A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Gerhana matahari adalah kejadian alam yang mungkin hanya bisa seseorang saksikan beberapa kali dalam seumur hidupnya. Berbeda dengan hujan, pelangi, atau musim durian, siklus gerhana matahari panjang – dan sekali muncul tidak semua belahan bumi kebagian pemandangan ini. Sehingga banyak orang ingin menikmati menjadi saksi terjadinya gerhana matahari. Permasalahannya adalah, melihat gerhana matahari tanpa cara yang aman berbahaya bagi mata kita, dan berpotensi menyebabkan kebutaan permanen.

Pertama-tama, jangan pernah melihat langsung ke arah gerhana matahari. Jangan juga melihat langsung menggunakan teropong atau binokular, atau kacamata hitam biasa. Cara ini bisa mencederai mata Anda, dan dengan mengingat peringatan ini, Anda akan berhati-hati dalam menyaksikan gerhana matahari.

http://astronomynow.com/2015/03/15/how-to-see-the-solar-eclipse-safely/

Ada beberapa cara yang bisa kita manfaatkan untuk melihat gerhana matahari. Yang paling murah dan paling mudah diakses adalah prinsip kamera lubang jarum (pinhole camera).

Anda bisa menggunakan apapun yang memiliki lubang kecil untuk memproyeksikan sinar matahari ke sebuah permukaan datar. Misalnya karton yang dilubangi untuk memproyeksikan sinar matahari ke tanah. Atau memanfaatkan celah di antara dedaunan.

Cara yang lain lebih mahal dan susah dijangkau, misalnya kacamata khusus gerhana matahari atau menggunakan PST (personal solar telescope) – teleskop matahari pribadi yang bisa didapatkan dengan anggaran sedikit di bawah sepuluh juta rupiah.

Apapun yang terjadi, jangan pernah melihat langsung ke arah gerhana matahari. Dan ingatkan orang-orang di sekitar Anda beserta keluarga Anda terkasih akan hal ini. Walau pun gerhana matahari saat benar-benar penuh cukup aman, Anda sebaiknya mempertimbangkannya kembali. Pertimbangkan kacamata filter gerhana matahari jika Anda hendak melihat langsung ke langit – dan harganya juga cukup terjangkau sekitar IDR 100.000 (walau tentu saja jika untuk satu keluarga, Anda tidak mungkin membeli satu).

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca