A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Google+ adalah salah satu jejaring sosial yang (bisa dibilang) populer, dan memiliki cita rasa yang berbeda dengan Facebook. Karena Facebook belakangan ini banyak yang asal jualan iklan, bahkan via metode clickjacking, saya merasa kurang nyaman menggunakannya. Di sisi lain, Google+ masih termasuk sepi, bahkan terlalu sepi mungkin, atau karena lingkaran saya tidak banyak? Jadi lebih memiliki privasi dibandingkan jejaring sosial lainnya, meskipun cuma perasaan semu.

Google+
Ilustrasi Google Plus di antara jejaring sosial lainnya. Sumber: Picasa.

Hanya saja belakangan ini ada yang cukup tidak mengenakan saat menggunakan Google Plus. Pertama banyak yang menambahkan ke lingkaran saya, walau saya tidak kenal orangnya. Dan setelah dilihat, rupanya akun baru yang lagi asyik beriklan di Google Plus. Lha, ini sih konsep lama “please follow back ya!” dengan wajah baru ala Google Plus. Karena banyak sekali modus seperti ini, saya jadi enggan melihat siapa saja yang menambahkan saya ke dalam lingkaran mereka.

Kedua, berita yang sedang menjadi trending topic di Google Plus tidak pernah sesuatu yang ingin saya lihat. Sesuatu yang lagi hangat di Google Plus tidak selalu memberikan informasi yang kita perlukan, tidak selalu memperkaya kita menjadi lebih kreatif, dan kadang kala mereka menjadi sampah informasi – junk! Saya melihat sejumlah akun yang kadang informasinya tidak saya butuhkan, tapi seringkali memunculkan tren di Google+, biasanya sih mereka yang menjadi “artis” jejaring sosial ini. Akun-akun ini saya “cekal” dari halaman Google+, sehingga saya tidak melihat kiriman dari mereka lagi. Bukan karena kirimannya sesuatu yang buruk, tapi lebih sesuatu yang bukan saya perlukan untuk saya lihat.

Saya masih mempertahankan sejumlah akun-akun yang memang sengaja saya ikuti, terutama para pengembang sistem teknologi informasi dan kesehatan. Informasi dari mereka tidak masalah memenuhi halaman saya, karena saya merasa mendapatkan sesuatu yang berguna melalui halaman tersebut.

Di Facebook juga saya berniat melakukan hal yang sama, sepertinya ada fitur mute di sana; tapi karena fungsi yang saya harapkan dari Facebook berbeda dengan Google+, jadi fitur ini belum saya manfaatkan. Saya senang mengunjungi Google+ karena cukup bersih dan memberikan kesan, di situ ada sesuatu yang saya inginkan.

Update:

Saya sudah tidak lagi menggunakan Google+, layanan telah ditutup oleh Google.

Artikel Baru Terbit

  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
  • Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
    Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca