Pagi ini saya berkesempatan mewakili menghadiri mahasabha (rapat besar) pasemetonan (persaudaraan) Sri Karang Buncing bertempat di Balai Budaya Gianyar. Kali ini yang diangkat sebagai topik utama adalah kepanutan akan tokoh Kebo Iwo (Kebo Mayura) yang berada pada silsilah Karang Buncing. Jika menelusuri kembali dinasti raja-raja Bali kuno, maka Kebo Iwo adalah salah satu tokoh sentral sebagai mahapatih raja Bali pada masa itu. Mahapatih Majapahit pada masa itu, Gadjah Mada, tidak dapat menaklukan Bali sebelum membunuh Kebo Iwo di tanah Jawa dengan siasatnya. Konon Kebo Iwo telah tahu bahwa dirinya akan terbunuh oleh siasat Gadjah Mada sebelum berangkat ke Majapahit, namun untuk kesetiaan pada rajanya, dia tetap berangkat.
Pasca kematian sang mahapatih, kerjaan Bali jatuh dengan serangan dari Majapahit dan menjadi akhir dari dinasti raja-raja Bali kuno – beralih dalam dinasti-dinasti yang berada di bawah pemerintahan Majapahit. Jika saya tidak salah, di sini juga munculnya sistem kasta di Bali, untuk menyisihkan antara penguasa dan mereka yang ditaklukan.
Tentu saja, ada banyak versi tentang sejarah lama yang diturunkan melalui cerita-cerita rakyat. Ini sangat klasik, antara apa sejarah sebenarnya dan siapa yang menulis sejarah. Menelusuri kisah-kisah dinasti raja-raja Bali kuno, mungkin sama peliknya seperti ketika saya membaca buku sejarah oral “Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Seoharto” yang juga menghasilkan sebuah masa kelam dan berdarah di Pulau Bali.
Silsilah Karang Buncing cukup rumit dan terselubung, karena selama beratus tahun banyak yang menyembunyikan identitasnya dari para penguasa dinasti Majapahit. Mahasabha kali ini dihadiri oleh pelbagai utusan persaudaraan dari seluruh Bali, dan melihat kembali nilai-nilai positif dari masa lalu untuk dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini.
Karena tidak banyak yang dapat saya ceritakan, dan cerita lebih banyak mungkin akan didapatkan dari media cetak atau daring lainnya. Maka, cukup saya sertakan beberapa foto yang saya ambil pagi ini saja.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Kalau ada waktu, saya sebenarnya suka dengan sejarah kerajaan seperti ini, khususnya yang berkaitan dengan Majapahit, Hindu dan Bali.
Cuma, dari beberapa tulisan yang saya baca di internet, sepertinya sebagian mencoba membuai pembaca dengan kebangkitan Hindu di Indonesia. Entahlah, mungkin sumber bacaan saya yang memang tidak berkualitas.
Saya khawatir, kalau pembicaraan seperti yang Bli sampaikan itu selalu berkembang, bisa-bisa semua orang nanti minta di-abhiseka, wah susah dong. Jika menghadirkan kembali kebijakan masa lalu, maka saya rasa akan menarik, namun kalau hanya menonjolkan chauvinism semata, maka saya malas menanggapi.
Saya kira bukan sebuah masalah Mas, toh pada akhirnya kita semua akan bercampur antara satu dengan yang lainnya.
Memuat…
Zippy
Wah..kalo soal sejarah saya nyerah mas, wkwkwk…
Sejarah saya ancur2an, jadi gak ada yang saya ingat 😀
Paling mentok cuma nama Kerajaannya doang, sisanya ludes 😀
Tinggalkan Balasan