Di sebuah poliklinik onkologi di Pekanbaru, Bu Ratna mendengarkan penjelasan dokter tentang anaknya yang berusia delapan tahun. Si anak baru saja menjalani operasi tumor otak jenis medulloblastoma. Langkah berikutnya adalah radiasi pada seluruh otak dan sumsum tulang belakang. Dokter onkologi radiasi menyebut satu pilihan yang belum tersedia di Indonesia, yaitu terapi proton di Singapura atau Bangkok. Alasannya, otak dan tulang anak yang masih tumbuh sangat rentan terhadap efek radiasi jangka panjang.
Pada minggu yang sama di Semarang, Pak Hendra (64 tahun) datang dengan kanker prostat risiko menengah. Ia membawa cetakan iklan layanan proton dari luar negeri dan bertanya apakah ia sebaiknya menjual sebidang tanah untuk berobat ke sana.
Kedua keluarga menanyakan hal yang sama: apakah terapi proton lebih baik? Jawaban yang jujur ternyata berbeda untuk masing-masing. Artikel ini menjelaskan alasannya.
Beban Kanker dan Kesenjangan Radioterapi di Indonesia
Menurut data GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat lebih dari 408.661 kasus kanker baru dan hampir 242.099 kematian pada 2022, dengan kematian terbanyak akibat kanker payudara, serviks, paru, kolorektal, dan hati (Bray et al., 2024; Kementerian Kesehatan RI, 2024). Tanpa intervensi, jumlah kasus diproyeksikan naik 63% antara 2025 dan 2040.
Radioterapi dibutuhkan oleh sebagian besar pasien kanker pada suatu titik perjalanan penyakitnya. Namun Kemenkes mencatat bahwa hingga pertengahan 2023 layanan radioterapi baru tersedia di 17 provinsi. Data Perhompedin tahun 2020 yang dikutip dalam siaran pers industri menyebut jumlah LINAC di Indonesia baru 55 unit, sebagian besar di Jawa dan Sumatra, dengan hanya satu unit di Kalimantan dan Papua. Karena itu, Kemenkes memprioritaskan perluasan radioterapi eksternal, khususnya LINAC, serta pelatihan tenaga onkologi radiasi dan fisika medis (FK-KMK UGM, 2025).
Konteks ini penting. Bagi kebanyakan pasien Indonesia, persoalan utamanya belum sampai pada pilihan antara proton atau foton. Persoalannya adalah apakah pasien bisa mendapat radioterapi yang bermutu tepat waktu.
Foton dan Proton: Perbedaan pada Cara Energi Dilepaskan
Radioterapi konvensional memakai foton (sinar-X berenergi tinggi) yang dihasilkan pesawat linear accelerator (LINAC). Foton menembus tubuh. Dosisnya mencapai puncak beberapa sentimeter di bawah kulit, lalu berkurang perlahan, tetapi tetap keluar melalui sisi tubuh di seberang tumor (exit dose). Jaringan sehat di depan dan di belakang tumor ikut terpapar.
Proton adalah partikel bermuatan yang bermassa. Saat melaju, proton melepaskan energi relatif sedikit. Energinya kemudian dilepaskan sekaligus tepat sebelum partikel berhenti, lalu dosis turun hampir ke nol. Fenomena ini disebut puncak Bragg. Kedalaman puncak dapat diatur lewat energi berkas, dan beberapa puncak dapat ditumpuk sehingga menutupi seluruh tebal tumor. Susunan ini disebut spread-out Bragg peak (SOBP).
Diagram 1. Ilustrasi skematis kurva dosis terhadap kedalaman untuk foton dan proton (bukan data pengukuran).
