A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Kita tahu bahwa mencuci tangan bisa membantu menjaga kesehatan secara umum, tapi bagaimana dengan mencuci tangan bisa menyelamatkan nyawa dari Ebola? Dalam istilah aslinya, hand hygiene bermakna higienitas (kebersihan dari pelbagai kuman dan partikel yang mengganggu kesehatan) tangan menjadi suatu standar yang memberikan gambaran target dari suatu aktivitas menjaga kebersihan tangan. Sedangkan ketika beralih ke dalam bahasa Indonesia, memang terasa mengalami penyempitan makna menjadi sekadar cuci tangan.

Oleh karena mencuci tidak selalu identik dengan higienis, maka yang awalnya bermakna target menjadi teralihkan maknanya sebagai proses. Namun dunia kesehatan saya rasa akan selalu menekannya, bahwa proses yang baik akan menghasilkan hasil yang baik.

Mari kita lihat video berikut…

Video di atas merupakan kegiatan para petugas WHO melihat bagaimana hasil pelatihan yang mereka berikan selama ini.

Hand hygiene action to support containment of the Ebola outbreak has been crucial for all health workers. In Sierra Leone, WHO has supported training on the recommended hand cleansing steps to be performed as well as the products that can be used, monitoring progress with improvement over these months.

Jika kegiatan cuci tangan yang sederhana itu bisa membendung laju penyebaran virus mematikan seperti Ebola, maka tentu saja banyak penyakit yang bisa dicegah penularannya jika kita cermat dan selalu ingat untuk mencuci tangan. Anda dan keluarga mungkin akan lebih jarang direpotkan dengan diare, batuk, cacingan, hingga ke penyakit yang lebih mengkhawatirkan seperti deman tifoid ataupun hepatitis A. Dan biaya untuk berobat sakit-sakit seperti itu bisa ditekan, menghemat biaya kesehatan Anda dan keluarga tentunya.

Ebola adalah salah satu dari banyak penyakit yang penyebarannya dapat dibantu dibendung dengan berkomitmen melakukan perilaku hidup bersih dan sehat, salah satunya melalui kegiatan cuci tangan ini.

Cuci Tangan
Anak-anak yang tampak antusias mencuci tangan guna mencegah tertular Ebola. Sumber gambar: oxfamamerica.org.

Anda tidak memerlukan petugas dari badan kesehatan dunia untuk mengingatkan bagaimana melakukan cuci tangan bukan? Mari kita hidup bersih dan sehat.

Artikel Baru Terbit

  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca