Di luar lapangan, jauh setelah sorak penonton dan lampu stadion padam, sebagian atlet menyimpan warisan yang tidak terlihat di dalam kepala mereka. Mereka yang pernah meraih trofi, yang namanya diukir di papan skor, kini perlahan-lahan kehilangan nama tetangga mereka sendiri. Yang dulu mengendalikan permainan dengan ketenangan baja kini meledak dalam kemarahan tanpa sebab yang jelas. Ini bukan sekadar penuaan biasa. Ini adalah CTE — dan sains baru mulai mengungkap betapa seriusnya masalah ini.
Dari Petinju Limbung ke Krisis Global: Sejarah Singkat CTE
Chronic traumatic encephalopathy (CTE) pertama kali dilaporkan pada tahun 1928 oleh seorang patologis yang menggambarkan deteriorasi neurologis progresif — yang ia sebut ‘punch drunk’ — pada petinju yang mengalami trauma otak berulang. Kondisi itu lantas dikenal juga dengan istilah dementia pugilistica, merujuk pada pugil dalam bahasa Latin yang berarti petinju.
Namun perhatian dunia medis modern benar-benar tersengat ketika pada tahun 2005, Dr. Bennet Omalu mempublikasikan temuannya dari otopsi bintang American football Mike Webster — pemain Pittsburgh Steelers — dan CTE pun menjadi topik yang diperbincangkan luas. Popularitas kondisi ini makin meningkat setelah film Concussion (2015) yang dibintangi Will Smith menceritakan kembali kisah penemuan Dr. Omalu.
Sejak saat itu, penelitian berlipat ganda. Selama 17 tahun terakhir, terdapat peningkatan yang luar biasa dalam penelitian ilmiah mengenai CTE. Ratusan atlet olahraga kontak dan individu lainnya kini telah didiagnosis dengan CTE melalui pemeriksaan pascamortem.
Apa Sebenarnya yang Terjadi di Dalam Otak?
CTE adalah gangguan neurodegeneratif progresif yang umumnya ditemukan pada individu yang terlibat dalam olahraga kontak atau dinas militer. Kondisi ini ditandai oleh atrofi regional, pelebaran ventrikel otak (ventrikulomegali), dan pengendapan neurofibrillary tangles serta neuropil threads — yang semuanya membentuk suatu jenis tauopathy yang khas.
Tauopathy? Mari kita sederhanakan. Protein tau pada otak yang sehat berfungsi seperti rel yang menstabilkan struktur internal sel saraf. Setelah trauma, protein ini mengalami hiperfosforilasi — berubah bentuk dan menggumpal menjadi neurofibrillary tangles. Pada CTE, akumulasi tau yang abnormal ini ditemukan dalam pola khas, terpusat di sekitar pembuluh darah kecil dan terkonsentrasi di kedalaman sulkus serebral.
Yang membuat CTE berbeda dari penyakit Alzheimer maupun kondisi tauopathy lainnya adalah keunikan letak lesi tersebut. Model komputasi 3D dan finite element memprediksi lokasi perivaskuler dan sulkal dari patologi p-tau ini, karena daerah otak tersebut mengalami deformasi mekanis terbesar selama cedera benturan kepala.

Yang lebih mengkhawatirkan: trauma pemicunya bukan hanya gegar otak yang dramatis dan langsung terasa. Bahaya yang lebih besar justru berasal dari benturan subkoncusif yang berulang — dampak yang lebih kecil dan tidak langsung menimbulkan gejala. Petinju mengumpulkan ribuan benturan semacam ini selama sesi sparring dan karier panjang mereka, dan trauma tingkat rendah yang berulang inilah yang diyakini sebagai pendorong utama patologi CTE.
Siapa yang Paling Berisiko?
Gambaran awal CTE terbatas pada dunia tinju, namun kini risikonya diketahui jauh lebih luas. CTE kini telah didiagnosis pada atlet olahraga kontak yang berpartisipasi dalam American football, ice hockey, sepak bola, tinju, rugby union, serta Australian Rules football. Tak hanya itu, CTE dan traumatic encephalopathy syndrome (TES) juga telah muncul sebagai pertimbangan kesehatan serius pada abad ke-21 dalam konteks konkusi dan cedera otak traumatik, termasuk di kalangan personel militer.
Data prevalensi terbaru menyajikan gambaran yang mengkhawatirkan. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis tahun 2025 yang melibatkan 1.000 mantan atlet olahraga kontak — mencakup berbagai studi dari Januari 2015 hingga Juli 2024 — menemukan bahwa prevalensi CTE secara keseluruhan mencapai 53,7%. Analisis subkelompok mengungkapkan bahwa pemain rugby memiliki prevalensi tertinggi (64,7%), diikuti oleh pemain American football (53,0%). Berdasarkan tingkat partisipasi, prevalensi diperkirakan 44,1% pada atlet amatir dan 72,8% pada atlet elite.
Angka dari kelompok spesifik lebih mencolok lagi: pusat penelitian CTE Boston University melaporkan telah mempelajari otak 376 mantan pemain NFL dan menemukan CTE pada 91,7% di antaranya. Peneliti juga menemukan bahwa setiap tahun tambahan bermain ice hockey meningkatkan risiko CTE sebesar 23%.
Gejala: Lebih dari Sekadar “Pikun Dini”
Manifestasi klinis CTE tidak sesederhana gangguan memori belaka. Gambaran klinis CTE mencakup gangguan pada suasana hati (misalnya depresi dan perasaan tanpa harapan), perilaku (misalnya ledakan emosi dan kekerasan), kognisi (misalnya gangguan memori, fungsi eksekutif, perhatian, dan demensia), serta — lebih jarang — fungsi motorik.
Kriteria diagnostik klinis yang diusulkan Montenegro dkk. mencakup simtomatologi kognitif, perilaku, dan suasana hati sebagai tiga elemen inti, ditambah sembilan fitur pendukung lainnya yang meliputi impulsivitas, kecemasan, apati, paranoia, kecenderungan bunuh diri, sakit kepala, tanda-tanda motorik, penurunan yang terdokumentasi, dan onset yang tertunda.
Komunitas medis membedakan antara kondisi patologis (yang hanya bisa dikonfirmasi pascamortem) dengan kondisi klinis yang disebut traumatic encephalopathy syndrome (TES). Kriteria penelitian untuk TES telah direvisi pada tahun 2021, dan mensyaratkan paparan “substansial” terhadap benturan kepala berulang dari olahraga kontak, dinas militer, atau penyebab lainnya untuk memenuhi syarat diagnosis.
Tantangan Terbesar: Diagnosis Hanya Bisa Dipastikan Setelah Meninggal
Inilah paradoks paling menyedihkan dalam dunia CTE. Saat ini, belum ada kriteria diagnostik klinis yang telah ditetapkan untuk CTE, sehingga pemeriksaan neuropatologis pascamortem menjadi esensial untuk diagnosis. Tanda patologis CTE adalah adanya agregat p-tau neuronoperivaskular pada kedalaman sulkus kortikal.
Upaya untuk mendiagnosis CTE pada pasien yang masih hidup terus dilakukan melalui berbagai modalitas neuroimaging. Studi MRI anatomikal dan PET-FDG pada peserta yang berisiko CTE menunjukkan pola neurodegenerasi frontotemporal dan medial temporal, sementara mantan atlet American football elite memiliki beban lesi white matter yang lebih tinggi pada pemeriksaan FLAIR.
Pengembangan tracer PET khusus untuk CTE pun sedang berlangsung intensif. Sebuah perkembangan yang sangat menjanjikan baru saja dipresentasikan pada Society of Nuclear Medicine and Molecular Imaging Annual Meeting 2026: pendekatan PET imaging kelas pertama menggunakan radiotracer 18F-OXD-2314 mampu mendeteksi biomarker CTE secara akurat. Dibandingkan dengan kontrol sehat, gambar dari individu dengan dugaan CTE menunjukkan peningkatan uptake di persimpangan gray-white matter dan white matter. Konfirmasi pascamortem menunjukkan sinyal tracer ini terikat pada patologi tau pada jaringan CTE manusia — memberikan potensi untuk mendiagnosis pasien saat masih hidup.
Selain PET, biomarker darah juga mulai menunjukkan harapan. Sebuah studi terkini mengevaluasi plasma p-tau217 sebagai kandidat biomarker CTE pada 180 mantan pemain sepak bola pria (120 profesional, 60 kampus) dan 56 pria asimtomatik tanpa paparan benturan kepala berulang sebagai kontrol — memberikan landasan awal yang menjanjikan untuk pengembangan tes darah non-invasif di masa depan.
Pencegahan: Satu-Satunya Intervensi yang Terbukti
Karena tidak ada pengobatan yang tersedia untuk CTE, pencegahan menjadi satu-satunya strategi bermakna. Ini berarti mengurangi paparan terhadap benturan kepala berulang — baik yang simtomatik maupun yang tidak terasa sama sekali. Sebuah pernyataan ilmiah penting menegaskan bahwa istilah ‘subkonsusif‘ adalah misnomer yang berbahaya: benturan dengan magnitudo lebih besar dari dampak konkusif pun mungkin tidak menimbulkan gejala, namun tetap berpotensi merusak. Artinya, tidak merasakan gejala setelah benturan bukan berarti otak aman.
