A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Awal Oktober 2025, di sebuah klinik pratama di Banjarmasin, seorang dokter umum melihat pasien demam tinggi, batuk, dan nyeri otot datang hampir berurutan: seorang guru, dua mahasiswa, dan seorang kakek berusia 70 tahun dengan diabetes. Beberapa minggu kemudian, laporan surveilans menyebut Kalimantan Selatan termasuk provinsi dengan temuan influenza A(H3N2) subclade K terbanyak. Pertanyaan pasien pun sama: “Dok, vaksin flu yang saya suntik tahun lalu masih mempan?”

Pertanyaan itu wajar, dan jawabannya ada pada satu proses yang jarang disadari publik: setiap tahun, isi vaksin influenza “diresepkan ulang” oleh para ahli dunia. Pada 25 September 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan komposisi vaksin influenza untuk musim 2027 di belahan bumi selatan. Artikel ini membahas apa yang berubah, mengapa berubah, dan apa artinya bagi Indonesia.

Mengapa Vaksin Flu Harus Diperbarui Setiap Tahun?

Virus influenza berevolusi terus-menerus melalui perubahan kecil pada protein permukaannya, terutama hemaglutinin (HA). Proses ini disebut antigenic drift. Akibatnya, antibodi yang terbentuk dari vaksin tahun lalu bisa kurang “mengenali” virus tahun ini.

WHO menjelaskan bahwa pembaruan komposisi vaksin diperlukan secara berkala karena virus influenza terus berevolusi, dan rekomendasinya dipakai oleh otoritas regulator serta produsen vaksin di seluruh dunia untuk mengembangkan, memproduksi, dan memberi izin edar vaksin musim berikutnya (WHO, 2026a).

Rekomendasi ini disusun dua kali setahun. Rekomendasi untuk belahan bumi utara biasanya dikeluarkan pada Februari, sedangkan untuk belahan bumi selatan pada September; jadwal ini memberi waktu sekitar 6–8 bulan bagi produksi, persetujuan regulator, dan distribusi vaksin (WHO, 2026c).

Dasar keputusannya adalah data dari Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS). Jaringan ini saat ini terdiri atas 165 institusi di 139 negara, wilayah, dan teritori, termasuk National Influenza Centres, pusat kolaborasi WHO, dan laboratorium regulator esensial (WHO, 2026c). Para ahli menimbang data surveilans, karakter antigenik dan genetik virus, uji serologi pada orang yang telah divaksin, pemodelan kebugaran virus, kepekaan terhadap antivirus, hingga data efektivitas vaksin dari musim sebelumnya.

Apa Isi Rekomendasi untuk Musim 2027?

Sepanjang periode Februari hingga Agustus 2026, influenza A(H1N1)pdm09, A(H3N2), dan influenza B beredar dalam proporsi bervariasi di semua wilayah dunia; influenza A paling banyak di sebagian besar wilayah, kecuali di Afrika Utara dan Barat, Amerika Utara, serta Asia Timur yang didominasi influenza B (WHO, 2026a).

Berdasarkan data tersebut, WHO merekomendasikan komposisi berikut. Tabel juga membandingkannya dengan dua rekomendasi sebelumnya.

KomponenBelahan selatan 2026 (Sep 2025)Belahan utara 2026–2027 (Feb 2026)Belahan selatan 2027 (Sep 2026)
Vaksin berbasis telur
A(H1N1)pdm09A/Missouri/11/2025A/Missouri/11/2025A/Missouri/11/2025 (tetap)
A(H3N2)A/Singapore/GP20238/2024A/Darwin/1454/2025A/Darwin/1454/2025 (baru)
B/VictoriaB/Austria/1359417/2021B/Tokyo/EIS13-175/2025B/Tokyo/EIS13-175/2025 (baru)
Vaksin berbasis kultur sel, protein rekombinan, atau asam nukleat
A(H1N1)pdm09A/Missouri/11/2025A/Missouri/11/2025A/Missouri/11/2025 (tetap)
A(H3N2)A/Sydney/1359/2024A/Darwin/1415/2025A/Darwin/1415/2025 (baru)
B/VictoriaB/Austria/1359417/2021B/Pennsylvania/14/2025B/Pennsylvania/14/2025 (baru)

Sumber: WHO (2025, 2026b, 2026d).

Ada dua hal penting yang terbaca dari tabel ini. Pertama, komponen A(H3N2) dan B/Victoria berbeda dari komposisi belahan selatan 2026, sementara seluruh komponen untuk belahan selatan 2027 selaras dengan komposisi belahan utara 2026–2027 (WHO, 2026c). Artinya, strain yang sudah dipilih pada Februari lalu dinilai masih paling cocok dengan virus yang beredar hingga Agustus 2026.

Kedua, vaksin tetap berbentuk trivalen (tiga komponen). Garis keturunan B/Yamagata tidak lagi disertakan. Sejak September 2023, komite penasihat WHO berpendapat bahwa antigen B/Yamagata tidak lagi diperlukan, dan WHO telah menyatakan tidak akan memperbarui rekomendasi untuk komponen tersebut (WHO, 2025). Virus B/Yamagata praktis tidak terdeteksi lagi sejak awal pandemi COVID-19.

Mengapa Strain untuk Vaksin Telur dan Vaksin Sel Berbeda?

Pembaca yang teliti akan melihat bahwa komponen H3N2 dan B untuk vaksin berbasis telur berbeda nama dengan vaksin berbasis sel. Ini bukan berarti keduanya melindungi terhadap virus yang berbeda.

Virus influenza tidak selalu tumbuh sama baiknya di telur dan di kultur sel. Saat ditumbuhkan di telur, virus dapat mengalami perubahan adaptasi yang menggeser sifat antigeniknya, sehingga WHO memilih kandidat terbaik untuk tiap sistem produksi dengan sifat antigenik yang mirip (WHO, 2026c).

Istilah “-like virus” dalam rekomendasi juga perlu dipahami. Frasa ini menandakan bahwa produsen boleh memakai candidate vaccine virus (CVV) lain yang sifat antigeniknya serupa dengan virus yang direkomendasikan (WHO, 2026c). Adapun vaksin berbasis protein rekombinan atau mRNA tidak memerlukan CVV, cukup urutan genetik virus yang direkomendasikan.

Subclade K: Alasan di Balik Pembaruan H3N2

Pembaruan komponen H3N2 tidak lepas dari kemunculan subclade K (dahulu diberi kode J.2.4.1). Varian ini menyebar cepat sejak pertengahan 2025 dan mendominasi musim 2025–2026 di banyak negara.

Tinjauan terhadap musim 2025–2026 di Eropa mencatat bahwa subclade K menjadi mayoritas sekuens A(H3N2), dan perkiraan yang ada menunjukkan perlindungan vaksin yang moderat terhadap infeksi namun tetap terjaga terhadap luaran berat (Scarvaglieri et al., 2026). Analisis lain menemukan bahwa banyak virus subclade K kurang bereaksi terhadap antiserum rujukan vaksin, tetapi efektivitas vaksin di berbagai lokasi tetap berada pada kisaran moderat (Branda et al., 2026).

Pesan pentingnya: ketidakcocokan antigenik (mismatch) tidak membuat vaksin menjadi sia-sia. Vaksin lama masih memberi perlindungan parsial, terutama terhadap rawat inap dan kematian. Namun, pembaruan ke strain A/Darwin/2025 diharapkan memberi kecocokan yang lebih baik terhadap virus H3N2 yang kini beredar.

Perlu juga diluruskan istilah populer “super flu“. Kemenkes menegaskan bahwa hingga akhir Desember 2025, subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan klade influenza lain, merujuk pada penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Indonesia di Garis Khatulistiwa: Memakai Formula yang Mana?

Di sinilah persoalannya menjadi khas Indonesia. Sebagian besar wilayah Indonesia berada di selatan khatulistiwa, tetapi iklimnya tropis. Influenza di negara tropis tidak memiliki “musim dingin” yang tegas, dan virus dapat beredar sepanjang tahun dengan puncak yang kerap berkaitan dengan musim hujan.

Studi kolaboratif yang memetakan musim influenza di 138 negara tropis dan subtropis menghasilkan panduan praktis: formula belahan selatan yang diberikan pada April dianjurkan untuk sebagian besar Asia tropis, dengan pengecualian Sri Lanka dan Indonesia (Hirve et al., 2016). Indonesia dikecualikan karena pola musimannya tidak cukup jelas untuk disederhanakan.

WHO sendiri tidak menetapkan satu jawaban untuk semua negara tropis. Negara di wilayah tropis dan subtropis diminta mempertimbangkan data surveilans epidemiologis dan virologis masing-masing untuk memilih formula dan menentukan waktu mulai vaksinasi (WHO, 2026c).

Siklus Tahunan Vaksin Influenza JanFebMarApr MeiJunJulAgu SepOktNovDes Belahan utara Rekomendasi Produksi, uji mutu, izin edar, distribusi (±6–8 bulan) Vaksinasi (Okt→) Belahan selatan Rekomendasi Produksi (±6–8 bulan) …produksi berlanjut Vaksinasi (Mar–Apr→) Negara tropis seperti Indonesia: pilihan formula dan waktu vaksinasi idealnya mengikuti data surveilans lokal. Diolah dari WHO (2026c) dan Hirve et al. (2016)

Konsekuensi praktisnya bagi Indonesia: vaksin belahan selatan 2027 kemungkinan baru tersedia di pasaran sekitar kuartal pertama atau kedua 2027. Karena komposisinya identik dengan formula belahan utara 2026–2027, vaksin formula utara yang beredar saat ini pun sudah memuat strain H3N2 dan B yang diperbarui. Informasi formula dan musim biasanya tercantum pada kemasan vaksin.

Bagaimana Situasi Influenza di Indonesia?

Surveilans influenza di Indonesia berjalan melalui jaringan sentinel influenza-like illness (ILI) dan severe acute respiratory infection (SARI). Data Kemenkes mencatat bahwa sejak 1 Januari 2025 hingga 10 Januari 2026 terdapat 74 kasus subclade K dari 204 spesimen A(H3N2) yang diperiksa, terbanyak di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan; puncaknya terjadi pada minggu ke-40 tahun 2025 lalu menurun sejak minggu ke-44 (Kementerian Kesehatan RI, 2026).

Laporan media yang mengutip data Kemenkes terbaru menyebut angka yang lebih besar. Hingga minggu ke-36 tahun 2026, tercatat 184 kasus subclade K di 20 provinsi, dengan DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan terbanyak, sementara aktivitas influenza secara keseluruhan masih dinilai rendah (iNews.id, 2026).

Beban influenza di Indonesia sesungguhnya tidak kecil, terutama pada anak. Studi surveilans SARI di Gunung Kidul, Balikpapan, dan Deli Serdang menemukan insidensi SARI terkait influenza tertinggi pada anak usia 0–4 tahun, yakni 82–114 per 100.000 penduduk per tahun (Susilarini et al., 2018). Angka ini kemungkinan masih di bawah kenyataan, karena banyak kasus tidak dites.

Apa Artinya bagi Tenaga Kesehatan dan Masyarakat?

Rekomendasi WHO bukanlah perintah vaksinasi, melainkan panduan bagi produsen dan regulator. Setelah WHO mengeluarkan rekomendasi, otoritas nasional atau regional yang menyetujui komposisi serta formulasi vaksin dan menyusun kebijakan penggunaannya (WHO, 2026c). Di Indonesia, vaksin influenza belum menjadi bagian imunisasi program untuk populasi umum sehingga umumnya diperoleh secara mandiri.

Beberapa pegangan praktis yang dapat dipakai di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun rumah sakit:

AspekPegangan praktis
Kelompok prioritasTenaga kesehatan, ibu hamil, anak usia 6–59 bulan, lansia, dan penderita penyakit kronis (WHO, 2022)
AnakIDAI menganjurkan vaksin influenza mulai usia 6 bulan dan diulang setiap tahun; anak di bawah 9 tahun yang baru pertama kali divaksin mendapat dua dosis dengan jarak minimal 4 minggu (IDAI, 2024)
FrekuensiSetiap tahun, karena komposisi berubah dan kekebalan menurun seiring waktu
Memilih vaksinPeriksa kemasan: formula (utara/selatan) dan tahun musim. Pilih formula terbaru yang tersedia
Saat terjadi mismatchVaksinasi tetap dianjurkan; perlindungan terhadap penyakit berat umumnya tetap terjaga (Scarvaglieri et al., 2026)
Pencegahan tambahanEtika batuk, cuci tangan, masker saat sakit, dan tidak memaksakan diri bekerja atau sekolah ketika demam

Bagi pengelola rumah sakit, rekomendasi ini juga relevan untuk program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Vaksinasi influenza tahunan bagi tenaga kesehatan melindungi staf sekaligus pasien rentan di ruang rawat.

Ancaman yang Mengintai dari Hewan

Rapat komposisi vaksin tidak hanya membahas flu musiman. Para ahli juga menilai virus influenza yang beredar pada hewan, terutama yang pernah menginfeksi manusia, karena virus zoonotik ini tetap berpotensi memicu pandemi (WHO, 2026a). Dari penilaian ini dipilih CVV baru yang bisa segera dipakai untuk produksi vaksin bila muncul ancaman pandemi.

Bagi Indonesia yang pernah mencatat banyak kasus flu burung A(H5N1) pada manusia, pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tetap menjadi kunci. WHO pada 2025 telah memperbarui panduan penggunaan vaksin avian influenza A(H5), dan SAGE juga mengeluarkan rekomendasi baru untuk periode antarpandemi dan periode kemunculan (WHO, 2026c).

Penutup

Rekomendasi WHO untuk musim 2027 belahan bumi selatan memperbarui komponen H3N2 dan B/Victoria, menyelaraskannya dengan formula belahan utara 2026–2027, dan mempertahankan vaksin trivalen tanpa B/Yamagata. Bagi Indonesia, pelajaran terpentingnya ada tiga: virus flu terus berubah sehingga vaksinasi perlu diulang setiap tahun; pilihan formula idealnya berpijak pada data surveilans lokal; dan vaksin yang tidak sempurna cocok pun tetap bermanfaat mencegah sakit berat.

Kembali ke pertanyaan pasien di Banjarmasin tadi: vaksin tahun lalu masih memberi sebagian perlindungan, tetapi vaksin dengan komposisi terbaru adalah pilihan yang lebih baik.


Catatan Transparansi

  • Rekomendasi komposisi vaksin dikutip langsung dari dokumen resmi WHO tertanggal 25 September 2026. Laporan teknis lengkap (full report) belum dapat dibaca langsung, sehingga rincian karakterisasi antigenik per subclade tidak dibahas mendalam.
  • Angka kasus subclade K 184 kasus di 20 provinsi berasal dari laporan media yang mengutip data Kemenkes, bukan dari rilis resmi Kemenkes yang diakses langsung. Media lain melaporkan angka berbeda (misalnya 76 deteksi di 13 provinsi) dari laporan surveilans yang sama, kemungkinan karena perbedaan titik potong data atau definisi. Pembaca disarankan merujuk laporan surveilans Kemenkes terbaru.
  • Panduan pemilihan formula untuk negara tropis (Hirve et al., 2016) berbasis data 2006–2014; pola musiman Indonesia mungkin telah berubah.
  • Pernyataan bahwa vaksin influenza belum masuk imunisasi program nasional untuk populasi umum berdasarkan kebijakan yang berlaku hingga penulisan dan dapat berubah.
  • Ilustrasi kasus pembuka bersifat rekaan.

Daftar Referensi

Branda, F., Petrosillo, N., Ceccarelli, G., Scarpa, F., Giovanetti, M., & Ciccozzi, M. (2026). Influenza A(H3N2) subclade K (J.2.4.1): Molecular characterization, antigenic divergence, and global spread during the 2025/26 season. Infectious Disease Reports, 18(2), 37. https://doi.org/10.3390/idr18020037

Hirve, S., Newman, L. P., Paget, J., Azziz-Baumgartner, E., Fitzner, J., Bhat, N., Vandemaele, K., & Zhang, W. (2016). Influenza seasonality in the tropics and subtropics – When to vaccinate? PLOS ONE, 11(4), e0153003. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0153003

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2024). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun: Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024. https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun

iNews.id. (2026, September 24). 184 kasus super flu ditemukan di 20 provinsi, Kemenkes pastikan masih terkendali. https://www.inews.id/news/nasional/184-kasus-super-flu-ditemukan-di-20-provinsi-kemenkes-pastikan-masih-terkendali

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 31 Desember). Kemenkes pastikan influenza A(H3N2) subclade K tidak lebih parah, situasi nasional terkendali. https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-pastikan-influenza-ah3n2-subclade-k-tidak-lebih-parah-situasi-nasional-terkendali

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 20 Januari). Tren influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia menurun. https://kemkes.go.id/id/tren-influenza-a-h3n2-subclade-k-di-indonesia-menurun

Scarvaglieri, I., De Francesco, M. A., Alberti, M., Cesanelli, F., Salvi, M., Tiecco, G., Castelli, F., & Quiros-Roldan, E. (2026). Influenza A(H3N2) subclade K: Epidemiology, molecular evolution and vaccine effectiveness in Europe. Pathogens, 15(5), 474. https://doi.org/10.3390/pathogens15050474

Susilarini, N. K., Haryanto, E., Praptiningsih, C. Y., Mangiri, A., Kipuw, N., Tarya, I., Rusli, R., Sumardi, G., Widuri, E., Sembiring, M. M., Noviyanti, W., Widaningrum, C., Lafond, K. E., Samaan, G., & Setiawaty, V. (2018). Estimated incidence of influenza-associated severe acute respiratory infections in Indonesia, 2013–2016. Influenza and Other Respiratory Viruses, 12(1), 81–87. https://doi.org/10.1111/irv.12496

