A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Anda ingin menjadi lebih bahagia? Hmm…, mengapa tidak, rasanya semua orang rata-rata pernah memikirkan hal serupa. Tapi langkah pertama mungkin adalah mempertanyakan sendiri pandangan anda seputar kebahagiaan itu sendiri.

Mungkin Anda berpikir bahwa untuk menjadi lebih bahagia, Anda memerlukan lebih dari apa yang Anda miliki sekarang – lebih banyak ruang bebas, lebih banyak uang, lebih banyak kasih sayang… mengisi kekosongan dalam hidup anda. Atau mungkin Anda meyakinkan diri bahwa apa yang diperoleh sudahlah cukup baik.

Jadi apakah pandangan anda itu sebenarnya sekadar mitos atau fakta seputar kebahagiaan? Hmm…, mungkin tidak akan ada yang bisa menjawab dengan pasti, tapi tidak ada salahnya kita melihat lebih jauh,

Pertama, tidak peduli dari manapun Anda beranjak, setiap orang bisa bahagia. Walau terdapat bukti penelitian bahwa genetik memberikan masukan sekitar 50% dari titik awal kebahagiaan anda, namun tetap berjalan dan mengerjakan aktivitas harian bisa membuat orang merasa lebih bahagia.

Anda tidak harus ketika mulai dari titik 1 lantas begitu saja selesai di titik 10 dan menjadi bahagia. Ambillah sebuah tujuan yang berharga dalam kehidupan – Anda boleh menyebutnya sebagai mimpi. Lakukan dengan upaya sungguh-sungguh dan penuh perhatian – hanya itu.

Beberapa orang bisa membangun relasi yang baik dan alamiah, membuat sedikit catatan ungkapan terima kasih dalam jurnal hariannya, melakukan kebaikan yang acak dengan sendirinya, mengembangkan kebiasaan olah raga atau meditasi di pagi hari. Mungkin dikatakan keseimbangan antara setiap gerak dalam kehidupan.

Jadi tidak ada hubungan serius antara tempat Anda memulai kehidupan dengan kualitas kebahagiaan anda bukan?

Beberapa orang berkata ketika ditanya, “Apa yang Anda ingin dapatkan dalam hidup anda?” dan dia menjawab, “Saya ingin berbahagia.” Seakan-akan mengatakan kebahagiaan adalah tujuan hidupnya.

Jadi apakah kebahagiaan sebuah tujuan kehidupan, yang mungkin berarti, saya menikah – maka saya bahagia, saya punya rumah baru – maka ketika tujuan itu tercapai saya bahagia di sana?

Mungkinkah kebahagiaan bukanlah garis akhir emosional yang bisa dipacu dalam kehidupan ini? Di mana orang berpacu dari kondisi tidak bahagia menjadi bahagia pada akhirnya?

Atau kebahagiaan adalah sesuatu yang kini ada pada Anda, dan ketika Anda bahagia maka Anda secara sendirinya akan menjadi lebih kreatif, lebih ingin tahu, lebih ramah, dan bersedia mencoba hal-hal baru. Anda seakan-akan menjadi sesuatu yang baru dan selalu segar untuk mewujudkan apapun dalam hidup ini.

Jadi apakah menurut Anda kebahagiaan adalah tujuan kehidupan anda, ataukah sesuatu yang akan menjadi bahan bakar teramah anda guna menjalani kehidupan ini dalam kondisi apa pun? Yang manakah mitosnya dan yang manakah faktanya?

Ada banyak hal lain lagi seputar kebahagiaan, dan berserakan di luar sana, dan jauh lebih berserakan lagi di dalam diri anda. Tidak ada salahnya untuk memungut sesaat dan mengamatinya. Apakah itu adalah kebahagiaan atau bukan sesungguhnya. Dengan memilah-milah yang mana bukan kebahagiaan dan menyingkirkannya, maka apa yang tersisa di dalam diri anda, adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Adalah bagi Anda sendiri untuk menemukannya.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

14 tanggapan

  1. Avatar bidan ngeblog

    kebahagian bagi saya apa bila saya bisa share apa yang saya tahu kepada orang lain…

  2. Avatar asepsaiba

    Kebahagiaan itu… sama sperti kecantikan atau ketampanan.. (halah..). Relatif untuk setiap orang… kalau bagi saya, saya akan bahagia jika hati dan pikiran say merespon suatu keadaan dengan nyaman…

  3. Avatar Pandu

    Kebahagiaan sebetulnya terselimuti dengan sesuatu yang maya, Kita bahagia dengan istri yang cantik rumah yang besar, lalu bagaimana suatu ketika rumah kita terbakar istri kita pergi dengan lelaki lain. Kita bahagia dengan apa yang ada dalam diri kita, lalu bagaimana suatu ketika tangan kita terluka, atau kaki kita patah. Begitu pula ketika kita tertawa bahagia hingga air mata keluar,tanpa kita sadari air mata keluar saat kita menangis dari mata yang sama.sehingga kebahagiaan adalah sesuatu yang maya.

  4. Avatar satrya
    satrya

    Kalo saya, kebahagiaan itu bebas melakukan apapun sesuai keinginan hati saya, tapi tentunya tidak lupa aturan2 yg berlaku juga 😀

  5. Avatar julie
    julie

    setuju sama mba anna juga 😀

  6. Avatar rismaka
    rismaka

    Kebahagiaan itu terletak di hati, bukan pada materi 😀

    Duh komen terpendek nih 🙁

  7. Avatar fiyafiya

    setuju sama mbak Ana..

    kebahagian ditentukan oleh kita sendiri..

    Kadang nih, mengorbankan kenyamanan diri sendiri demi orang lain, tapi boleh kan ya mas sekali2 egois buat diri sendiri?

  8. Avatar hanifmahaldi
    hanifmahaldi

    kalau saya sih, bahagia itu tidak bergantung pada keadaan eksternal kita, tapi pada keadaan internal kita bagaimana menyikapi keadaan eksternal itu. Jadi kalau mau bahagia, ya bahagia saja, walau terlihat oportunis, tapi itulah keadaan yang saya lakukan. (agak idealis sih tapi bersyukur masih bisa hidup dengan idealis itu) hehehe…

  9. Avatar Suci gusri
    Suci gusri

    Hiks..ni artikel bkin igt seseorang,Ya'.. Kebahagiaan bs dkt dia prnh jd bahan bakar bwt lewatin 1mgg d Rs..stlh itu..back 2 normal..boring..

  10. Avatar anna
    anna

    dan pastinya mas…
    kebahagian itu ditentukan oleh diri kita sendiri kok 🙂

    salah satunya kemampuan mensyukuri apa yang kita punya..

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca