A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Belasan tahun lalu, artikel ini pernah mengajak pembaca mengenali tanda-tanda henti jantung dan pentingnya bertindak cepat. Banyak hal telah berubah sejak itu—termasuk pedoman resusitasi itu sendiri. Pada Oktober 2025, American Heart Association (AHA) merilis pembaruan komprehensif pertama sejak 2020 untuk pedoman Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dan Emergency Cardiovascular Care (ECC), yang dimuat dalam jurnal Circulation (American Heart Association, 2025). Saatnya kita memperbarui pemahaman, sekaligus mengingatkan kembali betapa krusialnya peran orang awam—bukan hanya tenaga kesehatan—dalam rantai keselamatan korban henti jantung.

Henti Jantung Bukan Sekadar “Serangan Jantung”

Penting dipahami sejak awal: cardiac arrest (henti jantung) berbeda dengan heart attack (serangan jantung/infark miokard). Serangan jantung adalah gangguan aliran darah ke otot jantung akibat sumbatan pembuluh koroner, sementara henti jantung adalah kondisi ketika jantung berhenti memompa darah secara efektif—biasanya akibat gangguan irama listrik jantung. Serangan jantung dapat memicu henti jantung, tetapi tidak semua henti jantung didahului oleh serangan jantung.

Ciri khas henti jantung adalah terjadi mendadak: korban kolaps, tidak responsif terhadap panggilan atau rangsang, serta tidak menunjukkan tanda bernapas normal dan tidak teraba nadi saat diperiksa cepat. Secara global, kejadian out-of-hospital cardiac arrest (OHCA) diperkirakan mencapai 55–88 kasus per 100.000 orang per tahun, dengan angka harapan hidup hingga keluar rumah sakit yang masih rendah, berkisar di bawah 10% (Kim et al., 2023, dalam Sari & Wulandari, 2024). Di Amerika Serikat sendiri, data terbaru AHA mencatat tingkat keberlangsungan hidup OHCA sekitar 10,5%, sementara henti jantung di dalam rumah sakit memiliki prognosis lebih baik—sekitar 23,6% pada dewasa dan 45,2% pada anak (American Heart Association, 2025).

Mengapa Peran Saksi Mata (Bystander) Sangat Menentukan

Hampir separuh kasus OHCA disaksikan langsung oleh orang yang bukan tenaga kesehatan (Oliveira et al., 2024, dalam Pratama & Hidayat, 2026). Inilah yang membuat tindakan RJP oleh saksi mata (bystander CPR) menjadi penentu nasib korban dalam hitungan menit—jauh sebelum ambulans atau tenaga medis tiba. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian RJP segera oleh saksi terlatih dapat mendongkrak angka keberlangsungan hidup hingga sekitar 11%, dibandingkan korban yang tidak menerima pertolongan apa pun (Yan et al., 2020, dalam Pratama & Hidayat, 2026).

Sayangnya, di Indonesia, kesadaran dan keterampilan masyarakat untuk menjadi bystander RJP masih rendah, dan keterlambatan penanganan tetap menjadi penyebab utama tingginya angka kematian akibat OHCA (Aulia & Fitriani, 2024). Hal ini sejalan dengan temuan global bahwa kesenjangan pelatihan RJP dan akses Automated External Defibrillator (AED) berkontribusi pada perbedaan luaran OHCA, termasuk kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan (American Heart Association, 2025).

Apa yang Berubah dalam Pedoman AHA 2025?

Beberapa pembaruan penting dari Pedoman AHA 2025 yang relevan bagi masyarakat umum maupun tenaga kesehatan:

Satu Rantai Keselamatan untuk Semua

Pedoman 2025 menyederhanakan konsep Chain of Survival menjadi satu model tunggal yang berlaku untuk seluruh kelompok usia dan lokasi kejadian—baik di dalam maupun luar rumah sakit (American Heart Association, 2025). Ini menegaskan bahwa prinsip dasar pengenalan dini, panggilan bantuan, RJP berkualitas, dan defibrilasi cepat berlaku universal.