Keunggulan fisika ini disertai sejumlah keterbatasan. Pertama, posisi puncak Bragg sangat peka terhadap perubahan kepadatan jaringan di jalur berkas, misalnya udara di rongga sinus, gerak napas, atau berat badan yang turun selama terapi. Kondisi ini disebut ketidakpastian jangkauan (range uncertainty), sehingga perencana harus menambahkan margin pengaman (Mohan, 2022). Kedua, efek biologis proton lazim dianggap sekitar 1,1 kali foton, yang disebut relative biological effectiveness (RBE). Nilai ini sebenarnya bervariasi dan cenderung lebih tinggi di ujung berkas, sehingga dapat berpengaruh bila ujung berkas mengenai organ kritis (Paganetti, 2014). Teknologi modern berupa pencil beam scanning dan intensity-modulated proton therapy (IMPT) memperbaiki ketepatan dibanding teknik lama passive scattering, tetapi tetap membutuhkan pencitraan harian dan jaminan mutu yang ketat.
Apa Kata Uji Klinis?
Selama puluhan tahun, keunggulan proton lebih banyak didukung oleh perbandingan rencana dosis di komputer daripada uji acak. Beberapa tahun terakhir, uji klinis acak mulai memberi jawaban. Hasilnya tidak seragam.
Tabel 1. Uji acak penting yang membandingkan proton dengan foton modern
| Uji & jenis kanker | Rancangan | Temuan utama | Makna praktis |
|---|---|---|---|
| Liao et al. (2018), kanker paru bukan sel kecil stadium lanjut lokal | Acak adaptif Bayesian, proton passive scattering vs IMRT | Tidak menunjukkan manfaat proton dalam menurunkan toksisitas paru berat dibanding IMRT dengan teknologi saat itu | Proton generasi lama tidak otomatis lebih aman. Mutu perencanaan menentukan |
| Lin et al. (2020), kanker esofagus stadium lanjut lokal | Fase IIB | Menurut editorial JCO, ini uji acak proton-vs-foton pertama yang mencapai titik akhir primer positif, dengan titik akhir ko-primer beban toksisitas total dan kesintasan bebas progresi | Beban efek samping lebih rendah. Kendali tumor setara |
| PARTIQoL (Efstathiou et al., 2024), kanker prostat risiko rendah–menengah | Fase III, 450 pasien | Skor fungsi usus pada 24 bulan turun sedikit dan serupa pada kedua kelompok: −2,4 (proton) vs −2,2 (IMRT). Tidak ada perbedaan fungsi kemih dan seksual | Untuk prostat, IMRT modern memberi hasil setara |
| Frank et al. (2026), kanker orofaring stadium III–IV (AS) | Fase III non-inferiority, 440 pasien | Kesintasan bebas progresi setara. Kesintasan keseluruhan 5 tahun 90,9% (IMPT) vs 81,0% (IMRT); HR 0,58 | Sinyal manfaat kesintasan pertama untuk proton, tetapi berasal dari titik akhir sekunder |
| TORPEdO (Thomson et al., 2026), kanker orofaring (Inggris) | Fase III, 20 RS NHS, acak 2:1 | IMPT dan IMRT menghasilkan skor kualitas hidup fisik, ketergantungan selang makan, kendali lokal, dan kesintasan yang serupa | Di tempat proton belum rutin, IMRT tetap standar |
Mengapa dua uji kanker orofaring hasilnya berbeda?
Perbedaan ini layak dibahas karena sering disederhanakan dalam materi promosi.
Uji Frank dkk. adalah uji acak fase III pertama yang menunjukkan sinyal perbaikan kesintasan. Kematian akibat terapi terjadi pada enam pasien IMRT dan tiga pasien IMPT, sedangkan kematian karena progresi penyakit terjadi pada 18 pasien IMRT dan sembilan pasien IMPT. Namun ada beberapa catatan metodologis. Kesintasan keseluruhan adalah titik akhir sekunder. Uji ini bersifat terbuka (open-label). Dari 221 pasien yang dialokasikan ke kelompok IMPT, 160 (72%) benar-benar menerima IMPT, dan dari 219 pasien kelompok IMRT, 136 (62%) menerima IMRT. Selain itu, sebagian besar pasien (95%) positif HPV/p16, sehingga profilnya berbeda dari banyak pasien kanker kepala-leher di Indonesia.
TORPEdO justru menemukan bahwa penurunan berat badan derajat 3 pada 12 bulan terjadi pada 18,2% kelompok IMPT dan 5,7% kelompok IMRT. Peneliti utamanya menilai IMRT bekerja lebih baik daripada perkiraan berdasarkan data historis, dan ketergantungan selang makan jangka panjang jauh lebih rendah daripada uji-uji sebelumnya. Ia mengaitkan hal ini dengan jaminan mutu radioterapi yang ketat.
Kesimpulan yang lebih seimbang: keunggulan proton bergantung pada seberapa baik IMRT pembandingnya. Di pusat yang IMRT-nya bermutu tinggi, selisih manfaatnya bisa mengecil.
Siapa Kandidat Terkuat?
American Society for Radiation Oncology (ASTRO) menerbitkan model policy sebagai acuan penjaminan asuransi di Amerika Serikat. Versi 2022 mendukung proton sebagai pertimbangan wajar bila perlindungan jaringan normal di sekitar tumor memberi manfaat klinis tambahan dan tidak cukup dicapai dengan radioterapi foton. Untuk prostat, ASTRO menilai bukti efektivitas komparatif proton masih berkembang sehingga perannya pada kanker prostat lokal belum jelas (ASTRO, 2022).
Tabel 2. Peta sederhana indikasi terapi proton (disarikan dari ASTRO, 2022; Mohan, 2022; dan uji klinis di atas)
| Kategori | Contoh kondisi | Alasan utama |
|---|---|---|
| Kandidat kuat | Tumor padat pada anak (medulloblastoma, ependimoma, rabdomiosarkoma, retinoblastoma); tumor mata (melanoma uvea); kordoma & kondrosarkoma dasar tengkorak; tumor dekat sumsum tulang belakang; radiasi ulang di area yang pernah diradiasi | Mengurangi dosis ke jaringan yang sedang tumbuh atau organ kritis. Menekan risiko kanker sekunder, gangguan tumbuh-kembang, dan penurunan kognitif |
| Pertimbangan kasus per kasus | Kanker kepala-leher tertentu, esofagus, hati, sarkoma retroperitoneal, limfoma mediastinum pada perempuan muda | Bukti menjanjikan tetapi belum seragam. Keputusan diambil oleh tim multidisiplin |
| Belum terbukti lebih unggul | Kanker prostat risiko rendah–menengah; kanker paru stadium lanjut lokal (teknik lama) | Uji acak menunjukkan hasil setara dengan IMRT modern |
Dengan peta ini, kita kembali ke dua keluarga di awal. Anak Bu Ratna termasuk kelompok kandidat kuat. Rujukan ke luar negeri masuk akal bila keluarga sanggup dan jadwal tidak tertunda terlalu lama. Pak Hendra, berdasarkan bukti terbaik saat ini, dapat memperoleh hasil setara dengan IMRT atau radioterapi stereotaktik di dalam negeri tanpa perlu menjual tanahnya.
Akses: Di Mana Posisi Indonesia?
Secara global, peta PTCOG mencatat 133 fasilitas terapi partikel beroperasi klinis di seluruh dunia per Mei 2025, sebagian besar di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur. Di Asia Tenggara:
- Thailand: Her Royal Highness Princess Maha Chakri Sirindhorn Proton Center di RS King Chulalongkorn Memorial, Bangkok, merupakan fasilitas pertama di Thailand dan Asia Tenggara (BioPharma APAC, 2022).
- Singapura: Goh Cheng Liang Proton Therapy Centre di National Cancer Centre Singapore mulai merawat pasien pada Juni 2023. Pusat proton swasta juga tersedia di sana.
- Indonesia: belum ada fasilitas yang beroperasi. Rencananya sudah muncul sejak lama. Pada 2018, RS Kanker Dharmais menargetkan terapi proton tersedia dalam 2–3 tahun, tetapi target itu belum terwujud. BRIN juga menyatakan rencana membangun fasilitas proton sebagai sharing facility yang dapat dipakai bersama oleh rumah sakit di seluruh Indonesia. Rencana terbaru datang dari sektor swasta: Eka Hospital menyatakan Eka Tjipta Widjaja Cancer Center dijadwalkan beroperasi pada 2027 dengan terapi proton pertama di Indonesia (ANTARA, 2025).
Dari sisi pembiayaan, Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan tidak menjamin pelayanan kesehatan di luar negeri. Artinya, pasien JKN yang berobat proton ke Bangkok atau Singapura menanggung sendiri biaya terapi, perjalanan, dan akomodasi selama 4–7 minggu pengobatan, atau mengandalkan asuransi swasta. Ini menambah beban ekonomi yang sudah berat pada pengobatan kanker.
Pesan Praktis untuk Pasien, Keluarga, dan Tenaga Kesehatan
Bagi pasien dan keluarga, beberapa pertanyaan berikut dapat diajukan kepada dokter onkologi radiasi:
- Apakah jenis dan lokasi kanker saya termasuk indikasi kuat terapi proton, atau hanya “mungkin sedikit lebih baik”?
- Dengan IMRT/VMAT di rumah sakit ini, berapa dosis yang diterima organ kritis di dekat tumor?
- Jika harus ke luar negeri, berapa lama penundaan terapi, dan apakah penundaan itu berisiko bagi kendali tumor?
- Bagaimana pemantauan dan penanganan efek samping setelah saya kembali ke Indonesia?
Bagi dokter di FKTP dan rumah sakit rujukan, peran utamanya adalah memastikan pasien tidak terlambat masuk jalur tata laksana kanker. Jangan tunda rujukan ke layanan radioterapi yang tersedia hanya karena pasien atau keluarga berharap pada proton. Keputusan memilih modalitas sebaiknya dibuat dalam forum tim multidisiplin (tumor board). Iklan layanan luar negeri perlu dibaca kritis bersama pasien. Pada banyak kanker dewasa, radioterapi foton modern memberi hasil yang setara.
Catatan Transparansi
- Hasil PARTIQoL dikutip dari abstrak late-breaking ASTRO 2024 dan liputan media profesional. Publikasi lengkapnya belum kami verifikasi sebagai artikel jurnal peer-reviewed penuh.
- Uji Frank dkk. (2026) melaporkan kesintasan keseluruhan sebagai titik akhir sekunder dalam uji terbuka dengan tingkat kepatuhan alokasi yang tidak sempurna. Hasil ini perlu dikonfirmasi oleh uji lain dan tidak dapat langsung digeneralisasi ke populasi kanker kepala-leher Indonesia yang mayoritas tidak terkait HPV.
- ASTRO Model Policy adalah pedoman penjaminan asuransi di Amerika Serikat, bukan pedoman klinis nasional. Hingga artikel ini ditulis, kami belum menemukan PNPK atau konsensus perhimpunan profesi di Indonesia (misalnya Perhimpunan Onkologi Radiasi Indonesia) yang khusus mengatur indikasi terapi proton.
- Angka 55 unit LINAC (Perhompedin, 2020) dan cakupan radioterapi di 17 provinsi (Kemenkes, 2023) dikutip secara sekunder dari siaran pers dan media. Jumlah terkini kemungkinan sudah bertambah.
- Jadwal operasional pusat proton di Indonesia berdasarkan pernyataan pers penyelenggara dan dapat berubah.
- Kasus Bu Ratna dan Pak Hendra adalah ilustrasi rekaan untuk tujuan edukasi.
Referensi
American Society for Radiation Oncology. (2022). Proton beam therapy (PBT): Model policy. https://www.astro.org/astro/media/astro/daily%20practice/pdfs/astropbtmodelpolicy.pdf
American Society for Radiation Oncology. (n.d.). Proton beam therapy for prostate cancer position statement. Diakses 27 September 2026, dari https://www.astro.org/daily-practice/reimbursement/model-policies/proton-beam-therapy-for-prostate-cancer-position-statement
ANTARA. (2025, 19 Desember). Eka Hospital hadirkan pusat terapi kanker berbasis teknologi proton. https://www.antaranews.com/berita/5312251/eka-hospital-hadirkan-pusat-terapi-kanker-berbasis-teknologi-proton
Badan Riset dan Inovasi Nasional. (n.d.). Ini alasan BRIN rencanakan bangun fasilitas proton terapi. Diakses 27 September 2026, dari https://www.brin.go.id/news/111045/ini-alasan-brin-rencanakan-bangun-fasilitas-proton-terapi
BioPharma APAC. (2022, 9 Februari). First proton therapy treatment delivered in Southeast Asia. https://biopharmaapac.com/news/88/1261/first-proton-therapy-treatment-delivered-in-southeast-asia.html
Bray, F., Laversanne, M., Sung, H., Ferlay, J., Siegel, R. L., Soerjomataram, I., & Jemal, A. (2024). Global cancer statistics 2022: GLOBOCAN estimates of incidence and mortality worldwide for 36 cancers in 185 countries. CA: A Cancer Journal for Clinicians, 74(3), 229–263. https://doi.org/10.3322/caac.21834
Efstathiou, J. A., Yeap, B. Y., Michalski, J. M., et al. (2024). Prostate Advanced Radiation Technologies Investigating Quality of Life (PARTIQoL): Phase III randomized clinical trial of proton therapy vs. IMRT for localized prostate cancer [Abstrak LBA01]. International Journal of Radiation Oncology, Biology, Physics. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0360301624032371
FK-KMK Universitas Gadjah Mada. (2025, 28 November). Transformasi kebijakan, inovasi, dan pemerataan layanan kanker di Indonesia. https://fkkmk.ugm.ac.id/transformasi-kebijakan-inovasi-dan-pemerataan-layanan-kanker-di-indonesia/
Frank, S. J., Busse, P. M., Lee, J. J., Rosenthal, D. I., Hernandez, M., Swanson, D. M., Garden, A. S., Gunn, G. B., et al. (2026). Proton versus photon radiotherapy for patients with oropharyngeal cancer in the USA: A multicentre, randomised, open-label, non-inferiority phase 3 trial. The Lancet, 407(10524), 174–184. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)01962-2
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Cancer prevention and control framework. https://kemkes.go.id/eng/layanan/cancer-prevention-and-control-framework
Liao, Z., Lee, J. J., Komaki, R., Gomez, D. R., O’Reilly, M. S., Fossella, F. V., et al. (2018). Bayesian adaptive randomization trial of passive scattering proton therapy and intensity-modulated photon radiotherapy for locally advanced non-small-cell lung cancer. Journal of Clinical Oncology, 36(18), 1813–1822. https://doi.org/10.1200/JCO.2017.74.0720
Lin, S. H., Hobbs, B. P., Verma, V., Tidwell, R. S., Smith, G. L., Lei, X., et al. (2020). Randomized phase IIB trial of proton beam therapy versus intensity-modulated radiation therapy for locally advanced esophageal cancer. Journal of Clinical Oncology, 38(14), 1569–1579. https://doi.org/10.1200/JCO.19.02503
Mohan, R. (2022). A review of proton therapy – Current status and future directions. Precision Radiation Oncology, 6(2), 164–176. https://doi.org/10.1002/pro6.1149
National Cancer Centre Singapore. (n.d.). Goh Cheng Liang Proton Therapy Centre. Diakses 27 September 2026, dari https://www.nccs.com.sg/our-specialties/goh-cheng-liang-proton-therapy-centre
Paganetti, H. (2014). Relative biological effectiveness (RBE) values for proton beam therapy: Variations as a function of biological endpoint, dose, and linear energy transfer. Physics in Medicine & Biology, 59(22), R419–R472. https://doi.org/10.1088/0031-9155/59/22/R419
Particle Therapy Co-Operative Group. (2025). Facilities world map. https://ptcog.online/facilities-world-map/
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.
Periskop.id. (2026, 3 Juli). Kanker Indonesia dan urgensi pemerataan kedokteran nuklir. https://periskop.id/kesehatan/20260703/kedokteran-nuklir-kanker-indonesia-pemerataan
Thomson, D. J., Price, J. M., Tyler, M., et al. (2026). Proton beam therapy for oropharyngeal cancer (TORPEdO): A phase 3, randomised controlled trial. The Lancet, 407(10535), 1259–1275. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(26)00314-4





Tinggalkan Balasan