A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Anda mungkin pernah mendengar bahwa diabetes melitus ditandai dengan rasa haus yang berlebihan dan sering buang air kecil. Tetapi apakah itu satu-satunya tanda yang harus diwaspadai? Kenyataannya, diabetes melitus—khususnya tipe 2—bisa hadir secara diam-diam selama bertahun-tahun sebelum gejalanya cukup mencolok untuk diperhatikan. Pada saat seseorang baru menyadarinya, kadar gula darah mungkin sudah lama berada di atas batas normal.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes melitus pada penduduk berusia 15 tahun ke atas yang diukur melalui pemeriksaan kadar gula darah mencapai 11,7%, meningkat dibandingkan Riskesdas 2018 yang sebesar 10,9%. Namun yang memprihatinkan, prevalensi diabetes berdasarkan diagnosis dokter pada kelompok usia yang sama hanya sebesar 2,2%—selisih yang mencerminkan besarnya jumlah penderita yang belum terdiagnosis. Celah ini mencapai 9,5 persen antara prevalensi berdasarkan diagnosis dokter dan prevalensi berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah—sebuah angka yang menggambarkan betapa banyak orang Indonesia hidup dengan diabetes tanpa menyadarinya.

Hanya satu dari empat hingga lima orang penderita yang mengetahui bahwa mereka menderita diabetes, dan hanya satu dari empat hingga lima penderita yang mendapat tatalaksana di fasilitas pelayanan kesehatan.

Di tingkat global, gambaran serupa terjadi. Menurut IDF Diabetes Atlas edisi ke-11 (2025), sekitar 11,1% atau satu dari sembilan orang dewasa berusia 20–79 tahun hidup dengan diabetes, dan lebih dari empat dari sepuluh penderita tidak mengetahui kondisinya. Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan jumlah penderita diabetes dewasa tertinggi di dunia, dan jumlah ini diperkirakan terus meningkat hingga 853 juta jiwa di seluruh dunia pada tahun 2050.

Artikel ini ditulis untuk membantu Anda memahami tanda-tanda awal diabetes melitus secara lebih komprehensif—tidak hanya gejala yang sudah umum diketahui, tetapi juga gejala-gejala yang sering diabaikan atau dianggap bukan bagian dari diabetes.


Memahami Diabetes Melitus secara Ringkas

Diabetes melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia—kadar gula darah yang terlalu tinggi—akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya.

Terdapat beberapa tipe utama diabetes melitus:

Diabetes melitus tipe 1 terjadi akibat kerusakan sel beta pankreas yang memproduksi insulin, umumnya melalui mekanisme autoimun. Diabetes tipe 1 menyumbang sekitar 5–10% dari seluruh kasus diabetes, dan ditandai dengan adanya autoantibodi terhadap sel-sel pankreas pada 90–95% pasien. Hingga 44% anak-anak dan 23% orang dewasa dengan diabetes tipe 1 datang pertama kali sudah dalam kondisi ketoasidosis diabetik—keadaan darurat medis yang berbahaya.

Diabetes melitus tipe 2 merupakan bentuk tersering, yang terjadi akibat resistensi insulin dan penurunan kapasitas sekresi insulin secara bertahap. Di Indonesia, tipe 2 menyumbang 50,2% dari total penderita diabetes berdasarkan SKI 2023, dan lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut.

Diabetes gestasional muncul selama kehamilan akibat perubahan hormonal yang mengganggu kerja insulin, biasanya setelah minggu ke-24 kehamilan dan umumnya membaik setelah persalinan—meskipun meningkatkan risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Klasifikasi dan kriteria diagnosis diabetes melitus terus disempurnakan; pemeriksaan glukosa darah puasa, tes toleransi glukosa oral, dan hemoglobin A1c (HbA1c) menjadi landasan utama diagnosis biokimia.


Gejala Klasik: Tiga Poli dan Penurunan Berat Badan

Tanda-tanda paling khas dari diabetes melitus dikenal dengan sebutan “3 Poli,” yaitu poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (sering haus), dan polifagia (sering lapar). Ketiganya saling berkaitan dalam sebuah rantai mekanisme fisiologis yang menggambarkan apa yang terjadi ketika kadar glukosa darah berada di atas ambang normal.

Poliuria: Ginjal Bekerja Keras Membuang Gula

Ketika kadar glukosa darah melampaui ambang renal threshold—sekitar 180 mg/dL—ginjal tidak mampu lagi menyerap seluruh glukosa yang tersaring kembali ke dalam aliran darah. Glukosa pun ikut terbuang bersama urine, membawa serta sejumlah besar air melalui mekanisme osmotik. Hasilnya adalah produksi urine yang jauh lebih banyak dari biasanya—kondisi inilah yang disebut poliuria. Banyak penderita diabetes baru menyadari kondisi ini karena sering terbangun malam hari untuk buang air kecil, suatu gejala yang dalam istilah medis disebut nokturia.

Polidipsia: Rasa Haus yang Tak Pernah Terpuaskan

Kehilangan cairan yang besar melalui urine memicu sinyal dehidrasi di otak, yang kemudian mencetuskan rasa haus intensif. Inilah asal mula polidipsia—konsumsi cairan yang berlebihan sebagai respons terhadap dehidrasi progresif. Sayangnya, minum lebih banyak air tidak menyelesaikan akar masalahnya, yaitu kadar gula darah yang tetap tinggi.

Polifagia: Lapar Walau Sudah Makan

Pada keadaan defisiensi insulin atau resistensi insulin, glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh secara efektif meskipun tersedia berlimpah di aliran darah. Sel-sel tubuh “merasa lapar” karena kekurangan energi, sehingga mengirimkan sinyal ke otak untuk mencari lebih banyak makanan—inilah yang menimbulkan polifagia, rasa lapar yang terus-menerus bahkan setelah makan.

Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab Jelas

Terutama pada diabetes tipe 1 yang onsetnya cepat, penurunan berat badan yang dramatis dalam waktu singkat merupakan tanda yang sangat khas. Tanpa insulin yang memadai, tubuh beralih ke cadangan lemak dan protein sebagai sumber energi alternatif. Proses pemecahan lemak (lipolisis) dan protein (glukoneogenesis) inilah yang menyebabkan penurunan berat badan meski asupan makanan seringkali justru meningkat akibat polifagia.


Gejala yang Sering Diabaikan atau Dianggap Sepele

Di luar gejala klasik tersebut, terdapat sejumlah tanda awal diabetes melitus yang kerap luput dari perhatian karena tampak tidak berhubungan satu sama lain, atau dianggap sebagai tanda penuaan biasa.

Kelelahan dan Lemas yang Kronis

Sel-sel tubuh yang tidak mampu menyerap glukosa secara optimal akan kekurangan bahan bakar untuk menjalankan fungsinya. Akibatnya, penderita sering merasa kelelahan—bahkan setelah istirahat yang cukup—atau tubuh terasa lemas sepanjang hari. Gejala ini mudah disalahartikan sebagai efek stres, kurang tidur, atau terlalu banyak kerja.

Penglihatan Kabur

Kadar gula darah yang tinggi dapat mengubah tekanan osmotik di dalam lensa mata, menyebabkan lensa menjadi bengkak dan kehilangan kemampuan memfokuskan cahaya dengan tepat. Hasilnya adalah penglihatan yang kabur atau berfluktuasi—bisa membaik saat gula darah turun, dan memburuk kembali saat gula darah naik. Banyak penderita diabetes baru mengunjungi dokter mata terlebih dahulu sebelum akhirnya terdiagnosis memiliki kadar gula darah tinggi.

Perlu dibedakan antara gangguan penglihatan awal yang bersifat reversibel ini dengan retinopati diabetik—kerusakan pembuluh darah retina yang merupakan komplikasi jangka panjang dan dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Kesemutan, Mati Rasa, atau Rasa Terbakar di Tangan dan Kaki

Ini merupakan manifestasi awal dari neuropati perifer diabetik (diabetic peripheral neuropathy atau DPN)—kerusakan saraf yang disebabkan oleh paparan glukosa darah tinggi dalam jangka waktu tertentu. Menurut panduan konsensus multidisiplin terbaru, kecurigaan terhadap DPN perlu dipertimbangkan pada setiap pasien dengan prediabetes atau diabetes yang menunjukkan gejala neuropatik dan/atau tanda-tanda neuropati, terutama dalam konteks faktor risiko DPN.

