A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dalam sekejap suasana ruangan terasa begitu terang, walau mataku masih terpejam. Pagi telah tiba dan menyambut seluruh tanah dan air yang tersentuh olehnya. Dalam keenggananku yang berselimutkan rasa mengantuk yang seakan dibuat-buat, rasanya ingin sekali tetap menekuk-nekukkan seluruh persendian, dan seolah menarik seluruhnya masuk ke dalam selimut yang hangat bak kura-kura yang menyembunyikan dirinya ke dalam cangkang yang mulai menua.

Bangunlah, engkau tak akan berbaring lebih lama dari ini, engkau tahu ada sesuatu yang harus engkau kerjakan” kata sebuah suara yang begitu jelas bergema dalam diriku. Aku tahu yang ia katakan benar adanya, dan membuka mataku dengan amat perlahan, ruangan yang benderang tak mengagetkanku. Berkas-berkas sinar keemasan membentangkan keanggunan dan kepastiannya, beberapa membentuk pola-pola tersendiri di dinding ruangan ini. “Lihatlah dirimu yang membuat jiwamu berlari terlalu cepat dan bernapas terlalu lambat, penyokong kehidupanmu menjadi lebih tua dari sewajarnya, aku tak akan kaget jika waktumu tiba lebih cepat dari apa yang kita telah prediksikan” Ya…, ya…, aku tersenyum dan mulai melirik ke sekitar dengan gerakan yang tak dapat menyembunyikan sifat malasku.

Perutku sedikit lirih dan perih karena upavasa yang kujalani dalam 36 jam sebelumnya, melihat kejernihan batin di balik lapisan pikiran yang penuh kegundahan. Aku menemukan yang sedang tergeletak sebuah karya sastra yang baru kubaca hingga 18 November, Va’ dove ti porta il cuore karya Susanna Tamaro yang telah memikat hatiku sejak beberapa waktu yang lalu. Aku menatap sampul belakanganya yang merupakan sebuah seni yang sulit terungkapkan.

Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.

Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini.

Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu.

Lalu, ketika hati itu berbicara, beranjaklah, dan pergilah kemana hati membawamu…

 

Pagi ini aku terbangun, aku tahu telah hidup selama 4935 (empat ribu sembilan ratus tiga puluh lima hari) dan 7½ jam sejak aku pertama kali menghirup udara di akasa bunda pertiwi. Aku telah begitu mencintai kehidupan dan tak dapat membencinya walau aku telah berada dalam keadaan yang begitu menyesakkan dadaku dalam beberapa waktu terakhir ini, ah…, antara janjiku yang tak akan menangis lagi, aku telah lama mengenal pasangan yang membawa napas-napas pertamaku yang bernama si kehidupan ini. Aku tak memiliki terlalu banyak hal untuk dipenuhi, entah kenapa, hatiku tak lagi merindukan terlalu banyak hal, ini seperti dunia yang penuh warna namun tanpa corak, tanpa motif. Hal ini menjadikan keheningan luar biasa dan gerakan maha hebat.

Langkah-langkahku atau pun tanpa langkahku, tak ada tempat yang khusus untuk dituju, setiap tempat adalah kebebasan, itulah kehidupan ini, itulah cinta yang dititipkan padaku.

Artikel Baru Terbit

  • Cyclospora: Parasit Mikroskopis yang Mengintai di Balik Sayuran dan Buah Segar
    Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
  • Ngopi Pagi di Sragen, Otot Lebih Padat: Apa Kata Riset Terbaru soal Kopi dan Komposisi Tubuh?
    Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
  • Faktor Kesuburan Pria: Sisi yang Sering Terlewat dalam Pencarian Momongan
    Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.
  • Ketika Muntah Datang Seperti Badai yang Terjadwal: Mengenal Cyclic Vomiting Syndrome
    Muntah hebat yang datang berulang lalu hilang seolah tak pernah terjadi—inilah wajah cyclic vomiting syndrome, gangguan interaksi otak-usus yang sering disalahpahami sebagai gastroenteritis biasa. Artikel ini mengulas patofisiologi, kriteria diagnosis Rome IV, pembaruan pedoman NASPGHAN 2025, serta tata laksana berbasis bukti terkini bagi klinisi di layanan primer maupun rujukan.
  • Demo Besar 27 Agustus 2026: Apa yang Perlu Dicermati Pelaku Bursa Saham dalam Jangka Pendek
    Besok, 27 Agustus 2026, Jakarta akan menggadakan unjuk rasa besar oleh berbagai aliansi. Tuntutan termasuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Polda Metro Jaya telah menyiapkan pengamanan. Aksi ini dapat mempengaruhi IHSG dan rupiah, dengan proyeksi pergerakan cenderung sideways dalam beberapa hari ke depan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca