Ilustrasi kasus fiktif untuk keperluan edukasi. Pukul dua dini hari, IGD sebuah RSUD di Jawa Timur menerima Pak Anto (41), teknisi tambang yang baru tiba dari proyek di Afrika Timur lewat jalur transit. Demam tiga hari, sakit kepala berat, nyeri otot, lalu diare cair sejak kemarin. Dugaan pertama wajar: tifoid, malaria, atau demam berdarah dengue. Pertanyaan yang menentukan justru sederhana: “Dalam tiga minggu terakhir, Bapak berada di mana, dan pernah merawat orang sakit?”
Ringkasan: Penyakit virus Marburg adalah infeksi filovirus yang bisa mematikan, dengan fatalitas rata-rata sekitar 50%. Wabah terbaru di Rwanda, Tanzania, dan Ethiopia menunjukkan bahwa deteksi dini, perawatan suportif, dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan sangat menentukan. Indonesia belum melaporkan kasus, tetapi riwayat perjalanan tetap perlu ditanyakan.
Apa itu penyakit virus Marburg?
Penyakit virus Marburg (PVM) adalah penyakit berat yang sering fatal pada manusia. Nama lamanya, “demam berdarah Marburg”, kini ditinggalkan WHO, dan sebaiknya tidak dipertukarkan dengan demam berdarah dengue (DBD) yang akrab di telinga kita. Penyebabnya virus Marburg (MARV) dan virus Ravn (RAVV) dari spesies Orthomarburgvirus marburgense, anggota famili Filoviridae yang sama dengan virus Ebola (WHO, 2025).
Rata-rata fatalitas kasus sekitar 50%, dengan rentang 24% hingga 88% pada berbagai wabah. Angka itu bisa jauh lebih rendah bila pasien terdeteksi dini dan mendapat perawatan yang baik (WHO, 2025). Hingga kini belum ada vaksin maupun antivirus yang disetujui untuk PVM, meski beberapa kandidat sedang diuji (WHO, 2025, 2026b).
Wabah terbaru: dari Kigali hingga Jinka
Sejak artikel ini pertama kali terbit pada 2023, dunia melihat tiga wabah baru. Rwanda melaporkan wabah pertamanya pada 27 September 2024. Dari 6.340 pasien suspek yang diperiksa, 66 terkonfirmasi, dan 51 di antaranya (77%) adalah tenaga kesehatan. Fatalitas 23% termasuk yang terendah yang pernah tercatat. Penulis laporan menduga penyebabnya kombinasi isolasi dan deteksi cepat, perawatan suportif lanjutan, serta akses ke terapi dan vaksin investigasional (Nsanzimana et al., 2025).
Tanzania kembali mengumumkan wabah pada Januari 2025 (WHO, 2026a). Ethiopia mengonfirmasi wabah pertamanya pada 14 November 2025 di Jinka, Wilayah Ethiopia Selatan, dan menyatakannya berakhir pada 26 Januari 2026 setelah 42 hari tanpa kasus baru. Totalnya 14 kasus terkonfirmasi (9 meninggal, 5 sembuh) ditambah 5 kematian probabel. Tiga tenaga kesehatan tertular, dua di antaranya meninggal (WHO Regional Office for Africa, 2026).
| Tahun | Negara | Kasus | Meninggal | Fatalitas |
|---|---|---|---|---|
| 1967 | Jerman dan Yugoslavia | 31 | 7 | sekitar 23% |
| 1998–2000 | Republik Demokratik Kongo | 154 | 128 | 83% |
| 2005 | Angola | 374 | 329 | 88% |
| 2023 | Guinea Ekuatorial | 40 | 35 | 88% |
| 2023 | Tanzania | 9 | 6 | 67% |
| 2024 | Rwanda | 66 | 15 | 23% |
| 2025 | Tanzania | 10* | 10* | 100%* |
| 2025–2026 | Ethiopia | 14 terkonfirmasi | 9 (+5 probabel) | 64% dari kasus terkonfirmasi |
Bagaimana virus ini menular?
Inang alaminya adalah kelelawar buah Rousettus aegyptiacus. Penularan pertama ke manusia umumnya terjadi setelah paparan lama di tambang atau gua yang dihuni koloni kelelawar ini. Rantai di Rwanda ditelusuri ke pasien indeks yang terpapar kelelawar di lokasi tambang (Nsanzimana et al., 2025). Setelah itu virus menyebar antarmanusia lewat kontak langsung (kulit terluka atau selaput lendir) dengan darah, sekret, organ, atau cairan tubuh orang terinfeksi, serta permukaan dan bahan yang tercemar seperti seprai dan pakaian. Upacara pemakaman yang melibatkan kontak dengan jenazah juga berperan. Penderita tidak menularkan sebelum bergejala (WHO, 2025).