Gejala awal DPN dapat berupa kesemutan (tingling), rasa terbakar, mati rasa, atau hipersensitivitas pada ujung jari tangan dan kaki—terutama pada malam hari. Banyak penderita menganggap ini sebagai “syaraf kejepit” atau efek terlalu lama duduk.

Luka atau Infeksi yang Sulit Sembuh

Ini termasuk gejala yang sangat penting untuk diwaspadai. Kadar gula darah tinggi mengganggu fungsi sel-sel imun dan memperlambat proses penyembuhan luka. Selain itu, hiperglikemia kronik menyebabkan penyempitan pembuluh darah kecil, sehingga suplai darah—yang membawa oksigen dan nutrisi—ke jaringan menjadi terhambat. Luka kecil sekalipun, misalnya akibat gesekan sepatu atau luka goresan, dapat berlangsung berminggu-minggu tanpa kemajuan penyembuhan yang berarti.

Infeksi Jamur Berulang

Glukosa yang tinggi dalam darah dan jaringan menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi pertumbuhan jamur, terutama Candida. Infeksi jamur berulang di area genital (vagina pada wanita, atau area di sekitar penis pada pria), di sela-sela jari kaki, atau di lipatan kulit merupakan tanda yang seringkali mendahului diagnosis diabetes—terutama pada wanita. Gejala ini kerap diobati sendiri atau hanya ditangani secara lokal tanpa mencari akar penyebabnya.

Kulit Kering dan Gatal

Dehidrasi akibat poliuria turut memengaruhi kelembapan kulit. Selain itu, gangguan sirkulasi darah perifer pada penderita diabetes menyebabkan kulit—terutama di kaki—menjadi kering, pecah-pecah, dan mudah terasa gatal. Ini berbeda dengan gatal akibat penyakit kulit biasa dan cenderung tidak membaik hanya dengan penggunaan pelembab.

Mulut Kering dan Perubahan pada Gigi

Produksi saliva yang berkurang akibat dehidrasi, ditambah kadar glukosa yang tinggi dalam cairan mulut, menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri. Penderita diabetes yang tidak terdiagnosis atau tidak terkontrol sering mengalami gingivitis (radang gusi), periodontitis, dan gigi berlubang yang lebih sering dari biasanya.


Gejala yang Membedakan Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2

Meskipun banyak gejala yang tumpang tindih, terdapat perbedaan pola yang penting antara kedua tipe utama.

Diabetes tipe 1 cenderung muncul secara mendadak, sering dalam hitungan hari hingga minggu. Gejala 3 Poli dan penurunan berat badan biasanya sangat menonjol. Diabetes tipe 1 paling sering terdiagnosis antara usia 10 dan 14 tahun, meskipun usia median diagnosis di berbagai negara berkisar pada 24 tahun. Autoantibodi terhadap sel pankreas dapat dideteksi di dalam darah bahkan sebelum gejala klinis muncul—menjadikan potensi skrining presimtomatik sebagai bidang penelitian yang aktif dikembangkan. Fase presimtomatik diabetes tipe 1 ditandai oleh keberadaan autoantibodi ini, dan diklasifikasikan ke dalam tiga stadium: Stadium 1 (normoglikemia), Stadium 2 (disglikemia), dan Stadium 3 (hiperglikemia dengan gejala klinis yang memerlukan insulin).

Diabetes tipe 2, sebaliknya, seringkali berkembang sangat lambat—bahkan tanpa gejala sama sekali selama bertahun-tahun. Ketika gejala muncul, sering kali baru dirasakan saat kadar gula darah sudah cukup tinggi. Inilah yang menjadikan skrining proaktif sangat penting pada kelompok berisiko tinggi.


Prediabetes: Stadium Sebelum Diabetes

Banyak orang yang tidak pernah mendengar istilah prediabetes, padahal ini adalah “jendela waktu” yang sangat penting untuk mencegah diabetes tipe 2 berkembang menjadi penuh.

Prediabetes adalah kondisi di mana kadar gula darah sudah di atas normal, tetapi belum cukup tinggi untuk memenuhi kriteria diagnosis diabetes. Seseorang dikatakan mengalami prediabetes jika:

  • Glukosa darah puasa berkisar antara 100–125 mg/dL (impaired fasting glucose)
  • Kadar gula darah dua jam setelah tes toleransi glukosa oral (TTGO) antara 140–199 mg/dL (impaired glucose tolerance)
  • HbA1c antara 5,7–6,4%

Prediabetes hampir selalu tidak menunjukkan gejala yang jelas—inilah mengapa banyak orang tidak mengetahui bahwa mereka sudah berada dalam kondisi ini. Peningkatan prevalensi diabetes memerlukan skrining yang terarah untuk mendeteksi diabetes dan prediabetes pada kelompok berisiko, sebagai dasar intervensi dini guna mencegah onset diabetes pada kelompok tersebut.

Prediabetes dapat pulih menjadi gula darah normal dengan perubahan gaya hidup yang tepat—ini adalah kabar baiknya. Namun tanpa intervensi, sekitar 15–30% orang dengan prediabetes akan berkembang menjadi diabetes tipe 2 dalam 5 tahun.


Tanda pada Kulit: Cermin yang Sering Diabaikan

Kulit bisa menjadi “layar” yang menampilkan perubahan metabolik di dalam tubuh, termasuk resistensi insulin.

Acanthosis nigricans adalah penebalan dan penggelapan kulit di area lipatan—leher, ketiak, selangkangan, dan lipatan siku—yang menghasilkan gambaran seperti beludru berwarna coklat gelap. Ini merupakan tanda khas resistensi insulin dan sering ditemukan pada individu dengan prediabetes atau diabetes tipe 2 yang belum terdiagnosis, terutama pada anak-anak dan remaja dengan obesitas.

Selain itu, dermatitis yang tidak kunjung sembuh, kulit yang mudah memar, dan kecenderungan munculnya bisul atau abses berulang juga dapat menjadi petunjuk adanya gangguan metabolisme glukosa yang mendasarinya.


Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Sebagai panduan praktis, segera periksakan diri ke dokter apabila Anda mengalami satu atau beberapa kondisi berikut secara menetap atau berulang:

Gejala yang memerlukan evaluasi segera mencakup: tiga gejala klasik (sering buang air kecil terutama malam hari, rasa haus berlebihan, dan sering lapar) yang terjadi berbarengan; penurunan berat badan signifikan tanpa penyebab yang jelas; penglihatan yang tiba-tiba kabur; atau luka yang tidak kunjung sembuh lebih dari dua minggu.

Gejala yang memerlukan evaluasi rutin (meskipun tidak terasa akut) mencakup: kelelahan kronik tanpa sebab yang bisa dijelaskan, kesemutan atau mati rasa di tangan/kaki, infeksi jamur berulang, serta adanya tanda acanthosis nigricans pada kulit.

Jika Anda termasuk dalam kelompok berisiko tinggi yang akan dibahas di bawah, skrining rutin sangat dianjurkan meski tidak ada gejala sama sekali.


Kriteria Diagnosis: Tes Apa yang Akan Dilakukan Dokter?

Berdasarkan Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2024 yang diterbitkan PERKENI, diagnosis diabetes melitus ditegakkan apabila memenuhi salah satu dari kriteria berikut:

Pertama, kadar glukosa darah puasa (setelah puasa minimal 8 jam) ≥ 126 mg/dL pada dua kali pemeriksaan yang berbeda.

Kedua, kadar glukosa darah 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral (TTGO) ≥ 200 mg/dL.

Ketiga, kadar glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dL yang disertai dengan gejala klasik hiperglikemia (3 Poli dan penurunan berat badan)—dalam kondisi ini tidak diperlukan tes konfirmasi ulang.

Keempat, nilai HbA1c ≥ 6,5% yang diukur menggunakan metode yang terstandarisasi.

HbA1c adalah pemeriksaan yang mencerminkan rata-rata kadar gula darah selama sekitar 2–3 bulan terakhir—memberikan gambaran yang lebih komprehensif dibandingkan pemeriksaan gula darah sesaat. Nilai HbA1c antara 5,7–6,4% mencerminkan kondisi prediabetes.

Penting untuk dipahami bahwa pada kasus tanpa gejala klasik, diagnosis tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan satu kali hasil abnormal—diperlukan konfirmasi dengan pemeriksaan ulang.


Mengenali Kelompok yang Berisiko Tinggi

Skrining aktif sangat dianjurkan untuk kelompok-kelompok berikut meskipun belum menunjukkan gejala apa pun:

Usia di atas 40 tahun merupakan faktor risiko yang signifikan untuk diabetes tipe 2, meskipun tren terkini menunjukkan peningkatan kasus pada kelompok usia yang lebih muda akibat perubahan gaya hidup. Riwayat diabetes dalam keluarga tingkat pertama (orang tua atau saudara kandung) melipatgandakan risiko. Kegemukan—terutama dengan distribusi lemak sentral (lingkar pinggang pria ≥ 90 cm dan wanita ≥ 80 cm berdasarkan standar Asia)—berkaitan erat dengan resistensi insulin. Hipertensi dan dislipidemia (terutama kadar trigliserida tinggi dan HDL rendah) sering hadir bersama diabetes sebagai bagian dari sindrom metabolik. Riwayat diabetes gestasional atau melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg juga meningkatkan risiko.

Sebuah studi di Medan menemukan bahwa usia 54–64 tahun ke atas, indeks massa tubuh tinggi dan obesitas sentral, kurangnya sayur dan buah dalam diet, aktivitas fisik yang rendah, hipertensi yang tidak terkontrol, riwayat hiperglikemia, dan riwayat keluarga dengan diabetes—semuanya berkaitan signifikan dengan peningkatan risiko diabetes melitus.


Konteks Indonesia: Celah Diagnosis dan Upaya Skrining

Besarnya selisih antara prevalensi berdasarkan pengukuran gula darah dan berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia—hampir 9,5 persen—bukan hanya masalah angka statistik. Ini mencerminkan puluhan juta orang yang hidup dengan diabetes tanpa penanganan, dan karenanya rentan terhadap komplikasi yang sesungguhnya dapat dicegah: kebutaan, gagal ginjal, amputasi, dan penyakit jantung.

Beberapa hambatan utama yang menyebabkan keterlambatan diagnosis di Indonesia antara lain rendahnya kesadaran masyarakat tentang gejala diabetes, anggapan bahwa gejala-gejala awal adalah bagian dari proses penuaan normal, keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan di daerah terpencil, serta kurangnya kebiasaan pemeriksaan kesehatan berkala (cek kesehatan rutin).

Dalam konteks JKN/BPJS Kesehatan, pemeriksaan gula darah puasa dapat diakses melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas atau klinik pratama) yang terdaftar sebagai fasilitas primer peserta. Program Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) BPJS Kesehatan juga menyediakan layanan monitoring bagi penderita diabetes yang sudah terdiagnosis.

Sebagai alat bantu skrining berbasis komunitas, kuesioner Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC) telah diuji dan diadaptasi untuk populasi Indonesia. Versi bahasa Indonesia dari instrumen FINDRISC terbukti memiliki akurasi diagnostik yang dapat diterima untuk mendeteksi diabetes tipe 2 yang belum terdiagnosis maupun disglikemia pada populasi dewasa Indonesia, dengan titik potong optimal ≥9 yang memberikan sensitivitas 63,0% dan spesifisitas 67,3%. Kuesioner ini terdiri dari pertanyaan sederhana seputar usia, indeks massa tubuh, lingkar pinggang, aktivitas fisik, pola makan, riwayat keluarga, dan riwayat gula darah tinggi—dan dapat digunakan sebagai langkah awal skrining sebelum pemeriksaan darah.

Selain itu, indeks Triglyceride-Glucose (TyG) telah diusulkan sebagai penanda pengganti resistensi insulin yang sederhana dan berbiaya rendah, serta telah dievaluasi sebagai alat skrining berbasis komunitas di berbagai negara termasuk Indonesia—meskipun validasi nilai potong optimal spesifik populasi masih diperlukan.

Kementerian Kesehatan juga mengembangkan program skrining diabetes berbasis momen ulang tahun sebagai bagian dari inisiatif Cek Kesehatan Gratis, yang direncanakan dimulai dari jenjang sekolah dasar untuk deteksi dini—termasuk diabetes tipe 1 pada anak.


Kesimpulan

Diabetes melitus adalah kondisi yang dapat hadir secara diam-diam, tetapi bukan berarti tidak ada sinyal yang bisa ditangkap. Gejala-gejala awalnya—mulai dari 3 Poli yang khas, kelelahan kronik, penglihatan kabur, infeksi berulang, hingga perubahan pada kulit—adalah pesan yang dikirim tubuh bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan normal.

Di tengah besarnya jumlah penderita diabetes yang belum terdiagnosis di Indonesia, kewaspadaan diri menjadi garis pertahanan pertama yang sangat berharga. Jika Anda atau orang-orang di sekitar Anda mengalami tanda-tanda yang telah diuraikan dalam artikel ini—terutama jika disertai faktor risiko—jangan tunda untuk memeriksakan diri. Deteksi dini bukan hanya soal mendapatkan label diagnosis; ini tentang memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mengambil kendali sebelum diabetes mengambil alih.


Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, maupun nasihat medis dari dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten. Jika Anda memiliki kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan Anda, segera hubungi dokter atau kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.


Referensi

Atmaca, A., Ketenci, A., Sahin, I., Sengun, I. S., Oner, R. I., Erdem Tilki, H., Adas, M., Soyleli, H., & Demir, T. (2024). Expert opinion on screening, diagnosis and management of diabetic peripheral neuropathy: A multidisciplinary approach. Frontiers in Endocrinology, 15, 1380929. https://doi.org/10.3389/fendo.2024.1380929

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI. (2024). Potret sehat Indonesia dari kacamata SKI 2023. BKPK Kemenkes RI. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-sehat-indonesia-dari-kacamata-ski-2023/

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI. (2024). Hasil utama SKI 2023. BKPK Kemenkes RI. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/daftar-frequently-asked-question-seputar-hasil-utama-ski-2023/hasil-utama-ski-2023/

Harreiter, J., & Roden, M. (2023). Diabetes mellitus: Definition, classification, diagnosis, screening and prevention (Update 2023). Wiener Klinische Wochenschrift, 135(Suppl 1), 7–17. https://doi.org/10.1007/s00508-022-02122-y

International Diabetes Federation. (2025). IDF Diabetes Atlas, 11th edition. IDF. https://diabetesatlas.org/

Jacobsen, L. M., & Schatz, D. A. (2026). Type 1 diabetes: A review. JAMA, 335(12), 1070–1083. https://doi.org/10.1001/jama.2026.0048

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Kemenkes RI.

Mustakin. (2026). Triglyceride-glucose (TyG) index as a screening tool in community settings for early detection of type 2 diabetes risk: A systematic review. EJIFCC, 37(1), 149–158.

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). (2024). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia 2024. PB PERKENI.

Rokhman, M. R., Arifin, B., Zulkarnain, Z., Satibi, S., Perwitasari, D. A., Boersma, C., Postma, M. J., & van der Schans, J. (2022). Translation and performance of the Finnish Diabetes Risk Score for detecting undiagnosed diabetes and dysglycaemia in the Indonesian population. PLoS ONE, 17(7), e0269853. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0269853

Siregar, F. A., Asfriyati, Makmur, T., Bestari, R., Lubis, I. A., & Zein, U. (2023). Identifying adult population at risk for undiagnosed diabetes mellitus in Medan City, Indonesia targeted on diabetes prevention. Medical Archives, 77(6), 455–459. https://doi.org/10.5455/medarh.2023.77.455-459

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Mencegah Diabetes Melitus: Strategi Berbasis Bukti yang Benar-Benar Bekerja – Bhyllabus l'énigme Avatar

    […] Kenali Lebih Dalam: Gejala Awal Diabetes Melitus yang Sering Terlewatkan […]

    Suka

  2. Merokok dan Diabetes: Ketika Dua Epidemi Indonesia Saling Memperburuk – Bhyllabus l'énigme Avatar

    […] Kenali Lebih Dalam: Gejala Awal Diabetes Melitus yang Sering Terlewatkan […]

    Suka

  3. Memahami Faktor Risiko Diabetes Melitus: Mana yang Bisa Dikendalikan dan Mana yang Tidak? – Bhyllabus l'énigme Avatar

    […] Kenali Lebih Dalam: Gejala Awal Diabetes Melitus yang Sering Terlewatkan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Merokok dan Diabetes: Ketika Dua Epidemi Indonesia Saling Memperburuk – Bhyllabus l'énigme Batalkan balasan