A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mungkin sering dituliskan dengan sebagai “kadaluarsa“, karena sering terdengar terucap seperti itu. Bahkan setelah banyak media mulai membenah diri dengan mengejanya sebagai “kedaluwarsa“, salah kaprah ini masih saja berlangsung. Ah, apa boleh buat, mungkin sudah jati moto di negeri ini bahwa orang itu memang wajar “membenarkan yang biasanya dan bukan membiasakan yang benar“.

Saya tidak habis pikir, bagaimana ahli bahasa kita berusaha memikirkan pengalihbahasaan untuk kata “expired” dalam bahasa Inggris, yang mulai menjadi standar dalam setiap barang konsumsi (makanan, minuman, obat, kosmetik dan sebagainya) dalam kemasan modern. Saya yakin dulu kata ini tidak ada, karena paling tidak orang-orang tempo dulu pastinya akan bertanya “ini tahannya sampai kapan?” dan bukannya “ini kapan ya kedaluwarsanya“.

Saya mengatakannya sebagai sesuatu yang unik – pengalihbahasaan ini – karena menggunakan kata-kata yang sering kita jumpai.

Meski saya sendiri tidak pernah tahu bagaimana istilah “kedaluwarsa” dibentuk, namun saya rasa melibatkan dua kata dasar, “dalu” dan “warsa“. Saya rasa saya pernah menemukan kedua kata itu dalam deretan bahasa Kawi (Jawa Kuno) saat mempelajari tembang tradisional di bangku sekolah. Namun, ternyata kedua kata itu masih cukup umum digunakan dalam bahasa Jawa saat ini – setidaknya saya ketahui saat tinggal di Jogja dulu, maknanya pun tidak begitu berbeda.

Dalu bermakna lampau setahu saya, namun lebih tepatnya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bermakna terlampau ranum (merujuk pada hasil pangan), atau terlampau larut (biasanya merujuk “malam” sebagai keterangan waktu).

Sedangkan warsa bermakna tahun. Mungkin pada masyarakat Jawa dan Bali kata ini sudah lazim digunakan dalam bahasa daerah sehari-hari, meski sekarang penggunaan kata “tahun” jauh lebih mendominasi (jika berbicara dalam ranah bahasa nasional yang semakin menggeser bahasa daerah). Jadi tidak heran jika banyak generasi baru di Jawa dan Bali mungkin tidak tahu arti kata ini jika mereka temukan.

Jadi jika disambungkan dan mendapat tambahan awalan “ke-” maka akan menjadi “kedaluwarsa“, yang bermakna sudah lewat masanya. Sehingga pas digunakan untuk mengalihbahasakan kata “expired“. Meski kemudian dalam praktek sehari-hari di Indonesia mengalami perluasan makna.

Expired

Bahasa Indonesia banyak menyerap kata dari bahasa daerah, namun saya sendiri tidak mengenal semuanya. Saya tidak pernah bisa menjadi cukup bagus dalam hal berbahasa.

Namun sebelum melangkah lebih jauh lagi, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya tidak tahu persis bagaimana pembentukan istilah “kedaluwarsa“, bisa jadi uraian saya tadi meleset sepenuhnya. Ah, mungkin yang lebih banyak ilmunya dalam hal berbahasa seperti Mas Ivan Lanin akan bisa menjelaskan lebih banyak.

Yang saya temukan bahwa berbahasa seperti ini memberikan keunikannya tersendiri.

Ilustrasi oleh: Best Day of Mine.

Artikel Baru Terbit

  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
  • Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
    Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

13 tanggapan

  1. Avatar Nandini
    Nandini

    Orang Jawa biasa menyebut “basi” sebagai “kedalon” – berasal dari kata “dalu”. Nah, kalo ke- dalam bahasa Jawa biasanya merujuk kepada “terlalu-”

    *sambilmanggut2* Tapi memang bahasa Indonesia itu banyak banget kok serapan dari bahasa Jawa.. padahal bahasa Jawa juga dikit2 kena pengaruh bahasa Belanda :))

    1. Avatar Cahya

      He he…, begitu ya :). Namun kurasa karena banyak ahli bahasa merupakan orang Jawa, mau tidak mau jika mau mengambil serapan, ya datangnya dari bahasa aslinya juga.

