Demi keamanan dan privasi masing-masing pengunjung blog, maka saya sarankan agar tidak meninggalkan data pribadi pada borang komentar sebuah blog. Misalnya saja saya baru-baru ini mendapatkan komentar yang meminta dijawab melalui ponsel, dan memberikan nomor ponselnya langsung di kolom komentar.
Menurut hemat saya, maka saya rasa hal ini kuranglah bijaksana. Nomor ponsel adalah sesuatu yang privat, bukan nomor pesawat telepon sebuah kantor/perusahaan yang memang disediakan untuk publik. Dan saya rasa juga seseorang hanya membagi nomor ponselnya pada mereka yang dipercaya atau perlu untuk mengetahui saja.
Jika nomor ponsel muncul di bagian komentar blog, maka nomor itu memiliki potensi besar menjadi konsumsi publik di dunia maya. Dan sayangnya, tidak semua orang memiliki itikad baik saat melihat nomor ponsel beserta nama pemiliknya tergeletak begitu saja di depan mata. Saat ini banyak penipuan terjadi di dunia maya, dan kita semua mesti berhati-hati dan melakukan banyak tindakan preventif terhadap hal ini.
Bagaimana misalnya jika ada orang yang menyamar sebagai pemilik blog menghubungi si pengomentar, sementara pemilik blog sedang disibukkan oleh hal-hal lain sehingga tidak bisa memberikan perhatian pada komentar tersebut? Maka bisa jadi ini merupakan celah menciptakan hal-hal yang tidak diinginkan untuk mengambil lakonnya.
Silakan gunakan alamat surat elektronik (surel) yang tepat saat memberi tanggapan, karena surel hanya diketahui oleh pengguna terkait dan administrator blog. Jika ingin mengetahui apakah mendapatkan balasan tanggapan, silakan menggunakan fitur langganan tanggapan berikutnya yang sudah saya sediakan di blog ini – maka balasan akan langsung terkirim ke kotak surat elektronik anda tanpa tertunda.
Bagi yang meninggalkan nomor telepon pribadi, saya terpaksa mengaburkan atau menghapusnya, demi kepentingan keamanan dan privasi anda juga. Dan mohon maaf, saya tidak bisa membalas tanggapan via jalur telekomunikasi lain selain surel – karena memang demikianlah konsep blog ini dijalankan.
Delapan mitos seputar diet vegetarian dan vegan—dari kecukupan protein hingga risiko kanker payudara akibat kedelai—dibedah dengan bukti ilmiah terkini. Konteks Indonesia menunjukkan pola makan masyarakat sesungguhnya sudah didominasi pangan nabati seperti tempe dan tahu, sementara tantangan gizi nyata terletak pada keberagaman dan keseimbangan, bukan kategori diet semata.
Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
15 tanggapan
orange float
mungkin si pemberi komentar itu tidak berpikir panjang. tidak mikir akibat buruknya. kalo saya ngak mau sembarangan kasih nomor hp, takut terganggu ntar 😉
Kalau memang pemilik blog saya rasa tidak masalah, jika memang itu disediakan untuk menghubungi pemilik blog.
Tapi maksudnya untuk pengunjung yang hanya bermaksud berinteraksi dengan pemilik blog – cukup bijak rasanya tidak meninggalkan nomor ponsel yang bisa dilihat tidak hanya oleh pemilik blog saja.
Dulu, saya malah memasang nomor ponsel di blog pribadi saya, eh ada juga yang menelpun dan sms menanyakan beberapa tulisan di blog saya, padahal hanya copas lho! :D. Untungnya belum ada yang menyalahgunakan tentang nomor saya tadi — saya copot saja demi keamanan hehe..
Kalau aku juga berpikiran sama dengan mas cahya, kalaupun ada yang penting banget "japri" sebagai pilihan utuma karena yang tahu kan cuma berdua saja. Bisa lewat chatt ataupun email yang penting yang cuma mas cahya dengan saya saja
Waduh, ndak deh Pak. Nanti kalau yang merespons salah orang, bahaya tuh :lol:.
TuSuda,
Hanya sekadar saling mengingatkan.
Ajengkol,
Nomer atau nomor? He he…, kalau di facebook kan bisa diatur siapa saja yang melihat nomor ponsel kita, selama setelan privasi tidak diabaikan, namun tidak demikian dengan kolom komentar blog ataupun wall facebook.
Tinggalkan Balasan