Napas Bantuan Kembali Ditekankan

Berbeda dari penekanan hands-only CPR (RJP kompresi saja) yang populer dalam dekade terakhir, pedoman terbaru merekomendasikan pemberian napas bantuan bersama kompresi dada—baik oleh tenaga kesehatan maupun penolong awam—selama mereka bersedia dan mampu melakukannya (American Heart Association, 2025). Bagi yang tidak terlatih atau ragu, kompresi dada saja tetap jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

Posisi dan Permukaan Kompresi

Efektivitas kompresi dapat ditingkatkan dengan mengoptimalkan posisi tangan dan tubuh penolong, posisi korban, serta memastikan kompresi dilakukan di atas permukaan yang keras dan rata (American Heart Association, 2025).

Penanganan Tersedak (Choking) yang Diperbarui

Untuk dewasa dan anak yang sadar namun tersedak, pedoman baru merekomendasikan kombinasi lima kali tepukan punggung (back blows) diselingi lima kali hentakan perut (abdominal thrusts), dilakukan berulang hingga benda asing keluar atau korban menjadi tidak responsif (American Heart Association, 2025).

Kewaspadaan terhadap Overdosis Opioid

Pedoman ini juga memperluas rekomendasi penggunaan naloxone sebagai antagonis opioid pada kasus henti jantung yang dicurigai akibat overdosis opioid, dengan catatan pemberiannya tidak boleh menunda RJP berkualitas (American Heart Association, 2025). Meski isu opioid belum menjadi masalah dominan di Indonesia seperti di beberapa negara Barat, prinsip ini tetap relevan bagi fasilitas kesehatan yang menangani kasus intoksikasi.

Langkah Praktis Mengenali dan Menolong Korban Henti Jantung

Berikut langkah dasar yang tetap menjadi fondasi, kini diperbarui sesuai pedoman terkini:

  1. Pastikan keamanan lokasi sebelum mendekati korban.
  2. Cek respons: panggil dengan suara keras, goyangkan bahu, atau beri rangsang nyeri ringan. Jika tidak ada respons—curigai henti jantung.
  3. Periksa napas dan nadi secara cepat (idealnya tidak lebih dari 10 detik). Napas yang tidak normal (gasping) juga dianggap sebagai tanda bahaya, bukan tanda bernapas normal.
  4. Segera minta bantuan—hubungi layanan gawat darurat atau ambulans, dan jika memungkinkan, minta orang lain mencari AED terdekat.
  5. Mulai RJP: kompresi dada dengan kedalaman dan kecepatan yang adekuat, di permukaan yang keras, diselingi napas bantuan bila penolong mampu dan bersedia melakukannya.
  6. Gunakan AED segera setelah tersedia, dan ikuti instruksi suara alat tersebut.
  7. Lanjutkan RJP tanpa henti yang tidak perlu hingga bantuan medis profesional mengambil alih atau korban menunjukkan tanda sirkulasi spontan.

Pelatihan Komunitas: Investasi yang Tidak Boleh Ditunda

Pedoman 2025 secara khusus menyoroti pentingnya sistem pelatihan yang terintegrasi—mencakup masyarakat, kebijakan, dan sumber daya—untuk meningkatkan mutu penanganan henti jantung secara berkelanjutan (American Heart Association, 2025). Bukti menunjukkan bahwa anak berusia 12 tahun ke atas pun dapat dilatih melakukan RJP dan penggunaan AED secara efektif, sehingga kampanye edukasi sejak usia sekolah menjadi strategi jangka panjang yang berharga (American Heart Association, 2025; jurnal Keperawatan Galuh, 2026).

Di tingkat fasilitas kesehatan dan komunitas di Indonesia, kerja sama dengan organisasi seperti PMI, tim SAR, fakultas kedokteran, maupun unit gawat darurat rumah sakit setempat tetap menjadi jalur strategis untuk memperluas pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada masyarakat awam—sebagaimana telah banyak dilakukan melalui program pengabdian masyarakat di berbagai daerah (Wijaya et al., 2022).

Penutup

Lebih dari satu dekade sejak artikel pertama ini ditulis, satu pesan inti tetap tidak berubah: korban henti jantung yang dibiarkan menunggu atau justru dipindahkan tanpa pertolongan awal kehilangan kesempatan hidup yang sangat berharga. Yang berubah adalah detail teknisnya—dan pembaruan 2025 ini mengingatkan kita bahwa ilmu resusitasi terus berkembang, sehingga pengetahuan kita pun perlu terus diperbarui agar pertolongan yang kita berikan benar-benar sesuai bukti ilmiah terkini.


Daftar Referensi

American Heart Association. (2025). 2025 American Heart Association guidelines for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care (Part 1: Executive summary). Circulation, 152(suppl 2), S1–S312. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001372

American Heart Association. (2025). Part 9: Adult advanced life support: 2025 American Heart Association guidelines for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care. Circulation, 152(suppl 2). https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001376

Aulia, R., & Fitriani, D. (2024). Pelatihan resusitasi jantung paru–kompresi saja sebagai upaya peningkatan pengetahuan bystander. Jurnal Pengabdian Masyarakat Gemassika. https://journal.aiska-university.ac.id/index.php/gemassika/article/download/1383/730/7187

Jurnal Keperawatan Galuh. (2026). Pengaruh peer teaching terhadap kemampuan RJP pada siswa SMA. Jurnal Keperawatan Galuh, 8(1). https://jurnal.unigal.ac.id/JKG/article/download/22978/pdf

Pratama, A., & Hidayat, N. (2026). Peran inovasi dan strategi pertolongan awam dalam keberhasilan resusitasi pasien out-of-hospital cardiac arrest: Tinjauan literatur. Jurnal Ners Universitas Pahlawan. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/ners/article/download/46660/29393

Sari, W., & Wulandari, T. (2024). Tinjauan epidemiologi out-of-hospital cardiac arrest: Faktor risiko dan luaran. Jurnal Kreativitas Pengabdian kepada Masyarakat. https://www.ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kreativitas/article/download/15255

Wijaya, S., Pratiwi, D., & Anggraini, M. (2022). Pelatihan basic life support korban henti jantung di luar rumah sakit di Kelurahan Marga Rahayu, Kota Lubuklinggau. SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan. https://journal.ummat.ac.id/index.php/jpmb/article/view/7815


Catatan: artikel ini ditulis sebagai pembaruan dari tulisan lama di legawa.com (2013) dengan rujukan Pedoman AHA 2025 yang baru dipublikasikan Oktober 2025.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

5 tanggapan

  1. AndhySukma.com Avatar
    AndhySukma.com

    Tips yang sangat bagus

    Suka

  2. Arif Abdurahman Avatar
    Arif Abdurahman

    Denger-denger kalau di luar negeri mah RJP ini pelajaran wajib ya. Dan emang semua orang kudu bisa.

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Tapi tidak semua negara Mas, cuma yang maju saja dan peduli sama kesehatan. Di sini jangankan mengiklankan RJP, iklan rokok yang justru banyak adanya :).

      Suka

  3. Tina Latief Avatar
    Tina Latief

    kalau semacam terkejut begitu bisa menyebabkan henti jantung ngga mas?
    kalau ada yang mengadakan training perteolongan pertama pasti lebih seru nih..
    misalnya kopdar blogger kemudian mengadakan seminar tentang topik ini..

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Bisa jadi, yang jelas jika sudah terjadi henti jantung maka pertolongan pertama itu adalah wajib.

      Saya rasa itu ide yang bagus kalau komunitas blogger mau menyelenggarakan kegiatan seperti ini, setidaknya setahun sekali pas hari ulang tahun komunitas atau sejenisnya.

      Bisa mengundang tenaga pelatih dari PMI, Tim SARS, dan/atau TBM dari Fakultas Kedokteran yang ada di area komunitas blogger tersebut.

      Suka

Tinggalkan komentar