World Health Organization. (2022). Vaccines against influenza: WHO position paper – May 2022. Weekly Epidemiological Record, 97(19), 185–208. https://www.who.int/publications/i/item/who-wer9719

World Health Organization. (2025, 26 September). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2026 southern hemisphere influenza season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2026-southern-hemisphere-influenza-season

World Health Organization. (2026a, 25 September). Recommendations announced for influenza vaccine composition for the 2027 southern hemisphere influenza season [Siaran pers]. https://www.who.int/news/item/25-09-2026-recommendations-announced-for-influenza-vaccine-composition-for-the-2027-southern-hemisphere-influenza-season

World Health Organization. (2026b, 25 September). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2027 southern hemisphere influenza season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2027-southern-hemisphere-influenza-season

World Health Organization. (2026c, 25 September). Questions and answers: Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the southern hemisphere 2027 influenza season and development of candidate vaccine viruses for pandemic preparedness. https://cdn.who.int/media/docs/default-source/influenza/who-influenza-recommendations/vcm-southern-hemisphere-recommendation-2027/b.-25-september-2026-frequently-asked-questions.pdf

World Health Organization. (2026d, 27 Februari). Recommended composition of influenza virus vaccines for use in the 2026–2027 northern hemisphere influenza season. https://www.who.int/publications/m/item/recommended-composition-of-influenza-virus-vaccines-for-use-in-the-2026-2027-northern-hemisphere-influenza-season

Artikel Baru Terbit

  • Mengejar Virus yang Terus Berganti Wajah: Membaca Rekomendasi WHO untuk Vaksin Influenza 2027
    WHO telah menetapkan komposisi vaksin influenza musim 2027 belahan bumi selatan: komponen H3N2 dan B/Victoria diperbarui mengikuti evolusi virus, termasuk subclade K. Artikel ini mengulas apa yang berubah, mengapa vaksin berbasis telur dan sel memakai strain berbeda, serta implikasinya bagi Indonesia yang beriklim tropis, termasuk bagi fasilitas pelayanan kesehatan primer.
  • Ketika “Mengapa” Bertingkat: Bisakah Root Cause Analysis WHO Menjawab Rendahnya Cakupan Imunisasi di Indonesia?
    Dokumen WHO 2025 tentang root cause analysis cakupan vaksin demam kuning menawarkan kerangka investigasi berjenjang—kebijakan, penyedia layanan, pengguna—yang berpotensi diadaptasi bagi kesenjangan cakupan imunisasi ekstrem di Indonesia (SKI 2023). Namun penerapannya memerlukan penyesuaian: integrasi dengan DQS/PWS yang sudah ada, penyesuaian struktur kelembagaan, dan penambahan determinan lokal seperti isu kehalalan vaksin.
  • Ketika Pasien Menuntut, Dokter Bersumpah: Menimbang Etika di Balik Selembar Surat Sakit
    Kasus ulasan pasien yang kecewa tidak mendapat surat sakit menyingkap miskonsepsi umum: surat keterangan medis adalah hasil penilaian klinis dokter, bukan hak yang tinggal diminta. KODEKI Pasal 7 dan KUHP Pasal 396 (UU 1/2023) menegaskan kejujuran dokter dalam penerbitan dokumen medis, sejalan dengan standar etik kedokteran global seperti pedoman GMC Inggris.
  • Kode yang Tak Bersuara: Mengapa “Code Grey” Belum Menjadi Regulasi Baku di Fasilitas Kesehatan Indonesia?
    Fasilitas kesehatan Indonesia tidak memiliki regulasi baku code grey, meski banyak rumah sakit menerapkannya secara internal. Absennya standar nasional bukan sekadar kelalaian, melainkan hasil pilihan legislatif, fragmentasi kelembagaan, kerangka epistemik yang berat pada hukum-pidana, keterbatasan sumber daya, dan lemahnya budaya pelaporan. Perlindungan sistemik terhadap kekerasan di fasilitas kesehatan memerlukan lebih dari sekadar meminjam istilah asing.
  • Ketika Chatbot Belajar Menghitung: Sudahkah SPSS, R, JASP, dan Jamovi Boleh Pensiun?
    Chatbot kini bisa menjalankan uji-t, membuat grafik, dan menafsirkan nilai p dalam hitungan detik. Namun riset terbaru menunjukkan AI sering “benar karena kebetulan”: kesimpulannya tepat, tetapi jalannya keliru. Apakah SPSS, R, JASP, dan Jamovi sudah boleh pensiun? Ternyata yang berubah bukan aplikasinya, melainkan peran kita, dari operator menjadi penyunting.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca