A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Setiap dokter yang pernah jaga IGD pasti pernah berada di posisi yang saya sebut “moment of pause“. Pasien datang berjalan kaki, tanda vital stabil, sadar penuh — secara klasifikasi triase ia jelas hijau. Tapi ada sesuatu di gambaran kliniknya yang membuat saya tidak nyaman melepasnya pulang. Mungkin usianya 78 tahun dengan riwayat antikoagulan. Mungkin keluhan “kepala pusing” yang ringan itu disertai gerakan mata yang tidak halus. Mungkin demam ringan pada bayi tiga bulan — angka termometer yang tampak biasa di rekam medis tapi berbahaya di tangan kuyu balita.

Saya ingin merawat-inapkannya untuk observasi. Bukan karena saat ini ia butuh resusitasi, tapi karena pengalaman dan literatur mengajari saya bahwa pasien-pasien tertentu, walau secara triase tampak hijau, memiliki potensi deterioration yang tidak boleh diabaikan dalam 12–24 jam ke depan.

Lalu pertanyaan administratif menyusul: apakah penjamin akan menerima keputusan ini sebagai indikasi gawat darurat yang sah? Apakah dokumentasi saya cukup kuat untuk justifikasi klaim?

Inilah yang saya sebut sebagai flag hijau — kategori yang tidak tertulis eksplisit di banyak pedoman triase lokal, tapi setiap dokter IGD secara intuitif tahu apa yang dimaksud.

Mengubah Intuisi Menjadi Dokumen Resmi

Beberapa minggu terakhir saya bermain-main dengan ide untuk menuangkan “intuisi flag hijau” ini menjadi sesuatu yang lebih konkret: sebuah pedoman tertulis yang bisa berlaku di IGD tempat saya bekerja, sebuah RS swasta umum di salah satu kota kecil di Jawa Tengah. Pedoman yang — andai sukses ditetapkan — bisa berfungsi tiga lapis sekaligus.

Pertama, secara klinis, ia membantu standardisasi pengambilan keputusan tim triase. Petugas yang baru bertugas bisa menggunakan daftar indikator pemburukan sebagai alat skrining sistematis, alih-alih sepenuhnya bergantung pada pengalaman senior.

Kedua, secara administratif, ia menyediakan kerangka dokumentasi untuk justifikasi rawat inap pada pasien dengan flag hijau. Ini terutama penting dalam pemetaan ke kriteria gawat darurat versi Permenkes No. 47 Tahun 2018 Pasal 3 ayat (2) huruf e — “memerlukan tindakan segera” — yang sering menjadi celah perdebatan dengan verifikator klaim.

Ketiga, secara akademik, ia bisa menjadi living document yang diperbarui mengikuti standar terkini, mulai dari ATLS edisi terbaru, AHA/ASA, ACC/AHA, FCCS, sampai KMK 1596/2024 yang menjadi acuan akreditasi RS terbaru.

Persoalannya: menulis pedoman seperti ini dari nol bukan pekerjaan satu malam. Format Tata Naskah RS punya struktur sendiri (Peraturan Direktur sebagai sampul, lampiran berformat Pedoman dengan lima BAB baku). Konten kliniknya harus konsisten lintas kelompok usia — bayi baru lahir, balita, anak prasekolah, anak usia sekolah, remaja, dewasa muda, dewasa, lansia, ibu hamil, pasca henti jantung — dengan rujukan literatur masing-masing. Indikator pemburukan harus dijabarkan per sistem organ. Tabel-tabel berwarna harus rapi dan terbaca. Konsiderans hukum harus akurat: UU 17/2023, Permenkes 47/2018, Perpres 82/2018, KMK 1596/2024, dan seterusnya.

Estimasi kasar saya: kalau dikerjakan sendiri di sela jadwal jaga, paling cepat dua minggu. Lebih realistis: sebulan lebih.

Lalu Saya Mencoba Sesuatu yang Berbeda

Sore itu saya duduk di depan laptop dengan satu file Excel di tangan. File itu berisi 48 baris × 7 kolom: kriteria triase merah/kuning/hijau lintas kelompok usia, indikator pemburukan dini, rekomendasi tindakan — semua sudah saya kompilasi dari pedoman-pedoman internasional terkini. Saya juga punya satu PDF lain: Pedoman Tata Naskah RS yang berlaku tahun ini, lengkap dengan format Peraturan Direktur dan format Pedoman pelayanan.

Saya buka percakapan dengan asisten AI yang biasa saya gunakan untuk diskusi — kali ini dengan tugas yang jauh lebih ambisius daripada sekadar “ringkaskan artikel ini”. Saya unggah dua dokumen tadi, lalu menjelaskan apa yang saya inginkan: sebuah pedoman triase IGD lengkap, mengikuti format Tata Naskah RS, memuat klasifikasi triase per kelompok usia, dan — ini yang paling saya tekankan — daftar komprehensif indikator flag hijau sebagai dasar justifikasi rawat inap.

Yang terjadi selanjutnya cukup mengejutkan saya.

Bagaimana AI Bekerja, dan di Mana Ia Tidak Bisa Bekerja

AI membaca tabel Excel saya — mengenali struktur kolom, kelompok usia, dan referensi sumber. Ia membaca PDF Tata Naskah — mengenali format kop RS, struktur konsiderans Peraturan Direktur, urutan BAB di Pedoman pelayanan, bahkan margin halaman dan jenis huruf yang harus dipakai. Lalu ia mulai menyusun dokumen.

Yang membuat saya kagum bukan kecepatannya — itu sudah bisa diduga. Yang membuat saya kagum adalah ketelitiannya pada hal-hal yang mudah luput dari perhatian manusia. Konsiderans Peraturan Direktur, misalnya: ia tidak hanya mengutip dasar hukum yang jelas seperti UU 44/2009 tentang Rumah Sakit, tapi juga mengingatkan saya untuk memasukkan KMK 1596/2024 — dokumen Standar Akreditasi yang baru terbit dan menjadi acuan AKP 1.1, klausul yang justru mensyaratkan triase berbasis bukti.

Untuk bagian flag hijau, AI mengusulkan pengelompokan ke dalam dua belas sistem organ: respirasi, kardiovaskular, neurologi, infeksi/sepsis, gastrointestinal, ginjal/endokrin, hematologi/onkologi, trauma occult, geriatri, pediatri, obstetri, dan toksikologi. Setiap sistem dijabarkan menjadi 5–7 indikator klinis spesifik. Total mendekati 70 contoh kondisi. Beberapa awalnya saya kira berlebihan, tapi setelah saya pertimbangkan ulang, semua punya logika kliniknya. Demam pada bayi ❤ bulan — itu bendera sepsis okult. Trauma kepala minor pada pasien antikoagulan — itu risiko delayed intracranial bleeding. Sengatan listrik — itu potensi aritmia tertunda hingga 24 jam setelah paparan.

Hasil akhirnya: dokumen Microsoft Word, 300 paragraf, 12 tabel berwarna, lima BAB lengkap dengan Peraturan Direktur sebagai sampul. Ditambah satu bonus yang kemudian saya minta: formulir checklist satu halaman ukuran A3 landscape, format PDF, untuk dipakai harian oleh petugas triase di IGD. Bagian identitas pasien, primary survey ABCDE, kotak kategori triase berwarna, daftar indikator flag hijau per sistem organ, sampai kotak tanda tangan tiga pihak — semua dalam selembar.

Total waktu pengerjaan dari mulai hingga PDF checklist selesai: kurang dari satu sore.

Tapi Tunggu Dulu — Ini Bukan Cerita tentang AI Menggantikan Dokter

Saya ingin berhati-hati di sini, karena kalau saya berhenti di paragraf di atas, kesannya akan keliru.

AI tidak menulis pedoman ini sendirian. AI menulis draft. Itu berbeda jauh artinya.

Hampir setiap baris klinis dalam dokumen itu — setiap angka cut-off, setiap definisi operasional, setiap pemetaan ke regulasi — berangkat dari pengetahuan dan pengalaman saya, dipadukan dengan literatur yang saya kompilasi sebelum percakapan dimulai. Tabel Excel awal yang saya unggah itu adalah hasil pekerjaan beberapa minggu membaca jurnal dan pedoman; AI tidak menciptakan kontennya. AI mengorganisasinya.

Lebih penting lagi: dokumen tersebut, secanggih apa pun tampilannya, bukan regulasi yang berlaku. Ia adalah draft. Working document. Naskah yang masih harus melewati banyak meja sebelum bisa digunakan secara sah di IGD.

Jalan Panjang Sebuah Draft Sebelum Menjadi Regulasi

Saya pikir penting untuk eksplisit di titik ini, karena kekhawatiran saya yang paling besar tentang penggunaan AI di sektor kesehatan adalah ketika ia bypass mekanisme tata kelola klinis yang ada.

Maka inilah peta jalan yang masih harus dilalui draft pedoman ini.

Pertama: diskusi sejawat IGD. Saya akan membawa draft ini ke teman-teman dokter IGD dan perawat senior. Mereka yang setiap hari berhadapan dengan pasien akan menemukan hal-hal yang luput dari saya: indikator yang terlalu sensitif (akan membanjiri rawat inap), indikator yang terlalu spesifik (akan melewatkan kasus berbahaya), redaksi yang ambigu, alur yang tidak praktis di lapangan. Diskusi ini bisa memakan beberapa kali pertemuan. Tidak ada shortcut.

Kedua: pengajuan ke Komite Medis. Setelah revisi internal IGD, draft akan diajukan ke Komite Medis untuk peer review formal. Di sini, dokter spesialis dari berbagai bidang — penyakit dalam, bedah, anak, obgyn, anestesi — akan menelaah dari sudut pandang masing-masing. Mungkin ada bagian yang perlu disesuaikan dengan kapasitas RS yang sebenarnya. Mungkin ada referensi yang perlu diperkuat atau diperbarui.

Ketiga: penetapan oleh Direksi. Setelah Komite Medis memberi persetujuan, baru direksi bisa menetapkan dokumen ini sebagai Peraturan Direktur — pintu legal yang membuatnya berlaku sebagai regulasi internal RS.

Keempat: sosialisasi dan pelatihan. Pedoman tertulis hanyalah selembar kertas kalau tidak diinternalisasi oleh tim. Sosialisasi, role play, dan audit awal adalah bagian implementasi yang sama pentingnya dengan penyusunan dokumennya sendiri.

Kelima: evaluasi berkala. Pedoman ini — bila pun nanti ditetapkan — bukan dokumen mati. Akan ada evaluasi periodik, revisi berdasarkan data audit klinis, dan pembaruan mengikuti regulasi nasional atau guideline internasional yang berkembang.

Jadi kalau Anda kebetulan rekan sejawat di IGD tempat saya bekerja dan kebetulan membaca tulisan ini — mohon jangan membuka dokumen itu lalu langsung memakainya untuk pasien. Itu bukan pedoman. Itu masih usulan.

Refleksi: AI sebagai Mitra, Bukan Pengganti

Yang saya pelajari dari sore itu adalah ini: AI sangat baik dalam encoding — menerjemahkan pengetahuan dan keputusan klinis yang sudah saya bawa ke dalam struktur dokumen formal yang biasanya makan waktu berminggu-minggu. AI buruk dalam epistemology — menentukan apa yang benar secara klinis di konteks lokal yang spesifik. Yang pertama adalah pekerjaan tukang. Yang kedua adalah pekerjaan dokter.

Mungkin di sinilah ke depan letak pembagian kerja yang sehat antara saya dan asisten saya. Saya membawa pengalaman, judgment, konteks pasien dan rumah sakit. AI membawa kapasitas mengolah dokumen, konsistensi format, dan kecepatan. Kombinasi itu — bila dipakai dengan disiplin — bisa membebaskan waktu saya untuk hal-hal yang sebetulnya hanya bisa dikerjakan manusia: berbicara dengan sejawat, mendengar masukan perawat, mengamati pasien, dan — dalam kasus pedoman ini — memastikan bahwa setiap keputusan klinis yang tertuang dalam dokumen punya pijakan kokoh dan disepakati bersama.

Pedoman triase ini akan saya bawa ke ruang diskusi minggu depan. Mungkin akan banyak yang dipangkas. Mungkin akan banyak yang ditambah. Mungkin saya akan kembali ke meja dengan ego yang sedikit lebih kecil daripada saat saya menyelesaikan draft ini sore tadi — dan itu hal yang bagus.

Karena pada akhirnya, triase di IGD bukan tentang dokumen yang sempurna. Ia tentang keputusan-keputusan kecil yang dibuat dalam hitungan menit, di lorong yang ramai, oleh tim yang kelelahan namun tetap peduli. Pedoman hanyalah peta. Yang berjalan di lapangan tetap manusia.

Fediverse Reactions

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar