A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Jika Anda ingin melihat bagaimana keadaan cuaca di sekitar lingkungan anda, atau mungkin di belahan bumi lainnya. Mungkin menambahkan indikator cuaca adalah ide yang bagus, jika di sistem operasi Windows, mulai Vista fitur ini sudah ada pada dekstop widget. Sementara pengguna Linux seperti Ubuntu bisa menambahkannya secara manual.

Jika di dekstop klasik Ubuntu ada memang applet cuaca, maka pada Ubuntu 11.04 ada My Weather Indicator (MWI). Karena ditulis dengan menggunakan GTK, maka hanya memerlukan konsumsi daya yang sedikit. Pun kaya akan fitur, seperti temperatur, kelembapan, kecepatan angin hingga prakiraan cuaca esok hari.

Tampilan Menawan "My Weather Indicator"

Untuk memasangnya, silakan membuka terminal dan jalankan perintah-perintah berikut secara berurutan:

sudo add-apt-repository ppa:atareao/atareao
sudo apt-get update
sudo apt-get install my-weather-indicator

Pasca pemasangan selesai, silakan mulai ulang komputer anda. Jalankan aplikasi MWI setelahnya, dan masukkan koordinat lokasi anda. Jika Anda memiliki GPS atau ponsel pintar dengan dukungan fitur GPS, itu akan sangat membantu. Jika tidak, maka gunakan fitur pencarian lokasi dengan mengetikkan [nama kota, negara]. Misalnya saya akan mengetikkan [Mlati, Indonesia] atau [Denpasar, Indonesia]. Namun kadang kota tidak terdaftar atau lokasi terlalu luas, GPS akan lebih praktis. Atau mungkin Anda bisa memanfaatkan Google Maps dalam hal ini.

Bisa untuk menampilkan prakiraan cuaca untuk beberapa hari ke depan

Membuat rencana untuk beberapa hari ke depan, mungkin Anda akan memerlukan bantuan alat untuk melihat prakiraan cuaca. Yah, meski beberapa orang lebih suka melihat ramalan bintang pada horoskop harian mereka. Hmm…, seperti di tempat saya akan ada badai beberapa hari ke depan ya.

Jangan lupa memasang dan menggunakan fitur ini memerlukan koneksi Internet pada komputer anda.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

7 tanggapan

  1. Avatar wid
    wid

    saya lebih suka menggunakan bawaan dari Docky 😀

    terlebih ramalan cuacanya pun lebih sering tebalik dengan kenyataan :))

    1. Avatar Cahya

      Wid, apa Docky cukup stabil?

      1. Avatar wid
        wid

        lumayan stabil, setidaknya saya belum pernah mengalami crash pada docky, saya menggunakan sumber dari ppa milik docky 😀

      2. Avatar Cahya

        Tapi rasanya akan tetap aneh ya kalau pakai Unity dan Docky sekaligus, takutnya malah saling bertabrakan. Kira-kira nyamannya bagaimana ya?

      3. Avatar wid
        wid

        bertabrakan bagaimana bli?

        saat ini saya menggunakan karmic dengan global-menu terpasang, saya menggunakan docky untuk lebih cepat berpindah antar aplikasi. sedangkan global menu untuk membuat taskbar terlihat sedikit lebih rapih 😀

      4. Avatar Cahya

        Wid, saya tidak menggunakan Docky langsung, namun hanya membayangkannya saja. Semisalnya Unity's Applets yang ada memanjang pada lajur vertikal di sisi kiri layar, kemudian ada Docky's Dock memanjang pada lajur horizontal di sisi bawah layar. Kira-kira apa tidak berbenturan di sisi kiri bawah layar? Apalagi kalau menggunakan komputer dengan resolusi rata-rata ke bawah?

      5. Avatar wid
        wid

        mmm, unity memiliki fitur intellihide (kalau tidak salah), saat window di maximize, docky akan terhide secara otomatis, sepertinya tidak terlalu mengganggu, apalagi jika applet / launcher yg diletakkan di docky tidak terlalu banyak, sepertinya tidak akan berbenturran. selain itu, ukuran iconnya pun bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. jadi sepertinya tidak terlalu bermasalah dengan komputer dengan resolusi rata-rata kebawah.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca