A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pagi ini kesadaran mulai dipangku dalam rangkaian suara-suara khas antara alam di luar sana yang mulai paduan suara mereka dengan decitan besi-besi tua yang menyangga ranjangku. Dalam naungan lelah yang tak terjelaskan, aku bisa merasakan napasku yang mengalir seolah hendak menggapai tetes tetes energi yang bertebaran di udara.

Suara langkah kaki yang melintas di tepian pagi terdengar memanggil kesadaranku untuk bangkit dari pangkuan kalbunya sendiri. Namun rasa nirdaya membalut setiap hembusan napas dan menenggelamkan sukma ke dalam relung yang tak tersentuh hangatnya cahaya pagi.

Rasanya membuatku teringat sebuah mimpi tua tentang kelimah bercahaya yang menelusur gulita dengan tenangnya. Kuperhatikan bahkan ia sempat berlempar gurau dengan pekat ketidaktahuannya bahwa di luar sana mungkin ada dunia berlimpah cahaya. Ingin kutanya mengapa ia tak hendak keluar dari penjara gelap ini, tapi kurasa anganku itu telah mengetuk pintu jawabnya yang tak pernah berkata-kata.

“Akulah cahaya, dan diriku cukup untuk menemaniku dalam kehidupan baik yang benderang maupun gulita. Jika aku mulai berpikir bahwa aku tak cukup untuk dunia yang gelap ini, maka lautan cahayapun tak bisa membantuku untuk memahami kegelapan di dalam diriku.”

Kurasa itu laksana membelah kabut dan membentur cermin alam dalam kegelapan. Aku mungkin bermimpi terbaring dalam istana dan begeri yang hingga setiap bata yang membangun rumah-rumah dan jalanannya juga berbalut cahaya. Namun justru terperosok ke dalam gulita yang tak pernah kupahami.

Ah ya, terkadang kehidupan bukan untuk dipahami atau sekadar diketahui dan dimengerti. Aku sering kali lupa mengapa aku tidak menyerah saja pada kehidupan ini, ketika aku telah kehilangan segalanya yang kuanggap berarti. Aku lupa betapa aku mencintai kehidupan, sebuah rasa tak tergambarkan yang melahirkan ‘pemahaman’ akan kehidupan yang bahkan tak dapat dijangkau pikiranku.

Karena engkau adalah cinta, engkau tak akan perlu jalan-jalan dari bata bercahaya untuk dapat terlelap dalam istina bergemilang cahaya. Karena gelapnya langit malam akan cukup membuatmu terlelap dalam kedamaian yang tak terjamah.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. Avatar Handayaningrum

    keren ni cah, sangking kerennya aku jadi ndak bisa kasih komen 😀

  2. Avatar anang nurcahyo

    masing2 orang punya persepsi sendiri tentang cinta. karena cinta itu adalah persepsi

  3. Avatar gaya
    gaya

    jadi yang sebenernya kita butuhkan adalah mencintai kehidupan ya kak 🙂

    1. Avatar Cahya

      Gaya,
      I think we don’t ‘need to be’ in love with life, we just love it – simply like that :).

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca