Apakah Anda pernah berpikir bahwa tampilan Linux Mint terbaru yang berbasis GNOME 3 lumayan menarik? Mereka berhasil mencabangkan Gnome Shell ke dalam salah satu desktop khas – Cinnamon, yang memberikan sentuhan familier seperti ketika menggunakan GNOME 2.x. Tampilan ini kini juga bisa dicoba pada openSUSE 12.1 Asparagus.
Pada halaman openSUSE Lizards, ada berita “Cinnamon for openSUSE” tentang uji coba Cinnamon pada openSUSE. Meskipun baru dalam tahap uji coba, sepertinya sudah dapat menampilan Cinnamon seperti pada Linux Mint, meski masih terdapat beberapa isu terkait setelah antarmuka grafis.
Paket ini disediakan untuk uji coba saja, jadi bagi yang ingin mencoba silakan dilakukan secara mandiri.
Pratampil Cinnamon pada Linux Mint.
Sebagai salah satu desktop environment terbaru, Cinnamon mungkin akan berkembang dengan sendirinya – sebagaimana Unity pada Ubuntu. Sama-sama menggunakan GNOME 3, namun dengan shell yang berbeda.
Jika ada yang tertarik untuk mencoba Cinnamon pada openSUSE 12.1, saya sarankan membaca artikel “Linux Mint’s Cinnamon 1.2 deployed for openSUSE” oleh Nelson Marques. Di sana terdapat rincian apa yang dijadikan pertimbangan, dan apa yang sebaiknya dilakukan pasca pemasangan Cinnamon. Jangan khawatir, terdapat fitur 1-click-install, jadi tidak akan terlalu sulit.
Saya sendiri belum tertarik untuk mencobanya, karena masih cukup produktif bekerja dengan Gnome Shell yang asli, jika merasa bosan, dapat beralih sesaat ke desktop KDE.
Update:
Cinnamon untuk openSUSE tidak lagi dipertahankan karena permasalahan dengan upstreams, untuk selengkapnya silakan membaca tulisan penyedia Cinnamon untuk openSUSE selama ini di “Cinnamon is unmaintainable, thus gets wiped!” – bagi yang mencobanya, mungkin ingin beralih kembali ke Gnome Shell.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
20 tanggapan
Andhy
Kalau untuk netbook, saya sudah terlanjur terbiasa dengan shortcut keyboardnya unity.
Lebih efektif ga usah pake mouse 🙂
Mas Andhy, saya masih bergantung pada tetikus, meskipun papan ketika seharusnya mempermudah kita. Apalagi besok Ubuntu 12.04 akan menggunakan HUD, riwayat menu pada jendela selama 30 tahun ini akan tergantikan di Ubuntu.
Belum pernah nyoba Cinnamon sih. Denger aja baru sekarang. Mudah-mudahan punya keunggulan tersendiri yang bisa membuatnya mampu bersaing dengan Gnome maupun KDE. Kalau melihat pratampil di atas, sepertinya tidak banyak berbeda dengan launcher ala MintMenu 🙂 Entahlah kalau tampilan jendela aplikasi maupun utilitas kustomisasinya.
Masih menunggu upgrade RAM terlebih dahulu agar saat login dengan KDE maupun Gnome bisa berjalan mulus, baru semangat untuk mempercantik Asparagus lagi. *masih lagu lama kaset kusut. 😀
Tinggalkan Balasan