Tenaga kesehatan paling rentan. Di Rwanda, tiga dari empat kasus terkonfirmasi adalah petugas rumah sakit, dan pada wabah Ethiopia tiga petugas ikut tertular. Pelajarannya jelas: pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan bukan pelengkap, melainkan garis pertahanan utama.
Gejala: perjalanan penyakit hari demi hari
Masa inkubasi berkisar 2–21 hari. Pada wabah Rwanda, median perkiraan inkubasi 10 hari (Nsanzimana et al., 2025). Penyakit dimulai mendadak.
| Fase | Gambaran klinis |
|---|---|
| Awal | Demam tinggi, sakit kepala berat, lemas hebat, nyeri otot |
| Sekitar hari ke-3 | Diare cair berat, nyeri dan kram perut, mual, muntah. Ruam tidak gatal dapat muncul pada hari ke-2 sampai ke-7 |
| Mulai hari ke-5 | Manifestasi perdarahan: darah pada muntahan dan tinja, perdarahan hidung, gusi, vagina, dan bekas tusukan infus. Dapat disertai bingung, mudah marah, atau agresif |
| Fase berat | Kematian paling sering terjadi pada hari ke-8–9, umumnya didahului kehilangan darah berat dan syok |
Diagnosis dan tata laksana
Secara klinis PVM sulit dibedakan dari malaria, tifoid, shigelosis, meningitis, dan demam berdarah virus lain. Konfirmasi memakai pemeriksaan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR), deteksi antigen, atau ELISA. Spesimen berisiko biologis sangat tinggi dan harus ditangani di laboratorium dengan tingkat biokeamanan yang sesuai (WHO, 2025). Karena itulah riwayat epidemiologi, bukan gejalanya saja, yang membuat kita curiga.
Perawatan suportif dini, terutama rehidrasi dan penanganan gejala, terbukti memperbaiki kesintasan. WHO pada Juni 2026 menerbitkan pedoman klinis filovirus pertamanya yang mencakup semua jenis Ebola dan Marburg, termasuk tindak lanjut terstruktur bagi penyintas (WHO, 2026b). Untuk ringkasannya, baca artikel kami: Panduan Komprehensif WHO 2026: Manajemen Klinis Penyakit Filovirus.
Di Rwanda, remdesivir dan antibodi monoklonal MBP091 diberikan dengan protokol akses terperluas dan uji klinis, sementara 1.710 tenaga garis depan dan kontak risiko tinggi menerima vaksin ChAd3-MARV dalam uji fase 2 (Nsanzimana et al., 2025). Hasilnya menggembirakan, tetapi analisisnya berupa seri kasus, bukan uji acak, sehingga manfaat pasti belum dapat disimpulkan. Hingga kini belum ada vaksin atau obat berlisensi (WHO, 2026b).
Penyintas juga perlu perhatian. Virus dapat menetap di tempat istimewa imun seperti testis dan mata. Penularan lewat semen pernah didokumentasikan hingga tujuh minggu setelah sembuh. WHO menganjurkan pemeriksaan semen bulanan hingga dua hasil negatif berturut-turut, atau praktik seks aman selama 12 bulan bila pemeriksaan tidak tersedia (WHO, 2025).
Bagaimana dengan Indonesia?
Kemenkes melakukan penilaian risiko cepat pada 20 Februari 2023 dan menyimpulkan kemungkinan importasi kasus ke Indonesia rendah. Kelelawar Rousettus aegyptiacus bukan spesies asli Indonesia, dan belum ditemukan di sini. Kementerian menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/853/2023 tentang kewaspadaan terhadap penyakit ini (Kementerian Kesehatan RI, 2023). Dalam sumber yang ditelaah untuk pembaruan ini, tidak ditemukan laporan kasus PVM di Indonesia.
Rendahnya risiko bukan berarti nol. Pelaku perjalanan internasional, pekerja proyek, dan petugas yang merawat mereka bisa saja tiba lewat bandara mana pun, bukan hanya Jakarta, termasuk melalui kota transit. Karena gejala awalnya menyerupai penyakit yang sangat umum di Puskesmas dan IGD kita, riwayat perjalanan 21 hari terakhir harus menjadi bagian rutin anamnesis pada pasien demam akut.
Gambar 1. Alur kewaspadaan ringkas untuk pasien demam akut dengan riwayat perjalanan. Disusun dari WHO (2025) dan Kementerian Kesehatan RI (2023); selalu ikuti pedoman resmi yang berlaku di daerah Anda.
Pencegahan: apa yang bisa dilakukan?
Bagi masyarakat dan pelaku perjalanan
- Hindari memasuki gua atau tambang yang dihuni kelelawar buah. Bila terpaksa, gunakan sarung tangan dan pelindung yang sesuai.
- Hindari kontak dekat dengan orang sakit dan cairan tubuhnya, serta jangan menyentuh jenazah di daerah wabah.
- Selama wabah, masak sempurna semua produk hewani sebelum dikonsumsi.
- Sepulang dari daerah terjangkit, pantau kesehatan selama 21 hari. Bila demam atau bergejala, segera hubungi fasilitas kesehatan, sampaikan riwayat perjalanan, dan hindari transportasi umum.
Bagi fasilitas kesehatan
- Terapkan kewaspadaan standar pada semua pasien: kebersihan tangan, etika batuk, APD, praktik penyuntikan aman.
- Untuk kasus suspek atau konfirmasi, tambahkan tindakan pencegahan khusus agar tidak ada kontak dengan darah, cairan tubuh, dan permukaan atau linen yang tercemar (WHO, 2025). WHO juga merilis pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi untuk Ebola dan Marburg pada Mei 2026 (WHO, 2026c).
- Latih petugas triase untuk menanyakan riwayat perjalanan dan paparan pada setiap pasien demam akut.
- Siapkan penguburan yang aman dan bermartabat, serta libatkan masyarakat sejak dini karena keterlibatan komunitas adalah kunci pengendalian wabah.
Catatan transparansi
Artikel ini diperbarui pada Oktober 2026 dari versi 2023 yang tidak memuat rujukan. Data utama bersumber dari lembar fakta WHO, laporan WHO untuk Ethiopia, dan publikasi NEJM tentang Rwanda (diverifikasi melalui PubMed). Angka Tanzania 2025 berasal dari sumber sekunder dan sebaiknya dicek ulang ke laporan WHO. Hasil remdesivir, MBP091, dan vaksin ChAd3-MARV berasal dari analisis seri kasus dan uji fase 2, sehingga belum membuktikan kemanjuran. Nomor Surat Edaran Kemenkes diambil dari kutipan di laman Kemenkes dan sebaiknya diverifikasi pada dokumen aslinya. Pada saat yang sama WHO melaporkan wabah Ebola akibat virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (WHO, 2026d), yang menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap filovirus bersifat berkelanjutan. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pedoman resmi Kemenkes maupun penilaian klinis.
Baca juga: Penyakit Virus Sudan: Ancaman Tersembunyi di Afrika Timur.
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Fatalitas tinggi akibat virus Marburg, RI waspada. https://kemkes.go.id/id/fatalitas-tinggi-akibat-virus-marburg-ri-waspada
Nsanzimana, S., Remera, E., Nkeshimana, M., Westergaard, R. P., Firew, T., Semakula, M., Seruyange, E., Neil, K. L., Kreuger, M. J., Bekele, A., Biramahire, J., Bizimana, A., Chirombo, B., Diaz, J., Dushimimana, G., Fischer, W. A., Fletcher, T. E., Fowler, R., Gatera, M. R., … Rwagasore, E. (2025). Marburg virus disease in Rwanda, 2024 – Public health and clinical responses. New England Journal of Medicine, 393(10), 983–993. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2415816
Pandemic Pact. (2026). Outbreak: Marburg virus. https://www.pandemicpact.org/outbreaks/marburg-virus
World Health Organization. (2025, 20 Januari). Marburg virus disease [Lembar fakta]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/marburg-virus-disease
World Health Organization. (2026a). Marburg virus disease – Ethiopia (Disease Outbreak News 2026-DON592). https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2026-DON592
World Health Organization. (2026b, 17 Juni). WHO issues comprehensive guidelines on filovirus disease, including Ebola and Marburg disease [Siaran pers]. https://www.who.int/news/item/17-06-2026-who-issues-comprehensive-guidelines-on-filovirus-disease–including-ebola-and-marburg-disease
World Health Organization. (2026c, 17 Mei). Infection prevention and control guideline for Ebola and Marburg disease. Dirujuk melalui https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2026-DON617
World Health Organization. (2026d). Ebola disease caused by Bundibugyo virus – Democratic Republic of the Congo (Disease Outbreak News 2026-DON617). https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2026-DON617
World Health Organization Regional Office for Africa. (2026, 26 Januari). Ethiopia declares end of first-ever Marburg virus disease outbreak. https://www.afro.who.int/countries/ethiopia/news/ethiopia-declares-end-first-ever-marburg-virus-disease-outbreak





Tinggalkan Balasan