Seorang ibu membawa bayinya yang berusia delapan bulan ke klinik karena merasa ada yang berbeda ketika mengganti popok — paha kanan sang bayi tampak tidak dapat dibuka selebar paha kiri, dan lipatan paha terlihat tidak simetris. Dokter yang memeriksa menemukan tanda yang mengkhawatirkan. Setelah pemeriksaan lanjutan, diagnosis ditegakkan: developmental dysplasia of the hip (DDH), atau displasia perkembangan panggul. Inilah salah satu kelainan ortopedi paling umum pada bayi, sekaligus salah satu yang paling sering terlambat dikenali.
Apa Itu DDH?
Developmental dysplasia of the hip (DDH) adalah kondisi sendi panggul yang paling umum pada bayi dan mencakup spektrum luas kelainan sendi panggul — mulai dari ketidakstabilan ringan, subluksasi (sendi yang tergelincir sebagian), hingga dislokasi penuh akibat kelonggaran kapsul sendi dan ketidakstabilan mekanik. Kondisi ini bukan sekadar satu diagnosis tunggal, melainkan sebuah kontinum: pada ujung yang ringan, rongga panggul (acetabulum) kurang berkembang sempurna namun sendi masih stabil; pada ujung yang berat, kepala tulang paha (femoral head) sama sekali terlepas dari rongganya.
DDH mencakup beberapa kelainan panggul, termasuk ketidakstabilan, displasia asetabulum, subluksasi, dan dislokasi. Kelainan ini umumnya terjadi pada anak tanpa kondisi komorbid atau penyakit lain yang mendasarinya. Sebagian kasus dapat membaik sendiri, namun kasus lainnya memerlukan intervensi dini untuk mencegah komplikasi di usia dewasa.
Seberapa Umum Kondisi Ini?
DDH adalah kondisi pediatri yang umum, memengaruhi 1–3% bayi baru lahir di seluruh dunia. Namun angka ini sangat bervariasi bergantung pada metode diagnosis yang digunakan dan populasi yang diteliti. Angka kejadian ketidakstabilan panggul klinis pada neonatus berkisar antara 0,4 per 1.000 di populasi Afrika hingga 61,7 per 1.000 pada Kaukasia Polandia. Di Asia, sebuah studi berbasis skrining ultrasonografi di Tiongkok menemukan insidensi DDH sebesar 1,19% pada bayi usia 4–6 minggu dari 9.803 bayi yang diperiksa, dengan keterlibatan panggul kiri lebih dominan dibandingkan kanan.
Siapa yang Paling Berisiko?
Tidak semua bayi memiliki risiko yang sama. Faktor risiko paling signifikan untuk DDH adalah posisi sungsang pada trimester ketiga kehamilan dan riwayat keluarga dengan displasia panggul. Kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi perempuan.
Studi epidemiologi dari Inggris memperkuat hal ini: jenis kelamin perempuan (OR 7,2), presentasi bokong (OR 24,3), riwayat keluarga positif (OR 15,9), serta kehamilan pertama atau kedua (OR 1,8) terkonfirmasi sebagai faktor risiko signifikan. Persalinan pervaginam dan kehamilan lewat bulan juga meningkatkan risiko DDH.
Satu faktor risiko yang sering luput dari perhatian, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, adalah praktik bedong (swaddling) tradisional. Teknik bedong tradisional yang melibatkan pembebatan ketat dengan kaki dalam posisi lurus dan pinggul dalam posisi ekstensi serta adduksi terbukti meningkatkan risiko DDH. Praktik ini berbeda dengan bedong yang direkomendasikan secara medis — yang tetap memberikan ruang bagi pinggul untuk tertekuk dan terbuka ke samping (posisi katak). Bedong tradisional yang melibatkan imobilisasi kaki bayi secara paksa dalam posisi ekstensi dan adduksi telah terbukti sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk DDH, dan kesadaran akan hal ini perlu ditingkatkan di kalangan tenaga kesehatan.

Mengapa Sering Terlambat Dikenali?
DDH pada bayi sangat jarang menimbulkan rasa sakit. Bayi tidak menangis kesakitan, dan sendi yang menyimpang pun tidak terlihat secara kasat mata. Ketika DDH tidak terdeteksi selama masa bayi, gejala mungkin baru muncul pada masa remaja — suatu kondisi yang disebut sebagai late-diagnosed dysplasia.
Pemeriksaan fisik standar memiliki keterbatasan. Sensitivitas skrining klinis berkisar antara 18,5% hingga 62%, meskipun spesifisitasnya secara konsisten di atas 99%. Artinya, banyak kasus DDH yang “lolos” dari pemeriksaan fisik semata. Diagnosis terlambat DDH dapat mengakibatkan pincang dan berjalan dengan ujung kaki. Diagnosis dini dan penanganan non-bedah penting untuk mengurangi risiko nekrosis avaskular, lama perawatan, osteoartritis, dan biaya pengobatan.
Bagaimana DDH Didiagnosis?
Diagnosis didasarkan pada manuver pemeriksaan fisik yang sesuai usia dan pemeriksaan pencitraan. Manuver Ortolani dan Barlow adalah teknik pemeriksaan fisik yang direkomendasikan untuk skrining bayi hingga usia 3 bulan. Ultrasonografi adalah modalitas pencitraan yang lebih disukai untuk mengevaluasi bayi yang lebih muda, sedangkan foto rontgen lebih dipilih setelah usia 4 bulan.
Manuver Ortolani bertujuan mereduksi kepala femur yang subluksasi kembali ke rongga asetabulum — terasa sebagai “klik” atau “bunyi klem” saat pinggul diabduksikan. Manuver Barlow sebaliknya: menilai apakah kepala femur dapat digeser keluar dari rongga. Kedua manuver ini sebaiknya dilakukan oleh tenaga terlatih karena teknik yang salah dapat memberikan hasil negatif palsu.
Ultrasonografi panggul metode Graf memungkinkan penilaian kuantitatif terhadap kematangan tulang rawan asetabulum dan posisi kepala femur — membagi DDH ke dalam tipe I (normal) hingga tipe IV (dislokasi penuh). Sonografi meningkatkan akurasi diagnostik dan memengaruhi penatalaksanaan hingga 32% kasus.
Penanganan: Waktu Adalah Segalanya
Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang seperti displasia residual, nekrosis avaskular, dan osteoartritis.
Pada bayi di bawah enam bulan, pilihan utama adalah Pavlik harness — sebuah alat ortosis yang mempertahankan pinggul dalam posisi fleksi dan abduksi sehingga kepala femur terdorong kembali ke rongga asetabulum dan menstimulasi perkembangan sendi yang normal. Studi menunjukkan tingkat keberhasilan hingga 90% ketika pengobatan dimulai sebelum usia tiga bulan, berkat kemampuan harness untuk memposisikan pinggul dalam fleksi dan abduksi sehingga memfasilitasi remodeling alami asetabulum.
Sebuah studi jangka panjang dari Austria dengan follow-up hingga lebih dari satu dekade mencatat hasil yang sangat memuaskan: terapi konservatif DDH dengan Pavlik harness menunjukkan keberhasilan terapeutik yang sangat baik dengan tingkat displasia residual yang sangat rendah (2,81%), tanpa ditemukan nekrosis avaskular, dan tidak ada pasien yang mengalami nyeri panggul yang membatasi aktivitas sehari-hari.
Keterlambatan diagnosis mempersulit penanganan secara signifikan. Ketika DDH baru terdeteksi setelah usia enam bulan, efektivitas Pavlik harness menurun dan prosedur yang lebih invasif mungkin diperlukan — mulai dari reduksi tertutup dengan spica cast hingga operasi terbuka. Penanganan DDH yang berhasil bertujuan mencapai reduksi yang stabil dan konsentris untuk mencegah subluksasi atau dislokasi di kemudian hari.
Dampak Jangka Panjang yang Tidak Boleh Diabaikan
DDH yang tidak tertangani atau terlambat ditangani bukan sekadar masalah masa bayi. Displasia panggul dapat menyebabkan penyakit sendi degeneratif dan merupakan penyebab utama artritis dini pada panggul. Remaja dan dewasa muda dengan DDH yang terlewat pada masa bayi seringkali datang dengan nyeri panggul kronik, gangguan gait, dan kualitas hidup yang menurun — kondisi yang pada akhirnya berujung pada penggantian sendi total di usia yang jauh lebih muda dari seharusnya.
DDH adalah sumber morbiditas yang berpotensi dapat dicegah sepanjang masa anak hingga dewasa. Meski telah ada kemajuan selama satu abad terakhir, masih terdapat variasi luas dalam kebijakan, praktik, dan luaran antar negara.
Pesan untuk Orang Tua dan Tenaga Kesehatan
DDH adalah kondisi yang sangat dapat ditangani jika ditemukan tepat waktu. Pemeriksaan panggul pada setiap kunjungan neonatal dan bayi muda seharusnya menjadi rutinitas yang tidak terlewatkan. Orang tua perlu menghindari praktik bedong tradisional yang memaksa kaki bayi dalam posisi lurus dan rapat, dan beralih ke healthy hip swaddling — membedong tubuh atas bayi dengan tetap memberi kebebasan bagi kaki untuk bergerak dalam posisi menekuk dan terbuka.
Ketika ada kekhawatiran — asimetri lipatan paha, kesulitan membuka kaki bayi, atau bunyi “klik” saat pemeriksaan — rujukan segera ke spesialis ortopedi anak adalah langkah yang tepat. Dalam kasus DDH, setiap minggu yang terlewat adalah peluang pengobatan yang menghilang.
Referensi
Gahleitner, M., Pisecky, L., Gotterbarm, T., Högler, W., Luger, M., & Klotz, M. C. (2024). Long-term results of developmental hip dysplasia under therapy with Pavlik harness. Journal of Pediatric Orthopaedics, 44(3), 135–140. https://doi.org/10.1097/BPO.0000000000002575
Martínez-Quintana, E., & Rodríguez-González, F. (2024). Incidence of risk factors in developmental dysplasia of the hip: A retrospective study on 18,954 cases. Journal of Orthopaedic Surgery and Research. https://doi.org/10.1177/02841851241249088
Mulder, F. E. C. M., van Kouswijk, H. W., Witlox, M. A., Mathijssen, N. M. C., & de Witte, P. B. (2025). An overview and quality assessment of European national guidelines for screening and treatment of developmental dysplasia of the hip. Children, 12(9), 1177. https://doi.org/10.3390/children12091177
Narayanan, U., & Mulpuri, K. (2025). Developmental dysplasia of the hip. American Family Physician, 112(5), 546–552.
Ogden, J. A. (2014). The epidemiology and demographics of hip dysplasia. ISRN Orthopedics, 2014, 238936. https://doi.org/10.1155/2014/238936
Perry, D. C., Achten, J., Knight, R., Appelbe, D., Dutton, S. J., Kearney, R. S., Lamb, S. E., Lemer, C., Parsons, N., & Costa, M. L. (2019). Epidemiology of developmental dysplasia of the hip within the UK: Refining the risk factors. Bone & Joint Open, 1(1), 2–8. https://doi.org/10.1302/2633-1462.11.BJO-2019-0001
Salter, O., White, D., Minhas, T., & Thompson, S. (2025). A systematic review on neonatal screening and orthopaedic management of developmental dysplasia of the hip through a synthesis of diagnostic yield and Pavlik harness outcomes. Journal of Neonatal Surgery, 14(2). https://doi.org/10.21699/jns.v14i2.5223
Tamás, P., Kovács, T., Bódis, J., & Farkas, B. (2025). Impact of age and timing of hip orthosis on treatment outcomes in infants with developmental dysplasia of the hip: A systematic review and meta-analysis. Journal of Pediatric Urology. https://doi.org/10.1016/j.jpurol.2025.02.014
Zhu, D., & Zhu, H. (2022). Incidence and epidemiological characters of developmental dysplasia of the hip in Lianyungang: Based on ultrasound screening. International Journal of General Medicine, 15, 8639–8646. https://doi.org/10.2147/IJGM.S384810






Tinggalkan Balasan