Sebenarnya saya hendak memasang pranala untuk tulisan sebelum dan sesudah dari tulisan yang tampil pada halaman tulisan tunggal (next & previous link navigation), karena pada tema Modernist yang baru saya coba, navigasi ini tidak tampil secara aslinya.
Kalau dipikir-pikir pranala navigasi seperti rasanya sudah umum ada di banyak tema yang sudah dibawa dengan sendirinya. Sayangnya tema yang baru saya cicipi ini tidak banyak memiliki “kemudahan” dari unsur navigasi blog-nya, bahkan tidak ada clickable link menuju homepage, kecuali dengan beberapa setelan tanpa memasang gambar pada header. Karena tidak ahli dalam markah PHP, saya memutuskan mencomot contoh markah yang sudah ada.
Kali ini saya sontek dari Codex WordPress yang berjudul “Next and Previous Links”. Kode yang saya gunakan adalah:
</div> <!-- end navigation -->
Kode ini akan tampil seperti gambar di bawah:
Sederhana memang, tapi cukuplah untuk sekadar navigasi. Setidaknya saya tidak perlu terlalu pusing.
Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Sebenarnya tidak banyak digunakan, saya juga setuju itu. Tapi kadang saya menggunakan di blog yang sering saya kunjungi, misalnya yang tidak menerapkan langganan tanggapan, atau saya tidak berlangganan tanggapan di sana karena komentarnya terlalu ramai.
Jadi saya suka mundur satu halaman ke belakang dan melihat apa tanggapan saya sudah mendapat jawaban atau tidak. Kalau di blognya Mas Is kan ada kiriman surel otomatis, jadi saya selalu tahu kalau ada balasan :).
Lokasinya memang mepet dengan adsense (biar sengaja salah klik? He he…), sebenarnya ingin membuatnya jadi paragraf baru, tapi belum saya coba. Terima kasih buat masukkannya Mas Is.
Bli Dani,
Screen reader user? Please access <code>m.catatan.legawa.com</code>, we provide a better view for screen reader user (sepertinya sih) :lol:.
Ah iya nih, kok Bli Dani pakai Windows ya, seperti sedang menyaksikan keajaiban dunia :D.
Oya, posisi navigasi antar tulisan di blog ini kayaknya terlalu mepet dengan iklan google itu. Jadinya kurang bisa terbaca dengan baik. Perlu spasi lebih renggang lagi.
Saya malah mencopot navigasi tersebut mas. Soalnya mubazir menurut saya. Tak lain karena saya sudah memasang navigasi 7 posting terbaru di setiap halaman single 😛
Saya tidak hapal seluruh kode yang menggunakan sistem numerik, dan malas lagi membuka catatan lawas. Jadi asal comot adalah pilihan yang baik bagi saya (alasan) :D.
Oh ya, memang hurufnya kecil, kecuali dibuatkan CSS fungsi sendiri ya? Atau diganti jadi elemen header? Tapi jika hurufnya dibesarkan apa tidak tumpang tindih nanti jika ada dua artikel dengan judul lumayan panjang (kecuali, cuma dibuat jadi next dan previous post beneran tanpa judul)?
Padahal tulisan kecil juga susah bacanya, hmm…, tapi itulah fungsi <code>Ctrl +</code> :lol:.
Iya mas cahya, theme saya juga sudah mendukung fasilitas tersebut. Jadi g perlu repot2 lagi untuk mengaktifkan plugin atau memasang script ke dalam theme…
Tinggalkan Balasan