Alangkah bodohnya saya karena baru tersadar ketika saat-saat banyak debu & hujan seperti saat ini, saya tidak memiliki saputangan sama sekali (yang terakhir entah di mana). Saya memang jarang menggunakannya, karena itu juga saya enggan membeli satu atau dua. Bayangkan saja kalau tidak pernah dipakai, kemudian saya lupa punya saputangan dan membiarkan di saku sampai berbulan-bulan (lupa ngambil), apa jadinya benda itu.
Karenanya saya lebih suka menggunakan yang lebih praktis, seperti tisu. Tentu saja tisu juga memiliki isu, karena tisu dibuat dari bubur kayu – jika terlalu boros justru tidak baik bagi lingkungan. Untungnya saya hanya membeli tisu setahun sekali, satu pak yang berukuran cukup besar untuk persediaan satu tahun – dan jarang digunakan, hanya jika musim flu mungkin saya menghabiskan banyak tisu.
Tapi ternyata saya baru sadar, saya memiliki tisu-tisu dalam kotak mini, terbungkus dan masih apik. Saya rasa ada yang saya beli lebih dari dua atau tiga tahun lalu dan masih tersimpan, entah kenapa tangan saya tidak tega membukanya walau sedang perlu. Dan entah kenapa tisu-tisu itu bisa berakhir di kamar saya.
Ah, tangan saya pasti kelupaan kalau melihat karakter ini, saya rasa karena itu tanpa sengaja mengingatkan saya pada seseorang, jadinya tanpa sadar benda-benda kecil ini ada di keranjang belanja.
Sekarang saya mesti menghela napas panjang, saya sebaiknya tidak mengambil lagi tisu-tisu ini (walau tanpa sadar), jika tidak maka benda-benda kecil ini akan bertumpuk kamar saya – apalagi saya bukan kolektor, masa memiliki koleksi.
Well, Taz is a good friend of Tion, I believe it is somehow connecting me to the forgotten past.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
26 tanggapan
Agung Pushandaka
Wah, ketemu barang yang penuh kenangan ya? Jangan seperti itu mas, ntar serba salah jadinya. Untung cuma tisu Taz, ntar kalau alat-alat tulis seperti pulpen, pensil, dsb., ternyata juga mengingatkan anda akan sesuatu yang ndak terlupakan, anda ndak mau beli alat tulis lagi donk.
mas cahya, sory OOT dulu. gambar backgroundnya membuat saya ga nyaman baca nih mas. Apa body postnya diberi background sendiri yg polos, biar saya enak baca tulisannya..hehe, cuma saran sih 🙂
Hmm, saya menangkap ada sesuatu yg mengharukan di sini.
Hope the past make its own story, so we can walk the present with joy through our destiny…
Terima kasih untuk masukkannya, sebenarnya saya juga berpikir begitu untuk bagian latar tulisan, saya bukan ingin mengganti latar – karena jadinya malah tidak seimbang nanti. Tapi saya ingin menambah lapisan kecil yang membuat latar bagian tulisan lebih opak daripada sisi-sisinya.
Tapi untuk itu saya mesti menunggu sesepuh blog – Bli Dani – biar balik ke Jogja, minta tentiran khusus nanti.
Ah, untuk tulisan ini, masa sih ada yang mengharukan. Hmm…, suatu hari, masa lalu akan lepas dengan sendirinya – jika memang sudah waktunya, tidak perlu dipaksa, toh itu adalah bagian dari diri saya sendiri.
Wah, siapa ya, saya bingung yang mana yang mengingatkan saya untuk itu, he he… (lha kok yang mana sih).
Julie, perasaan semua tisu setahu saya ditarik-tarik deh, saya biasanya menaruh di kotak tisu, kan ditarik juga buat mengeluarkan. Tisu gulung toilet juga ditarik (jadi bingung).
Neng Ocha,
Wah, 60 cm itu lumayan besar lho. He he…, tapi jangan dipeluk tiap malam lho, sekali-sekali mesti menginap di tempat pencucian boneka, jika tidak… ih…, kotor :D.
Hehe..ada-ada saja. Tapi kok bisa ya tisu yang udah dibeli beberapa tahun lalu masih tersimpan dengan baik? Kalau saya ga pernah menyimpan barang yang sudah dibeli bertahun-tahun dengan baik, apalagi tisu. hehe..
Tinggalkan Balasan