Seorang anak kelas tiga duduk di bangku paling depan. Ia pintar, guru-gurunya tahu itu. Tapi setiap kali pelajaran dimulai, perhatiannya sudah terbang ke jendela, ke pensil yang diputar-putar, ke suara sepatu teman yang bergeser di lantai. Buku tugasnya penuh coretan tanpa penyelesaian. Orang tuanya lelah, gurunya frustrasi, dan anak itu sendiri tidak mengerti mengapa ia selalu “bermasalah.” Di balik semua itu, ada kemungkinan besar satu kondisi yang belum terdiagnosis: Attention Deficit Hyperactivity Disorder, atau ADHD.
Apa Itu ADHD?
ADHD adalah gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang ditandai oleh pola persisten dari kurangnya perhatian (inattention), hiperaktivitas, dan impulsivitas yang mengganggu fungsi sehari-hari di berbagai konteks kehidupan. Kondisi ini bukan sekadar “anak yang nakal” atau “orang dewasa yang malas.” ADHD memiliki dasar neurologis yang kuat dan dapat berlangsung sepanjang hidup.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, ADHD diklasifikasikan ke dalam tiga presentasi utama: presentasi predominan inattentive (gangguan perhatian), presentasi predominan hiperaktif-impulsif, dan presentasi kombinasi. Sementara itu, International Classification of Diseases edisi ke-11 (ICD-11) yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengadopsi pendekatan dimensional yang lebih transdiagnostik, menyelaraskan ADHD dengan gangguan perkembangan saraf lainnya dan memberi penekanan lebih besar pada penilaian klinis (Cortese et al., 2025).
Seberapa Umum ADHD?
Data terbaru menunjukkan prevalensi ADHD terus meningkat di seluruh dunia. Secara global, prevalensi ADHD pada orang dewasa diperkirakan berkisar antara 2,5 hingga 6 persen, dengan lebih dari separuh diagnosis pada orang dewasa baru ditegakkan setelah mereka melewati usia anak-anak.
Di Indonesia, gambaran epidemiologis ADHD masih bervariasi antar wilayah karena keterbatasan penelitian berskala nasional. Namun beberapa data lokal mulai memberikan gambaran yang lebih jelas. Penelitian oleh Wimbarti dan Kusrohmaniah (2023) yang dilakukan di sekolah dasar menemukan prevalensi anak-anak Indonesia dengan ADHD sebesar 8,09 persen, angka yang berada dalam rentang umum global. Sementara studi berbasis komunitas di sekolah dasar Surabaya menemukan 13,3 persen anak berisiko ADHD berdasarkan instrumen skrining — angka yang lebih tinggi dari prevalensi global, namun masih dalam rentang data Indonesia. Data Badan Pusat Statistik tahun 2021 menyebutkan sekitar 20 persen anak dan remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan jiwa, termasuk ADHD, setara dengan sekitar 16,8 juta individu. Faktor sosial-budaya, stigma, dan keterbatasan akses layanan kesehatan jiwa menjadi hambatan utama dalam diagnosis dan penanganannya.
Apa yang Terjadi di Dalam Otak?
ADHD bukan kondisi yang lahir dari kurangnya disiplin atau pola asuh yang buruk. ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang kompleks dengan etiologi multifaktorial, mencakup faktor genetik, epigenetik, dan lingkungan yang saling berinteraksi dalam memengaruhi perkembangan dan manifestasi kondisi ini.
Sistem dopaminergik — jalur neurokimia yang mengatur motivasi, perhatian, dan kendali impuls — menjadi fokus utama penelitian selama lebih dari empat dekade. Berbagai pendekatan penelitian mulai dari pencitraan otak, farmakologi, neurobiokimia, hingga studi genetik telah meneliti hubungan antara dopamin dan ADHD selama lebih dari 40 tahun. Meskipun sistem dopaminergik terlibat secara tidak langsung dalam beberapa gen risiko ADHD yang paling konsisten ditemukan, asosiasi dengan gen inti yang terlibat dalam sintesis, reseptor, atau transporter dopamin belum sepenuhnya konsisten.
Di sisi lingkungan, paparan prenatal terhadap polutan lingkungan, merokok pada ibu, konsumsi alkohol, stres, serta paparan bahan kimia seperti timbal, toksik, pestisida, dan obat-obatan tertentu termasuk dalam faktor risiko prenatal yang paling sering dikaitkan dengan ADHD.
Diagnosis: Lebih dari Sekadar Kuesioner
Menegakkan diagnosis ADHD bukanlah proses yang sederhana. Diagnosis didasarkan pada penilaian klinis terhadap kriteria DSM-5, bersifat subjektif, tidak ada pemeriksaan darah atau pencitraan yang spesifik, dan mungkin memerlukan observasi berulang serta informasi dari keluarga.
Standar emas diagnosis ADHD saat ini mensyaratkan evaluasi terstruktur dengan berbagai sumber informasi (multi-informant), yang didasarkan pada data objektif dan didukung oleh kerangka klinis yang terstandarisasi. Pada anak, informasi dari orang tua dan guru sangat penting; pada dewasa, diperlukan penelusuran gejala yang sudah ada sejak sebelum usia 12 tahun. Dokter juga perlu menyingkirkan kondisi lain yang dapat menyerupai ADHD, seperti gangguan kecemasan, gangguan belajar, atau gangguan tidur.
Tata Laksana: Pendekatan Multimodal
Tidak ada satu pendekatan tunggal yang cukup untuk menangani ADHD. Bukti ilmiah terkuat mendukung pendekatan multimodal yang mengombinasikan farmakoterapi dan intervensi psikososial.
Farmakoterapi tetap menjadi tulang punggung tata laksana ADHD. Obat-obatan stimulan berbasis metilfenidat atau amfetamin bekerja dengan memodulasi sistem dopaminergik dan noradrenergik. Obat non-stimulan seperti atomoksetin tersedia sebagai alternatif, meskipun umumnya kurang efektif dibandingkan stimulan. Semua pengobatan harus berdasarkan resep dan pemantauan dokter spesialis.
Terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) merupakan intervensi psikososial dengan bukti paling kuat. Sebuah tinjauan sistematis dan network meta-analysis dari berbagai uji coba terkontrol acak menunjukkan bahwa CBT secara signifikan lebih efektif dibandingkan kondisi kontrol dalam jangka pendek maupun jangka panjang untuk mengatasi gejala inti ADHD pada orang dewasa.
Olahraga aerobik kini semakin diakui sebagai intervensi pelengkap yang menjanjikan. Pada populasi ADHD pediatrik, aktivitas aerobik dengan intensitas sedang selama sekitar 20–30 menit terbukti secara konsisten meningkatkan performa pada tugas kognitif yang mengukur atensi dan pengendalian inhibisi, dengan perbaikan yang sering berkorelasi dengan perubahan elektrofisiologis di otak yang menunjukkan alokasi sumber daya atensi yang lebih efisien.
Pendekatan yang menjanjikan lainnya meliputi intervensi berbasis mindfulness, yoga, pelatihan kognitif dan metakognitif, neurofeedback, serta program pelatihan untuk orang tua. Penelitian terkini menganjurkan pendekatan multimodal yang dipadukan dengan akomodasi di lingkungan sekolah atau kerja dan integrasi teknologi inovatif.
ADHD Bukan Akhir dari Segalanya
ADHD adalah kondisi seumur hidup, tetapi bukan berarti tanpa harapan. Dengan diagnosis yang tepat, tata laksana yang komprehensif, serta dukungan yang konsisten dari keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan, individu dengan ADHD dapat berkembang dan meraih potensinya. Yang paling dibutuhkan bukanlah label, melainkan pemahaman — bahwa di balik pikiran yang berlarian kencang itu, ada seseorang yang sedang berjuang keras untuk hadir sepenuhnya di dunia yang bergerak terlalu lambat baginya.
Referensi
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing. https://doi.org/10.1176/appi.books.9780890425596
Cortese, S., Coghill, D., Santosh, P., Simonoff, E., & Zuddas, A. (2025). Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) in adults: Evidence base, uncertainties and controversies. World Psychiatry, 24(1). https://doi.org/10.1002/wps.21374
Kementerian Kesehatan RI. (2015). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/73/2015 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Krause-Utz, A., Frost, R., Yousif, N., Spinhoven, P., Bohus, M., & Stein, D. J. (2024). The dopamine hypothesis for ADHD: An evaluation of evidence accumulated from human studies and animal models. Frontiers in Psychiatry, 15, 1492126. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2024.1492126
Salari, N., Ghasemi, H., Abdoli, N., Rahmani, A., Shiri, M. H., Hashemian, A. H., Akbari, H., & Mohammadi, M. (2023). The global prevalence of ADHD in children and adolescents: A systematic review and meta-analysis. Italian Journal of Pediatrics, 49(1), 48. https://doi.org/10.1186/s13052-023-01456-1
Setiawati, Y., Hartopo, D., Rabitho, F. D., & Chuanardi, W. (2024). Investigating attention deficit hyperactivity disorder symptoms, emotional dysregulation and family functioning in children: A community-based study in elementary schools in Surabaya, Indonesia. Journal of the Korean Academy of Child and Adolescent Psychiatry, 35(4), 250–257. https://doi.org/10.5765/jkacap.240015
Sooknarine, R., & Sherron, M. (2024). Non-pharmacological treatment of attention deficit disorder with or without hyperactivity (ADHD): Overview and report of the first international symposium on the non-pharmacological management of ADHD. L’Encéphale, 50(1). https://doi.org/10.1016/j.encep.2023.07.007
Wang, Y., Zhang, Y., Chen, X., Zhou, Y., & Li, X. (2025). Short-term and long-term effect of non-pharmacotherapy for adults with ADHD: A systematic review and network meta-analysis. Frontiers in Psychiatry, 16, 1516878. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2025.1516878
Wimbarti, S., & Kusrohmaniah, S. (2023). ADHD among Indonesian primary school students: Measurement and prevalence. Journal of Educational, Health and Community Psychology, 12(2), 236–251. https://doi.org/10.12928/jehcp.v12i2.26044
World Health Organization. (2019). International classification of diseases for mortality and morbidity statistics (11th revision). WHO Press. https://icd.who.int/

Tinggalkan komentar