibagi2 ke tetangga. Temen2 di kontrakkan aja banyak. Hahay :D. Ade Link blogx ya??? boleh?
Kayanya walau ada tiga keranjang akan tetap bilang tidak cukup deh 😆
Boleh saja, tapi di sini saya tidak ada fitur blogroll lho, jadi tidak bisa menambah fitur taut keluar.
badah bli…
kuda a kilo ne ditu? dini ada ne ngadep, di gatsu timur. amun sing pelih ajinne 8 atau 16 ribu a kilo. doeng…… rasa lokal harga impor untuk sebuah “sela”
Tinggalkan Balasan