Langkah-langkah pencegahan yang didukung bukti mencakup: pembatasan jumlah kontak kepala dalam latihan (khususnya pada atlet muda), penundaan usia masuk ke olahraga kontak tackle, penegakan protokol konkusi yang ketat, pengembangan peralatan helm yang lebih protektif, dan perubahan aturan permainan untuk mengurangi benturan kepala berbahaya.
Refleksi: Di Balik Gemerlap Olahraga Kontak
CTE mengingatkan kita bahwa ada harga biologis yang sering kali tersembunyi di balik keberanian seorang atlet. Pertanyaan yang kini mendesak bukan sekadar “seberapa sering ini terjadi?” melainkan “seberapa dini kita bisa mendeteksinya dan siapa yang bertanggung jawab untuk mencegahnya?”
Seiring dengan radiotracer PET generasi baru dan biomarker darah yang sedang dikembangkan, harapan untuk diagnosis in vivo yang akurat semakin nyata. Namun selama jendela diagnostik itu belum terbuka lebar, satu hal yang paling bisa kita lakukan adalah melindungi kepala — terutama kepala anak-anak yang otaknya masih berkembang — dari benturan yang berulang-ulang, sekecil apa pun dampaknya terasa.
Daftar Referensi
Affleck, A. J., Suter, C. M., Cropley, J. E., Pearce, A. J., & Buckland, M. E. (2025). The neuropathology of chronic traumatic encephalopathy. Pathology, 57(2), 248–252. https://doi.org/10.1016/j.pathol.2024.12.387
Beran, R. G. (2023). Editorial: Multidisciplinary approaches to diagnosis and management of traumatic encephalopathy syndrome (TES). Frontiers in Neurology, 14, 1254333. https://doi.org/10.3389/fneur.2023.1254333
Inserra, C. J., & DeVrieze, B. W. (2024). Chronic traumatic encephalopathy. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK541013/
Katz, D. I., Bernick, C., Dodick, D. W., Mez, J., Mariani, M. L., Adler, C. H., Alosco, M. L., Balcer, L. J., Banks, S. J., Barr, W. B., Brody, D. L., Cantu, R. C., Dams-O’Connor, K., Geda, Y. E., Jordan, B. D., McAllister, T. W., … Stern, R. A. (2021). National Institute of Neurological Disorders and Stroke consensus diagnostic criteria for traumatic encephalopathy syndrome. Neurology, 96(18), 848–863. https://doi.org/10.1212/WNL.0000000000011850
McKee, A. C., Stein, T. D., Huber, B. R., Crary, J. F., Bieniek, K., Dickson, D., Alvarez, V. E., Cherry, J. D., Farrell, K., Butler, M., Uretsky, M., Abdolmohammadi, B., Alosco, M. L., Tripodis, Y., Mez, J., & Daneshvar, D. H. (2023). Chronic traumatic encephalopathy (CTE): criteria for neuropathological diagnosis and relationship to repetitive head impacts. Acta Neuropathologica, 145(4), 371–394. https://doi.org/10.1007/s00401-023-02540-w
Nowinski, C. J., Rhim, H. C., McKee, A. C., Zafonte, R. D., Dodick, D. W., Cantu, R. C., & Daneshvar, D. H. (2024). ‘Subconcussive’ is a dangerous misnomer: hits of greater magnitude than concussive impacts may not cause symptoms. British Journal of Sports Medicine, 58(14), 754–756. https://doi.org/10.1136/bjsports-2023-107413
Qi, [nama depan]. (2025). Prevalence of chronic traumatic encephalopathy in athletes with repetitive head impacts: A systematic review and meta-analysis. Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports, 35, e70047. https://doi.org/10.1111/sms.70047
Stern, R. A., Adler, C. H., Chen, K., Navitsky, M., Luo, J., Dodick, D. W., Alosco, M. L., Tripodis, Y., Goradia, D. D., Martin, B., Mastroeni, D., Fritts, N. G., Jarnagin, J., Shenton, M. E., Reiman, E. M., & Bhupinder, S. (2019). Tau positron-emission tomography in former National Football League players. New England Journal of Medicine, 380(18), 1716–1725. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1900757
Catatan: Artikel ini ditujukan untuk keperluan edukasi dan informasi publik. Konsultasikan dengan tenaga medis profesional untuk evaluasi klinis.

Tinggalkan komentar