  2. Avatar die

    Saya tahunya ya kadaluwarsa, lha wong yang diajarkan seperti itu.  Tetapi akhirnya, entaah karena hanyut dengan lingkungan atau terpengaruh aksen bahasa daerah yang sering digunakan, pengucapan dan tulisan kadaluwarsa yang sering saya gunakan menjadi kadaluarsa, selain tulisan sedikit lebih pendek, pengucapannya juga lebih mudah.

    1. Avatar Cahya

      Nah itu dia Pak Aldy, bahasa pun kemudian menjadi ranah kebiasaan, kalau tidak bisa dibiasakan – biasanya sebuah bahasa akan ditibggalkan.

  3. Avatar Handayaningrum Luz

    Iya juga ya, berarti saya sering salah kaprah juga, kebiasaan kadaluarsa, malah kadang ada aksen r nya kalau diucapkan 😀

    1. Avatar Cahya

      Mbak Ningrum, salah kaprah itu bermakna kesalahan yang sudah diterima oleh umum dan diwajarkan. Saya juga saat SMA masih menuliskan “kadaluarsa”, karena begitu seingat saya yang pernah saya dengarkan. Walau keliru, toh banyak orang yang paham maksudnya :).
      Jadi tidak esensial mesti dibenahi seketika, namun tidak patut juga dibiarkan keliru berlarut-larut. Bahasa itu hakikatnya “Nyambung”, kalau masalah “Bener” (baca: benar) itu belakangan.

  4. Avatar jarwadi

    kalau dipikir-pikir bener juga ya, berarti tahun, ngga akurat menyebut tanggal bulan kapan, hehe

    jadi ingat kalimat bahasa jawa: sugeng warso enggal: selamat tahun baru, sugeng ambal warso: selamat ulang tahun, dll

    1. Avatar Cahya

      Iya Pak Jarwadi, saya juga baru sering dengar di acara kesenian/lokal di Jogja TV.

  5. Avatar ladeva

    Iya, aku juga pernah (sering) kamu koreksi kalau ada kata bahasa Indonesia-ku yang salah, tapi gak apa-apa karena aku butuh koreksi itu. Makin ke sini malah aku semakin merasa gak tahu tentang bahasa Indonesia. 
    Makasih ya Cahya. Ngomong-ngomong tentang kata ‘kedaluwarsa’ ini. Tadi ditulis bahwa kata itu mungkin berasal dari kata dalu dan warsa lalu kenapa diberi awalan ‘ke-‘ ya?*langsung tandai blog Mas Ivan Lanin* 😀

    1. Avatar Cahya

      Deva, kamu itu sekali bertanya langsung bikin “check mate”. Coba deh cari fungsi prefiks “ke-“, salah satu fungsinya kan adalah “membentuk kata benda”, seperti “ke-” dan “hendak” jadi “kehendak” (kata benda). Silakan koreksi jika saya keliru.
      Dan ya, silakan colek @ivanlanin supaya nanti ndak saya sesatkan ilmu bahasanya, he he… :D.

      1. Avatar ladeva

        “Check mate” itu apa? Hayolah berbahasa Indonesia aja, hehehe *kaboor* 😀

      2. Avatar Cahya

        Ha ha…, biar kamu juga dapat giliran membenahi “tata bahasaku”, wajahmu yang diprotes terus itu sepertinya penasaran selalu mencari celah salahku :D.

      3. Avatar ladeva

        *masuk ke kolom Cahya lagi sambil bawa bantal sebagai tameng kalo ditimpuk* 

        Lah, aku mah gak berusaha nyari kesalahan kamu, wong kesalahanmu jelas cuma 1 yaitu belum juga ngasih aku bakpia! :p

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca