A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pagi ini kesadaran mulai dipangku dalam rangkaian suara-suara khas antara alam di luar sana yang mulai paduan suara mereka dengan decitan besi-besi tua yang menyangga ranjangku. Dalam naungan lelah yang tak terjelaskan, aku bisa merasakan napasku yang mengalir seolah hendak menggapai tetes tetes energi yang bertebaran di udara.

Suara langkah kaki yang melintas di tepian pagi terdengar memanggil kesadaranku untuk bangkit dari pangkuan kalbunya sendiri. Namun rasa nirdaya membalut setiap hembusan napas dan menenggelamkan sukma ke dalam relung yang tak tersentuh hangatnya cahaya pagi.

Rasanya membuatku teringat sebuah mimpi tua tentang kelimah bercahaya yang menelusur gulita dengan tenangnya. Kuperhatikan bahkan ia sempat berlempar gurau dengan pekat ketidaktahuannya bahwa di luar sana mungkin ada dunia berlimpah cahaya. Ingin kutanya mengapa ia tak hendak keluar dari penjara gelap ini, tapi kurasa anganku itu telah mengetuk pintu jawabnya yang tak pernah berkata-kata.

“Akulah cahaya, dan diriku cukup untuk menemaniku dalam kehidupan baik yang benderang maupun gulita. Jika aku mulai berpikir bahwa aku tak cukup untuk dunia yang gelap ini, maka lautan cahayapun tak bisa membantuku untuk memahami kegelapan di dalam diriku.”

Kurasa itu laksana membelah kabut dan membentur cermin alam dalam kegelapan. Aku mungkin bermimpi terbaring dalam istana dan begeri yang hingga setiap bata yang membangun rumah-rumah dan jalanannya juga berbalut cahaya. Namun justru terperosok ke dalam gulita yang tak pernah kupahami.

Ah ya, terkadang kehidupan bukan untuk dipahami atau sekadar diketahui dan dimengerti. Aku sering kali lupa mengapa aku tidak menyerah saja pada kehidupan ini, ketika aku telah kehilangan segalanya yang kuanggap berarti. Aku lupa betapa aku mencintai kehidupan, sebuah rasa tak tergambarkan yang melahirkan ‘pemahaman’ akan kehidupan yang bahkan tak dapat dijangkau pikiranku.

Karena engkau adalah cinta, engkau tak akan perlu jalan-jalan dari bata bercahaya untuk dapat terlelap dalam istina bergemilang cahaya. Karena gelapnya langit malam akan cukup membuatmu terlelap dalam kedamaian yang tak terjamah.

Artikel Baru Terbit

  • Indah di Mata, Perlu Ditimbang di Ruang Rawat: Bunga, Tanaman, dan Hiasan Dinding dalam Kacamata Pencegahan Infeksi
    Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
  • Virus untuk Melawan Kanker: Menimbang Kisah Virolog yang Menjadi Pasien Sekaligus Peneliti
    Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
  • Ketika Kelamin Bayi Tak Sesuai “Buku Panduan”: Mengenal Differences in Sex Development
    DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. Avatar Handayaningrum

    keren ni cah, sangking kerennya aku jadi ndak bisa kasih komen 😀

  2. Avatar anang nurcahyo

    masing2 orang punya persepsi sendiri tentang cinta. karena cinta itu adalah persepsi

  3. Avatar gaya
    gaya

    jadi yang sebenernya kita butuhkan adalah mencintai kehidupan ya kak 🙂

    1. Avatar Cahya

      Gaya,
      I think we don’t ‘need to be’ in love with life, we just love it – simply like that :).

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca