A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Unity yang dibawa oleh Ubuntu 11.04 Natty Narwhal menurut saya sangat cantik, apalagi kalau dilengkapi dengan kertas dinding koleksi pr9studio yang elegan itu. Tapi bagaimana dengan Gnome 3? Saya sudah menampilkan pratampil Unity pada tulisan sebelumnya. Dan saya tertarik mencicipi Gnome 3, karena Mas Vavai menulis oprekan Gnome 3 untuk openSUSE sangat menarik di blognya.

Melalui tulisan “How to install Gnome3 on ubuntu 11.04 (Natty)/Ubuntu 10.10 (Maverick)” dan “Ubuntu 11.04 (Natty Narwhal) + Gnome 3“, maka saya mencoba memasang Gnome 3 pada Natty Narwhal di komputer saya. Tentu saja saya paham bahwa konsekuensinya bisa membuat saya kehilangan atau merusakkan desktop Unity secara permanen, atau membuat sistem crash, jadi saya tidak menyarankan mencoba memasang Gnome 3 jika tidak siap dengan risikonya.

Saat pemasangan, saya memperhatikan bahwa tidak semua paket memiliki pembaruan ke versi 3.0, beberapa masih dalam versi 2.9x. Beruntung pemasangannya cukup lancar. Sekitar 100 MB data diunduh untuk pembaharuan, dan sekitar 400 MB ruang diperlukan untuk pemasangan. Berikut adalah perintah yang digunakan lewat terminal:

sudo add-apt-repository ppa:gnome3-team/gnome3
sudo apt-get update
sudo apt-get dist-upgrade
sudo apt-get install gnome-shell

Karena prosesnya cukup memakan waktu, agak bosan juga sih menunggunya. Tapi setelah selesai pemasangan Gnome Shell ternyata memang benar, Desktop Unity pada Ubuntu tidak bisa dijalankan, karenanya ketika login maka pilihan sesi mesti diubah ke desktop gnome shell. Dan berikut adalah pratampilnya:

Tampilan Akses Aplikasi yang Terintegrasi pada Gnome 3

Jika melihat pratampil tersebut, aksesibilitas memang memberikan sentuhan lain dibandingkan Unity, terdapat pengelompokan aplikasi dengan baik. Tentu saja ada perubahan bermakna pada pola, dimensi dan penggunaan ruang kerja pada kedua dekstop ini. Pada situs Linux Today dinyatakan sebagai berikut:

The largest difference between the two interfaces is that GNOME 3 uses a minimum of two screens: one in which open windows displays, and the overview in which the system is configured and applications chosen and run.

By contrast, Unity remains oriented towards a single screen unless you use virtual workspaces. For light usage, this setup is less confusing and tiresome; in GNOME 3, it can sometimes seems like you are changing screens every few seconds. However, on a netbook in particular, Unity opens many windows full-screen — or near enough to make no difference. If you work with more than a couple of windows open at the same time, the effect is not much different than working in GNOME 3.

Where most people are likely to notice the differences between GNOME 3 and Unity is in their implementation of similar features.

Tampilan Jendela sepertinya mematikan Efek Grafis secara "default".

Gnome 3 sendiri menurut saya memberikan pengalaman lebih dalam bekerja dengan Linux. Misalnya jika ada hanya tombol untuk menutup (close) jendela saja, sementara membesarkan/menurunkan (maximized/minimized) dilakukan dengan klik beberapa tombol khusus tetikus, atau layar sentuh tentunya. Ini berarti setidaknya akan ada sedikit perubahan kebiasaan dalam menggunakan ruang kerja di Linux.

Nah, untuk melihat bagaimana Gnome 3 bekerja, silakan menengok ke YouTube. Sehingga dapat melihat bagaimana tampilan Gnome di masa depan, saya sendiri lebih memilih Unity – jadi saya memutuskan untuk melepas lagi Gnome 3 dan mengembalikannya pada Unity yang lebih old styles.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

7 tanggapan

  1. Avatar Fikri Muhammad
    Fikri Muhammad

    masih bagusan unity……..

  2. Avatar iskandaria
    iskandaria

    Kemarin saya nekat menginstall Gnome 3. Tapi pas mau login ternyata gak bisa. Ada pesan error, kira-kira gagal update. Saya kurang tahu juga apa hal tersebut karena pengaruh jenis dan ukuran VGA card saya. Sepertinya Gnome 3 ini memerlukan spesifikasi VGA yang agak tinggi ya kayaknya.

    1. Avatar Cahya

      Mas Is, wah, entahlah, tapi dari yang saya dengan Gnome Shell memang memerlukan akselerasi grafik 3D yang mumpuni untuk bisa menggunakannya. He he…, saya mengikuti diskusi di LinkedIn-nya Linux.com, ternyata baik Gnome Shell (3) ataupun Unity sama-sama sedikit mendapatkan respons positif, dan banyak yang meninggalkan Ubuntu.

      Sepertinya malah direkomendasikan Fedora 15 saat ini, karena pada kesal Unity :D.

  3. Avatar Andhy
    Andhy

    Gnome 3 lebih pasti terasa berat buat netbook 🙂

    1. Avatar Cahya

      Mas Andhy, wah kalau itu saya kurang tahu, tidak punya netbook untuk mencicipi.

  4. Avatar jarwadi

    Jadi makin penasaran buat nyobain unity sama gnome 3.0

    Sabar sabar 🙂

    1. Avatar Cahya

      Sabar Pak, tanggal 28 besok sudah bisa dioperek 😀 – tapi bukannya Pak Jarwadi sudah pernah mencoba Gnome 3 di Maverick?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca