A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Tempat duduk sebuah bus malam kelas ekonomi terasa cukup nyaman bagiku yang memang sedari dulu tidak begitu menyukai perjalanan jauh. Dari Bali (terminal Ubung), hingga sampai di Yogyakarta (daerah Janti) diperlukan waktu rata-rata 16 – 18 jam perjalanan darat, termasuk sekitar 1 jam untuk makan malam dan istirahat.

Terminal memiliki kesibukannya tersendiri. Penumpang yang menunggu antrian atau keberangkatan, berjejal saling tumpang tindih. Tentu saja kita sudah tahu bahwa janganlah berharap terminal bus yang rapi dan bersih, seadanya adalah apa yang bisa kita temukan.

Di mana-mana asap rokok membumbung tinggi, dan aromanya begitu menyengat. Pedangang asong berkeliling dengan matanya yang jeli seakan benih-benih asa meliriknya jua dari kepala-kepala yang jenuh di dalam terminal.

Kadang sesekali melintas peminta-minta yang menggendong anaknya, usianya mungkin sekitar 30-40-an tahun. Pemandangan kontras yang jika melihat seorang nenek yang sudah membungkuk dengan usia di atas 70-an tahun rasanya, matanya yang tua berusaha mencari kaleng dan botol minuman bekas, ia memilih menjadi pemulung daripada peminta-minta mungkin.

Ah, rasanya, ini akan jadi perjalanan panjang.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

23 tanggapan

  1. Avatar andry sianipar

    Bagaimanapun ini adalah sebuah bentuk perjuangan hidup. jalani saja,nanti uga akan menjadi kenangan manis saat kesuksesan telah tercapai. sukses selalu untuk Anda !

  2. Avatar orange float

    seandainya ada yang menemani tentu ada yang bisa menghibur di perjalanan tapi kalo sendiri aja, pasti bete banget pengen cepat-cepat sampai tujuan

    1. Avatar Cahya

      Yah, kalau ndak terlalu dipikirkan juga akan cepat sampainya :).

  3. Avatar mas-tony

    berkunjung mas, salam kenal dari mbantul.
    Sudah sehatkah? Mungkin kecapekan duduk di bis

    1. Avatar Cahya

      Sudah lumayan baikan Mas :). Terima kasih.

  4. Avatar z4nx

    saya kurang suka perjalanan jauh,
    perjalanan terjauh pernah di alami kurang lebih 12 jam, dari banjarmasin ke dermaga menuju kota baru..cukuplah itu saja perjalanan jauhku

    1. Avatar Cahya

      z4nx,
      Saya juga kurang suka perjalanan jauh, tapi apa boleh buat, tuntutan tugas :).

  5. Avatar Joko Sutarto

    Perjalanan 16 – 18 jam itu hampir mirip dengan perjalanan Surabaya – Jakarta, cukup melelahkan apalagi kalau harus bawa anak-anak. Tapi kalau misalnya hanya sendiri atau berdua dengan pacar, ya sangat bisa dinikmati perjalanannya. 😀

    Sekarang, sudah hari Senin, 13 Desember 2010. Berarti sudah nyampek, nih? Siang tadi Malioboro ramai banget sampai ditutup jalannya. Berarti ikut demo juga, Mas Cahya?

    1. Avatar Cahya

      Pak Joko,
      Saya ndak ikut demo di Malioboro, he he…, sudah tahu sih hasilnya 🙂

  6. Avatar eyha4hera

    cepet sembuh, mas Cahya… 🙂

    1. Avatar Cahya

      Makasih 🙂

  7. Avatar Asop

    Sekarang udah sampe dong ya. :mrgreen:

    1. Avatar Cahya

      Sudah Mas, ha ha…, tapi malah meriang, sepertinya kedinginan di bus :).

  8. Avatar Agung Pushandaka

    16-18 jam?? Lama amat perjalanan Denpasar-Jogja sekarang?

    Dulu saya cuma maksimal cuma 15 jam. Berangkat sore dari Ubung, sampai Jogja jam 6 pagi paling lambat. Seringnya sih sampai Jogja masih gelap. Trus dari Janti ke Pogung naik becak, bayar 10 ribu rupiah.

    Sebenarnya saya ndak tega sama tukang becaknya karena jadi harus “lintas alam” dari Janti ke Pogung. Tapi tukang becaknya sendiri yang meminta dan harganya lebih murah daripada naik taxi.

    1. Avatar Cahya

      Wah, sekarang lalu lintas semakin padat Mas Pushandaka, jadinya mungkin tidak secepat dulu. Di tahun 2003 masih bisa sekitar 15 jam, tapi sekarang rasanya susah.

      Harga bus sekarang berkisar Rp 200.000,00, dan ongkos taksi (berargo) dari Janti ke Pogung sekitar Rp 30.000,00. Yah, memang sudah tidak sama seperti dulu.

  9. Avatar yustha tt

    wkwkwkwk….. *ketawa dulu*

    Bilangin ke pak sopir: ‘hati2 Pak bawa busnya. Ada yg nunggu sy di kotaku ni..’ 😀

    1. Avatar Cahya

      Ha ha…, ditunggu dosen dan kampus :D.

  10. Avatar catastrovaprima
    catastrovaprima

    hati-hati di jalan yaaaaaa… tunggu aku di kotamuuuu haha

    1. Avatar Cahya

      Jadi merinding :lol:.

    2. Avatar andi sakab

      aih….. dilema dan cinta bersemi :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca