A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Indonesia menghadapi dua epidemi yang bertumbuh beriringan dan saling memperkuat: epidemi merokok dan epidemi diabetes melitus. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, jumlah perokok aktif di Indonesia diperkirakan mencapai 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya berusia 10–18 tahun. Di sisi lain, prevalensi diabetes pada penduduk dewasa telah menyentuh 11,7% berdasarkan pemeriksaan gula darah. Dua angka yang besar, dan sayangnya bukan kebetulan bahwa keduanya tumbuh di negeri yang sama.

Selama bertahun-tahun, merokok dikenal luas sebagai penyebab kanker paru-paru, penyakit jantung, dan stroke. Hubungannya dengan diabetes melitus, sebaliknya, masih sering kurang dipahami—bahkan oleh banyak perokok aktif itu sendiri. Artikel asli yang terbit di halaman ini pada 2023 sempat menyebut bahwa “sulit untuk mengatakan dengan pasti bahwa merokok saja menyebabkan diabetes.” Kalimat itu perlu diperbarui: bukti ilmiah terkini tidak lagi ragu-ragu dalam hal ini.

Artikel ini membahas hubungan antara merokok dan diabetes secara mendalam—dari mekanisme biologis, risiko pada perokok pasif, dampak rokok elektrik, hingga mengapa merokok pada penderita diabetes merupakan kombinasi yang jauh lebih berbahaya dari yang disadari kebanyakan orang.


Seberapa Kuatkah Buktinya? Merokok sebagai Faktor Risiko Diabetes

Pertanyaan kausal tentang apakah merokok sungguh menyebabkan diabetes—bukan sekadar berkaitan—kini sudah memiliki jawaban yang tegas. Berbagai studi kohort prospektif berskala besar, meta-analysis, dan kajian dosis-respons secara konsisten menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko diabetes tipe 2 yang secara bermakna lebih tinggi dibandingkan bukan perokok.

Satu studi berbasis data dari lebih dari 433.000 individu dalam UK Biobank menemukan bahwa perilaku merokok sejak usia dini—baik paparan tembakau dalam kandungan (in utero tobacco exposure) maupun usia mulai merokok yang lebih muda—secara signifikan dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi. Yang penting, studi ini juga menunjukkan bahwa faktor gaya hidup sehat di kemudian hari dapat memodifikasi hubungan ini—namun tidak menghilangkannya sepenuhnya—baik pada orang dengan maupun tanpa kerentanan genetik terhadap diabetes.

Studi prospektif lainnya di Korea menemukan hubungan dosis-respons yang sangat jelas antara merokok selama kehamilan dan diabetes gestasional. Perempuan yang merokok aktif sebelum kehamilan memiliki odds ratio 3,98 untuk mengembangkan diabetes gestasional berat (yang memerlukan insulin), sementara mereka yang merokok pada awal kehamilan memiliki odds ratio hingga 9,90. Mereka yang merokok lebih dari 4 pack-year memiliki risiko 20 kali lebih tinggi. Bahkan paparan asap rokok pasif pada ibu yang tidak pernah merokok menunjukkan tren peningkatan risiko diabetes gestasional, meskipun belum mencapai signifikansi statistik.

Sebuah tinjauan komprehensif yang diterbitkan di Annales d’Endocrinologie pada 2024 menegaskan bahwa merokok meningkatkan resistensi insulin melalui berbagai mekanisme, dan bahwa fungsi sel beta pankreas turut terganggu—meskipun mekanisme pastinya masih dalam penelitian lebih lanjut. Tinjauan ini juga menyoroti bahwa merokok adalah faktor risiko yang masih kurang dipahami untuk onset diabetes tipe 2.


Bagaimana Rokok Merusak Sistem Pengaturan Gula Darah: Lima Mekanisme Utama

1. Nikotin Langsung Merusak Respons Sel terhadap Insulin

Nikotin—senyawa adiktif utama dalam tembakau—berinteraksi langsung dengan reseptor-reseptor di sel tubuh yang semestinya merespons insulin. Efeknya adalah penurunan kemampuan sel untuk menyerap glukosa dari darah meski insulin tersedia. Kondisi ini disebut resistensi insulin, dan inilah akar dari diabetes tipe 2.

Nikotin juga merangsang pelepasan katekolamin (epinefrin dan norepinefrin) dari medula adrenal—respons fight-or-flight yang secara langsung meningkatkan kadar gula darah sekaligus menghambat sekresi insulin. Akibatnya, setiap kali seseorang merokok, ada lonjakan kadar gula darah yang singkat—sebuah “latihan” buruk yang dilakukan puluhan kali sehari oleh perokok berat.

2. Stres Oksidatif yang Merusak Sel Beta Pankreas

Asap rokok mengandung ribuan senyawa kimia—termasuk radikal bebas dalam jumlah besar—yang memicu stres oksidatif masif di jaringan tubuh. Sel beta pankreas, yang bertanggung jawab memproduksi insulin, sangat rentan terhadap kerusakan akibat stres oksidatif karena memiliki pertahanan antioksidan yang relatif lemah.

Hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) yang sudah ada sendiri sudah mempromosikan produksi radikal bebas dan memicu peradangan tingkat rendah yang persisten. Merokok menambahkan lapisan kerusakan oksidatif di atas yang sudah ada—mempercepat kerusakan sel beta dan mengurangi kapasitas pankreas untuk memproduksi insulin secara memadai dari waktu ke waktu.

3. Peradangan Sistemik Kronik yang Mengganggu Metabolisme Glukosa

Komponen kimia dalam asap rokok—termasuk karbon monoksida, tar, dan berbagai senyawa toksik lainnya—memicu respons inflamasi di seluruh tubuh. Peradangan kronik ini mengganggu jalur sinyal insulin, merusak fungsi sel beta pankreas, dan secara langsung menurunkan sensitivitas insulin pada sel otot, hati, dan jaringan lemak. Ini menciptakan lingkaran setan: peradangan memperburuk resistensi insulin, dan resistensi insulin memperburuk peradangan.

4. Redistribusi Lemak ke Area Visceral

Merokok mengubah cara tubuh mendistribusikan lemak. Alih-alih lemak tersimpan di bawah kulit (lemak subkutan), merokok mendorong akumulasi lemak di rongga perut (lemak visceral)—jenis lemak yang paling berbahaya metaboliknya karena aktif mensekresi senyawa-senyawa proinflamasi yang langsung menghambat kerja insulin. Ini menjelaskan mengapa perokok sering memiliki kadar lemak visceral yang tinggi meski total berat badan mereka tidak tampak berlebihan secara keseluruhan—fenomena yang terkadang disebut sebagai TOFI (Thin Outside, Fat Inside).

5. Gangguan Kortisol dan Respons Hormonal Stres

Rokok mengaktifkan sumbu HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal) secara kronik, yang meningkatkan produksi kortisol—hormon stres yang secara langsung meningkatkan kadar gula darah, memicu pelepasan simpanan glukosa dari hati, dan menurunkan sensitivitas insulin. Paparan kortisol yang kronis dan berulang—terjadi pada setiap sesi merokok—berkontribusi pada ketidakseimbangan metabolik yang lambat laun mempersiapkan tubuh menuju diabetes.


Perokok Pasif Pun Tidak Aman

Salah satu perkembangan penting dalam ilmu pengetahuan terkini adalah semakin kuatnya bukti bahwa paparan asap rokok orang lain—yang disebut paparan asap rokok sekunder (secondhand smoke/SHS) atau perokok pasif—juga memberikan risiko kesehatan yang nyata.

Sebuah studi “Burden of Proof” yang diterbitkan di jurnal Nature Medicine—dengan mengkaji literatur komprehensif yang dipublikasikan hingga Juli 2022—secara sistematis mengidentifikasi bahwa paparan asap rokok sekunder terus menyebabkan bahaya pada bukan perokok, dengan kelompok yang paling tidak proporsional terpapar adalah anak-anak dan perempuan di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Ini sangat relevan untuk Indonesia, di mana norma sosial merokok di dalam rumah masih umum, dan banyak perempuan serta anak-anak terpapar asap rokok dari anggota keluarga yang merokok.

Data BPS 2023 menunjukkan bahwa 56,36% laki-laki Indonesia merokok—dan hanya 1,06% perempuan tercatat sebagai perokok aktif. Namun angka perokok pasif perempuan Indonesia jauh lebih tinggi dari angka tersebut, karena banyak yang terpapar asap rokok dari pasangan atau anggota keluarga. Artinya, risiko metabolik akibat tembakau tidak hanya ditanggung oleh perokok aktif, melainkan oleh seluruh anggota rumah tangga yang terpapar.


Rokok Elektrik: Risiko yang Belum Sepenuhnya Dipahami

Salah satu tren yang mengkhawatirkan di Indonesia adalah meningkatnya penggunaan rokok elektrik (vape). Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) menunjukkan adanya peningkatan signifikan—10 kali lipat—dalam penggunaan rokok elektronik, dari 0,3% menjadi 3,0%.

Apakah rokok elektrik lebih aman dari rokok konvensional dalam kaitannya dengan diabetes? Bukti ilmiah terbaru menunjukkan gambaran yang kompleks. Sebuah studi pada tahun 2025 yang mengevaluasi hubungan diferensial antara rokok konvensional, penggunaan e-cigarette, dan prevalensi diabetes menemukan bahwa e-cigarette juga dikaitkan dengan prevalensi diabetes yang lebih tinggi, meskipun hubungannya berbeda dari rokok konvensional. Studi ini mengingatkan bahwa bukti mengenai e-cigarette dan diabetes masih terus berkembang, dan tidak bijak untuk menganggap rokok elektrik sebagai alternatif yang “aman.”

Rokok elektrik tetap mengandung nikotin dalam kadar yang signifikan—komponen yang, seperti telah dijelaskan, secara langsung merusak sensitivitas insulin dan fungsi sel beta pankreas. Beberapa produk rokok elektrik juga mengandung senyawa-senyawa lain yang dampak jangka panjangnya terhadap metabolisme glukosa masih dalam penelitian.


Kombinasi Paling Berbahaya: Merokok di Atas Diabetes

Bagi seseorang yang sudah didiagnosis diabetes melitus, rokok bukan hanya faktor risiko—melainkan akselerator yang mempercepat kerusakan secara dramatis. Sebuah studi berskala besar yang diterbitkan di Cardiovascular Diabetology menemukan bahwa merokok dan diabetes berinteraksi secara sinergis dalam meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular—yaitu, risiko gabungan dari keduanya jauh lebih besar dari yang diperkirakan jika hanya menjumlahkan risiko masing-masing secara terpisah.

Pada penderita diabetes, merokok secara bermakna memperburuk:

Kontrol glikemik: Nikotin dan hormon stres yang dipicu oleh rokok secara langsung meningkatkan kadar gula darah, membuat target HbA1c lebih sulit dicapai dan dipertahankan.

Risiko kardiovaskular: Diabetes sendiri sudah melipatgandakan risiko serangan jantung dan stroke. Merokok melipatgandakannya lagi. Kombinasi keduanya menghasilkan risiko yang jauh melampaui jumlah masing-masing faktor.

Nefropati diabetik: Baik diabetes maupun merokok secara independen merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Keduanya bersama-sama mempercepat penurunan fungsi ginjal secara dramatis dan meningkatkan risiko gagal ginjal.

Neuropati perifer: Rokok memperburuk gangguan aliran darah ke ujung-ujung saraf yang sudah terkompromi akibat diabetes, mempercepat kerusakan saraf (neuropati diabetik) dan meningkatkan risiko ulkus kaki diabetik.

Retinopati diabetik: Kerusakan pembuluh darah retina—yang merupakan komplikasi diabetes—dipercepat secara bermakna oleh merokok, meningkatkan risiko gangguan penglihatan berat dan kebutaan.


Konteks Indonesia: Kretek, Beban Ganda, dan Regulasi Terbaru

Indonesia memiliki keunikan epidemiologis yang penting dalam konteks ini: dominasi rokok kretek. Rokok kretek—campuran tembakau dengan cengkeh dan berbagai senyawa aromatik lainnya—menyumbang sekitar 90% dari total konsumsi rokok di Indonesia. Cengkeh mengandung eugenol, senyawa yang bersifat anestesi lokal yang membuat hisapan lebih dalam dan lebih lama bertahan di saluran napas—berpotensi meningkatkan paparan terhadap komponen berbahaya tembakau dibandingkan rokok putih biasa.

Meskipun penelitian khusus tentang kretek dan risiko diabetes masih sangat terbatas dalam literatur internasional, mekanisme kerusakan yang dihasilkan—nikotin, tar, stres oksidatif, inflamasi—bersifat universal dan tidak berbeda secara fundamental antara jenis rokok.

Di level kebijakan, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 17/2023 tentang Kesehatan membawa ketentuan baru yang lebih ketat tentang pengendalian produk tembakau—termasuk pembatasan iklan, larangan penjualan eceran, dan ketentuan kawasan tanpa rokok yang diperluas. Regulasi ini merupakan langkah yang relevan tidak hanya untuk mencegah penyakit paru, tetapi juga dalam konteks pencegahan diabetes yang semakin dipahami sebagai penyakit yang sangat dipengaruhi oleh perilaku merokok.


Berhenti Merokok: Manfaat, Tantangan, dan Jalan yang Tersedia

Apakah Berhenti Merokok Menurunkan Risiko Diabetes?

Jawaban singkatnya: ya, dan manfaatnya nyata. Sebuah meta-analysis dari uji klinis acak menemukan bahwa intervensi penghentian merokok dikaitkan dengan perbaikan bermakna dalam sensitivitas insulin dan penurunan BMI moderat pada pasien diabetes tipe 2. Risiko diabetes tipe 2 pada mantan perokok secara bertahap menurun seiring bertambahnya waktu sejak berhenti merokok, meskipun tidak langsung kembali ke level bukan perokok.

Bagi penderita diabetes yang sudah aktif, berhenti merokok adalah salah satu intervensi tunggal dengan manfaat paling besar: mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular, memperlambat progresi nefropati, dan membantu pencapaian kontrol glikemik yang lebih baik.

Tantangan Khusus Berhenti Merokok pada Penderita Diabetes

Berhenti merokok pada orang dengan diabetes tidak selalu mudah, dan ada tantangan unik yang perlu dipahami. Sebuah tinjauan yang diterbitkan di World Journal of Diabetes pada 2025 membahas secara spesifik tantangan ini: ada hambatan fisiologis (kecenderungan kenaikan berat badan setelah berhenti merokok, perubahan sementara dalam sensitivitas insulin) dan hambatan psikologis (stres berhenti merokok dapat memperburuk gula darah jangka pendek). Namun tinjauan ini juga menegaskan bahwa meskipun ada tantangan ini, manfaat berhenti merokok jauh melampaui risiko jangka pendeknya—dengan strategi yang tepat, termasuk dukungan farmakologis dan non-farmakologis.

Jalur Berhenti Merokok di Indonesia

Bagi pembaca yang ingin berhenti merokok atau membantu orang yang dicintai untuk berhenti, Indonesia menyediakan beberapa jalur yang dapat diakses:

Kementerian Kesehatan menyediakan layanan konseling bebas pulsa melalui Quitline.INA di nomor 0-800-177-6565—yang dapat diakses secara gratis. Layanan konseling dan penanganan gejala putus nikotin juga tersedia di puskesmas di seluruh Indonesia. Bagi peserta BPJS Kesehatan, beberapa terapi farmakologis untuk berhenti merokok dapat diakses melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Pendekatan kombinasi—konseling perilaku ditambah farmakoterapi (nicotine replacement therapy atau obat-obatan lain yang diresepkan dokter)—terbukti jauh lebih efektif dibandingkan upaya berhenti merokok sendiri tanpa bantuan.


Kesimpulan: Tidak Ada Batasan Aman untuk Merokok bagi Kesehatan Metabolik

Hubungan antara merokok dan diabetes bukan lagi sekadar hipotesis. Ini adalah bukti ilmiah yang sudah mapan, dengan mekanisme biologis yang jelas dan ditunjang oleh data epidemiologi dari berbagai penjuru dunia. Bagi Indonesia—yang menanggung beban ganda sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok tertinggi sekaligus jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia—memahami keterkaitan ini bukan pilihan, melainkan kebutuhan.

Tidak ada batasan aman merokok dalam kaitannya dengan risiko diabetes. Bahkan perokok ringan berisiko lebih tinggi dibandingkan bukan perokok. Dan bagi penderita diabetes, setiap batang rokok adalah beban tambahan yang membuat tubuh bekerja lebih keras melawan dirinya sendiri.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kasihi merokok, percakapan dengan dokter tentang berhenti merokok adalah investasi kesehatan yang nilainya tidak dapat diukur.


Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, maupun nasihat medis dari dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten. Jika Anda memerlukan bantuan untuk berhenti merokok atau memiliki kekhawatiran tentang kadar gula darah, segera berkonsultasilah dengan dokter atau kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.


Referensi

Adebisi, Y. A., & kolega. (2025). Differential associations between smoking, e-cigarette use, and diabetes prevalence. Diabetes & Metabolic Syndrome, 19, 103331. https://doi.org/10.1016/j.dsx.2025.103331

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI. (2022). Perokok dewasa di Indonesia meningkat dalam sepuluh tahun terakhir: Peluncuran hasil GATS 2021. BKPK Kemenkes RI. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/perokok-dewasa-di-indonesia-meningkat-dalam-sepuluh-tahun-terakhir/

Flor, L. S., & kolega. (2024). Health effects associated with exposure to secondhand smoke: A Burden of Proof study. Nature Medicine, 30, 149–167. https://doi.org/10.1038/s41591-023-02743-4

Jiang, C., & kolega. (2024). Lifestyle modifies the associations of early-life smoking behaviors and genetic susceptibility with type 2 diabetes: A prospective cohort study involving 433,872 individuals from UK Biobank. Diabetes & Metabolic Syndrome, 18, 103090. https://doi.org/10.1016/j.dsx.2024.103090

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan RI. (2024). Perokok aktif di Indonesia tembus 70 juta orang, mayoritas anak muda. Kemenkes RI. https://kemkes.go.id/id/perokok-aktif-di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda

Lim, J. W., & kolega. (2026). Association between smoking behaviours during early pregnancy and the severity of gestational diabetes mellitus: A secondary analysis of prospectively collected cohort data in Korea. BMJ Open, 16. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2025-112308

Mi, N., Liu, M., Meng, C., & Fu, F. (2024). Evaluation of the effects of vitamin D deficiency and cigarette smoking on insulin resistance in type 2 diabetes mellitus: A meta-analysis of randomized controlled trials. Advances in Clinical and Experimental Medicine, 33(7), 679–689. https://doi.org/10.17219/acem/171451

Pemerintah Republik Indonesia. (2024). Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Sekretariat Negara RI.

Rouland, A., & kolega. (2024). Smoking and diabetes. Annales d’Endocrinologie, 85(5), 388–394. https://doi.org/10.1016/j.ando.2024.08.001

Russo, M., & kolega. (2025). Addressing the dual challenge: Managing smoking cessation in patients with diabetes. World Journal of Diabetes, 16(12), 105241. https://doi.org/10.4239/wjd.v16.i12.105241

Wronka, M., & kolega. (2022). The influence of lifestyle and treatment on oxidative stress and inflammation in diabetes. International Journal of Molecular Sciences, 23(24), 15743. https://doi.org/10.3390/ijms232415743

Yang, X., & kolega. (2022). Interaction between smoking and diabetes in relation to subsequent risk of cardiovascular events. Cardiovascular Diabetology, 21, 35. https://doi.org/10.1186/s12933-022-01447-2


Saran tautan internal:

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Menurunkan risiko Diabetes Melitus – Bhyllabus l'énigme Avatar

    […] Merokok dan Diabetes: Ketika Dua Epidemi Indonesia Saling Memperburuk – Bhyllabus l'énig… 2 April 2026 […]

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Memahami Faktor Risiko Diabetes Melitus: Mana yang Bisa Dikendalikan dan Mana yang Tidak? – Bhyllabus l'énigme Batalkan balasan