A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Apakah karena kesejahteraan masyarakat sekitar yang meningkat, ataukah karena jumlah pengunjung rumah sakit Dr. Sardjito terus bertambah sehingga mencari lokasi parkir di rumah sakit cukup sering dikeluhkan, terutama pada jam-jam sibuk tentunya.

Siang ini saya menyerahkan administrasi terakhir saya di RSUP Dr. Sardjito, iseng memandang dari lantai 2 dekat perpustakaan SMF Anastesi dan memandang ke arah parkiran yang terletak di belakang gedung radiologi. Yah, siang seperti ini parkiran lapang seperti ini biasanya sudah sangat sesak di rumah sakit Sardjito.

Parkir Sardjito

Jika melihat padatnya parkir seperti itu saya sendiri bisa membayangkan betapa susahnya bagi mereka, baik yang hendak memarkir kendaraannya, maupun yang hendak meninggalkan areal parkir. Kadang untuk memarkir atau mengeluarkan kendaraan dari tempat parkir benar-benar menyita waktu dan tenaga.

Namun pengendara sepeda motor sepertinya tidak akan terlalu mengalami kesulitan, karena areal parkirnya cukup banyak. Bisa di dekat areal masuk rumah sakit, di lantai dasar gedung parkir, di belakang rumah sakit, di belakang bangsal anak, di belakang gedung radiologi (gambar di atas), atau di lantai dasar gedung baru yang sedang dibangun (di belakang gedung pendaftaran dan rekam medis.

Saya sendiri karena hanya mengurus beberapa administrasi yang hanya datang dan kemudian pergi memilih parkir di lantai dasar gedung instalasi rawat jalan (IRJ). Yang secara ajaib sering kali banyak ruang parkir roda dua yang kosong meski hari sudah cukup siang. Tentunya areal parkir ini tidak bisa digunakan bagi mereka yang akan menginapkan kendaraannya.

Sebenarnya, jika cukup mengenal RS Sardjito, maka tidak terlalu sulit mencari lokasi parkir, khususnya untuk kendaraan roda dua. Sedangkan kendaraan roda empat, saya tidak bisa berkomentar, karena saya tidak pernah memasuki Sardjito dengan kendaraan roda empat.

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca